Menggali karya Wabasyiris Sobirin selalu membawa kejutan. Salah satu yang paling mencolok adalah 'Lautan Bintang', sebuah novel fantasi yang memadukan mitologi lokal dengan imajinasi futuristik. Awalnya kupikir ini sekadar cerita petualangan biasa, tapi ternyata dunia yang dibangunnya begitu kompleks—setiap karakter punya backstory mendalam, bahkan benda mati seperti pedang pun diberi 'nyawa' melalui narasi puitis. Yang bikin nagih adalah cara dia mengeksplorasi tema kekuasaan lewat metafora angkasa tanpa terkesan menggurui.
Yang juga menarik, 'Lautan Bintang' sering dibandingkan dengan 'Dune' versi Nusantara. Tapi menurutku justru unsur magis ala 'Wayang' dan filosofi Jawa-nya yang jadi ciri khas. Pernah suatu scene menggambarkan tokoh utama berkomunikasi dengan roh leluhur melalui hologram—gabungan teknologi dan spiritual yang jarang kutemui di karya lain. Meski terbit lima tahun lalu, sampai sekarang masih ada komunitas yang rutin mengadakan baca bersama untuk mengupas simbol-simbol tersembunyi di tiap bab.
Nama Wabasyiris Sobirin muncul seperti angin segar dalam dunia fiksi, terutama bagi penggemar cerita berlatar sejarah atau mitologi. Karakter ini sering digambarkan sebagai sosok misterius dengan latar belakang yang rumit, mungkin seorang penjelajah waktu atau penjaga rahasia kuno. Salah satu keunikan Wabasyiris adalah kemampuannya untuk hadir dalam berbagai genre, dari thriller psikologis hingga fantasi epik. Aku ingat betul bagaimana karakter ini memicu perdebatan sengit di forum-forum online tentang apakah dia protagonis atau antagonis.
Yang membuatnya menarik adalah kedalaman filosofis yang dibawa. Dalam satu novel, Wabasyiris mungkin menjadi simbol pergulatan manusia melawan takdir, sementara di manga lain, dia justru menjadi perwujudan ironi kehidupan. Beberapa karya bahkan menampilkannya dengan desain visual yang sangat kontras - terkadang seperti bangsawan elegan, lain waktu seperti pengemis buta yang menyimpan kebijaksanaan.
Ada sesuatu yang magis tentang bagaimana Wabasyiris Sobirin merangkai kata-kata. Setiap kali membaca karyanya, aku selalu merasa seperti dia menyelam jauh ke dalam ketidaksadaran kolektif budaya kita, lalu membawa kembali mutiara-mutiara kisah yang selama ini terpendam. Gaya penulisannya seringkali mengingatkanku pada tradisi lisan nenek moyang - ada ritme tertentu, semacam mantra yang membuat pembaca terhipnotis.
Dari beberapa wawancara yang pernah kubaca, Sobirin sering menyebut alam sebagai guru utamanya. Bukan sekadar pemandangan indah, tapi bagaimana angin berbisik di antara daun, bagaimana sungai mengukir ceritanya sendiri di bebatuan. Ini sangat terasa dalam novel 'Rantau Berbisik' di mana setting alam bukan sekadar latar, tapi menjadi karakter itu sendiri. Aku pikir inilah yang membuat karyanya selalu terasa organik, seolah tumbuh dari tanah budaya kita.