Beberapa teman di grup diskusi kreator konten sempat membahas PNS ITI Aku Mas akhir pekan lalu. Konten terbarunya yang ramai adalah video parodi 'Ngantor ala PNS ITI' dengan twist lagu viral TikTok. Adegan mengetik pakai mesin ketik jadul sambil joget ala-ala K-pop ini disukai karena relatable banget buat anak muda yang kerja hybrid. Ada juga easter egg lucu di background, seperti foto 'Jokowi' versi doodle di dinding. Engagementnya gila—dalam 3 hari udah 500K likes dan 20K duet!
Yang bikin segar, PNS ITI Aku Mas selalu bawa energi chaotic tanpa maksa. Gaya editing jumpcut cepat dengan teks-teks sarkas tipis ala Gen Z bikin penonton ketagihan. Beberapa komen bilang ini evolusi dari konten sketsa kampusnya dulu yang lebih statis. Gue sendiri suka how they balance between absurd humor dan subtle critique tentang budaya kerja.
Baru saja menyelesaikan 'Aku Yang PNS Bukan' dan masih terngiang-ngiang dengan plot twistnya yang bikin geleng-geleng kepala. Ceritanya dimulai dengan sosok protagonis yang terjebak dalam identitas ganda—di satu sisi harus memainkan peran sebagai PNS ideal, di sisi lain punya kehidupan rahasia yang sama sekali bertolak belakang. Konflik internalnya digarap dengan detail, terutama saat dia harus menghadapi teman sekantor yang mulai mencurigai tingkah lakunya aneh.
Puncak ceritanya justru terjadi di kantor, ketika rahasia besar terungkap secara tidak sengaja lewat presentasi proyek. Endingnya cukup terbuka, tapi justru meninggalkan ruang untuk pembaca berimajinasi: apakah tokoh utama akhirnya memilih keloyalan pada pekerjaan atau kebebasan jati dirinya? Yang jelas, novel ini berhasil membahas tema 'penjara sosial' dengan cara yang segar dan penuh ironi.
Gara-gara lagu 'Yang PNS Itu Aku' Mals, aku jadi ketagihan scroll YouTube tiap hari buat liat video klipnya. Ada yang bilang ini cuma konten receh, tapi menurutku justru di situlah pesonanya. Videonya nampilin kehidupan sehari-hari pegawai negeri dengan twist komedi yang relate banget—dari drama administrasi berbelit sampai obrolan kantor yang absurd. Aku suka cara mereka bikin parody tanpa perlu dialogue canggih, cukup ekspresi wajah dan situasi konyol aja udah bikin ngakak.
Yang bikin fenomenal, konten ini berhasil 'nancep' di berbagai kalangan. Emak-emak sampai gen Z bisa ketawa bareng karena konteksnya universal. Aku juga sering nemuin meme dari adegan-adegan tertentu yang jadi viral di Twitter. Uniknya, walau durasinya pendek, videonya punya pacing yang pas dan endingnya selalu bikin penasaran. Pernah suatu sore aku nongkrong di warung kopi, eh malah denger orang-orang ngobrolin plot terbaru Mals kayak lagi bahas sinetron prime time.
Mendengar 'PNS ITI Aku Mas' pertama kali bikin aku ngakak sekaligus penasaran—apa sih maksud di balik liriknya yang absurd? Ternyata, lagu ini adalah satir tajam tentang kehidupan PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang dianggap 'adem ayem' tapi sebenarnya penuh drama internal. Lirik seperti 'Aku Mas, kamu Mas, kita semua Mas' menyindir hierarki kaku di instansi pemerintah, di mana sapaan 'Mas' jadi simbol formalitas palsu yang justru menghilangkan individualitas.
Di sisi lain, ITI mungkin merujuk pada 'Institut Teknologi Indonesia', tapi lebih mungkin sebagai plesetan dari 'iti' (kata Jawa untuk 'ini')—seolah lagu ini bercanda: 'Lihatlah ini, aku PNS!'. Kombinasi beat ceria dan lirik nonsense-nya justru bikin lagu ini viral, karena banyak orang relate dengan ironi di balik citra 'penghamba negara' yang sebenarnya manusia biasa juga.