Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat
Darmawangsa
Selama tiga tahun, aku hidup sebagai pengganti.
Kini, setelah donorkan darah seratus kali demi “cinta pertama” tiga istriku, aku pun pergi menghilang sepenuhnya dari hidup mereka.
Saat ketiga istriku tahu hal itu, mereka langsung hilang kendali.
Mereka telepon aku ribuan kali. Mereka kirim pesan puluhan ribu kali.
“Suamiku, aku salah .… Aku benar-benar salah. Aku telah kecewakan ibu kita. Kamu boleh pukul aku, marahin aku, apa pun terserah kamu. Tapi tolong … jangan tinggalkan aku ….”
“Suamiku, maafkan aku! Aku bersedia berlutut dan bersujud ke kamu. Aku bersumpah nggak akan ulangi kesalahan itu lagi. Tolong, kembali, yah?”
“Suamiku, jangan pergi … aku bisa gila! Aku nggak bisa hidup kalau nggak ada kamu!”
“Suamiku, kamu di mana? Tolong kasih tahu aku! Suamiku, tolong, angkat teleponmu!”
Namun setelah kembali ke Kota Jerija, aku ganti kartu SIM-ku, blokir seluruh kontak dari ketiga istriku.
Dunia pun kembali hening.
Tiga bulan kemudian, aku dengar kabar bahwa perusahaan milik ketiga istriku satu per satu bangkrut.
Nggak hanya itu, mereka juga ditipu habis-habisan oleh “cinta pertama”-nya itu, hingga nggak tersisa apa pun.
Sekarang, mereka panik cari aku, seolah kehilangan akal.
Aku hanya merasa geli. Kalau memang akan berakhir seperti ini, kenapa dulu nggak pikir panjang? Kenapa sekarang baru panik?