Hati yang Tak Bergeming
Jaja
Javas Balakosa telah naik takhta.
Dia memahkotai Garwita Ranjana sebagai permaisuri. Sedangkan Gantari Ranjana, istri sah yang menemaninya berdarah-darah dan bertarung dari status pangeran hingga menduduki takhta, hanya mendapatkan gelar selir agung.
Hari saat titah kerajaan diturunkan, Istana Ayodya hening mencekam. Para pelayan menundukkan kepala dan menahan napas. Mereka takut Gantari akan menangis, mengamuk, melempar barang-barang, atau histeris seperti para selir yang kehilangan kasih sayang kaisar.
Namun, Gantari justru menerima titah itu dengan tenang.
"Saya mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia."
Suaranya datar, tanpa ada ekspresi di wajahnya. Bahkan di mata almonnya yang cantik, tak tersirat sedikit pun rasa sedih. Gantari berbalik memasuki kamar dan kembali membaca bukunya. Seolah titah yang menurunkannya dari posisi istri sah menjadi selir agung itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Gantari.
Tujuh hari kemudian, Javas yang jarang datang ke Istana Ayodya akhirnya menyempatkan diri kesana.