Dendam Sang Pewaris
Sebuah kemarahan yang begitu besar, begitu murni, membara seperti api yang telah lama tertahan oleh embusan angin dingin.
Anisa mengangkat kepalanya, menatap Farhan dengan mata yang penuh dengan kilatan tajam. Bibirnya bergetar sedikit, tetapi bukan karena takut. Itu adalah tanda bahwa ia sedang menahan amarahnya agar tidak meledak. Ia menarik napas panjang, mengatur dirinya, sebelum menjawab dengan suara yang pelan, tetapi sarat dengan ketegasan.
“Cobalah,” katanya, setiap kata seperti dipahat dari batu karang, penuh kekuatan yang tidak bisa digoyahkan. “Aku tidak akan mundur.”
Bab Populer