Di halaman terakhir 'Cinta di Ujung Perjalanan' aku menemukan adegan yang menempel di kepala—bukan karena dramanya meledak-ledak, melainkan karena ketenangannya yang tajam. Adegan penutupnya sederhana: dua tokoh utama, Alya dan Rafi (nama yang selalu kupakai dalam bayanganku), duduk menghadap laut, masing-masing membawa bekal luka dan harapan. Mereka tidak berpelukan panjang atau mengucap janji abadi; gantinya ada pengakuan polos tentang siapa mereka sekarang dan apa yang tak bisa mereka paksakan untuk berubah.
Penulis menutup dengan surat yang dibaca satu per satu; kalimat-kalimatnya penuh kejujuran tanpa kebencian. Alya memilih untuk melanjutkan perjalanannya ke kota lain demi mengejar mimpi yang sudah lama tertunda, sementara Rafi memilih tetap di kampung untuk merawat ibunya yang sakit. Itu bukan perpisahan pahit—lebih ke penerimaan: cinta bisa berbentuk melepas. Mereka berpisah di pagi berkabut, tapi ada senyum kecil yang menandai bahwa perjalanan keduanya masih punya arah.
Bagi aku, akhir ini bekerja karena realistis dan manis sekaligus. Ini bukan tentang menang atau kalah, melainkan tentang bagaimana cinta bisa merawat tanpa menahan. Aku keluar dari cerita itu dengan perasaan hangat dan sedikit kecewa, tapi bukan kecewa yang getir—melainkan rindu untuk melihat karakter ini tumbuh lagi di hidup masing-masing. Kadang akhir seperti ini terasa lebih jujur daripada pesta reuni yang dibuat-buat.