Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Taubat Sang Pendosa

Taubat Sang Pendosa

Cuaca cukup sejuk hari ini karena mendung. Awan berarak menghiasi langit seperti gumpalan kapas empuk. Aku sedang mengerjakan sebuah motor tua yang mesinnya tak mau menyala setelah terendam banjir, ketika sebuah panggilan mengagetkanku. "Assalamualaikum, Nak Rahman!" "Waalaikumsalam, Pak Haji."
108.4K viewsCompletedAdded to Library 253 Times as bahá'u'lláh
Read
+Library
Upik Abu Mertua

Upik Abu Mertua

Terlihat Hafizah sedang lemah di atas sana dengan tangannya yang tidak berdaya, penglihatannya tidak salah melihat seseorang berdiri di depannya. "Hafidz."
1.9K viewsOngoingAdded to Library 48 Times as bahá'u'lláh
Read
+Library
Alverez

Alverez

“Dan itu bukan Calvin. Bukan Dimas. Tapi… sesuatu yang lebih besar.” Adrian menoleh dengan pandangan tajam. “Alverez.” Seketika suasana menjadi hening. Nama itu, yang selama ini hanya muncul sebagai bisikan samar dalam dokumen, jejak keuangan misterius, dan saksi-saksi yang menghilang, kini disebutkan dengan jelas untuk pertama kalinya. “Alverez?” tanya Alan dengan dahi berkerut. “Bukankah itu—”
1.0K viewsOngoingAdded to Library 38 Times as bahá'u'lláh
Read
+Library
Hestia

Hestia

“Kalau project ini jadi, exposure kita naik.” Patra hanya mengangguk sambil membuka file brief terakhir. Nama klien itu langsung muncul di layar. Dhea Pranadita. Beauty creator sekaligus co-founder brand skincare lokal bersama kakak perempuannya. Proyek yang ia ajukan cukup unik—buku nonfiksi berbentuk journaling interaktif lengkap dengan merchandise zine pop-up yang bisa dibongkar pasang pembacanya.
10844 viewsOngoingAdded to Library 22 Times as bahá'u'lláh
Read
+Library
Handa

Handa

Handa hanya bisa bersyukur kala memiliki suami berkepala plontos yang memiliki kekayaan mendekati Jeff Bezos dan sikap bijak mendekati Maman Suherman. TAMAT
1034.3K viewsCompletedAdded to Library 822 Times as bahá'u'lláh
Read
+Library
Dewa

Dewa

Dalam hatinya dia sangat bersyukur karena bisa dipertemukan dengan Dewa yang menurutnya adalah tuhan dari langit. "Intan! Kau makan buah-buahan itu dulu. Enggar biar menjadi urusanku," Intan mengangguk. Kali ini dia hanya pasrah dan menurut saja. Rasa iba di lubuk hati Dewa semakin menguliti perasaannya. Sedih, sakit, kasihan, campur aduk menjadi satu. Rasa sakit hati yang mengendap dalam jiwanya itu lebih dalam ketimbang patah hati karena masalah cinta yang menurut orang lain amatlah pahit. Dewa sendiri menganggap cinta bukanlah tujuan dalam hidup. Cita adalah prioritas utama. Sebab itulah cinta menurutnya hal yang sangat sepele. Kala itu, detik itu juga dia bermimpi ingin menaungi anak-ana
9.97.5K viewsCompletedAdded to Library 149 Times as bahá'u'lláh
Read
+Library
Terjebak Mantra!

Terjebak Mantra!

Allahu a’lam. Irfan Afifi
1010.0K viewsCompletedAdded to Library 399 Times as bahá'u'lláh
Read
+Library
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status