Dewa
Dalam hatinya dia sangat bersyukur karena bisa dipertemukan dengan Dewa yang menurutnya adalah tuhan dari langit.
"Intan! Kau makan buah-buahan itu dulu. Enggar biar menjadi urusanku,"
Intan mengangguk. Kali ini dia hanya pasrah dan menurut saja. Rasa iba di lubuk hati Dewa semakin menguliti perasaannya. Sedih, sakit, kasihan, campur aduk menjadi satu. Rasa sakit hati yang mengendap dalam jiwanya itu lebih dalam ketimbang patah hati karena masalah cinta yang menurut orang lain amatlah pahit. Dewa sendiri menganggap cinta bukanlah tujuan dalam hidup. Cita adalah prioritas utama. Sebab itulah cinta menurutnya hal yang sangat sepele. Kala itu, detik itu juga dia bermimpi ingin menaungi anak-ana
Hot Chapters