Ada satu momen di tengah malam yang sunyi ketika aku tiba-tiba teringat fragmen-fragmen memori aneh, seperti mimpi yang terasa terlalu nyata untuk sekadar khayalan. Aku mulai menggali lebih dalam dengan mencoba meditasi regresi, di mana kita secara bertahap membawa pikiran kembali ke masa lalu—bukan masa kecil, melainkan lebih jauh lagi. Teknik ini melibatkan relaksasi mendalam dan membiarkan gambaran-gambaran muncul tanpa paksaan. Beberapa orang menggunakan panduan profesional, tapi aku lebih suka eksplorasi mandiri dengan audio hipnosis di YouTube.
Yang menarik, aku menemukan bahwa emosi sering menjadi petunjuk utama. Rasa takut irasional terhadap api atau ketertarikan spontan pada budaya tertentu bisa jadi 'jejak' dari kehidupan sebelumnya. Aku juga mencoba mencatat mimpi secara detail, karena beberapa pengalaman menunjukkan bahwa alam bawah sadar lebih terbuka saat kita tidur. Tentu, ini semua subjektif, tapi justru proses pencariannya yang membuatku terpesona—seperti menyusun puzzle raksasa tanpa gambar referensi.