Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu
Aku sedang jual furnitur bekas di platform seken, tiba-tiba ada seorang perempuan kirim pesan untuk menawar harga,
[Kak, harganya boleh agak kurang?]
[Aku belum lulus kuliah, baru saja pindah dari asrama gara-gara berantem dengan teman sekamar. Pacarku yang mencarikan kontrakan untukku.]
[Meskipun dia sangat kaya, bahkan bilang mau menikahiku setelah lulus, aku tetap nggak mau terlalu membebani dia.]
[Boleh kurang empat puluh ribu, nggak? Nanti aku ambil sendiri ke sana!]
Waktu masih kuliah dan pacaran dengan Steve, aku juga pernah rela mengayun sepeda umum selama dua jam hanya demi hemat sepuluh ribu.
Meskipun sekarang aku hanya karyawan kantoran biasa, kondisiku lebih baik sedikit dibanding anak kuliah.
Akhirnya, aku pun luluh dan menyetujuinya.
Malam itu, dua orang muncul di depan gerbang komplek perumahanku.
Si Perempuan dengan bangga berkata,
“Aku hebat, ‘kan? Hanya keluar uang nggak sampai dua ratus ribu, tapi sudah dapat mesin cuci yang kondisinya masih 90% baru!”
Si pria menyahut dengan nada memanjakan,
“Iya… sayangku memang paling hebat.”
“Tapi aku cari uang memang untuk membiayaimu, kamu nggak perlu sehemat itu.”
“Suamimu ini direktur Grup Rosel, masa membiayai kamu saja nggak mampu? Sekali ini saja ya, lain kali jangan begini lagi.”
Pria itu mendongak sambil tersenyum. Begitu mata kami bertemu, aku langsung mematung di tempat.
Dia adalah Steve, pacarku yang pamitnya mau dinas keluar kota selama tiga bulan demi mendapat uang saku perjalanan dinas tiga kali lipat.