Lihat, buatku kepelikan atau sifat kikuk itu sering jadi alat cerita yang manis sekaligus pedas. Aku suka ketika sosok utama nggak sempurna secara fisik — terjatuh, salah ucap, atau merusak sesuatu — karena itu langsung memberi ruang buat empati. Karakter yang kikuk biasanya lebih gampang diterima oleh pembaca penakut atau penonton yang pernah salah langkah; mereka jadi cermin kecil dari ketidaksempurnaan kita.
Secara naratif, kikuk bisa membuka jalan buat perkembangan. Misalnya, kegagalan berulang memaksa sang tokoh belajar, mencari bantuan, atau mau berubah supaya tidak lagi tercelakai. Kadang itu berubah jadi busur pertumbuhan yang halus: dari canggung menjadi percaya diri, atau dari selalu tergopoh ke seseorang yang sadar dan hati-hati. Di sisi lain, ada juga versi di mana tokoh belajar menerima dirinya dan menemukan pesona dalam kekikukannya, sesuatu yang sering muncul di cerita-cerita seperti 'Kimi ni Todoke'.
Di akhirnya aku merasa sifat kikuk itu bukan sekadar alat komedi; dia adalah batu loncatan emosional. Aku selalu senang melihat kapan penulis memperlakukan kekikukan sebagai titik awal, bukan label abadi — itu membuat karakter terasa hidup dan bernafas, dan itu yang bikin bacaannya tetap hangat di hatiku.