Yang Terpilih
“Halo!”
Aku tersenyum lebih lebar lagi. Ebo’ selalu bicara dengan nada mengentak dan keras. Logat bahasa Madura yang tak kalah kentalnya dengan Bu Rohiman. Ebo’ berbicara keras agar aku bisa mendengar jelas suaranya di telepon, katanya, dulu.
“Bo’… apa kabar? Ebo’ sehat? Eppa’?”
“Sehat, kabbi[1] sehat. Eppa’ ghi’ nyeset bako [2]di rumahnya Ji Dullah. Kata Eppa’, jangan lupa makan.”