Ifat
“Maksud kamu?”
“Siapa tadi yang barusan bercerita; ‘Oh, Jo, rasanya aku seperti ditikam belati!’. ‘Oh, Jo, betapa malunya!’. ‘Oh, Jo, lebih baik disetrum di kursi listrik dari pada ditampik begini!’.”
Aku mengulum senyum, sekaligus menahan nyeri di ulu hatiku.
Aku lalu memindahkan posisi ponsel dari telinga kanan ke telinga kiri. Namun, repetan khas bergaya Batak ala Johan masih saja memberondongku.
Hot Chapters