Ada satu novel yang bikin jantung berdegup kencang karena plotnya yang unik—dimulai dari dendam tapi berakhir dengan cinta yang dalam. Judulnya 'The Hating Game' oleh Sally Thorne. Ceritanya revolve sekitar Lucy Hutton dan Joshua Templeman, dua asisten eksekutif yang kerja di meja bersebrangan dan saling benci setengah mati. Awalnya, mereka terus-terusan adu jotos secara verbal, bahkan punya 'permainan' sendiri buat saling menjatuhkan. Tapi di balik semua itu, ada ketegangan seksual yang gak bisa disangkal, dan perlahan-lahan, dendam mereka berubah jadi sesuatu yang lebih panas.
Yang bikin novel ini spesial adalah chemistry antara dua karakter utama. Lucy dan Joshua itu seperti api dan bensin—satu percikan kecil bisa bikin ledakan. Tapi justru dari konflik itulah hubungan mereka berkembang. Sally Thorne berhasil bikin pembaca tertawa, gemas, sekaligus emosi karena dialog-dialog sarkastik tapi lucu. Gak cuma itu, ada momen-momen kecil yang bikin hati meleleh, seperti ketika Joshua akhirnya nunjukin sisi vulnerable-nya. Plot twist di akhir juga bikin senyum-senyum sendiri karena ternyata dendam Joshua punya alasan yang jauh lebih dalam dari yang dibayangin Lucy.
Selain 'The Hating Game', ada juga 'Bully' oleh Penelope Douglas yang lebih gelap tapi tetap punya elemen romance yang intense. Ceritanya tentang Tate yang kembali ke kota tempat dia dibully oleh mantan teman masa kecilnya, Jared. Awalnya penuh kebencian, tapi lama-lama, Tate nemuin alasan di balik sikap Jared yang kejam. Novel ini lebih berat dan punya banyak trigger warning, tapi hubungan mereka yang toxic-to-healing bikin susah berhenti baca. Kedua novel ini proof bahwa sometimes, the best love stories start with a little (or a lot of) hate.