Garis Keturunan yang Tercemar
Aku hamil delapan bulan. Satu kontraksi serasa seperti sebilah pisau yang merobek tubuhku.
Namun suamiku, Darren sang bos mafia, menolak membawaku ke rumah sakit.
Anggi, istri dari mendiang kakaknya, juga sedang menunggu waktu melahirkan.
Untuk membuka jalan agar dia bisa melahirkan lebih dulu, Anggi menunjukkan apa yang disebut-sebut sebagai bukti perselingkuhanku, bersikeras bahwa anak yang kukandung tidak memiliki darah Keluarga Pandita.
Karena pewaris Keluarga Pandita haruslah cucu laki-laki pertama yang lahir.
Darren memercayainya. Dia mengurungku di sebuah gudang anggur tua yang terbengkalai.
"Jangan sedetik pun kamu pikir aku nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan. Dengar baik-baik. Kamu nggak akan melahirkan anak haram itu sebelum aku memastikan sendiri garis darahnya."
"Anak Anggi berdarah murni. Aku harus memastikan anaknya menjadi cucu laki-laki pertama keluarga ini."
Aku berusaha mati-matian untuk menjelaskan semuanya.
"Air ketubanku hampir pecah! Aku mohon, bawa aku ke rumah sakit! Dia anakmu! Aku bersumpah demi nyawaku!"
"Aku nggak akan pernah memperjuangkan posisi pewaris! Aku cuma ingin bayiku selamat!"
Darren menendangku dan melirikku dingin.
"Siapa yang tahu kalau nanti kamu berubah pikiran? Jangan khawatir. Aku akan kembali setelah Anggi melahirkan. Saat bayi itu lahir, aku akan melihat sendiri siapa ayahnya."
Beberapa saat kemudian, ketika dia menatap bayi yang menangis di pelukan Anggi, barulah dia teringat padaku. Namun, salah satu anak buahnya datang melapor dengan suara gemetaran.
"Bos, Nyonya ... dan anaknya .... Mereka berdua sudah meninggal."