LOGINAmeera memilih untuk meninggalkan pesantren dan kembali menjalani kehidupannya di kota. Ahmad yang terlanjur jatuh hati dan merasa sangat kehilangan sosok Ameera, pada akhirnya memutuskan untuk pergi ke kota mencarinya. Namun, bukannya bertemu dengan Ameera, Ahmad justru bertemu dengan Zoya, gadis yang memiliki latar belakang kehidupan yang sangat kelam. Mungkinkah Ameera dan Ahmad akan bertemu kembali? Atau Zoya yang akan menggantikan posisi Ameera?
View MoreEdric Goldwin Louis, pria tampan blasteran Amerika – Indo yang kini bertugas untuk menggantikan ayahnya, Dominic Ethan Louis, menjadi CEO di perusahaan yang bergerak di industri pulp and paper ternama, yaitu PT. Inti Global Paper. Dominic, di usianya yang sudah menginjak tujuh puluh, lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan berlibur bersama istri cantik yang terpaut dua puluh tahun di bawahnya, Chalondra Chalya Ellordi. Perusahaan resmi menjadi tanggung jawab Edric yang kala itu baru saja mengginjakkan kakinya di usia tiga puluh. Dominic kini hanya bertugas mengawasi dan menjadi penasehat umum di perusahaan yang menjadi peninggalan almarhum ayahnya, Marcus Louis.
Edric, prince charming yang kini menjadi idola para kaum hawa di berbagai generasi. Tidak perduli dia adalah seorang playboy yang gemar berganti pasangan, auranya tetap bersinar di mata banyak perempuan. Bahkan tidak sedikit yang bangga pernah menjadi teman satu malam putera sulung Dominic Ethan Louis tersebut.
Namun hingga detik ini, belum ada satu wanita pun yang berhasil merebut hati sang cassanova. Entah perempuan tipe bagaimana yang dia cari, tidak ada yang tau. Rekan one night stand-nya tidak sedikit yang berasal dari kalangan atas. Cantik, tajir, single, semuanya ada. Dominic sampai kewalahan melihat berita-berita miring yang sering muncul akibat ulah puteranya. Berkali-kali pria tua itu harus turun tangan mencabut artikel yang berisi gosip tentang skandal Edric.
Sepak terjang kisah romansa Edric tentu saja tidak mempengaruhi produktifitasnya dalam bekerja. Kinerjanya tetap oke dan patut diacungi jempol. Dia selalu bisa diandalkan dalam menangani semua situasi yang terjadi di dalam perusahaan. Setidaknya, itulah yang membuat Dominic masih memberi toleransi perihal tabiat buruknya yang suka bermain perempuan.
Seperti sepanjang hari ini, Edric dan asistennya kembali disibukkan oleh jadwal yang cukup padat. Ada dua meeting dan satu seminar yang harus mereka hadiri, yang membuat keduanya mobile dari satu tempat ke tempat lain. Kemacetan jalan raya sedikit mengganggu dan menurunkan mood. Untungnya Edric sangat tau apa yang harus dia lakukan saat situasi sedang macet begini.
“Meeting selanjutnya jam dua siang, Pak. Setengah jam lagi.” Hendry mengingatkan seperti lupa mereka sedang terjebak macet.
“So? What should we do, Hen? Kalau saja kita bisa terbang,” celetuk Edric santai sambil fokus pada layar enam setengah inci dimana dia sedang mengoperasikan sebuah game online.
“Apa saya perlu memberi tahu sekretaris Bapak untuk mengatur ulang jadwalnya?”
“No no no. Saya yakin kita bisa sampai tepat waktu,” jawab Edric lagi, masih sama santainya. Dia tidak suka mengotak-atik jadwal meeting. Baginya itu akan menurunkan nilai kita di mata klien ataupun calon klien.
Hendry akhirnya mengangguk tanda sepakat. Berdasarkan angka hitungan mundur yang ada di bawah lampu merah, seharusnya mereka akan terbebas dari jebakan ini sekitar dua menit lagi. Hendry sudah siap dengan kaki yang berada di atas pedal gas-nya. Kebetulan juga mereka berada tepat di bagian depan. Setelah ini selesai, pria itu sudah berencana untuk melarikan mobilnya secepat mungkin.
Tapi kenyataan yang terjadi sama sekali di luar dugaan. Saat lampu merah di barisan mereka baru saja berganti menjadi hijau dan Hendry sudah menginjak gas sekuat tenaga, sebuah motor matic dari sayap kanan tiba-tiba melintas di detik terakhir lampu hijau di sana berganti menjadi merah. Sebuah kecelakaan pun tidak dapat dihindari. Sepeda motor itu terjatuh tepat di depan mobil Edric.
“Shit!” Edric mengumpat tanpa sadar. Dia sudah latah ingin membuka pintu mobil, namun dia mengingat kalau dia adalah putera Dominic Ethan Louis.
“Turun, Hen!”
Hendry lantas turun dan segera menghampiri motor yang mereka tabrak. Sial! Pengemudinya perempuan dan dia pingsan!! Hendry sedikit gugup karena sejumlah pengendara motor lain ikut berhenti. Tidak ingin membuat keputusan sendiri, dia memilih untuk kembali ke mobil dan memberi tahu Edric untuk meminta saran.
“Bawa dia ke dalam sini. Kita akan bertanggung jawab. Suruh anak buahmu untuk mengurus motornya!”
“Siap!”
Dibantu pengendara lain, Hendry lalu memasukkan wanita itu ke dalam mobil. Edric dengan cekatan memakai rayban dan masker saat dia memberi perintah itu kepada Hendry. Dia tidak ingin dikenali oleh siapa pun. Setelah pintu ditutup, Hendry mengurus sepeda motor yang sudah berpindah tempat ke tepi jalan. Untungnya tidak ada orang jahat di sini. Hendry menitipkan sepeda motor di pos polisi. Anak buahnya akan segera datang untuk mengurus benda tersebut.
Perjalanan menuju rumah sakit terdekat menjadi sangat mencekam karena gadis itu tidur di pangkuan Edric. Khawatir dia akan bangun dan membuat kekacauan lagi. Edric mengamati wajah itu dengan sekasama. Cantik. Polos tanpa sentuhan make up. Hidungnya mancung, alisnya tidak terlalu tebal. Bulu matanya lentik. Bibirnya tipis. Edric menduga gadis ini masih muda. Body-nya terbilang oke untuk gadis seusianya.
Ck! Sempat-sempatnya memuji tubuh perempuan yang sedang pingsan! Rutuk Edric dalam hati. Seharusnya dia memikirkan meeting yang sudah menunggunya di kantor.
Untungnya ketakutan mereka sama sekali tidak terjadi. Gadis itu tak kunjung siuman. Setibanya di rumah sakit, Hendry langsung membawa gadis itu ke ruang IGD agar segera ditindak. Edric sendiri memilih untuk mengurus administrasi. Setelah selesai, dia memerintahkan Hendry untuk berjaga di sana dan dia sendiri langsung berangkat ke kantor.
Waktu berlalu dengan cepat. Sore harinya, sang asisten sudah kembali ke kantor. Edric yang baru saja selesai meeting menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam ruangan.
“Pak, tadi gadis itu sudah siuman.”
“Sudah pasti, Hen. Kalau belum, kau tidak mungkin ada di sini. Jadi, apa dia mengatakan sesuatu? Seperti sebuah tuntutan?"
“Tidak, Pak. Dia tidak banyak bicara. Sepertinya dia juga sedang terburu-buru. Kami hanya mengobrol sebentar sebelum saya mengantarkan dia sampai ke parkiran. Motor yang sudah diantar ke rumah sakit masih berfungsi dengan baik,” lanjut Hendry.
“Kamu … tidak membuka identitas kita kepadanya ‘kan?”
“Tidak, Pak. Data bapak di kasir juga aman.”
“Oke. baguslah,” lega Edric. Identitas mereka memang tidak boleh terungkap. Mereka tidak tau siapa gadis itu. Meskipun tadi wajahnya seperti orang baik-baik, tapi semuanya bisa terjadi. Bisa saja ‘kan dia seorang penulis berita di situs online? Bisa rusak nama Inti Global kalau dia membuat berita yang tidak-tidak.
“Tapi, Pak, sepertinya dia tidak sedang baik-baik saja,” ucap Hendry melanjutkan lagi. Masih urung menyudahi laporannya kepada Edric.
“Maksudnya apa, Hen?”
“Tadi, saat dia masih belum sadar, ponselnya yang sedang berada di dalam tas berbunyi terus menerus. Karena takut itu sesuatu yang penting, saya mengambil benda tersebut dan melihat ada belasan panggilan tak terjawab dari sebuah rumah sakit X. Saya sangat yakin itu telepon yang sangat penting. Sehingga, saat ada panggilan selanjutnya, saya memutuskan untuk menjawab saja. Dari percakapan saya dengan pihak rumah sakit tersebut, saya diberi tahu bahwa ibu gadis itu sedang berada dalam ICU dan sedang menunggu untuk ditangani. Rumah sakit belum menindak karena belum ada kejelasan biaya. Sepertinya, tadi siang gadis itu sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menyelesaikan administrasinya. Tapi … dia malah terlibat kecelakaan dengan kita.”
Hening. Edric memandang Hendry tanpa berkedip. Tidak berani berspekulasi bahwa maksud sang anak buah adalah, jika terjadi sesuatu kepada ibu gadis itu, maka mereka adalah penyebabnya. Mereka lah yang membuang waktu gadis tersebut sehingga berdampak terhadap penanganan ibunya.
“Tapi, saat dia siuman tadi, apa dia mengatakan sesuatu?”
Hendry menggeleng. “Dia langsung bergegegas untuk pergi. Dia juga tidak sempat mengecek isi tasnya.”
Lagi-lagi diam. Sepertinya isi pikiran mereka sama, tapi terlalu enggan untuk mengutarakannya. Takut dugaan mereka justru akan menjadi kenyataan.
“Ya sudah. Semoga ibunya masih sempat ditangani. Saya masih ada pekerjaan, kamu masih ingin melaporkan sesuatu?” Edric memutuskan pikiran buruk itu secepatnya. Memilih untuk berprasangka baik saja.
*****Seperti yang Ahmad katakan kepada Ameera, malam berikutnya ia menunggu gadis kota itu di masjid. Sedangkan Ameera masih terus merasa ragu hendak menemuinya. Ameera sibuk memilin ujung jilbabnya hingga nyaris kusut membentuk pola garis tidak beraturan lagi. Ia berdiri di sudut serambi seraya terus memfokuskan iris ke arah Ahmad yang masih membaca kitab di dekat mihrab.“Udah ... sana buruan temuin. Jangan sampai beliau menunggu lama!” titah Rumy sambil terus mendorong siku Ameera.“Masa gue, sih, yang mesti nemuin dia duluan? Kan, dia yang mau. Bukan gue!”“Kamu itu santri di sini, Ra. Dan beliau gurumu!” tegas Rumy.Ameera berdecih kesal. Ucapan Rumy seolah ingin memaksanya untuk patuh pada aturan yang dibuat oleh Ahmad secara sepihak. Padahal, perdebatan yang terjadi kemarin malam antara dirinya dan Ahmad sama sekali tidak ada hubungannya dengan pesantren. Kenapa gue mesti patuh? Rumy mer
Mampus, deh, gue! Kok bisa salah ngira gini, sih! Gue pikir dia suaminya Ayu. Emangnya Abah punya anak selain dia, ya?Wajah Ameera mengerut. Rasa tidak enak hati seketika langsung menghinggapinya. Ahmad yang masih terus menatapnya di dalam remang cahaya, seakan mampu menangkap ekspresi yang ia tampilkan."Udah! Aku Ndak apa-apa, kok. Aku juga Ndak marah. Tapi lain kali jangan asal menuduh kalo Ndak paham masalah yang sebenarnya, ya!""Gue tekankan kalo gue bukan menuduh. Tapi gue cuma salah ngira aja! Lagian ... Yang gue denger anak Abah itu cuma satu.""Anak Abah banyak," kata Ahmad sembari mempersilakan Ameera melanjutkan langkahnya."Sebentar! Lo bilang anak Abah banyak, anak yang mana? Atau ... Abah punya anak dari istri yang lain, ya?" selidik Ameera.Ahmad mendengkus. Pertanyaan Ameera kali ini dirasa cukup keterlaluan. Menurutnya. Jika tadi ia sama sekali tidak marah, tetapi kali ini hatinya merasa tidak terima. Ameera meman
"Hus! Kalo ngomong, tuh, mbok jangan sembaranga tho, Ra!" protes Rumy sambil mendelik. "Mana mungkin suami Ayu tega ninggalin Ayu pas malam pertama begini," imbuhnya. "Ya ampun, Rum! Siapa juga, sih, yang ngomong sembarangan!" Ameera merasa tdak terima. "Orang barusan gue ketemu sama suaminya, kok!" akunya tak mau kalah dari Arumi. Mendengar tentang yang terjadi di antara kedua teman sekamarnya, membuat Kendis merasa tidak tenang. Gadis ya
Sepuluh hari kemudian.“Saya terima nikahnya Ayu Chumaira binti Zainudin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” Ucapan sang pengantin pria terdengar sangat lugas, menggema ke seantero penjuru desa.Malam yang selama sekian hari dinantikan oleh segenap penduduk pesantren. Sebuah hajat besar telah terlaksana dengan khidmat. Seorang pemuda mengenakan galabiyya berwarna putih duduk bersimpuh di hadapan sang ayah, tepat di belakang mimbar masjid pesantren.Doa pernikahan memenuhi ruang masjid. Sementara di serambi, Ayu tampak anggun mengenakan pakaian pengantin berwarna putih. Di sisi kanan dan kirinya diapit oleh Bu Nyai dan Bude Darmi. Rasa haru menyelinap masuk ke benaknya. Ia tak mengira statusnya akan berubah secepat ini. Impiannya mendapatkan sosok imam yang soleh telah terkabul.Ayu menggenggam erat jemari Bu Nyai dan Bude Darmi secara bersamaan. Kaca-kaca di pelupuk mata seolah akan pecah dengan segera. Se
Rasa cinta tak akan mampu mengubah takdir seseorang. Namun, rasa cinta mampu membawa seseorang menggapai asa yang tak pernah terduga. Begitulah kiranya seorang gadis bernama Ayu Chumaira mendefinisikan rasa cintanya.Seumur hidupnya ia tak pernah mencintai lain dar
Suasana kediaman Kiyai Husein cukup tenang. Wajar saja, di rumah itu hanya hidup empat orang dewasa yang sudah memiliki kesibukan masing-masing. Hanya Bu Nyai saja yang terbilang nyaris tidak memiliki kegiatan. Beliau hanya seorang ibu rumah tangga biasa, yang sehari-harinya diisi dengan berbagai
“Nduk, kamu cuci sayurannya, yo!” titah Bude Darmi kepada Ameera. Sejak siang Ameera berada di dapur umum. Ia merasa jenuh terus bersama teman-temannya di asrama. Padahal kegiatan di pesantren cukup padat. Ahmad meminta para santri untuk menghafal kitab yang sudah ia ajarkan sebelumnya.
Seminggu sudah Ameera tak berada di rumah. Rasanya sungguh aneh. Biasanya rumah akan berantakan dengan segala kejorokan gadis berusia 18 tahun itu. Tapi kini justru tampak rapi.Seperti pagi ini, Om Roni menikmati sarapannya sendirian. Biasanya Ameera akan banyak berbincang dengannya di mej






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore