Suami Warisan
“Tenang itu sulit saat ini. Selalu ada gemuruh dalam setiap diri manusia; gemuruh pikiran, gemuruh jiwa. Pikiranmu selalu berputar, bergerak, berloncatan. Tidak pernah berhenti, walaupun sedang tidur, otak Nyai selalu siaga. Begitu juga dengan jiwa. Gelisah, cemas, khawatir. Berdebar, seperti tadi. Saya bisa merasakan Nyai was-was kartu itu tidak berfungsi, padahal saya sudah meyakinkan kalau saya ingat.”
Rengganis menunduk menatap telapak tangan Narendra yang lebar menangkup lututnya. Dia bisa merasakan hangatnya dari robekan jins-nya yang compang-camping.
“Buat saya, kaya raya adalah bisa hidup tenang dan bahagia.”
Rengganis menoleh pada Narendra dan bertanya, “Selama hidupmu apa kamu pern