Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Kamu adalah takdirku

Kamu adalah takdirku

Uwie_bee
Bramantyo tak sadar jika dirinya mengalami keanehan dengan kehidupannya. Dulu, ia adalah seorang yang periang dan senang bergaul dengan banyak teman. Sejak kehilangan kedua orangtuanya dua tahun lalu, kepribadiannya berubah. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Diana, seseorang yang pernah ia sukai di masa lalu. Pertemuannya dengan Diana menjadi canggung karena Bramantyo ternyata lupa dengan wanita cantik itu. Bertahun pergi merantau telah membuatnya lupa wajah Diana dan mereka pun berkenalan lagi untuk kedua kalinya. Berbulan kemudian, Diana sadar jika Bramantyo mempunyai kebiasaan aneh. Kekasihnya itu sering sekali bertindak semaunya hingga terobsesi dengan segala hal. Ia pun nekat mengajak Bramantyo ke psikiater untuk memeriksanya. Hasilnya, Bramantyo mempunyai penyakit kelainan mental yang cukup berat. Menyadari akan hal itu, Bramantyo pun menghindari Diana. Ia merasa malu akan dirinya dan memilih menyendiri. Diana mencarinya karena ia mencintai Bramantyo dengan tulus dan ingin merawatnya hingga sembuh. Hingga akhirnya saat Bramantyo dinyatakan sembuh, Diana pun menyatakan kembali perasaannya pada Bramantyo. Keduanya berniat melanjutkan kembali hubungan walaupun keadaan Bramantyo yang berbeda dari sebelumnya. Pertentangan Diana dengan keluarganya membuat Bramantyo sedih, ia memutuskan untuk berpisah dengan Diana. Namun Diana menolak dan memilih Bramantyo karena perasaannya teramat besar pada pria itu. Mereka pun memutuskan untuk menikah dan pergi dari keluarganya sejauh mungkin. Berhasilkah Diana meyakinkan keluarganya?
2.1K viewsOngoingAdded to Library 74 Times as lomba spelling bee
Read
+Library
Rumah Tanpa Sosok Papa

Rumah Tanpa Sosok Papa

Setelah mengetahui bahwa suamiku, Ronaldo Marino, masih tidak bisa melupakan cinta pertamanya, aku mulai mengajari putri kami, Susan, untuk memanggilnya dengan sebutan "Om Ronaldo." Saat pergelangan kaki Susan keseleo di sekolah. Di tengah malam, Ronaldo menerima sebuah telepon dari Viera yang sedang menangis. Putrinya, Lina, mengalami mimpi buruk dan terus berteriak memanggil ayahnya. Ronaldo pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku menempelkan kompres ke pergelangan kaki Susan yang bengkak dan berbisik lirih padanya, "Coba bilang, 'Selamat tinggal, Om Ronaldo'." Ronaldo berjanji akan datang ke hari olahraga di sekolah Susan. Namun kemudian Viera menelepon sambil menangis terisak-isak, mengatakan bahwa Lina tidak punya ayah untuk bisa ikut lomba lari tiga kaki bersamanya. Ronaldo pun langsung pergi begitu saja tanpa berpikir panjang. Aku hanya memberikan ponsel itu kepada Susan dan menyuruh untuk memberi tahu gurunya, "Om Ronaldo bilang dia tidak bisa datang." Setiap kali hal itu terjadi, Susan selalu merasa ragu. Susan tidak mengerti mengapa aku menyuruhnya melakukan hal tersebut. Sampai suatu hari, Ronaldo akhirnya menyadari dia telah sangat mengecewakan kami. Dia mengesampingkan semua urusan bisnis mafianya demi menghadiri resital piano Susan dan bersumpah tidak akan melewatkannya lagi. Susan berada di belakang panggung bersama anak-anak lainnya. Kemudian ponsel Ronaldo kembali berdering. Itu dari Viera. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan, tetapi aku sudah bisa menebak, mungkin kalimat bahwa Lina sedang menangis, Lina membutuhkan sosoknya, ataupun Lina sudah tidak punya ayah. Ronaldo berbalik, menghampiri kami. Tetapi sebelum Ronaldo bisa mengucapkan alasannya, suara Susan sudah terdengar dari atas panggung. "Tidak apa-apa, Om Ronaldo. Om pergi saja dan urus anak Om yang lain. Ada Mama di sini untuk menemaniku, itu sudah cukup buatku."
3.3K viewsCompletedAdded to Library 120 Times as lomba spelling bee
Read
+Library
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status