Brajasena Sang Ksatria
Di balik sorot mata pemuda itu, ada sesuatu yang lebih gelap—campuran antara tekad putus asa dan keganasan asing yang terasa bukan sepenuhnya miliknya sendiri.
Di atas arena, salah satu tetua menggenggam erat sandaran kursinya hingga kayu itu berderit. “Anak bodoh…,” gumamnya, lebih kepada diri sendiri daripada kepada siapa pun. “Pil yang membakar darah vital bukan sesuatu yang bisa ditebus hanya dengan beberapa tahun istirahat. Setiap detik yang ia pakai untuk bertarung sekarang, adalah satu potong umur yang ia lempar ke api.” Kata-kata seperti darah vital, saripati, dan fondasi kultivasi bukan sekadar istilah puitis bagi generasi tua itu; mereka tahu betul betapa mahalnya harga yang sedang
Hot Chapters