Di ingatan saya, dia selalu muncul dengan jaket kusam dan senyum setengah nakal yang seakan tahu terlalu banyak rahasia kecil di kota kami.
Aku pertama kali menulis tentang dia waktu malam-malam, lampu meja menyisakan lingkaran hangat di atas kertas, dan kopi yang sudah dingin ikut menjadi saksi. Namanya Luki—kurus, rambut acak-acakan, dan punya kebiasaan bertanya soal hal-hal yang orang lain anggap biasa. Sifatnya campuran antara keras kepala dan tidak enak hati; dia bisa marah seperti badai soal ketidakadilan, tapi kemudian duduk tiga jam menunggu teman yang terlambat cuma karena tidak tega menegur. Kenangan awal kami selalu tentang adegan sederhana: Luki menolong kucing yang terjebak di atap sampai akhirnya terseret ke petualangan lebih besar. Itu momen di mana dia berubah dari karakter yang kukira klise jadi seseorang yang benar-benar hidup.
Seiring cerita berkembang, sifat Luki makin berlapis. Di depan orang dia sok tenang, tapi di balik itu ada rasa takut kehilangan yang menggerogoti. Dia mudah bersimpati, cepat tersenyum pada anak-anak, dan sering menulis surat yang tak pernah dikirim. Konflik terbesarnya bukan tentang menaklukkan musuh, melainkan menghadapi rasa bersalah masa lalu—sesuatu yang kutaruh di adegan perpisahan paling menyakitkan. Detail kecil yang selalu kulupa: dia punya bekas luka di dagu dari terjatuh sepeda, dan suara tertawanya selalu mendesah seperti menyusun kembali kepingan hati.
Kalau aku baca ulang sekarang, yang paling membuatku jatuh cinta adalah ketidaksempurnaannya. Luki bukan pahlawan yang ideal, dia sering galau dan salah langkah, tapi caranya bangkit pelan-pelan terasa sangat manusiawi. Itu yang bikin setiap memorinya tetap hangat saat aku menutup buku; dia bukan tokoh yang melupakan kita, kita yang terus ingat padanya.