Kadang kata 'nakal' meluncur begitu saja dari bibir orang tua atau teman, dan itu bisa terasa ringan — semacam cap untuk tingkah lucu yang membuat rumah berantakan atau malam tertawa bersama. Dalam kebanyakan konteks sehari-hari di sini, 'nakal' sering dipakai untuk menyebut anak yang usil, bandel sedikit, atau sengaja mengganggu karena ingin perhatian. Kalau hanya mengacak-acak mainan, melompat di kasur, atau iseng mengambil kue, kata itu biasanya tidak dimaksudkan sebagai label buruk, melainkan komentar yang mengandung unsur jenaka.
Tetapi aku juga jeli melihat sisi lain: nada suara, konteks, dan siapa yang mengatakan kata itu menentukan apakah itu menyakitkan. Katakanlah anak terus menyakiti teman, berbohong berkali-kali, atau melakukan hal berbahaya—di situ 'nakal' jadi menutupi masalah serius. Aku cenderung menyarankan untuk mengganti pelabelan dengan deskripsi perilaku: jelaskan apa yang dilakukan, kenapa berisiko, dan bagaimana memperbaikinya. Dengan begitu anak tidak merasa ditetapkan sebagai 'nakal' selamanya; ia belajar bahwa tindakan bisa berubah, dan itu jauh lebih membangun daripada cap yang menempel. Menurutku, 'nakal' sering netral sampai nuansanya berubah jadi judgey—aku lebih suka lihat sisi lucu mereka tanpa melumpuhkan semangat mereka.