Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

Di tengah jamuan makan malam keluarga, aku baru mengetahui fakta pahit bahwa sahabat masa kecilku, lelaki yang seharusnya tumbuh besar bersamaku, telah melepaskan peluang emas untuk naik pangkat di Distrik Militer Utara demi sepupuku, Ajeng Hidayat. "Nilai ujian Ajeng hanya cukup untuk masuk universitas lokal. Kebetulan kondisi kesehatan Bibi juga sedang menurun, jadi aku sudah membantu mengubah data pendaftaranmu. Kita semua akan tetap tinggal di sini," ucapnya santai. Ibuku pun menimpali dengan nada yang sama mendesaknya, "Benar, Nak. Ibu sudah berjanji pada pamanmu untuk menjaga Ajeng, jadi kamu juga harus membantu Ibu merawatnya. Lupakan saja soal kampus papan atas itu, nggak ada gunanya. Toh, nanti setelah menikah dengan Rangga, kamu juga akan ikut dia bertugas." Belum sempat aku mengeluarkan sepatah kata pun, mata Ajeng mulai berkaca-kaca. Air matanya jatuh dengan begitu dramatis. "Semua ini salahku yang nggak berguna. Ayah dan Ibu sudah tiada, sekarang aku malah membebani Kakak sampai dia nggak bisa kuliah di universitas impiannya. Sebaiknya kalian pergi saja, aku bisa menjaga diriku sendiri." Begitu air mata itu jatuh, Rangga dan ibuku langsung panik. Mereka sibuk menghibur dan menenangkannya seolah dialah pusat semesta. Tanpa suara, aku bangkit dan kembali ke kamar. Di detik terakhir sebelum batas waktu pendaftaran ditutup, aku mengubah kembali pilihan Universitas Adiwangsa. Sejujurnya, keinginanku ke sana bukan hanya agar bisa dekat dengan Rangga. Dulu, aku hanya ingin melewati setiap hal bersamanya. Berjalan beriringan di bawah satu payung hingga rintiknya membasahi rambut kami yang memutih oleh usia, sebuah janji untuk menua bersama. Akan tetapi, sekarang, siapa pun yang berdiri di sampingku saat hujan turun tak lagi jadi masalah. Hanya tempat itu yang tetap harus kudatangi.
Baca
Tambahkan
Belenggu Sang Bos Mafia

Belenggu Sang Bos Mafia

Seminggu sudah berlalu, dan Tonny akhirnya menyadari bahwa aku tak lagi meminta-minta uang padanya. Saking senangnya, pria itu sampai meluangkan waktu untuk mengirimiku pesan singkat, sebuah pujian yang langka. [Sayang, akhirnya kamu paham juga caranya jadi istri ketua mafia yang pantas.] Dia bahkan menambahkan janji manis. [Obat khusus buat ibumu sudah aku kirim. Selama kamu bersikap manis dan tidak serakah, aku akan kasih segalanya buat kamu.] Tonny tidak tahu, saat pesan itu masuk, aku sedang berdiri di depan mesin cetak, menunggu lembar demi lembar surat cerai keluar. Saat itu aku masih mengenakan gaun usang dari tiga tahun yang lalu. Di balik kemewahan statusku sebagai istri ketua mafia yang ditakuti, tak ada yang percaya bahwa untuk sekadar membeli pembalut pun, aku harus mengemis pada Helen, orang kepercayaannya. Aku pun harus mengajukan izin tiga hari sebelumnya hanya untuk bisa keluar rumah. Tonny selalu berdalih bahwa itu semua demi melindungiku. "Di luar sana terlalu berbahaya, Sayang. Kamu cukup diam di rumah aja." Namun, segalanya hancur seminggu yang lalu. Saat Ibu kritis, aku memohon pada Helen agar mengizinkanku pergi tanpa melewati prosedur birokrasi yang konyol itu. Helen sengaja menahanku selama lima hari dan baru melepaskanku setelah Ibu mengembuskan napas terakhir. Obat khusus? Buat apa lagi? Ibu sudah tiada, dan kesabaranku pun sudah habis.
Cerita Pendek · Mafia
1.2K DibacaTamat
Baca
Tambahkan
Suami Meninggalkanku Saat Gempa, Dia Menyesal Saat Aku Memilih ke Selacau

Suami Meninggalkanku Saat Gempa, Dia Menyesal Saat Aku Memilih ke Selacau

Saat gempa dahsyat menghantam, suamiku justru mendorongku hingga jatuh demi menyelamatkan mahasiswi miskin yang selama ini dia santuni. Aku tertimbun reruntuhan. Batu-batu bata menghantam tubuhku hingga organ hatiku robek, dua tulang rusukku patah, dan bayi dalam kandunganku tewas karena lemas. Akan tetapi, tepat saat aku akan didorong masuk ke ruang gawat darurat, suamiku justru mencegat dokter. "Selamatkan Aisha dulu! Dia syok berat dan rentan anemia. Ambil darah Zoya saja, golongan darah mereka sama." Rumah sakit itu adalah milik Keluarga Aditya, keluarga suamiku. Dokter itu sempat ragu sejenak, tetapi akhirnya dengan tangan gemetar, dia menuruti perintah sang tuan muda. Akibat penanganan yang terlambat, janin yang mati di rahimku memicu infeksi parah. Aku mengalami pendarahan hebat dan terpaksa menjalani operasi pengangkatan. Di dalam ruang operasi yang senyap, sayup-sayup aku mendengar suamiku di ruangan sebelah sedang menyenandungkan lagu pengantar tidur demi menenangkan perempuan lain. Tak lama kemudian, perutku pun mengempis. Sambil menatap langit-langit ruang operasi yang pucat, keringat dan air mataku luruh menjadi satu. Dengan sisa tenaga yang ada, aku menekan tombol nomor telepon. "Guru, dalam program pengabdian mengajar ke Selacau minggu depan, aku juga mau ikut."
Baca
Tambahkan
Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga

Pengkhiatan yang Tak Pernah Diduga

Pada hari yang telah dijanjikan untuk mencoba gaun pengantin bersama pemimpin mafia yang telah berpacaran denganku selama tujuh tahun, Raul Ghazali, aku membawa laporan pemeriksaan kehamilan dengan perasaan bahagia dan bergegas menuju butik pengantin. Namun, aku tanpa sengaja mendengar percakapannya dengan orang kepercayaannya. "Kemarin aku mendaftarkan pernikahan dengan Joanne hanyalah langkah darurat. Kakakku tewas dalam baku tembak antar-geng, dan dia mengandung satu-satunya anak dari Keluarga Ghazali. Kalau aku nggak memberinya status, dia dan anak itu nggak akan bisa bertahan hidup di Keluarga Ghazali." "Semua orang akan menindas mereka." Dia menjepit cerutu di antara jemarinya, suaranya dingin dan keras, tetapi terselip sedikit ketidakberdayaan. "Selain status, aku nggak bisa kasih Rivela apa pun. Tapi yang lain, aku bisa memberikan semuanya, cintaku, uangku. Hal ini sama sekali nggak boleh ketahuan sama dia." Aku menggenggam erat kertas hasil pemeriksaan kehamilan itu, hatiku seketika mati rasa. Aku meminta sahabatku membantuku mendaftarkan identitas baru, memastikan Raul tidak akan pernah bisa menemukanku lagi, lalu menghilang dari dunianya. Karena dia tak mampu memberiku dan anakku sebuah keluarga yang utuh, maka hubungan yang tercampur antara tanggung jawab dan kebohongan ini lebih baik diputuskan sampai di sini.
Cerita Pendek · Mafia
4.9K DibacaTamat
Baca
Tambahkan
Antara Janji dan Pengkhianatan

Antara Janji dan Pengkhianatan

Sahabatku yang patah hati, mabuk-mabukan di bar. Dia lalu meneleponku untuk menjemputnya pulang. Begitu sampai di area sofa di bar, aku justru melihat sahabatku merangkul leher tunanganku sambil bermanja-manja. "Ivan, aku sudah menunggumu selama tujuh tahun. Apa kamu belum bosan juga main-main sama Dinda?" Pria yang dahulu bersumpah akan memberiku pernikahan termegah abad ini, saat ini justru memeluk sahabat terdekatku dengan tersenyum penuh kasih sayang. Kemudian, Ivan menghabiskan banyak uang untuk membeli berita utama media di seluruh kota, demi melamarku di depan publik. Di depan kamera siaran langsung, aku tersenyum tenang sambil mengangkat tangan kananku yang dihiasi cincin berlian sepuluh karat. "Maaf Pak Ivan, aku sudah bosan bermain-main denganmu. Aku sudah menikah dengan orang lain."
Baca
Tambahkan
Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Hari orang tuaku bercerai, hujan turun deras. Ada dua surat perjanjian di atas meja. Satu untuk ikut bersama ayah yang gila judi dan berutang di wilayah Kota Tua. Satu lagi untuk ikut ibu yang menikah lagi dengan pengusaha kaya ke daerah pesisir. Di kehidupan sebelumnya, adikku menangis tersedu-sedu karena ingin ikut ibu, sementara aku diam-diam mengemas koper untuk mengikuti ayah. Kemudian, ayah berhenti berjudi dan menjadi orang kaya baru karena uang ganti rugi lahan. Dia benar-benar memanjakan aku. Sedangkan adikku justru diabaikan di rumah ayah tirinya dan dilarang keluar rumah, hingga akhirnya dia meninggal karena depresi. Saat mengulang waktu kembali, adikku tiba-tiba merebut rokok dari tangan ayah dan memeluknya erat-erat seolah tidak mau melepaskannya. "Kak, aku kasihan sama ayah. Kamu pergi aja ke sana buat hidup enak, biar aku yang kasih nasib baik ini buat kamu." Ayah terpana sejenak, lalu dengan perasaan lega mengusap kepala adikku. Aku tidak mengatakan apa pun, lalu mengambil tiket kendaraan ke daerah pesisir itu. Tapi, dia tidak tahu kalau di kehidupan sebelumnya ayah bisa berhenti berjudi. Itu karena aku yang menderita tumor otak ini rela bekerja sampai muntah darah demi melunasi utangnya. Pakai nyawaku sendiri baru bisa membuat dia bertobat.
Baca
Tambahkan
Hitungan Mundur Di Atas Kepala

Hitungan Mundur Di Atas Kepala

Karena bisa melihat hitungan mundur kematian di atas kepala orang-orang terdekat, sejak kecil aku dianggap sebagai pembawa sial oleh keluargaku. Aku pernah menyebutkan waktu kematian kakek, ayah dan ibu. Mereka semua meninggal dalam waktu satu hari karena berbagai kecelakaan. Ketiga kakak laki-lakiku percaya itu adalah kutukanku yang membunuh mereka, sehingga mereka semua sangat membenciku. Sementara adik perempuanku yang lahir melalui proses persalinan yang sulit dan menyebabkan ibu meninggal, justru tumbuh besar dengan penuh kasih sayang. Kakak-kakakku berkata bahwa adikku adalah pembawa keberuntungan. Sejak dia lahir, kehidupan keluarga kami menjadi lancar dan bahagia. Tapi bukankah ibu meninggal karena melahirkan dia? Di hari ulang tahunku yang kedelapan belas, aku melihat hitungan mundur kematianku sendiri melalui cermin. Aku membeli sebuah kotak abu yang kusukai untuk diriku sendiri. Kemudian, aku memasak banyak hidangan yang memenuhi meja makan, berharap bisa makan malam terakhir bersama kakak-kakakku. Namun, hingga hitungan mundur itu berakhir, aku tidak melihat satu pun dari mereka datang ...
Baca
Tambahkan
Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik

Setelah Si Putri Palsu Dibunuh Penculik

Semua bermula ketika aku dibawa kembali ke Keluarga Andaru. Di saat yang sama, putri palsu di keluarga itu memilih untuk terjun ke laut dan memalsukan kematiannya. Seketika, dunia berbalik menyerangku. Semua orang menudingku sebagai penyebab kematiannya. Hanya suamiku, Arya Baskara, yang tetap berdiri kokoh di sisiku. Aku sempat terbuai, mengira dia benar-benar mencintaiku. Hingga suatu malam, aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan temannya. "Saras akan segera kembali. Apa rencanamu terhadap istrimu di rumah?" Suara Arya terdengar begitu dingin saat menjawab, tanpa sedikit pun kehangatan. "Bagaimana mungkin aku jatuh cinta padanya? Dia sudah menyiksa Saras sampai mati. Aku mendekatinya cuma buat balas dendam dan menghancurkan hidupnya." Tak lama kemudian, aku diculik. Saat para penculik menelepon Arya untuk meminta tebusan dan mengancam akan membunuhku, dia sedang sibuk menggelar pesta penyambutan yang mewah untuk kepulangan kekasih hatinya. Dia bahkan tidak sudi membuang waktu untukku. "Kalau mau bunuh, lakukan saja sekarang! Setelah mati, buang saja mayatnya ke laut untuk jadi makanan hiu!" cetusnya ketus. Akhirnya, keinginannya terkabul. Jantungku ditikam dan tubuhku dilempar ke laut dalam untuk dimangsa ikan. Akan tetapi, rambut pria itu justru mendadak memutih dalam semalam karena penyesalan yang tak berujung.
Baca
Tambahkan
Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang

Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang

Alya Sebastian mulai menjalin kasih dengan Justin Fabian di usia 20 tahun. Pada usia 22 tahun, mereka mengikat janji seumur hidup. Setelah lima tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak. Meski mendapat tekanan besar dari Keluarga Fabian, Justin tetap berbisik bahwa dia mencintai Alya. Saat itu, semua orang mengatakan bahwa Alya adalah orang terpenting bagi Justin. Alya pun memercayai Justin tanpa ragu sedikit pun. Sampai akhirnya, kabar tentang anak haram Justin terbongkar. Hari itu, Justin berlutut seharian penuh di tengah guyuran hujan lebat. Justin berkata, "Malam itu cuma kecelakaan. Davina mencekokiku obat. Aku kira, Davina itu kamu. Alya, seumur hidupku, aku cuma mencintaimu. Aku mohon, jangan tinggalkan aku." Alya memercayai ketulusan cinta suaminya, lalu menerima usulan Keluarga Fabian untuk mengambil anak tersebut dan mendepak ibunya. Namun, kemudian, saat Davina Ganendra tinggal di kediaman Keluarga Fabian untuk menjaga kandungannya, pria yang mengatakan akan terus mencintainya, rela meninggalkan rapat internasional demi menemani Davina. Bahkan, ketika gairah mereka berdua sedang memuncak dan hanya kurang satu langkah terakhir, Justin langsung mencampakkan Alya begitu saja demi menemani Davina sepanjang malam, saat Davina di balik pintu berkata bahwa dia takut gelap. Alya menyadari perubahan pada diri Justin. Untuk pertama kalinya, Alya menyodorkan surat cerai kepada Justin. Hari itu juga, Justin memotong pergelangan tangannya di kamar mandi sambil masih mengenakan cincin kawin. CEO dengan kekayaan senilai ratusan miliar itu hanya menuliskan satu kalimat pada surat wasiatnya: [Kalau nggak bisa menua bersama Alya, lebih baik aku mati saja.] Kali kedua, saat Alya baru saja angkat bicara, Justin langsung mematikan telepon dari Davina. Justin membawa Alya mengunjungi kembali setiap tempat yang pernah mereka datangi saat pacaran dahulu, lalu Justin mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Alya seumur hidup ini. Akan tetapi, sekali, dua kali, tiga kali … lama-kelamaan, sikap Justin mulai berubah menjadi acuh tak acuh. Pada kali ke-99, mereka bertengkar hebat. Saat Alya pergi membawa koper-kopernya, Justin tidak lagi mengejarnya untuk memohon ampun seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya. Justin berkata, "Alya itu cuma terlalu dimanja. Sekalipun sudah bertengkar berkali-kali, kapan dia benar-benar mau cerai? Tunggu saja. Setelah beberapa hari, pikirannya menjadi tenang, dia pasti akan pulang dengan sendirinya." Namun, Justin tidak tahu, bahwa Alya sudah meninggal dunia pada malam hujan saat Alya pergi dari rumah itu .... Saat kembali membuka mata, Alya ternyata kembali ke hari di mana dia pertama kali mengetahui bahwa Justin memiliki anak di luar nikah ….
Baca
Tambahkan
Kukira Cinta, Ternyata Hanya Kepura-puraan Semata

Kukira Cinta, Ternyata Hanya Kepura-puraan Semata

Setelah mengalami kecelakaan mobil, aku dan ibuku berada di ambang kematian dan membutuhkan biaya operasi yang sangat besar. Mendengar kabar itu, pacarku meninggalkan kami dan tak lama kemudian menikahi orang lain. Hanya sahabat masa kecilku yang rela menjual saham perusahaannya dan mengeluarkan 14 miliar demi biaya pengobatan kami. Meskipun pada akhirnya ibuku tidak berhasil diselamatkan dan meninggal dunia. Aku juga kehilangan penglihatanku karena operasi itu. Namun, dia tetap tidak meninggalkanku. Dia bukan hanya membantu mengurus pemakaman ibuku, tapi juga memberiku sebuah pernikahan yang megah. Setelah menikah, kami hidup rukun dan saling mencintai. Kami menjadi pasangan yang paling diidamkan oleh semua orang di lingkungan kami. Tak disangka, setelah sebuah pesta hari itu, temannya bertanya kepadanya, "Apa yang akan kamu lakukan kalau suatu hari Yuni tahu kamulah yang kasih kornea matanya ke Sally dan malah membuat ibunya meninggal hanya demi menyelamatkan Tante Mira?" Hugo bergumam pelan, "Aku memang sudah menyakitinya, jadi aku akan menebusnya seumur hidupku." "Tapi, aku mencintai Sally. Demi dia, aku rela terjerumus dalam dosa dan nggak bisa mendapat pengampunan selama-lamanya."
Baca
Tambahkan
Sebelumnya
1
...
3132333435
...
50
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status