Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Selamat Malam, Tuan Ares

Selamat Malam, Tuan Ares

Storm meniru seorang peramal dan berkata, “Saudaraku, kau memiliki mata yang dalam dan kehidupan cinta yang luar biasa. Alismu tebal, dan kariermu luar biasa. Tapi, ada udara hitam berputar-putar di sekitar kepalamu. Aku khawatir hidupmu akan segera terancam." Sean menatap Storm dengan hati-hati. "Kau siapa? Apa yang akan kalian lakukan pada kami?” Tempest memelototi Storm, tidak bisa berkata-kata. "Apa maksud omong kosong itu?" Tempes kemudian mulai menjentikkan jarinya ke dekat hidung Sean dan Rose. Sean dan Rose merasa tubuh mereka melemah saat penglihatan mereka menjadi kabur. Kemudian, mereka jatuh ke pelukan Storm dan Tempest.
9.43.0M viewsCompletedAdded to Library 60.0K Times as the eye of the storm
Show Reviews (884)
Read
+Library
Syadia Lydia Kurui
Ada kalahnya cerita ini mendatar..tapi Ada kalaNya sangat membuat pembaca berimosi..mengikut rentak cerita.. saya suka membacanya..walaupun cerita terkadang rumit untuk saya fahami bahasanya.. cerita Yang sangat panjang..tapi best......️...️...️ apakah cerita ini Akan Di nasihatkan?
Lia Wu
pengen baca tapi bab nya buanyak banget, udah mager duluan takut muter muter banyak drama,,, tang udah baca spill donk, didalamnya ada 2 cerita atau cuma 1, biasanya kan nyambung sama kisah percintaan anaknya
Read All Reviews
Janji Manis Putra Mahkota

Janji Manis Putra Mahkota

Diam mematung seperti tersengat listrik. Storm mendekat perlahan, lalu melihat ekspresi Karina yang berubah menjadi horor. "Nyonya Karina. Apa yang anda lihat di bawah sana?" tanya Storm. Suaranya sangat jernih. Walaupun sedikit terkejut, Storm dengan cepat menguasai dirinya. Karina masih mematung. Pertanyaan Storm masuk ke telinga kanan dan keluar di telinga kiri. Storm berusaha menyadarkan Karina. Mengguncang bahu Karina pelan kemudian menepuk pipinya beberapa kali.
2.7K viewsCompletedAdded to Library 106 Times as the eye of the storm
Read
+Library
The Blue Eyes

The Blue Eyes

Hujan deras disertai angin kencang menderu dan menjadi badai kecil di sepanjang jalan menuju Salabintana. Johan mengumpat beberapa kali saat harus bermanuver untuk menghindari dahan pohon yang berjatuhan. Di sebelah kiriku, Risty tak henti-henti-hentinya melafazkan doa. Sekali-sekali dia menelepon lagi ke nomor ponsel Kakek dan Gantala. Akan tetapi, tidak ada dari mereka yang bisa dihubungi. Opick yang duduk di kursi depan terus mencoba menelepon rumah Kakek Munir, berharap Bi Ipah segera mengangkat telepon. "Apa kalian tidak ada yang punya nomor ponsel Pak Rohim?" tanyaku.
95.7K viewsCompletedAdded to Library 169 Times as the eye of the storm
Read
+Library
In The Rain

In The Rain

Luka baret panjang karena ujung pulpen yang lancip terbentuk dari bawah mata hingga pipi. Sedikit saja pasti mata cewek itu tidak akan terselamatkan. "ARGHHH." Naura menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya. Rasa perih dan panas menerjang wajah Naura yang saat ini tengah meraung keras. Orang-orang segera berkumpul mengelilingi Naura dan memberiman tatapan tajam untuk Starla. Starla mengabaikan semua tatapan itu, dia megambil foto bunda yang tergeletak tak jauh dari Naura. Starla mengusap foto bunda dengan sayang seolah benda itu bisa pecah kapan saja.
101.1K viewsOngoingAdded to Library 34 Times as the eye of the storm
Read
+Library
Wolf fair eyes

Wolf fair eyes

Jika diamati mata Alice yang khas berbeda jauh dengan penduduk Mercia yang umumnya bermata oren atau cokelat muda. "Akan lebih baik kalau kau membuatnya gosong." Alice marah sekali. Ini seperti ketika kau menceritakan seluruh hidupmu dan pendengarnya acuh tak acuh. Bagaimana bisa Insley menyamakan kegemarannya dengan Dyn. Yang kenyatanya itu berbeda jauh. Alice yang lebih suka setengah matang dan Dyn matang sekali. Ini malah memperburuk badai yang hendak surut.
105.2K viewsOngoingAdded to Library 196 Times as the eye of the storm
Read
+Library
PREV
12
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status