Di Ujung Senja
Setelah aku menolak mendonorkan hati untuk kakakku, ibu dan ayah malah mengirimku ke tempat tidur anak konglomerat Kota Jakata.
Katanya, pria itu sosok yang dingin dan sulit didekati karena sudah punya pujaan hati.
Semua orang menunggu kehancuranku, tapi tidak ada yang menyangka kalau dia justru akan memanjakanku setinggi langit.
Selama tiga tahun menikah, dia selalu suka bermesraan denganku di berbagai tempat.
Saat aku pergi ke kamar mandi pun, dia akan mengikutiku dan menekanku di atas wastafel.
Kami juga tidak pernah pakai pengaman, tapi aku tidak kunjung hamil.
Sampai akhirnya aku mengira diriku hamil dan pergi ke rumah sakit untuk periksa, lalu tanpa sengaja mendengar percakapannya dengan dokter.
"Andi, tiga tahun lalu kamu nyuruh aku mindahin sebagian hati Cintaya secara diam-diam ke kakaknya, sekarang kamu malah nyuruh aku bohongin dia kalau dia mandul bawaan. Kok kamu tega banget sih berbuat sekejam itu sama wanita yang cinta kamu?"
"Mau gimana lagi, hati Chika nggak bagus kondisinya. Kalau dia nggak bisa punya anak, aku takut dia bakal menderita di keluarga suaminya nanti, cuma hati Cintaya yang cocok sama dia."
Suara pria yang sangat akrab itu terdengar dingin dan asing. Ternyata cinta dan perlindungan yang selama ini sangat aku percayai hanyalah penipuan belaka.
Kalau sudah begini, aku mending pergi saja.