Legenda Pemilik Seribu Teknik Tarian Pedang
Kang Hallim, adalah satu-satunya legenda yang mampu menguasai seribu teknik tarian pedang dari seribu perguruan penyihir yang berbeda, ia adalah satu-satunya penyihir yang bisa mengeluarkan Gulungan Hitam yang berisi rangkaian Teknik Terlarang dari Lembah Hantu terdalam.
Namun, suatu hari ia harus mati di tangan Keempat Pemimpin Klan Suci, yang ingin menghancurkan Gulungan Hitam tersebut.
2 Dekade kemudian, Ia bangun di tubuh seorang gadis lemah yang dikenal bodoh di sebuah perguruan penyihir. Ia berusaha mencari kembali Gulungan Hitam itu, namun rencananya selalu digagalkan oleh seorang Tetua Agung yang kebetulan sangat ia kenal.
Hallim, "Ya! Bisakah kau berhenti membuatku kesal? Kau pikir dengan siapa kau berbicara?!"
Tetua Agung itu menarik pinggang Hallim, hingga tubuh keduanya menempel erat. Di balik topeng rubah emasnya, ia menyeringai. "Tentu saja aku sedang berbicara dengan istriku."
Hallim. "...."
Basahin
Chapter: Chapter 21 : "Sudah kubilang, aku tidak akan memberikan guncangan yang 'terlalu' kasar untuk saat ini"Jantung Hallim berdegup kencang hingga telinganya berdenging, sementara tubuh Gwanggyu yang menempel di punggungnya terasa sepanas tungku api."G– Gwanggyu... lepaskan..." bisik Hallim.Ia mencoba memanggil nama asli pria itu untuk mengembalikan akal sehatnya. Namun, ia tidak tahu, justru setelah mendengar namanya dipanggil oleh Hallim, hasrat dalam diri Gwanggyu malah semakin melonjak.Ia semakin mempererat lilitannya di perut Hallim, menarik pinggul perempuan itu hingga pantatnya semakin menempel pada 'miliknya' yang menegang keras, tidak menyisakan celah sedikit pun."Sudah kukatakan, diamlah," geram Gwanggyu dengan suara rendah, parau, dan terdengar berbahaya.Mata pria itu tampak gelap, dipenuhi gairah saat ia menatap leher putih Hallim yang terekspos.Tiba-tiba, ia membenamkan wajahnya di leher itu.Cup... Schlurp... Cup...Hallim tersentak saat merasakan bibir panas Gwanggyu yang menghisap lehernya."Ngh.." Hallim merintih sambil mencengkeram lengan Gwanggyu di perutnya.Gwangg
Huling Na-update: 2026-08-22
Chapter: Chapter 20 : "Ada jenis 'guncangan' lain yang jauh lebih berbahaya bagi seseorang dengan tubuh seringkih ini"'Bocah keparat ini,' batin Hallim saat ia menatap tajam Gwanggyu yang tengah membaca sebuah gulungan di hadapannya.Ia masih dibungkam oleh mantra pengikat, sehingga ia tidak bisa mengeluarkan sumpah serapah.Emosi Hallim sudah berada di ubun-ubun.Rencana pelariannya yang brilian hancur lebur karena murid bernama Jinwoo itu terus menahannya. Hingga akhirnya, ia dipaksa untuk kembali ke tempat ini hanya untuk disiksa oleh alat sihir rendahan itu lagi oleh si Tetua Agung ini.Jeohang tampak melayang-layang di depan wajahnya, memancarkan energi sihir yang menekan tubuhnya tanpa ampun. Padahal ia ingin mencoba langkah pertama teknik 'Memberi Surga dan Menerima Neraka' malam ini, namun karena bocah bertopeng rubah ini, ia jadi tidak bisa melakukannya.Dadanya terasa seperti ditindih oleh batu yang beratnya ratusan ton, membuatnya merasa seperti ikan yang dipaksa bernapas di darat."Mengapa kau melakukan ini lagi?" desis Hallim saat mantra pengikat itu akhirnya hilang."Kau sudah bisa bica
Huling Na-update: 2026-08-21
Chapter: Chapter 19 : "Dia itu jenius di antara para jenius!"Jika tatapan bisa membakar, mungkin leher Hallim sudah terbakar sejak tadi karena tatapan murid itu. 'Apakah bekas lukanya terlihat?' pikirnya waswas. Bekas luka teknik 'Memberi Surga dan Menerima Neraka' masih menjalar dari siku hingga ke punggungnya, dan sebagian merambat ke lehernya. Meskipun masih bisa tertutupi oleh kerah pakaiannya, tetap saja itu bisa terlihat jika tersingkap. Bisa gawat jika ada orang lain yang melihat bekas luka itu. Identitasnya bisa-bisa terbongkar bahkan sebelum ia berhasil kabur dari sini. Ia tidak mau dikejar-kejar lagi oleh keempat pemimpin klan suci seperti di kehidupan sebelumnya. Murid itu menyipitkan matanya dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Hallim. "Itu tidak seperti bekas gigitan nyamuk, warnanya merah keunguan, dan bentuknya juga cukup besar. Apakah ada nyamuk sebesar itu di Paviliun Hutan Bambu?" Hallim tertegun. Bekas merah? Ia segera menyentuh area yang dimaksud murid itu dengan jemarinya. 'Tunggu, dia tidak sedang membicaraka
Huling Na-update: 2026-08-21
Chapter: Chapter 18 : "Menyebut nama asli seorang Tetua Agung adalah penghinaan"Butiran air meluncur di sepanjang leher Hallim saat ia keluar dari kolam batu. Ia mengambil pakaian ungu itu dan mulai mengenakannya.Kain itu jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya yang ramping, warnanya kontras dengan kulitnya yang tampak memerah sehabis mandi. Tekstur kainnya terasa sangat halus dan lembut, jauh lebih berkualitas dibanding seragam kasar yang ia kenakan sebelumnya.Setelah mengikat sabuk pinggangnya, ia melangkah keluar sambil jemarinya menyusuri lengan kanannya yang kini terasa lebih halus.'Bagaimana ini bisa menghilang?' pikirnya heran."Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian di aula utama waktu itu? Saat aku memusnahkan pencuri jiwa itu?" gumamnya. "Apakah menyelamatkan seseorang menjadi 'bayaran' untuk menghapus luka ini?"Bukan tanpa alasan Hallim berpikir demikian.Teknik tarian pedang 'Memberi Surga dan Menerima Neraka' adalah ilmu yang bermain dengan keseimbangan karma. Jika luka itu adalah wujud dari 'Neraka', maka melakukan perbuatan baik adalah wujud
Huling Na-update: 2026-08-20
Chapter: Chapter 17 : "Padahal dulu kau hanyalah bocah manis yang selalu mengekor di belakangku sambil memegang ujung jubahku"Di dalam sebuah ruang bawah tanah yang lembap dan hanya diterangi oleh satu lilin yang berkedip-kedip, sebuah asap hitam berbentuk setengah manusia tampak menggeliat gelisah di udara.Wujudnya tampak menyedihkan. Asapnya semakin menipis, dan percikan abu mulai rontok dari pinggiran tubuhnya.Dari luar, terdengar langkah kaki yang terburu-buru mendekat.Pintu batu yang berat itu bergeser terbuka, dan Tetua Lim masuk. Wajahnya tampak pucat, dan kerutan muncul di beberapa bagian wajahnya. Ia segera berlutut dengan satu kaki di hadapan asap hitam itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam."Hormat saya, Master," ucap Tetua Lim dengan suara yang penuh pengabdian."KAU!" Asap hitam itu melesat maju sebelum tangannya mencekik leher Tetua Lim. "Kenapa raga baru belum siap?! Apakah kau ingin melihatku musnah, hah?!"Meski ia tak punya tangan fisik, energi sihir hitam yang ia keluarkan mampu menekan leher Tetua Lim, sehingga Tetua Lim tampak kesulitan untuk bernapas."M– mohon ampun, Master.
Huling Na-update: 2026-08-20
Chapter: Chapter 16 : "Karena aku merasa hatiku juga sedikit gundah malam ini"Hallim berhenti sejenak sambil meletakkan kedua tangannya di atas lutut dan menelan ludah berkali-kali untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ia menoleh ke belakang, di mana ia sudah melewati lebih dari lima ratus anak tangga batu.Tetua Agung juga ikut berhenti tepat di sebelahnya, menunggu gadis itu melanjutkan langkahnya.'Sebenarnya kenapa bocah ini membawaku ke sini?' rutuk Hallim dalam hati. 'Apa dia tahu kalau aku menipunya dan sekarang dia menghukumku dengan cara ini?'Hallim menelan ludah sekali lagi untuk mengumpulkan segenap tenaganya dan kembali menegakkan tubuhnya sambil melirik sinis pada Tetua Agung.'Baiklah, lakukan apapun yang kau mau, aku akan menahannya sampai aku bisa kabur dari tempat ini.'Ia melanjutkan langkahnya. Lalu, setelah melewati dua ratus anak tangga, Hallim benar-benar sudah tidak sanggup lagi dan akhirnya menjatuhkan bokongnya di atas anak tangga ketujuh ratus.Napasnya bahkan terdengar seperti dengkusan babi hutan yang berat dan kasar di
Huling Na-update: 2026-08-19