Legenda Pemilik Seribu Teknik Tarian Pedang
Kang Hallim, adalah satu-satunya legenda yang mampu menguasai seribu teknik tarian pedang dari seribu perguruan penyihir yang berbeda, ia adalah satu-satunya penyihir yang bisa mengeluarkan Gulungan Hitam yang berisi rangkaian Teknik Terlarang dari Lembah Hantu terdalam.
Namun, suatu hari ia harus mati di tangan Keempat Pemimpin Klan Suci, yang ingin menghancurkan Gulungan Hitam tersebut.
2 Dekade kemudian, Ia bangun di tubuh seorang gadis lemah yang dikenal bodoh di sebuah perguruan penyihir. Ia berusaha mencari kembali Gulungan Hitam itu, namun rencananya selalu digagalkan oleh seorang Tetua Agung yang kebetulan sangat ia kenal.
Hallim, "Ya! Bisakah kau berhenti membuatku kesal? Kau pikir dengan siapa kau berbicara?!"
Tetua Agung itu menarik pinggang Hallim, hingga tubuh keduanya menempel erat. Di balik topeng rubah emasnya, ia menyeringai. "Tentu saja aku sedang berbicara dengan istriku."
Hallim. "...."
อ่าน
Chapter: Chapter 12 : "Mungkin, si Pencuri Jiwa ini memiliki anjing setia di sisinya"Tetua Agung kembali lagi ke Aula pemeriksaan keesokan paginya untuk menerima rangkuman laporan mengenai kondisi murid-murid yang telah melewati pemeriksaan celah jiwa."Penguji Han, selama lima belas tahun aku tidak berada di perguruan ini, banyak wajah yang telah berubah dan di antaranya adalah wajah-wajah baru yang tidak kukenal. Namun, aku sangat hafal wajah-wajah para tetua karena mereka adalah yang paling lama tinggal di sini bahkan sebelum aku memasuki meditasi terpencil. Totalnya ada enam tetua di perguruan ini termasuk aku, dan hanya empat yang hadir di aula utama tiga hari lalu."Tetua Agung menjeda kalimatnya saat ia menatap wajah Penguji Han yang tampak jauh lebih lelah dibandingkan kemarin, kantung mata pria itu tampak jauh lebih menonjol dan rambutnya acak-acakan, mungkin karena ia harus bekerja ekstra akibat kekacauan yang ditinggalkan ratusan Pencuri Jiwa tiga hari yang lalu, ditambah lagi dia juga harus mengumpulkan seluruh Am-Gyeong dan data-data m
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-17
Chapter: Chapter 11 : "Memelihara serangga di dalam lumbung padi sendiri"Pagi berikutnya datang dengan cepat ketika Tetua Agung Choi masuk ke Aula Pemeriksaan.Di sana, Penguji Han telah hadir, dan langsung membungkuk hormat begitu melihat kedatangan Tetua Agung Choi. "Selamat pagi Tetua Agung Choi, saya telah mengumpulkan seluruh alat sihir pendeteksi energi hitam seperti yang anda minta."Penguji Han kemudian berdiri di samping sebuah meja panjang yang dipenuhi dengan puluhan bola kristal kaca dan lempeng logam perak.Itu semua adalah alat sihir yang disebut Am-Gyeong, kristal cermin pendeteksi energi hitam. Ada lebih dari 200 Am-Gyeong yang terkumpul di atas meja panjang itu.Secara teknis, Am-Gyeong seharusnya bereaksi secara langsung terhadap fluktuasi energi roh-roh pendendam. Karena energi hitam memiliki frekuensi yang tajam dan dingin, maka begitu ia mendekat dalam radius satu mil saja dari Am-Gyeong, maka kristal ini akan memancarkan cahaya merah dan mengeluarkan bunyi peringatan."Apakah alat ini juga dipasang di dalam aula utama kemarin?" tanya
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-16
Chapter: Chapter 10 : "Sepertinya Tetua Agung sedikit tertarik dengan Jin Byul""Tetua Agung Choi!" Langkah Tetua Agung yang baru saja keluar dari aula tiba-tiba terhenti ketika sesosok wanita paruh baya dengan pakaian tukang masak memanggilnya dan berlari tergesa-gesa mengejarnya. "Tetua Agung Choi! Mohon tunggu!" seru Bibi Jo dengan wajah yang dipenuhi kecemasan saat melihat gadis yang digendong oleh pria bertopeng rubah itu. Ia sampai di depan Tetua Agung dengan napas memburu. "Itu... Murid itu bernama Jin Byul, Tetua Agung Choi. Dia adalah murid yang cukup akrab dengan saya, mohon serahkan dia pada saya saja. Saya akan merawatnya di barak pelayan." Tetua Agung Choi tidak langsung menjawab. Ia menunduk sedikit untuk menatap wajah pucat Hallim yang bersandar di dadanya. "Tidak." "Ne?" ulang Bibi Jo. Tetua Agung kembali menatap Bibi Jo dan menggeleng. "Tidak." Bibi Jo kehilangan kata-kata mendengar jawaban lugas dari Tetua Agung. Namun sejurus kemudian ia berkata lagi. "Kalau begitu, izinkan saya menunjukkan jalan ke kamarnya saja, Tetua Agung. Anda pasti
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-15
Chapter: Chapter 9 : "Dia satu-satunya orang di Daratan Sol ini yang memiliki kepekaan tingkat tinggi"Tetua Agung Choi mengibaskan lengan jubahnya ke udara dengan penuh wibawa.SyuuuutPrakk!Dalam sekejap, ribuan lilin di sepanjang dinding dan pilar aula menyala kembali secara serentak. Cahaya benderang menyapu kegelapan. Namun, alih-alih memberikan rasa lega, cahaya itu justru menyingkap sebuah pemandangan mengerikan di dalam aula yang membuat jantung orang yang melihatnya berdetak kencang.Terdengar suara terkesiap dan pekikan tertahan dari beberapa murid.Hening.Kesunyian yang mencekam menyelimuti aula.Di sana, hampir di setiap sudut aula, di atas lantai batu yang dingin, berserakan ratusan tubuh murid yang sudah tidak bernyawa.Tubuh-tubuh itu tampak mengerut, kulit mereka pucat keabu-abuan dan menempel ketat pada tulang, seolah-olah seluruh cairan dan esensi kehidupan mereka telah disedot keluar hingga kering. Mereka terlihat lebih seperti mayat mumi yang sudah meninggal bertahun-tahun."I-itu..." Penguji Han mundur selangkah, wajahnya sepucat kertas. "Mayat-mayat itu... Bukan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-14
Chapter: Chapter 8 : "Jadi ini alasan dia mengumpulkan semua orang di sini hari ini. Dia sengaja menjadikan dirinya sendiri sebagai umpan untuk memancing keluar semua parasit ini di satu tempat"Di daratan Sol, Pencuri Jiwa adalah entitas parasit mengerikan yang lahir dari ritual terlarang yang bertujuan untuk mencuri jiwa.Mereka merupakan roh-roh pendendam yang menolak kematian dan memilih mengincar manusia hidup yang memiliki celah di jiwanya untuk dirasuki. Begitu berhasil menyusup, roh-roh ini akan melahap habis jiwa asli korbannya hingga tak bersisa, lalu mengklaim raga tersebut sebagai inang baru demi melanjutkan eksistensi mereka yang terkutuk di dunia manusia.Inilah cara para pelaku ritual terlarang untuk mencuri jiwa agar menjadi abadi.Mereka tidak bisa dideteksi oleh mata telanjang, kecuali bagi orang-orang yang memiliki kepekaan tingkat tinggi.Awalnya, saat suasana mulai kacau, Hallim hanya merasakan kehadiran dua energi hitam itu di dalam aula ini. Namun, seiring dengan kekacauan yang semakin tak terkendali, jumlahnya berlipat ganda dengan kecepatan yang tidak masuk akal.Empat... lima... sepuluh...Dua puluh... lima puluh..."Banyak sekali," bisik Hallim.Hin
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-13
Chapter: Chapter 7 : "Aku tidak pandai merangkai kalimat, jadi aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri di depan umum"Aula utama itu berbentuk bangunan yang sangat luas.Di sana, sudah ada ribuan murid yang berkumpul, tampak berbaris rapi di masing-masing sisi. Antara murid laki-laki dan perempuan dipisah, sementara itu, keempat tetua duduk di barisan kursi paling depan, menghadap podium besar di ujung Aula.Hallim berjalan mengendap-endap di barisan murid perempuan paling belakang, sambil menundukkan kepala serendah mungkin dan berusaha menutupi sebagian wajahnya menggunakan lengan bajunya yang cukup lebar, mencoba menenggelamkan dirinya di antara kerumunan murid.Ia memperhatikan sekeliling. Selain para murid, tetua dan guru, ternyata para tukang masak di dapur dan pelayan-pelayan yang bekerja di perguruan ini juga ikut berkumpul, termasuk Bibi Jo dan Bibi Mi.Ia mengerutkan alisnya, 'Mengapa orang-orang ini juga ikut berkumpul di sini?'Ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan.Tepat setelah itu, suara melengking penguji Han terdengar memenuhi aula, menyebabkan kebisingan dari obrolan para mur
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-13