LOGINmampu bertahan saat diuji dalam hal ekonomi. Namun, jika itu adalah sebuah perngkhianatan. Itu benar-benar melukai harga dirinya. Haruskah ia mempertahankan pernikahan yang bahkan di dalamnya tak ada lagi cinta. Bukankah pernikahan harusnya saling menyayangi?
View MoreAs I slurped on my noodles at the town's renowned noodle shop, I found myself immersed in the savory flavors, oblivious to the world around me. However, that moment of bliss was abruptly interrupted by a peculiar sound, a faint "ping." I glanced around, but everything appeared normal. Shrugging it off, I resumed my culinary indulgence.
Exiting the shop, I returned home to the comforting aroma of my mother's cooking. Sophia, with her graceful demeanor, was busy preparing fried chicken as I entered the kitchen. Regretting my earlier noodle escapade, I couldn't help but think that I'd prefer her cooking over any other. "There you are; here, have some chicken," she offered warmly.
I declined, much to her surprise. Her disappointment was palpable, prompting me to quickly apologize and offer a hug. "Sorry, Mom," I said earnestly.
"It's okay, not your fault. I should have told you earlier," she replied, her mood lifting as I kissed her cheek before darting upstairs.
"That little... when will he grow up?" she chuckled, resuming her cooking.
Once alone, I changed into my pajamas and settled in front of my computer, ready to join my friends in a gaming session. However, before I could even launch a game, the mysterious "ping" echoed once more, followed by an unfamiliar mechanical voice. I froze in terror, my heart racing.
"Host has 100% compatibility with the System. Requesting the Host's approval to bind the System with the Host's body," the voice declared.
I stumbled backward, landing unceremoniously on the floor. Panic coursed through me as I struggled to comprehend the situation. Who—or what—was speaking to me? Was I losing my mind?
I shivered at the voice's reappearance. "What the... why am I hearing things? Did the A.I. rebel and start attacking cities? Is the apocalypse starting? What is happening to me?"
"Host, do not be afraid."
Terrified, I remained frozen. "What are you?"
"Congratulations, Host. The Supernatural Divine Godly Power System, or The Primordial System, has selected you to be your guide to becoming the strongest in the Universe and participating in the Multiverse."
My jaw dropped. "The Supernatural Divine Godly Power System? The strongest in the universe? The Multiverse what?"
The information overloaded my senses. I sat down, attempting to process the revelation. "The system, the strongest in the universe – is this some kind of joke?"
"No, it is not."
"What... you can hear my thoughts?"
"Yes, the Host's mind is connected to the system, so the system can hear every thought the Host produces."
"Damn, what a drag."
"Host's approval is required for the system to bind with the Host's body."
"Binding the system? What's the use of that?"
"Binding the system will give the Host complete control over his body and enable the training and cultivation of different powers and techniques."
"Cultivation techniques? Are there Grandmasters and deities in this world?"
"Yes, that is correct."
My mind raced with disbelief; the world held secrets I had never fathomed. The revelation of a supernatural system and the promise of becoming the strongest in the universe opened up a realm of possibilities I couldn't have imagined.
Aku tidak menyadari jika aku terlalu lama berada di toilet, sampai kemudian Mas Syahru menyusul ke sini. Aku buru-buru keluar agar ia tak khawatir.“Ada apa? Kenapa lama banget ke toiletnya? Perutmu sakit?”“Hm, sedikit, tapi udah lebih baik.”“Apa karena obat antidepressant itu?”“Enggak.”“Obatnya sudah habis dan aku udah enggak pernah minum lagi sejak sebulan yang lalu.”“Loh, kenapa?”“Maaf, tapi kepalaku sering sakit kalau terus-terusan minum obatnya.”“Terus sekarang kenapa bisa sakit?”“Mungkin cuma masuk angin. Aku mau ganti baju dulu, gamisku kena muntahan.”“Muntah? Memangnya dari tadi kamu muntah?”“Iya.”“Kapan terakhir datang bulan?”“Hm, ya Allah udah 2 minggu yang lalu.”Pria itu mendadak tersenyum, bukan hanya tersenyum ia bahkan tiba-tiba saja mengangkatku dan memutarnya.Ya Tuhan aku masih lemas karena muntah yang tak kunjung usai, ia malah membuatku pusing dengan berputar-putar.“Mas turunin dulu, aku mabok!”“Maaf ya, Mas seneng aja. Ini kamu pasti hamil Sayang.”
Bahkan sekarang melihatku tak berdaya. Pria ini tak hanya memanggilkan dokter, ia juga rela mengurus rumah bahkan menyuapiku makan dan membantu ke toilet.Entah kenapa dengan fisikku. Aku begitu takut dengan ancaman, setelah berbulan-bulan terus saja ditekan dengan berbagai hinaan, makian bahkan kadang-kadang ada juga beberapa akun yang mengancamku. Aku masih baik-baik saja, karena aku pikir itu hanya ucapan tanpa pembenaran. Namun, nyatatanya saat tahu jika kemarin aku benar-benar diancam. Pertahananku benar-benar runtuh.“Al, kita ke rumah sakit saja ya!”“Enggak Mas, aku baik-baik saja.”“Kamu terus saja waspada sejak kemarin bahkan belum tidur sama sekali.”Bagaimana aku bisa tidur jika, setiap waktu aku terus ketakutan kalau mungkin saja ada yang akan datang ke rumah. Ketakutan itu semakin menjadi mana kala tak ada orang di rumah.“Reza enggak akan ke sini Sayang, kalau kamu terus begini bisa ganggu kesehatan. Kita ketemu psikiater aja oke?”“Aku enggak gila.”“Enggak semua orang
“Ya Allah Mas, itu bukannya orang yang pernah datang ke rumah kita?”“Iya, itu anak buahnya Reza.”“Mau apa lagi coba? Kok bisa tahu kita ada di sini?”“Entah, nah itu Rezanya datang. Kamu jangan jauh-jauh dari Mas. Sini pegangan! Kita emang enggak bisa terus menghindar. Di sini banyak CCTV jadi kalau ada apa-apa banyak saksinya. Kamu jangan takut!”Pria itu menggenggam lenganku lantas mulai berjalan menuju Reza yang kini juga menatap kami ke arah yang sama. Di sampingnya sudah ada dua orang pria berbadan tegak dan besar yang melihat kami dengan tatapan sangarnya yang khas.Tak lama beberapa bawahannya yang lain juga datang dan berjajar di belakangnya. Namun, seolah tak kenal takut Mas Syahru terus melangkah.Sampai kemi berdiri tepat di depan pria itu, ia tiba-tiba saja menghadiahi pukulan yang cukup keras di perut sahabatnya. Hampir saja dua bawahannya membalaskan apa yang ia lakukan pada Reza, kalau saja tak dicegah oleh atasannya, aku yakin Mas Syahru juga sudah mendapatkan pukula
“Apa sih Sayang, pikiran kamu itu ya! Kotor banget.”“Memang kenyataannya begitu ‘kan?”“Suamimu ini masih normal. Mana mungkin mau melakukan hubungan sesama jenis. Membayangkannya saja sangat mengerikan.”“Ya terus kalau Reza nginep dia tidur di mana?”“Di bawah, di sofa tempat Mas biasa tidur.”“Memangnya dia mau.”“Ya, harus mau. Suruh siapa numpang tidur di sini. Sudah tahu rumahnya kecil.”Ternyata berbeda sekali perlakuannya padaku dan orang lain.“Meskipun Mas berteman baik, Mas juga enggak naif. Dia dari awal memang keliatan enggak normal sejak kasus pelecehan itu, jadi harus pintar jaga diri.”“Baguslah.”“Udah enggak marah lagi?”Aku hanya menggeleng.“Cie ada yang cemburu.”“Aku hanya bertanya, tolong jangan menafsirkannya sebagai cemburu.”“Orang enggak akan bertanya jika tidak cemburu.”Entah sejak kapan pria ini menjadi sangat narsis. Sepanjang jalan menuju rumah ia bahkan terus saja memaksaku untuk mengakui kecemburuanku padanya.“Iya, aku cemburu sama Reza. Puas?”Seka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore