
Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin
"Sakit, Gavin... lepaskan!"
"Kau yang memancingku, Aruna. Jangan salahkan aku kalau malam ini aku tidak akan memberimu ampun."
Hanya butuh satu kesalahan di hotel tiga minggu lalu untuk mengubah Aruna dari seorang Creative Director yang tangguh menjadi budak gairah pria yang paling ia benci. Gavin Dirgantara—calon suami adiknya sendiri—tidak hanya merenggut kesuciannya, tapi juga menanamkan benih yang kini mulai berdenyut di rahim Aruna.
Di bawah intimidasi tubuh Gavin yang perkasa, Aruna kehilangan kuasa atas raga dan napasnya. Setiap sentuhan pria itu adalah racun yang membakar, menghapus jejak apa pun yang pernah ada di hidup Aruna sebelumnya. Gavin sangat dominan, sangat ahli memetakan setiap titik lemah di tubuh Aruna hingga wanita itu terpaksa mendesah di tengah kebencian yang mendalam.
"Kenapa wajahmu pucat? Takut rahasia kecil kita di perutmu ini ketahuan?" bisik Gavin dengan seringai pemenang.
Kini, dengan dua garis merah di tangan yang gemetar, Aruna sadar bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan tanpa jalan keluar. Gavin tidak hanya menginginkan tubuhnya, tapi juga ingin mengikatnya selamanya melalui janin yang tak seharusnya ada.
Saat hari pernikahan sang adik tinggal menghitung hari, sebuah pilihan maut menanti di depan mata.
Haruskah Aruna menghancurkan kebahagiaan adiknya dengan sebuah kejujuran yang menjijikkan, atau membiarkan dirinya menjadi pemuas nafsu sang adik ipar selamanya demi menjaga nama baik keluarga?
อ่าน
Chapter: Bab 11: Sangkar Emas Kembali MengunciPintu kayu penginapan itu terbuka dengan satu tendangan kasar. Aruna tersentak bangun, jantungnya hampir melompat keluar saat melihat sosok Gavin berdiri di sana dengan jas hitam yang sangat rapi. Pria itu tampak seperti pengantin pria yang sempurna, jika saja matanya tidak menyala seperti iblis."Selamat pagi, Aruna. Tidurmu nyenyak di tempat sampah ini?" tanya Gavin dengan suara yang sangat tenang namun mematikan.Aruna merosot dari ranjang, mencoba mencari jalan keluar, namun Gavin sudah lebih dulu mencengkeram lengannya. "Lepaskan! Aku tidak mau pulang!""Kamu punya dua pilihan, Aruna. Pulang denganku sekarang dan bersikap seolah kamu hanya tersesat jalan saat ingin membeli sesuatu, atau aku akan menelepon ibumu sekarang dan memberitahunya bahwa calon menantunya baru saja menghabiskan malam dengan putrinya yang tertua."Aruna membeku. Napasnya memburu. "Kamu tidak akan berani melakukan itu. Kamu butuh hak warismu, Gavin!"Gavin tertawa, jemarinya mengusap pipi Aruna dengan lembut
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-18
Chapter: Bab 10: Melarikan DiriAruna berdiri kaku di depan cermin besar butik mewah itu. Gaun satin berwarna sampanye yang melekat di tubuhnya terasa mencekik, bukan karena ukurannya yang salah, melainkan karena tatapan Gavin yang terus menguliti bayangannya dari pantulan kaca. Di sudut lain, Maya sedang sibuk mencoba gaun pengantinnya dengan tawa riang."Gimana, Kak? Cantik banget kan gaunnya? Gavin yang pilihkan desainnya khusus buat Kakak," seru Maya dari balik tirai ruang ganti sebelah.Aruna menelan ludah yang terasa pahit. Ia melirik Gavin yang duduk santai di sofa beludru sambil menyesap sampanye. Pria itu memberikan senyum tipis yang mematikan."Sini mendekat, Aruna. Biar aku lihat apakah kancing di punggungmu sudah terpasang dengan benar," ucap Gavin dengan nada memerintah.Aruna melangkah ragu. Begitu ia berdiri di depan Gavin, pria itu bangkit dan berdiri tepat di belakangnya. Aruna bisa merasakan deru napas hangat Gavin di tengkuknya. Tangan dingin Gavin perlahan merayap di punggungnya yang terbuka, men
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-26
Chapter: Bab 9: Sisa Semalam"Aah... Stop Gavin. Sakit.""Jangan bohong Aruna, aku tahu kamu menikmatinya."Bukannya menurunkan tempo gerakan pinggulnya, Gavin malah mempercepat. Tangan Gavin bahkan sangat aktif meremas payudara Aruna."Ah... aku membencimu Gav... ahhh...."Gavin justru tertawa rendah. Suara beratnya memenuhi kamar yang dingin itu. Ia mencengkeram kedua tangan Aruna ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan yang kokoh. Napasnya memburu di ceruk leher Aruna, meninggalkan jejak kemerahan yang sangat jelas di sana."Benci saja sesukamu, Aruna. Karena semakin kamu membenciku, semakin aku ingin menghancurkanmu di atas ranjang ini.""Kamu gila, Gavin! Berhenti!""Aku tidak akan berhenti sampai kamu benar-benar menyerah. Katakan, siapa pria yang memilikimu sekarang?"Aruna memalingkan wajah. Air matanya jatuh membasahi bantal sutra. "Lepaskan aku... kumohon...""Sebut namaku, Aruna! Katakan siapa yang ada di dalam dirimu sekarang!" Gavin memberikan hentakan yang lebih keras, membuat Aruna memekik t
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-19
Chapter: Bab 8: Rahasia di Balik BotolPukul tujuh pagi tepat. Klakson sedan hitam Gavin sudah meraung di depan pagar rumah Ibu. Aruna berdiri di teras dengan dua koper besar dan tas kerja yang ia dekap erat—tas yang kini ia tahu berisi alat pelacak."Sudah siap, Aruna? Ayo, biar aku bantu bawa kopernya," Gavin keluar dari mobil, wajahnya tampak segar dengan kemeja navy yang digulung sampai siku."Aku bisa sendiri," ketus Aruna."Jangan keras kepala. Kamu sedang tidak dalam kondisi untuk mengangkat beban berat," bisik Gavin sambil merebut paksa koper dari tangan Aruna. Matanya melirik perut Aruna sekilas, sebuah tatapan yang membuat Aruna mual.Ibu dan Maya keluar untuk melepas kepergian Aruna."Gavin, titip Aruna ya. Jaga dia baik-baik," ucap Ibu sambil tersenyum tulus."Pasti, Bu. Saya akan pastikan Aruna mendapatkan semua yang dia butuhkan di apartemen baru itu," jawab Gavin dengan nada yang terdengar begitu protektif.Apartemen baru itu terletak di lantai paling atas, dengan akses lift pribadi yang hanya bisa terbuka d
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-16
Chapter: Bab 7: Gaun di Atas Luka"Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakmu yang butuh waktu lebih lama untuk bersiap. Iya kan, Aruna? Kamu terlihat sangat... tertekan."Aruna memalingkan wajah ke arah jendela. "Aku cuma kurang tidur.""Kurang tidur atau memikirkan sesuatu yang berat?" sahut Gavin dengan nada santai namun tajam."Mungkin Kak Aruna stres karena kerjaan, Vin. Kan dia baru balik dari luar kota langsung aku ajak pergi," bela Maya sambil mengelus lengan Gavin.Gavin tersenyum tipis. "Mungkin. Atau mungkin ada hal lain yang belum sempat dia ceritakan padamu, Maya."Aruna mengepalkan tangan kuat-kuat sampai kuku-kukunya memutih. "Gavin, fokus saja pada jalanan.""Aku selalu fokus, Aruna. Sangat fokus pada tujuanku," jawab Gavin penuh arti.Begitu sampai
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-15
Chapter: Bab 6: Hukuman Sang Tuan MudaMobil hitam mewah itu berhenti dengan sentakan kasar di basement apartemen. Gavin langsung menarik tangan Aruna keluar, langkahnya lebar-lebar dan penuh emosi. Begitu pintu lift pribadi tertutup, Gavin menyudutkan Aruna ke dinding kaca lift yang dingin."Gavin, lepas... sakit!" rintih Aruna."Sakit? Terus kamu pikir gimana perasaan aku waktu lihat si sampah Raka itu pegang-pegang tangan kamu?" Gavin mendekatkan wajahnya, matanya gelap. "Kamu itu punya aku, Aruna. Jangan pernah berpikir buat lari."Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Gavin menarik Aruna masuk ke apartemennya yang sepi, lalu mengempaskannya begitu saja ke sofa marmer."Gavin, kita bisa bicara baik-baik kan...""Aku lagi nggak butuh bicara!" bentak Gavin sambil membuka kancing kemejanya satu per satu. "Malam ini, aku cuma mau kamu nurut."Gavin langsung menerjang, mengunci tangan Aruna ke atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kuat. Ia menciumi leher Aruna kasar, seolah mau menghapus semua jejak udara luar yan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-04