แชร์

Bab 7: Gaun di Atas Luka

ผู้เขียน: Fillani Putri
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-15 22:42:23

"Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.

Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakmu yang butuh waktu lebih lama untuk bersiap. Iya kan, Aruna? Kamu terlihat sangat... tertekan."

Aruna memalingkan wajah ke arah jendela. "Aku cuma kurang tidur."

"Kurang tidur atau memikirkan sesuatu yang berat?" sahut Gavin dengan nada santai namun tajam.

"Mungkin Kak Aruna stres karena kerjaan, Vin. Kan dia baru balik dari luar kota langsung aku ajak pergi," bela Maya sambil mengelus lengan Gavin.

Gavin tersenyum tipis. "Mungkin. Atau mungkin ada hal lain yang belum sempat dia ceritakan padamu, Maya."

Aruna mengepalkan tangan kuat-kuat sampai kuku-kukunya memutih. "Gavin, fokus saja pada jalanan."

"Aku selalu fokus, Aruna. Sangat fokus pada tujuanku," jawab Gavin penuh arti.


Begitu sampai di butik mewah itu, Maya langsung ditarik oleh asisten butik ke ruang ganti. Aruna berdiri di tengah ruangan yang dikelilingi manekin berpakaian putih, merasa seperti alien di tengah kesucian yang palsu.

Gavin berdiri di dekat sofa tunggu, melepaskan kancing jasnya. "Duduklah, Aruna. Jangan berdiri di sana seperti patung."

"Aku lebih nyaman berdiri."

"Duduk, atau aku yang akan memaksamu duduk di pangkuanku?" bisik Gavin saat ia melangkah mendekat.

Aruna terpaksa duduk di sofa velvet yang empuk. Gavin duduk tepat di sampingnya, sangat dekat hingga paha mereka bersentuhan.

"Jangan dekat-dekat, Gavin. Maya bisa keluar kapan saja!" desis Aruna.

"Lalu kenapa kalau dia keluar? Kita hanya calon adik ipar dan kakak ipar yang sedang berbincang akrab, bukan?" Gavin meraih jemari Aruna, menggenggamnya dengan kuat.

"Lepas!"

"Diam, Aruna. Atau aku akan menciummu di depan semua asisten butik ini."

Aruna membeku. Napasnya memburu. "Apa maumu sebenarnya?"

"Sudah kubilang. Aku ingin kamu pindah ke apartemen yang sudah kusiapkan besok pagi jam tujuh."

"Aku punya apartemen sendiri!"

"Apartemen kumuh dengan keamanan rendah itu? Tidak. Aku tidak mau anakku menghirup udara di sana. Kamu akan pindah ke unit pribadiku. Keamanannya terjamin, dan yang paling penting... aku punya kunci cadangannya."

"Kamu benar-benar iblis!"

"Aku hanya pria yang tahu cara menjaga miliknya."

Tiba-tiba, tirai besar tersingkap. Maya keluar dengan gaun pengantin model mermaid yang sangat megah. "Gavin! Kak Aruna! Lihat deh! Bagus nggak?"

Gavin berdiri dengan anggun, melepaskan tangan Aruna secepat kilat. "Sempurna, Maya. Kamu terlihat sangat luar biasa."

Maya berputar di depan cermin besar. "Kak Aruna, menurut Kakak gimana? Bagian dadanya nggak terlalu rendah, kan?"

Aruna mencoba mengatur napasnya yang sesak. "Bagus, May. Kamu sangat cantik."

"Tapi Kakak kok mukanya pucat banget? Kakak beneran sakit ya?" Maya menghampiri Aruna, memegang kening kakaknya. "Eh, panas lho! Kakak demam?"

"Hanya pusing sedikit, May."

"Mungkin kakakmu butuh vitamin tambahan, Maya," Gavin ikut menghampiri, berdiri tepat di belakang Maya namun matanya menatap Aruna dengan kilat kemenangan. "Tadi aku sudah memesankan beberapa suplemen khusus untuknya. Besok akan sampai ke rumah."

"Wah, Gavin perhatian banget! Makasih ya, Sayang, udah peduli sama Kak Aruna juga," ucap Maya haru.

"Sama-sama. Kebahagiaan Aruna adalah bagian dari tanggung jawabku sekarang."


Makan malam setelah fiting menjadi siksaan berikutnya. Gavin sengaja memilih restoran dengan menu protein tinggi.

"Makan dagingnya, Aruna. Kamu butuh tenaga untuk pindahan besok," Gavin meletakkan potongan daging steak ke piring Aruna.

"Aku bisa ambil sendiri, Gavin."

"Aku tahu kamu bisa, tapi aku lebih suka melayanimu," sahut Gavin santai.

Ibu yang ikut makan malam tersenyum melihat interaksi itu. "Ibu senang melihat kalian akur. Awalnya Ibu takut kalian bakal kaku karena jarang ketemu."

"Aruna tipe wanita yang sangat mudah beradaptasi, Ibu. Iya kan, Aruna?" tanya Gavin sambil menaikkan sebelah alisnya.

Aruna hanya menelan makanannya dengan paksa. Setiap kunyahan terasa seperti pasir.

"Oh iya, Vin. Soal pernikahan minggu depan, semua persiapan sudah beres kan?" tanya Ibu.

"Sudah, Bu. Tinggal eksekusi saja. Saya pastikan ini akan menjadi pernikahan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun. Terutama oleh Aruna."

"Kenapa terutama oleh Kak Aruna?" tanya Maya bingung.

"Karena Kakakmu akan menjadi saksi paling dekat bagaimana aku membangun masa depan," jawab Gavin dengan seringai tipis.


Perjalanan pulang terasa sangat lama. Begitu sampai di depan pagar rumah, Maya sudah setengah mengantuk di kursi depan.

"Sudah sampai. Turunlah," ucap Gavin dingin saat Aruna hendak membuka pintu belakang.

Ibu dan Maya masuk lebih dulu ke dalam rumah. Aruna baru saja ingin menutup pintu pagar saat tangan Gavin menahannya.

"Ada apa lagi?" tanya Aruna lelah.

Gavin menyodorkan sebuah kartu nama butik tadi. Di baliknya ada tulisan tangan yang baru Aruna sadari.

"Baca itu nanti di kamarmu. Dan ingat, besok jam tujuh pagi. Jika kamu tidak ada di depan pagar, aku akan masuk ke kamarmu dan menyeretmu di depan Ibu."

"Kamu tidak berani melakukannya!"

"Coba saja aku, Aruna. Kamu tahu aku punya segala akses untuk menghancurkan apa pun yang kamu sayangi dalam satu malam."

Gavin kembali ke mobil dan melesat pergi. Aruna masuk ke kamarnya dengan jantung berdebar. Ia segera mengunci pintu dan membaca tulisan di balik kartu itu.

'Jangan pernah berpikir untuk lari. Aku sudah memasang GPS di tas kerjamu. Dan satu hal lagi... aku tahu kamu masih menyimpan foto pria itu di dompetmu. Buang, atau aku yang akan membuang pria itu dari dunia ini.'

Aruna meremas kartu itu. Ia segera membongkar tasnya dan benar saja, di sela-sela jahitan dalam, ada sebuah benda kecil berwarna hitam. Alat pelacak.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Pesan masuk dari nomor tak dikenal.

"Jangan dibuang. Kalau GPS itu mati, aku akan menganggap kamu sedang mencoba melarikan diri. Dan kamu tahu konsekuensinya."

Aruna terduduk di lantai, menangis tanpa suara. Ia merasa seperti binatang buruan yang sudah terkunci di dalam jebakan.

"Kak Aruna? Belum tidur?" suara Maya dari balik pintu kamar.

Aruna buru-buru menghapus air matanya. "Belum, May. Baru mau tidur."

Maya membuka pintu sedikit, wajahnya tampak ragu. "Kak... boleh aku tanya sesuatu?"

"Tanya apa?"

Maya masuk dan duduk di pinggir kasur. "Tadi pas di butik... aku lihat Gavin bisikin sesuatu ke Kakak. Wajah Kakak langsung berubah ketakutan. Gavin bilang apa sih, Kak? Apa dia ancam Kakak soal kerjaan?"

Aruna membeku. Ia menatap adiknya yang polos. "Nggak, May. Dia cuma... cuma kasih nasihat soal kesehatan Kakak."

"Beneran? Tapi kok aku ngerasa ada yang aneh ya antara kalian? Kayak ada sesuatu yang aku nggak tahu."

Aruna menelan ludah. "Nggak ada apa-apa, May. Kamu cuma capek. Tidurlah."

Maya keluar dari kamar, tapi tatapannya masih menyiratkan kecurigaan. Begitu Maya pergi, Aruna kembali menatap ponselnya. Sebuah pesan baru masuk. Kali ini berupa foto.

Foto Aruna dari arah belakang saat ia baru saja masuk ke rumah tadi.

"Tidurlah, Aruna. Aku masih mengawasimu dari ujung jalan. Sampai jumpa jam tujuh pagi, Sayang."

Aruna berjalan menuju jendela dan menyibak tirai sedikit. Di kejauhan, di bawah lampu jalan yang remang, mobil hitam Gavin masih terparkir diam. Menunggu. Mengintai.

Aruna menutup tirai dengan tangan gemetar. Ia tahu, mulai malam ini, tidurnya tidak akan pernah tenang lagi.

"Gavin... kumohon, lepaskan aku..." lirih Aruna pada kesunyian kamar.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan suara masuk. Saat Aruna memutarnya, suara berat Gavin terdengar sangat jelas dan dekat, seolah pria itu sedang berbisik di samping telinganya.

"Katakan sekali lagi, Aruna. Katakan 'lepaskan aku' di depanku besok pagi, maka aku akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa berjalan lagi keluar dari apartemen itu. Pilihannya ada di tanganmu: jadi milikku dengan sukarela, atau jadi tawananku dengan paksa."

Aruna menjatuhkan ponselnya ke lantai. Layarnya retak, sama seperti hatinya yang kini hancur berkeping-keping.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 28: Klinik Pribadi

    Suara wanita di layar televisi itu terus bergema, menghantam dinding kamar yang hening seperti vonis mati. Garis wajah Sari—wanita yang memiliki mata serupa dengan Gavin—menatap dingin ke arah kamera, menelanjangi rahasia yang terendam puluhan tahun."Adik kandung..."Dunia Aruna berhenti berputar. Seluruh persendian tubuh Gavin mendadak terkunci rapat di atas tubuh Aruna. Pria itu mematung, menatap layar kaca dengan pupil mata yang melebar penuh ketakutan yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya.Di bawah kungkungan tubuh Gavin yang berat, Aruna merasa dadanya seperti dihimpit batu besar. Rasa mual yang teramat sangat menyembur dari lambungnya, meracuni seluruh aliran darahnya."Gavin..." bisik Aruna, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Lepaskan... lepaskan aku!"Aruna mendorong dada

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 27: Darah dan Dosa

    Bau amis darah tua bercampur bau logam yang pekat memenuhi rongga dada Aruna. Cairan hangat yang mengalir di antara sela pahanya terasa tebal, merembes cepat menembus kain satin hitam yang melekat di kulitnya. Rasa melilit di perut bawahnya seolah mencakar dinding rahim dari dalam, merenggut seluruh pasokan udara hingga tenggorokannya terkunci rapat."Gavin..." suara Aruna pecah, nyaris berbisik. Tangannya gemetar hebat, menekan permukaan lantai semen yang dingin saat matanya menangkap warna merah pekat yang kian meluas, menyatu dengan genangan darah Paman Hardi di depannya.Langkah sepatu kulit Gavin berkedut. Pistol revolver silver di tangannya meluncur bebas, menghantam lantai batu dengan dentang nyaring yang memekakkan telinga. Pria itu berlutut secara mendadak, mengabaikan genangan darah yang langsung menodai lutut celana kain mahalnya."Aruna!" Pekikan rendah yang sarat akan panik pecah dari mulut Gavin. Wajahnya yang semula dingin dan kaku seketika memucat. Matanya liar menatap

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 26: Di Bawah Kilatan Dosa

    Dinding kamar yang gelap memantulkan suara napas yang berburu. Keringat dingin membasahi sprei sutra yang kusut, melekatkan sisa-sisa benang hitam ke kulit Aruna yang kemerahan. Di atasnya, dada Gavin naik turun secara teratur. Pria itu menyandarkan dahinya di celak leher Aruna, menggenggam erat jemari wanita itu yang terkunci rapat di atas kepala."Kamu tidak akan pernah lepas dariku, Aruna..." bisik Gavin dengan suara serak yang menyapu kulit telinga Aruna. Tangannya yang besar turun melingkari perut Aruna yang datar, menepuknya pelan seolah sedang menyegel sesuatu yang berharga di sana.Aruna menatap ceiling kamar yang remang. Bibirnya bengkak dan perih, dadanya masih memburu hebat dari pergulatan liar yang baru saja merenggut sisa tenaganya. Tubuhnya gemetar, merespons sentuhan hangat yang ditinggalkan Gavin, sementara otaknya berteriak menyuarakan kebencian yang makin pekat."Paman Hardi..." suara Aruna keluar parau, hampir tenggelam di antara ketukan hujan yang mulai memukul kac

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 25: Cengkeraman Sang Predator

    Angin dari baling-baling helikopter meliuk keras di udara, menghempas kaca-kaca jendela vila hingga bergetar hebat. Cahaya sorot putih membelah kegelapan kamar, menelanjangi tubuh Aruna yang hanya dibalut gaun malam satin tipis. Kain halus itu melekat ketat di kulitnya yang berpeluh, memperlihatkan lekuk dada yang membuncit dan pinggulnya yang molek di bawah tatapan tajam dua pria yang memperebutkannya."Ikut aku sekarang, Aruna!" bentak Hardi. Jarinya mencengkeram pergelangan tangan Aruna lebih keras, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya."Lepaskan aku, Paman!" Aruna menepis tangan Hardi dengan sentakan penuh kejijikan. "Aku tidak akan menjadi bidakmu lagi!"Belum sempat Hardi membalas, suara tembakan beruntun memecah malam dari arah lorong luar.Duar! Duar! Duar!Pintu kamar yang sudah hancur itu terpental sepenuhnya saat satu tendangan keras mendarat di engselnya. Sesosok pria jangkung melangkah masuk dari balik asap dan remang cahaya sorot.Gavin.Jas hitamnya sudah ditang

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 24: Tamu dari Masa Lalu

    Aruna menahan napas. Tangannya mencengkeram sprei tebal di belakang punggungnya, berusaha mencari tumpuan saat guncangan panik menyerang dadanya. Di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar rembulan, pendar asap tipis dari moncong pistol pria itu terlihat begitu mengancam."Siapa kamu?" tanya Aruna, suaranya gemetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tenang.Pria itu melangkah masuk. Sepatu boots mewahnya beradu melintasi pecahan bingkai pintu kayu yang hancur. Ia menyalakan pemantik api perak di tangannya. Cahaya oranye yang temaram seketika menyinari separuh wajah tegasnya yang dipenuhi bekas luka tipis di rahang."Orang yang harusnya menyelamatkanmu dari monster bernama Gavin," sahut pria itu. Suaranya serak, dingin, dan tanpa nada keramahan."Paman Hardi?" Aruna menyipitkan mata, terbelalak melihat garis wajah yang sangat ia kenal itu. "Bagaimana bisa... bukankah Paman di penjara?"Pria itu tertawa tipis, suara tawa yang kering tanpa rasa humor. Ia mem

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 23: Provokasi

    Pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria berbadan tegap dengan kemeja hitam masuk membawakan nampan berisi segelas air dan dua butir pil."Nona Aruna, ini obat penguat kandungan dari Tuan Gavin. Harus diminum sekarang," ujar penjaga itu singkat.Aruna menatap dua pil merah di atas nampan dengan kening berkerut. "Aku sudah minum obat tadi pagi.""Tuan meminta saya memastikan Nona meminumnya langsung di depan saya.""Kalau aku menolak?" Aruna bersedekap, menatap lurus mata pria itu."Tuan Gavin tidak memberi opsi menolak, Nona."Aruna menghela napas panjang. Ia mengambil dua pil tersebut, memasukkannya ke dalam mulut, lalu meneguk air hingga tandas."Sudah kan? Sekarang keluar," kata Aruna dingin.Penjaga itu menunduk kaku. "Baik. Pintu akan tetap dikunci dari luar."Begitu gerendel pintu berbunyi klak, Aruna bergegas masuk ke kamar mandi. Tanpa membuang waktu, ia merogoh tenggorokannya di depan wastafel hingga mual hebat memicu perutnya memuntahkan kembali seluruh isi lambungnya. Pil ya

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 6: Hukuman Sang Tuan Muda

    Mobil hitam mewah itu berhenti dengan sentakan kasar di basement apartemen. Gavin langsung menarik tangan Aruna keluar, langkahnya lebar-lebar dan penuh emosi. Begitu pintu lift pribadi tertutup, Gavin menyudutkan Aruna ke dinding kaca lift yang dingin."Gavin, lepas... sakit!" rintih Aruna."Sakit?

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 5: Cemburu Sang Predator

    Aruna mematung. Napasnya tertahan di kerongkongan, terasa mencekik. Di atas tubuhnya, Gavin justru mempererat cengkeraman pada pinggul Aruna, sengaja menekan berat tubuhnya hingga Aruna tidak bisa bergerak di bawah selimut tipis yang berbau keringat dan gairah itu."Gavin? Kok bau parfum Kak Aruna a

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 4: Kegilaan Gavin

    Klik.Aruna menempelkan kartu akses emas itu ke pintu apartemen Gavin. Tangannya gemetar hebat, sisa ketakutan dari butik siang tadi masih menjalar di nadinya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram. Di balik mantel panjangnya, ia mengenakan gaun pengiring pengantin w

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 3: Harga Sebuah Rahasia

    Udara di dalam kamar hotel terasa menyesakkan bagi Aruna. Gavin masih terus menghujamnya tanpa ampun, seolah ingin menguras seluruh tenaga wanita itu hingga tak bersisa.Aruna mencengkeram bahu Gavin yang kokoh, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu saat sensasi panas menyapu seluruh tubuhnya. De

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status