แชร์

Bab 6: Hukuman Sang Tuan Muda

ผู้เขียน: Fillani Putri
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-04 23:11:39

Mobil hitam mewah itu berhenti dengan sentakan kasar di basement apartemen. Gavin langsung menarik tangan Aruna keluar, langkahnya lebar-lebar dan penuh emosi. Begitu pintu lift pribadi tertutup, Gavin menyudutkan Aruna ke dinding kaca lift yang dingin.

"Gavin, lepas... sakit!" rintih Aruna.

"Sakit? Terus kamu pikir gimana perasaan aku waktu lihat si sampah Raka itu pegang-pegang tangan kamu?" Gavin mendekatkan wajahnya, matanya gelap. "Kamu itu punya aku, Aruna. Jangan pernah berpikir buat lari."

Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Gavin menarik Aruna masuk ke apartemennya yang sepi, lalu mengempaskannya begitu saja ke sofa marmer.

"Gavin, kita bisa bicara baik-baik kan..."

"Aku lagi nggak butuh bicara!" bentak Gavin sambil membuka kancing kemejanya satu per satu. "Malam ini, aku cuma mau kamu nurut."

Gavin langsung menerjang, mengunci tangan Aruna ke atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kuat. Ia menciumi leher Aruna kasar, seolah mau menghapus semua jejak udara luar yang menempel di kulit Aruna. Aruna mencoba berontak, tapi berat badan Gavin membuatnya tidak berdaya. Di tengah pergulatan itu, pikiran Aruna mendadak terbang ke kejadian tiga minggu lalu.

Malam terkutuk di hotel itu. Malam di mana Gavin menjebaknya sampai semuanya jadi kacau begini. Dan sekarang, tepat seminggu sebelum pernikahan Gavin dan Maya, Aruna malah terjebak lagi di bawah pria yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya sendiri.

"Aku benci kamu, Gavin! Aku benci banget!" teriak Aruna sambil menangis sesenggukan.

"Benci saja sesukamu," bisik Gavin, bibirnya menempel di telinga Aruna yang memerah. "Karena makin kamu benci aku, makin gila cara aku bikin kamu mendesah menyebut nama aku malam ini."


Menjelang pagi, suasana apartemen jadi sunyi. Gavin tidur sambil memeluk Aruna erat dari belakang, tangannya melingkar di perut Aruna seolah tidak mau lepas. Aruna bangun dengan badan yang rasanya remuk semua. Saat ia mau duduk, mendadak rasa mual hebat menyerang ulu hatinya.

Ia buru-buru lari ke kamar mandi, mengunci pintu, lalu muntah-muntah di wastafel. Perutnya rasanya seperti diaduk-aduk. Aruna menatap wajah pucatnya di cermin. Kejadian di hotel tiga minggu lalu benar-benar menjadi mimpi buruk. Waktu itu mereka memang tidak memakai pengaman sama sekali, dan Gavin memang sengaja tidak mau melepaskan di luar.

Aruna menghitung siklus bulanannya dengan jari yang gemetar. Dua minggu telat.

"Aruna? Kamu di dalam?" suara Gavin di balik pintu membuat Aruna kaget setengah mati.

Aruna membuka pintu dengan tangan yang sudah dingin. Gavin berdiri di sana tanpa baju, menatap Aruna tajam.

"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Gavin. Tangannya terulur untuk mengusap perut Aruna pelan, tapi gerakan itu malah membuat Aruna merinding ketakutan.

"Cuma masuk angin. Aku harus ke kantor, banyak kerjaan yang belum beres," sahut Aruna ketus, mencoba menghindari kontak mata.

Ponsel Aruna di meja mendadak berbunyi. Nama "Ibu" muncul di layar. Aruna menelan ludah. Ia memang sudah jarang sekali pulang semenjak Gavin terus-terusan menekannya.

"Angkat," perintah Gavin dingin.

Aruna menggeser tombol hijau. "Halo, Bu?"

"Aruna? Kamu di mana sih, Nak? Kenapa sudah tiga hari nggak pulang-pulang? Ibu sama Maya khawatir lho. Minggu depan pernikahan adikmu, banyak yang harus disiapin," suara Ibunya terdengar cemas sekali.

Aruna melirik Gavin yang sekarang berdiri tepat di belakangnya, menempelkan dadanya ke punggung Aruna. "Aruna... Aruna lagi banyak lembur di kantor, Bu. Jadi Aruna menginap di apartemen Aruna yang dekat kantor biar nggak capek di jalan. Maaf ya, Bu."

"Jangan diforsir banget kerjanya, Aruna. Pulang sebentar malam ini ya?"

"Iya, Bu. Nanti Aruna usahakan pulang," ucap Aruna bohong, padahal tangan Gavin sudah mulai nakal di pinggangnya.

Saat telepon mati, Gavin berbisik di tengkuknya. "Apartemen kamu? Tempat tinggal kamu itu di sini, Aruna. Jangan pernah berpikir buat pulang tanpa izin aku."


Sorenya, setelah mendapat izin pulang sebentar untuk ambil barang, Aruna langsung mengunci diri di kamar mandi rumahnya. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan testpack yang ia sembunyikan di tas kantor. Menit demi menit rasanya seperti siksaan. Saat melihat hasilnya, jantung Aruna rasanya mau copot.

Dua garis merah. Jelas sekali.

Aruna menjatuhkan alat itu ke lantai, tangisnya pecah tanpa suara. Ia mengandung anak Gavin. Anak dari pria yang paling ia benci. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk, dan seketika bulu kuduk Aruna meremang.

"Hasilnya dua garis, kan? Nggak usah kaget, aku sudah hitung semuanya sejak malam di hotel itu. Simpan mainan itu, Aruna. Aku sudah di depan rumahmu sekarang."

Aruna gemetar hebat. Bagaimana bisa Gavin tahu? Apa pria itu memasang kamera tersembunyi di tasnya? Atau dia memantau setiap langkah Aruna lewat GPS? Ketakutan itu mencekik Aruna lebih dari rasa mualnya. Pria ini bukan cuma jahat, dia seperti Tuhan yang tahu segala dosanya.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk kencang. "Aruna! Ayo keluar, ada Gavin di depan! Dia datang  jemput untuk jemput kamu dan Maya, fiting baju pengantin!" teriak Ibunya.

Aruna buru-buru menyembunyikan testpack itu di tumpukan baju paling bawah dan mencuci muka secepat kilat. Saat ia keluar, Gavin sudah ada di sana, sedang tertawa kecil mendengarkan cerita Maya. Benar-benar akting yang sempurna.

"Kak Aruna!" Maya memeluknya ceria. "Untung Gavin mau jemput kita. Ayo temenin aku fiting baju terakhir! Tapi Kak... muka Kakak pucat banget. Kakak sakit ya?"

Aruna melirik Gavin. Pria itu menatapnya dengan binar kemenangan yang mengerikan di balik topeng perhatiannya.

"Kakak cuma kurang tidur, Maya," jawab Aruna lirih.

"Masa cuma kurang tidur?" sahut Gavin santai sambil bangkit berdiri. Dia berjalan mendekat, seolah mau membantu Aruna jalan, tapi dia malah merangkul bahu Aruna dengan sangat posesif.

"Selamat ya, Aruna. Akhirnya kamu jadi tempat paling aman buat anakku. Sekarang, coba saja menolakku di depan Maya, kalau kamu memang berani."

Suara Gavin begitu rendah, nyaris seperti bisikan setan di telinga Aruna. Aruna cuma bisa mematung, sementara Maya yang nggak tahu apa-apa malah makin manja menggandeng lengan Gavin yang satunya. Aruna merasa seperti sedang berjalan menuju eksekusinya sendiri.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 28: Klinik Pribadi

    Suara wanita di layar televisi itu terus bergema, menghantam dinding kamar yang hening seperti vonis mati. Garis wajah Sari—wanita yang memiliki mata serupa dengan Gavin—menatap dingin ke arah kamera, menelanjangi rahasia yang terendam puluhan tahun."Adik kandung..."Dunia Aruna berhenti berputar. Seluruh persendian tubuh Gavin mendadak terkunci rapat di atas tubuh Aruna. Pria itu mematung, menatap layar kaca dengan pupil mata yang melebar penuh ketakutan yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya.Di bawah kungkungan tubuh Gavin yang berat, Aruna merasa dadanya seperti dihimpit batu besar. Rasa mual yang teramat sangat menyembur dari lambungnya, meracuni seluruh aliran darahnya."Gavin..." bisik Aruna, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Lepaskan... lepaskan aku!"Aruna mendorong dada

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 27: Darah dan Dosa

    Bau amis darah tua bercampur bau logam yang pekat memenuhi rongga dada Aruna. Cairan hangat yang mengalir di antara sela pahanya terasa tebal, merembes cepat menembus kain satin hitam yang melekat di kulitnya. Rasa melilit di perut bawahnya seolah mencakar dinding rahim dari dalam, merenggut seluruh pasokan udara hingga tenggorokannya terkunci rapat."Gavin..." suara Aruna pecah, nyaris berbisik. Tangannya gemetar hebat, menekan permukaan lantai semen yang dingin saat matanya menangkap warna merah pekat yang kian meluas, menyatu dengan genangan darah Paman Hardi di depannya.Langkah sepatu kulit Gavin berkedut. Pistol revolver silver di tangannya meluncur bebas, menghantam lantai batu dengan dentang nyaring yang memekakkan telinga. Pria itu berlutut secara mendadak, mengabaikan genangan darah yang langsung menodai lutut celana kain mahalnya."Aruna!" Pekikan rendah yang sarat akan panik pecah dari mulut Gavin. Wajahnya yang semula dingin dan kaku seketika memucat. Matanya liar menatap

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 26: Di Bawah Kilatan Dosa

    Dinding kamar yang gelap memantulkan suara napas yang berburu. Keringat dingin membasahi sprei sutra yang kusut, melekatkan sisa-sisa benang hitam ke kulit Aruna yang kemerahan. Di atasnya, dada Gavin naik turun secara teratur. Pria itu menyandarkan dahinya di celak leher Aruna, menggenggam erat jemari wanita itu yang terkunci rapat di atas kepala."Kamu tidak akan pernah lepas dariku, Aruna..." bisik Gavin dengan suara serak yang menyapu kulit telinga Aruna. Tangannya yang besar turun melingkari perut Aruna yang datar, menepuknya pelan seolah sedang menyegel sesuatu yang berharga di sana.Aruna menatap ceiling kamar yang remang. Bibirnya bengkak dan perih, dadanya masih memburu hebat dari pergulatan liar yang baru saja merenggut sisa tenaganya. Tubuhnya gemetar, merespons sentuhan hangat yang ditinggalkan Gavin, sementara otaknya berteriak menyuarakan kebencian yang makin pekat."Paman Hardi..." suara Aruna keluar parau, hampir tenggelam di antara ketukan hujan yang mulai memukul kac

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 25: Cengkeraman Sang Predator

    Angin dari baling-baling helikopter meliuk keras di udara, menghempas kaca-kaca jendela vila hingga bergetar hebat. Cahaya sorot putih membelah kegelapan kamar, menelanjangi tubuh Aruna yang hanya dibalut gaun malam satin tipis. Kain halus itu melekat ketat di kulitnya yang berpeluh, memperlihatkan lekuk dada yang membuncit dan pinggulnya yang molek di bawah tatapan tajam dua pria yang memperebutkannya."Ikut aku sekarang, Aruna!" bentak Hardi. Jarinya mencengkeram pergelangan tangan Aruna lebih keras, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya."Lepaskan aku, Paman!" Aruna menepis tangan Hardi dengan sentakan penuh kejijikan. "Aku tidak akan menjadi bidakmu lagi!"Belum sempat Hardi membalas, suara tembakan beruntun memecah malam dari arah lorong luar.Duar! Duar! Duar!Pintu kamar yang sudah hancur itu terpental sepenuhnya saat satu tendangan keras mendarat di engselnya. Sesosok pria jangkung melangkah masuk dari balik asap dan remang cahaya sorot.Gavin.Jas hitamnya sudah ditang

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 24: Tamu dari Masa Lalu

    Aruna menahan napas. Tangannya mencengkeram sprei tebal di belakang punggungnya, berusaha mencari tumpuan saat guncangan panik menyerang dadanya. Di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar rembulan, pendar asap tipis dari moncong pistol pria itu terlihat begitu mengancam."Siapa kamu?" tanya Aruna, suaranya gemetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tenang.Pria itu melangkah masuk. Sepatu boots mewahnya beradu melintasi pecahan bingkai pintu kayu yang hancur. Ia menyalakan pemantik api perak di tangannya. Cahaya oranye yang temaram seketika menyinari separuh wajah tegasnya yang dipenuhi bekas luka tipis di rahang."Orang yang harusnya menyelamatkanmu dari monster bernama Gavin," sahut pria itu. Suaranya serak, dingin, dan tanpa nada keramahan."Paman Hardi?" Aruna menyipitkan mata, terbelalak melihat garis wajah yang sangat ia kenal itu. "Bagaimana bisa... bukankah Paman di penjara?"Pria itu tertawa tipis, suara tawa yang kering tanpa rasa humor. Ia mem

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 23: Provokasi

    Pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria berbadan tegap dengan kemeja hitam masuk membawakan nampan berisi segelas air dan dua butir pil."Nona Aruna, ini obat penguat kandungan dari Tuan Gavin. Harus diminum sekarang," ujar penjaga itu singkat.Aruna menatap dua pil merah di atas nampan dengan kening berkerut. "Aku sudah minum obat tadi pagi.""Tuan meminta saya memastikan Nona meminumnya langsung di depan saya.""Kalau aku menolak?" Aruna bersedekap, menatap lurus mata pria itu."Tuan Gavin tidak memberi opsi menolak, Nona."Aruna menghela napas panjang. Ia mengambil dua pil tersebut, memasukkannya ke dalam mulut, lalu meneguk air hingga tandas."Sudah kan? Sekarang keluar," kata Aruna dingin.Penjaga itu menunduk kaku. "Baik. Pintu akan tetap dikunci dari luar."Begitu gerendel pintu berbunyi klak, Aruna bergegas masuk ke kamar mandi. Tanpa membuang waktu, ia merogoh tenggorokannya di depan wastafel hingga mual hebat memicu perutnya memuntahkan kembali seluruh isi lambungnya. Pil ya

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 7: Gaun di Atas Luka

    "Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakm

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 5: Cemburu Sang Predator

    Aruna mematung. Napasnya tertahan di kerongkongan, terasa mencekik. Di atas tubuhnya, Gavin justru mempererat cengkeraman pada pinggul Aruna, sengaja menekan berat tubuhnya hingga Aruna tidak bisa bergerak di bawah selimut tipis yang berbau keringat dan gairah itu."Gavin? Kok bau parfum Kak Aruna a

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 4: Kegilaan Gavin

    Klik.Aruna menempelkan kartu akses emas itu ke pintu apartemen Gavin. Tangannya gemetar hebat, sisa ketakutan dari butik siang tadi masih menjalar di nadinya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram. Di balik mantel panjangnya, ia mengenakan gaun pengiring pengantin w

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 3: Harga Sebuah Rahasia

    Udara di dalam kamar hotel terasa menyesakkan bagi Aruna. Gavin masih terus menghujamnya tanpa ampun, seolah ingin menguras seluruh tenaga wanita itu hingga tak bersisa.Aruna mencengkeram bahu Gavin yang kokoh, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu saat sensasi panas menyapu seluruh tubuhnya. De

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status