Home / Romansa / Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin / Bab 6: Hukuman Sang Tuan Muda

Share

Bab 6: Hukuman Sang Tuan Muda

Author: Fillani Putri
last update Last Updated: 2026-02-04 23:11:39

Mobil hitam mewah itu membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuatku mual, namun ketakutanku pada pria di sampingku jauh lebih besar daripada rasa pusing di kepalaku. Gavin tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan kafe. Ia hanya duduk bersandar, menatap lurus ke jendela dengan rahang yang terkatup rapat. Aura kemarahan yang dipancarkannya begitu pekat, memenuhi ruang kabin mobil yang kedap suara ini hingga aku merasa oksigen di sekitarku menipis.

Aku meremas jemariku sendiri, mencoba menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Mengapa setiap kali aku mencoba mencari jalan keluar, aku justru terperosok ke dalam lubang yang lebih dalam? Sosok Raka yang ketakutan tadi terus terbayang di benakku, membuktikan bahwa Gavin Dirgantara bukan sekadar pria sombong dengan tumpukan uang. Dia adalah otoritas mutlak yang tidak mengenal kata tidak.

Mobil akhirnya berhenti di basement sebuah apartemen penthouse eksklusif di pusat Jakarta. Tanpa menunggu sopir membukakan pintu, Gavin keluar dan menarik tanganku agar ikut turun. Langkahnya lebar dan cepat, memaksaku hampir berlari untuk mengimbanginya menuju lift pribadi. Begitu pintu lift tertutup, Gavin langsung menyudutkanku ke dinding kaca.

"Gavin, lepaskan... kau menyakitiku," rintihku saat cengkeramannya di pergelangan tanganku menguat.

Ia tidak melepaskannya. Justru ia mendekatkan wajahnya, menatapku dengan mata yang menggelap, penuh dengan kilatan cemburu yang primitif. "Sakit? Kau pikir rasa sakitmu sebanding dengan rasa marahku saat melihat tangan pria sampah itu menyentuh kulitmu?"

"Dia hanya ingin membantuku!"

"Membantumu apa, Aruna? Membantumu untuk lari dariku? Membantumu untuk kembali ke pelukannya?" Gavin terkekeh sinis, sebuah suara yang terdengar mengerikan di ruang sempit ini. "Kau milikku. Sejak malam pertama itu, kau sudah menandatangani kontrak mati denganku. Tidak ada pria lain, tidak ada pelarian, tidak ada kebebasan kecuali aku yang memberikannya."

Pintu lift terbuka di lantai teratas. Gavin menyeretku masuk ke dalam apartemennya yang bergaya minimalis namun sangat mewah. Ia melempar kunci mobil ke atas meja marmer dan langsung mendorongku ke arah sofa panjang di ruang tengah yang menghadap ke pemandangan lampu kota.

"Gavin, tolong, kita bisa bicara baik-baik," aku mencoba bernegosiasi, mundur perlahan saat ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.

"Bicara? Aku sudah memberimu kesempatan untuk bicara melalui telepon yang kuberikan, tapi kau memilih untuk membangkang," ucapnya sambil melepaskan kemejanya, memperlihatkan otot-otot dada dan perutnya yang keras dan sempurna. "Malam ini, aku tidak butuh kata-kata darimu. Aku butuh kepatuhanmu."

Gavin menerjangku. Ia menjatuhkan tubuhnya di atasku, mengunci kedua tanganku di atas kepala dengan hanya menggunakan satu tangannya yang besar. Ia mulai menciumi leherku dengan kasar, gigitan-gigitan kecil yang ia berikan terasa seperti sengatan listrik yang menyakitkan sekaligus membakar gairah yang terlarang.

Aku memberontak sekuat tenaga, namun berat tubuhnya membuatku tidak berdaya. "Aku membencimu! Aku sangat membencimu, Gavin!" teriakku di sela tangis.

Gavin berhenti sejenak, mengangkat wajahnya untuk menatapku. Ia menyunggingkan senyum miring yang sangat mematikan. "Benci saja aku sesukamu, Aruna. Karena semakin kau membenciku, semakin kuat pula caraku untuk membuatmu mendesah menyebut namaku."

Ia kembali menyerangku, kali ini dengan ciuman yang menghancurkan segala pertahananku. Tangannya yang bebas mulai merayap di bawah blus yang kukenakan, menyentuh kulit perutku dengan gerakan yang menuntut. Setiap inci sentuhannya seolah-olah menghapus jejak apa pun yang pernah ada di hidupku sebelumnya. Ia sangat dominan, sangat ahli dalam memetakan titik-titik lemah di tubuhku.

Malam itu, apartemen mewah itu menjadi saksi bisu dari hukuman yang diberikan Gavin. Ia tidak memberikan ampun. Ia memaksaku untuk melayaninya dalam berbagai posisi yang membuatku merasa malu sekaligus melayang dalam kenikmatan yang berdosa. Di bawah intimidasi dan gairahnya, aku kembali kehilangan diriku. Aku membenci kenyataan bahwa tubuhku memberikan reaksi positif terhadap sentuhannya, bahwa aku justru menginginkan lebih di saat jiwaku berteriak untuk pergi.

Setiap kali aku mencoba menutup mata, Gavin akan memaksaku untuk menatapnya. Ia ingin aku melihat siapa yang sedang memilikiku. Ia ingin aku tahu bahwa dia adalah penguasa tunggal atas raga dan napasku malam itu.

---

Menjelang pagi, gairah itu akhirnya mereda, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruangan yang berantakan itu. Gavin tertidur dengan posisi memelukku erat dari belakang, seolah takut aku akan menghilang jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja. Aku menatap keluar jendela, melihat semburat jingga di cakrawala, merasa seperti orang asing di dalam tubuhku sendiri.

Aku mencoba bangun dengan perlahan, tidak ingin membangunkannya. Tubuhku terasa pegal dan remuk. Namun, saat aku baru saja menginjakkan kaki di lantai, sebuah rasa mual yang hebat tiba-tiba menghantam lambungku.

Aku segera berlari ke kamar mandi, menutup pintu dengan terburu-buru, dan memuntahkan cairan bening ke dalam wastafel. Perutku terasa teraduk-aduk, kepalaku berputar hebat. Aku mencuci wajahku dengan air dingin, mencoba menenangkan diri.

Mungkin ini hanya karena aku telat makan atau stres yang berlebihan, pikirku mencoba menghibur diri.

Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Wajah yang pucat dengan bibir yang sedikit bengkak. Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di kepalaku. Malam pertama di hotel itu... kami melakukannya tanpa pengaman. Dan malam-malam setelahnya pun sama. Gavin tidak pernah peduli, dan aku terlalu hancur untuk memikirkannya.

Aku menghitung siklus bulananku di dalam kepala. Mataku membelalak lebar. Aku sudah terlambat hampir dua minggu.

"Tidak... tidak mungkin," bisikku pada diri sendiri. Tanganku gemetar saat menyentuh perut rataku. Jika benar aku hamil, maka hidupku benar-benar sudah berakhir. Itu bukan hanya sekadar skandal, itu adalah kehancuran bagi Maya dan kedua orang tuaku. Bagaimana aku bisa menjelaskan bahwa aku mengandung anak dari calon kakak ipar adikku sendiri?

"Aruna? Kau di dalam?"

Suara Gavin di balik pintu kamar mandi membuatku hampir melompat karena terkejut. Aku segera mengelap wajahku dan membuka pintu. Gavin berdiri di sana, hanya dengan celana panjang hitamnya, menatapku dengan kening berkerut.

"Kenapa wajahmu sepucat itu? Kau sakit?" tanyanya. Tangannya terulur untuk menyentuh keningku, sebuah gerakan yang anehnya terasa sangat tulus dan peduli.

Aku segera menepis tangannya. "Aku baik-baik saja. Hanya butuh udara segar."

Gavin menyipitkan matanya, tidak percaya begitu saja. Ia menarik daguku agar aku menatapnya. "Kau muntah tadi. Aku mendengarnya."

"Aku hanya masuk angin karena AC-mu terlalu dingin, Gavin! Jangan berlebihan," ucapku dengan nada ketus, mencoba menutupi kepanikanku.

Gavin terdiam sejenak, matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah sebelum akhirnya mendarat di perutku. Tatapannya bertahan di sana selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Sebuah kilatan aneh muncul di matanya, sesuatu yang tidak bisa kupahami—antara kecurigaan dan sesuatu yang menyerupai harapan yang gelap.

"Benarkah?" suaranya menjadi lebih rendah dan tenang, namun justru terasa lebih menakutkan. "Atau ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku lagi, Aruna?"

Aku membuang muka, tidak berani menantang matanya. "Tidak ada. Aku ingin pulang sekarang."

Gavin menarikku ke dalam pelukannya, memelukku dengan cara yang sangat protektif, hampir seperti dia sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga. "Kau boleh pulang. Tapi ingat, jangan pernah berpikir untuk membeli obat apa pun tanpa izin dariku. Aku akan meminta asistenku mengirimkan makanan dan vitamin ke rumahmu."

"Aku tidak butuh vitaminmu!"

Gavin mencium pucuk kepalaku, sebuah tindakan yang sangat kontras dengan kekejamannya semalam. "Kau membutuhkannya, Sayang. Karena mulai sekarang, aku akan menjagamu jauh lebih ketat daripada sebelumnya. Jangan berpikir untuk melakukan hal bodoh, karena jika kau melakukannya, bukan hanya rekaman itu yang akan tersebar, tapi aku akan memastikan pria bernama Raka itu menghilang selamanya."

Aku membeku di dalam pelukannya. Dia tahu. Dia mulai mencurigai sesuatu yang bahkan aku sendiri takut untuk mengakuinya.

Saat aku berjalan keluar dari apartemen itu, aku tahu bahwa rantai yang mengikatku pada Gavin Dirgantara baru saja menjadi berkali-kali lipat lebih kuat. Aku tidak lagi hanya membawa rahasia sebuah malam terlarang, tapi aku membawa masa depan yang mungkin akan menghancurkan kami semua.

Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dengan tangan yang masih gemetar, aku membuka laci meja riasku, mencari sebuah benda yang sudah kubeli beberapa hari lalu namun belum berani kugunakan. Sebuah alat tes kehamilan.

Aku duduk di lantai kamar mandi, menunggu hasil dari benda kecil itu dengan napas yang tertahan. Menit-menit yang berlalu terasa seperti siksaan abadi. Saat akhirnya aku melihat hasilnya, jantungku seolah berhenti berdetak.

Dua garis merah. Jelas dan tegas.

Aku menjatuhkan alat itu ke lantai. Air mata tumpah tak terbendung. Aku mengandung anak Gavin. Anak dari pria yang paling aku benci sekaligus pria yang menghancurkan keluargaku.

Tiba-tiba, ponsel pemberian Gavin di atas tempat tidur berbunyi. Sebuah pesan masuk.

"Jangan menangis, Aruna. Aku tahu hasilnya. Aku sudah mengirimkan dokter pribadiku ke rumahmu sekarang untuk memastikan calon pewaris Dirgantara baik-baik saja di dalam sana. Sambut dia dengan senyuman, atau aku akan datang sendiri ke sana dan memberitahu Maya secara langsung."

Aku menatap ponsel itu dengan ngeri. Bagaimana dia bisa tahu secepat itu? Dia benar-benar telah memasang mata di mana-mana. Aku terjebak. Tanpa jalan keluar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 6: Hukuman Sang Tuan Muda

    Mobil hitam mewah itu membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuatku mual, namun ketakutanku pada pria di sampingku jauh lebih besar daripada rasa pusing di kepalaku. Gavin tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan kafe. Ia hanya duduk bersandar, menatap lurus ke jendela dengan rahang yang terkatup rapat. Aura kemarahan yang dipancarkannya begitu pekat, memenuhi ruang kabin mobil yang kedap suara ini hingga aku merasa oksigen di sekitarku menipis.Aku meremas jemariku sendiri, mencoba menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Mengapa setiap kali aku mencoba mencari jalan keluar, aku justru terperosok ke dalam lubang yang lebih dalam? Sosok Raka yang ketakutan tadi terus terbayang di benakku, membuktikan bahwa Gavin Dirgantara bukan sekadar pria sombong dengan tumpukan uang. Dia adalah otoritas mutlak yang tidak mengenal kata tidak.Mobil akhirnya berhenti di basement sebuah apartemen penthouse eksklusif di pusat Jakarta. Tanpa menunggu sopir membukakan

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 5: Cemburu Sang Predator

    Aku merasa seperti tawanan yang menunggu waktu eksekusi. Setiap kali ponsel pemberian Gavin bergetar, jantungku seolah berhenti berdetak. Namun, rasa sakit hati dan harga diri yang tersisa mendorongku untuk melakukan satu tindakan nekat. Aku butuh sekutu. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku lepas dari jeratan Gavin tanpa harus menghancurkan Maya.Sore itu, aku memutuskan untuk menemui Raka, mantan kekasihku yang sempat menyelingkuhiku. Ironis memang, menemui pria yang membuatku jatuh ke pelukan Gavin di malam itu. Tapi Raka adalah seorang pengacara, dan dia tahu banyak tentang celah hukum serta privasi digital.Kami bertemu di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, tempat yang kuyakin tidak akan terjangkau oleh radar keluarga Dirgantara."Aruna, aku senang kau mau menemuiku lagi. Aku benar-benar menyesal soal kejadian itu," ucap Raka sambil mencoba meraih tanganku di atas meja.Aku segera menarik tanganku dengan rasa muak. "Simpan maafmu, Raka. Aku di sini bukan untuk balikan. Aku

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 4: Sandiwara di Balik Gaun Putih

    Aku menatap pantulan diriku di cermin besar butik pengantin ini. Mataku sedikit sembab, namun riasan tebal berhasil menyembunyikan kelelahan dan rasa hancur yang kurasakan. Di sebelahku, Maya tampak begitu cantik dan berseri-seri dalam balutan gaun pengantin satin berwarna putih gading. Ia terlihat seperti malaikat, sangat kontras denganku yang merasa seperti pendosa paling kotor di ruangan ini."Kak Aruna, menurutmu yang ini terlalu terbuka tidak di bagian punggung?" tanya Maya sambil berputar pelan di depan cermin.Aku mencoba memaksakan senyum terbaikku. "Tidak, Maya. Kau terlihat sangat sempurna. Reno pasti akan terpesona melihatmu.""Aku setuju dengan kakakmu, Maya. Kau terlihat sangat anggun."Suara bariton itu membuat seluruh tubuhku menegang. Aku melihat melalui cermin saat Gavin melangkah masuk ke area privat butik ini. Ia mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuhnya, terlihat sangat berwibawa. Di belakangnya, Ibu menyusul dengan wajah sumringah karena kehadiran keluarga

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 3: Harga Sebuah Rahasia

    Udara di dalam kamar hotel ini terasa mencekik. Aku berdiri mematung di depan Gavin, pria yang dalam semalam telah berubah dari orang asing menjadi mimpi buruk paling nyata dalam hidupku. Perintahnya baru saja menghancurkan sisa-sisa harga diri yang kucoba pertahankan. Lepaskan pakaianku? Rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang juga."Gavin, ini keterlaluan," suaraku bergetar hebat. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan semalam. Kenapa kau harus menghancurkanku seperti ini?"Gavin duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya dengan santai seolah dia sedang menonton pertunjukan yang sangat menarik. Ia meraih segelas wiski yang ada di nakas, menyesapnya sedikit sebelum menatapku kembali dengan mata gelapnya yang tidak terbaca."Semalam itu adalah ketidaksengajaan yang menyenangkan, Aruna. Tapi malam ini? Malam ini adalah sebuah transaksi," ucapnya tanpa beban. "Aku punya sesuatu yang kau butuhkan, yaitu kebungkamanku. Dan kau punya sesuatu yang aku inginkan. Adil,

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 2 : Tawaran Iblis

    Lututku terasa lemas mendengar ancaman yang keluar dari bibir pria itu. Gavin masih menatapku dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia yang kusembunyikan. Tangannya yang besar masih berada di perutku, seolah memberikan klaim bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuhku sejak malam itu. Aku bisa mendengar tawa Maya dan calon suaminya dari arah taman, suara kebahagiaan yang sekarang terasa seperti lonceng kematian bagiku."Kau gila, Gavin," desisku sambil mencoba menepis tangannya. "Maya adalah adikku. Dia sangat mencintai adikmu. Bagaimana bisa kau sejahat ini?"Gavin tidak bergeming. Ia justru memajukan tubuhnya, menghimpitku hingga tidak ada celah udara di antara kami. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang dan stabil, berbanding terbalik dengan jantungku yang berpacu liar karena ketakutan. Ia menyelipkan jari-jarinya ke sela rambutku, menariknya sedikit ke belakang agar aku terpaksa mendongak menatapnya."Aku tidak peduli dengan cinta mereka, Aruna. Aku

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 1 : Dosa di Balik Jas Hitam

    Detak jantungku berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok tipis di bar ini biasanya membuatku mual, tapi malam ini semuanya terasa seperti bius yang kucari. Aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kekasihku selama tiga tahun sedang bercumbu dengan wanita lain di apartemen yang seharusnya menjadi kejutan ulang tahunku. Hancur. Itulah satu kata yang bisa menggambarkan jiwaku sekarang.Aku memesan satu gelas wiski lagi, lalu satu lagi, sampai pandanganku mulai sedikit berbayang. Di tengah keremangan lampu bar yang berputar, aku merasakan sebuah tatapan yang membakar kulit tengkukku. Aku menoleh perlahan dan menemukan seorang pria duduk di sudut yang paling gelap. Ia sedang menyesap minumannya dengan tenang, namun matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dariku.Ia tidak seperti pria-pria di sini yang mencoba mendekat dengan rayuan murahan. Pria itu hanya diam, tapi auranya sangat mendominasi. Ia mengenaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status