Share

Bab 9: Sisa Semalam

Auteur: Fillani Putri
last update Date de publication: 2026-03-19 15:35:13

"Aah... Stop Gavin. Sakit."

"Jangan bohong Aruna, aku tahu kamu menikmatinya."

Bukannya menurunkan tempo gerakan pinggulnya, Gavin malah mempercepat. Tangan Gavin bahkan sangat aktif meremas payudara Aruna.

"Ah... aku membencimu Gav... ahhh...."

Gavin justru tertawa rendah. Suara beratnya memenuhi kamar yang dingin itu. Ia mencengkeram kedua tangan Aruna ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan yang kokoh. Napasnya memburu di ceruk leher Aruna, meninggalkan jejak kemerahan yang sangat jel
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 12: Jejak yang Tertinggal

    Mobil tua itu terus melaju membelah kabut fajar yang tebal. Aruna menyandarkan kepalanya di jendela, menatap pepohonan yang tampak seperti bayangan hitam yang berlari menjauh. Napasnya mulai teratur, meski jantungnya masih berdenyut nyeri setiap kali mengingat wajah Maya yang sedang tertidur pulas di kamar tadi."Kita sudah jauh dari desa, Mbak. Mau lanjut ke stasiun atau terminal?" tanya pengemudi itu tanpa menoleh."Stasiun terdekat saja, Pak. Saya harus pergi sebelum matahari benar benar terbit," jawab Aruna lirih.Tangannya tidak berhenti mengusap perutnya yang masih rata. Ada rasa lega yang luar biasa sekaligus ketakutan yang mencekam. Ia berhasil. Ia benar benar keluar dari jangkauan Gavin. Pria itu pasti masih terlelap, mengira Aruna sedang bersiap untuk menjadi saksi pernikahannya."Mbak yakin pergi sendirian dalam kondisi begini?""Saya tidak punya pilihan, Pak. Tinggal di sana hanya akan menghancurkan semua orang yang saya sayangi."Mobil itu berhenti di sebuah stasiun kecil

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 11: Sangkar Emas Kembali Mengunci

    Pintu kayu penginapan itu terbuka dengan satu tendangan kasar. Aruna tersentak bangun, jantungnya hampir melompat keluar saat melihat sosok Gavin berdiri di sana dengan jas hitam yang sangat rapi. Pria itu tampak seperti pengantin pria yang sempurna, jika saja matanya tidak menyala seperti iblis."Selamat pagi, Aruna. Tidurmu nyenyak di tempat sampah ini?" tanya Gavin dengan suara yang sangat tenang namun mematikan.Aruna merosot dari ranjang, mencoba mencari jalan keluar, namun Gavin sudah lebih dulu mencengkeram lengannya. "Lepaskan! Aku tidak mau pulang!""Kamu punya dua pilihan, Aruna. Pulang denganku sekarang dan bersikap seolah kamu hanya tersesat jalan saat ingin membeli sesuatu, atau aku akan menelepon ibumu sekarang dan memberitahunya bahwa calon menantunya baru saja menghabiskan malam dengan putrinya yang tertua."Aruna membeku. Napasnya memburu. "Kamu tidak akan berani melakukan itu. Kamu butuh hak warismu, Gavin!"Gavin tertawa, jemarinya mengusap pipi Aruna dengan lembut

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 10: Melarikan Diri

    Aruna berdiri kaku di depan cermin besar butik mewah itu. Gaun satin berwarna sampanye yang melekat di tubuhnya terasa mencekik, bukan karena ukurannya yang salah, melainkan karena tatapan Gavin yang terus menguliti bayangannya dari pantulan kaca. Di sudut lain, Maya sedang sibuk mencoba gaun pengantinnya dengan tawa riang."Gimana, Kak? Cantik banget kan gaunnya? Gavin yang pilihkan desainnya khusus buat Kakak," seru Maya dari balik tirai ruang ganti sebelah.Aruna menelan ludah yang terasa pahit. Ia melirik Gavin yang duduk santai di sofa beludru sambil menyesap sampanye. Pria itu memberikan senyum tipis yang mematikan."Sini mendekat, Aruna. Biar aku lihat apakah kancing di punggungmu sudah terpasang dengan benar," ucap Gavin dengan nada memerintah.Aruna melangkah ragu. Begitu ia berdiri di depan Gavin, pria itu bangkit dan berdiri tepat di belakangnya. Aruna bisa merasakan deru napas hangat Gavin di tengkuknya. Tangan dingin Gavin perlahan merayap di punggungnya yang terbuka, men

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 9: Sisa Semalam

    "Aah... Stop Gavin. Sakit.""Jangan bohong Aruna, aku tahu kamu menikmatinya."Bukannya menurunkan tempo gerakan pinggulnya, Gavin malah mempercepat. Tangan Gavin bahkan sangat aktif meremas payudara Aruna."Ah... aku membencimu Gav... ahhh...."Gavin justru tertawa rendah. Suara beratnya memenuhi kamar yang dingin itu. Ia mencengkeram kedua tangan Aruna ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan yang kokoh. Napasnya memburu di ceruk leher Aruna, meninggalkan jejak kemerahan yang sangat jelas di sana."Benci saja sesukamu, Aruna. Karena semakin kamu membenciku, semakin aku ingin menghancurkanmu di atas ranjang ini.""Kamu gila, Gavin! Berhenti!""Aku tidak akan berhenti sampai kamu benar-benar menyerah. Katakan, siapa pria yang memilikimu sekarang?"Aruna memalingkan wajah. Air matanya jatuh membasahi bantal sutra. "Lepaskan aku... kumohon...""Sebut namaku, Aruna! Katakan siapa yang ada di dalam dirimu sekarang!" Gavin memberikan hentakan yang lebih keras, membuat Aruna memekik t

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 8: Rahasia di Balik Botol

    Pukul tujuh pagi tepat. Klakson sedan hitam Gavin sudah meraung di depan pagar rumah Ibu. Aruna berdiri di teras dengan dua koper besar dan tas kerja yang ia dekap erat—tas yang kini ia tahu berisi alat pelacak."Sudah siap, Aruna? Ayo, biar aku bantu bawa kopernya," Gavin keluar dari mobil, wajahnya tampak segar dengan kemeja navy yang digulung sampai siku."Aku bisa sendiri," ketus Aruna."Jangan keras kepala. Kamu sedang tidak dalam kondisi untuk mengangkat beban berat," bisik Gavin sambil merebut paksa koper dari tangan Aruna. Matanya melirik perut Aruna sekilas, sebuah tatapan yang membuat Aruna mual.Ibu dan Maya keluar untuk melepas kepergian Aruna."Gavin, titip Aruna ya. Jaga dia baik-baik," ucap Ibu sambil tersenyum tulus."Pasti, Bu. Saya akan pastikan Aruna mendapatkan semua yang dia butuhkan di apartemen baru itu," jawab Gavin dengan nada yang terdengar begitu protektif.Apartemen baru itu terletak di lantai paling atas, dengan akses lift pribadi yang hanya bisa terbuka d

  • Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin    Bab 7: Gaun di Atas Luka

    "Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakmu yang butuh waktu lebih lama untuk bersiap. Iya kan, Aruna? Kamu terlihat sangat... tertekan."Aruna memalingkan wajah ke arah jendela. "Aku cuma kurang tidur.""Kurang tidur atau memikirkan sesuatu yang berat?" sahut Gavin dengan nada santai namun tajam."Mungkin Kak Aruna stres karena kerjaan, Vin. Kan dia baru balik dari luar kota langsung aku ajak pergi," bela Maya sambil mengelus lengan Gavin.Gavin tersenyum tipis. "Mungkin. Atau mungkin ada hal lain yang belum sempat dia ceritakan padamu, Maya."Aruna mengepalkan tangan kuat-kuat sampai kuku-kukunya memutih. "Gavin, fokus saja pada jalanan.""Aku selalu fokus, Aruna. Sangat fokus pada tujuanku," jawab Gavin penuh arti.Begitu sampai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status