Chapter: BAB 61 : Pahitnya Anggur PenyesalanMatahari mulai condong ke arah barat saat Indra melangkah keluar dari jalur hutan yang rimbun.Langkah kakinya, meski baru saja menaklukkan kemiringan gunung yang terjal, terasa ringan namun penuh dengan muatan emosi yang tertahan.Di belakangnya, Ranaya mengikutinya dengan ritme yang sama ringannya, seolah pendakian tadi hanyalah jalan-jalan sore di taman kota, meski peluh masih membasahi keningnya."Indra, kamu sepertinya dekat banget ya dengan Pak Adrian," ucap Ranaya memecah keheningan, suaranya terdengar ringan namun mengandung nada menyelidik. "Tadinya aku sempat miki kalian punya hubungan khusus, selain dianggap sebagai adik olehnya."Indra hanya melirik sekilas melalui sudut matanya. Ia tetap fokus pada jalan di depan, tak membiarkan emosinya terbaca."Kenapa kamu mikir aku memiliki hubungan khusus dengannya?" sahut Indra dengan nada acuh tak acuh.Ranaya terkekeh pelan, seolah sedang membagikan rahasia besar."Itu karena Pak Adrian udah lama gak keliatan punya pacar. Orang-or
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: BAB 60 : Puncak Pelampiasan dan RahasiaMatahari mulai merangkak menuju titik tertingginya, memancarkan panas yang mulai menyengat di balik rimbunnya pepohonan.Indra melangkah dengan gusar menembus hutan lebat yang berbatasan langsung dengan Villa Adrian.Udara pegunungan yang kaya akan oksigen menyusup ke paru-parunya, namun kesegaran itu gagal membasuh rasa perih di hatinya.Bayang-bayang penolakan Saifanny masih menghantuinya, berdenyut seperti luka basah yang menolak mengering.Di belakangnya, Ranaya berusaha keras mengimbangi langkah lebar pria itu. Dengan gerakan manja yang biasa ia gunakan untuk menaklukkan para pria, Ranaya mencoba menggandeng lengan Indra.Namun, dengan gerakan kasar dan penuh kejengkelan, Indra menepis tangan itu hingga Ranaya nyaris terhuyung."Jalan sendiri! Jangan terus-terusan bergelayut, badanmu itu berat," desis Indra ketus tanpa menoleh sedikit pun.Ranaya mengerucutkan bibirnya, memendam rasa kesal. Ia terpaksa mengambil langkah-langkah besar untuk mengejar Indra yang berjalan sangat cepa
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: BAB 59 : Muslihat di Balik LukaMatahari baru saja menyentuh puncak-puncak pinus ketika Ranaya tiba di sebuah villa mewah di daerah pegunungan yang asri.Perjalanan dua jam dari hiruk-pikuk kota yang melelahkan membuat badannya terasa pegal dan kaku karena terlalu lama duduk di dalam mobil.Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung merentangkan tangan sembari menggeliat manja, memamerkan lekuk tubuhnya di hadapan pria yang membawanya kemari.Om Arif segera memanggil penjaga villa untuk menurunkan barang-barang bawaan mereka. Bangunan itu berdiri megah dengan dua lantai, mengusung gaya tradisional yang didominasi oleh unsur kayu hangat dan kaca-kaca besar di setiap sisinya.Atapnya yang lebar menaungi teras luas yang menghadap langsung ke kolam renang di bagian belakang."Gimana? Kamu suka?" tanya Om Arif sembari mengaitkan tangannya di bahu Ranaya secara posesif."Suka sekali, Om. Rasanya benar-benar menyatu dengan alam," jawab Ranaya dengan senyum yang dipaksakan.Matanya mulai mengamati sekeliling dengan cermat.
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: BAB 58 : Luka di Balik MawarDua jam perjalanan menuju Villa Adrian yang megah terasa berlalu sekejap mata bagi Indra. Fokusnya tidak tertuju pada jalanan yang berkelok, melainkan pada buket mawar merah mewah yang tergeletak di kursi penumpang di sampingnya.Wangi bunga itu memenuhi kabin mobil, seolah memberikan keberanian tambahan bagi hatinya yang sedang berbunga.Begitu sampai, Indra turun dengan langkah ringan. Ia menyampirkan tas hitam berisi "harta rampasan" dari rumah Zain di satu bahu, sementara tangan lainnya mendekap buket mawar itu dengan protektif.Pandangannya langsung terangkat tajam ke arah balkon lantai dua. Di sana, ia melihat pemandangan yang seketika membuat dadanya terasa sesak: Saifanny dan Adrian tengah mengobrol akrab sembari menggenggam cangkir di tangan masing-masing.Indra menarik napas panjang, mencoba mengembuskan rasa cemburu yang mulai merayap.Ia mengabaikan kehadiran Adrian yang berdiri begitu dekat dengan Saifanny. Dengan suara yang sengaja diceriakan, ia berteriak."Kak Fanny...
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: BAB 57 : Dokumen, Brangkas dan Fantasi yang MembakarMatahari baru saja beranjak naik ketika Indra menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana yang asri.Alamat yang dikirimkan Saifanny membawanya ke sebuah hunian bernuansa hijau, di mana halaman depannya tidak dipenuhi bunga hias mahal, melainkan hamparan sayuran hijau dan berbagai tanaman rempah yang terawat rapi.Suasana di sana begitu tenang, kontras dengan hiruk-pikuk konspirasi yang tengah ia jalani bersama Saifanny.Indra melangkah turun, membuka pagar besi rendah yang sedikit berdecit, lalu mengetuk pintu kayu di hadapannya.Tok! Tok!Tak butuh waktu lama bagi pintu itu untuk terbuka. Seorang wanita paruh baya mengenakan daster batik motif bunga menyambutnya dengan tatapan bertanya-tanya."Cari siapa ya, Mas?" tanya wanita itu sopan.Indra, yang memiliki pesona alami untuk meluluhkan hati wanita dari segala usia, langsung menyunggingkan senyum manisnya yang paling menawan."Saya cari Pak Andi, Bu. Benar ini rumah beliau?"Senyuman Indra menular; wanita itu ikut terseny
Last Updated: 2026-04-15
Chapter: BAB 56 : Retakan di Hati KecilPagi yang cerah kembali menyapa Villa Adrian yang megah. Udara pegunungan yang sejuk menyusup melalui celah jendela, namun suasana hati para penghuninya tidak secerah langit di luar.Saifanny duduk di kursi rotan balkon, jemarinya menggenggam cangkir teh yang masih mengepul, sementara tangan satunya sibuk menggeser layar ponsel, mencari kontak Pak Andi.Pak Andi adalah tukang kebun setia yang setiap minggu datang ke rumah kediaman Rahady untuk memotong rumput dan merawat taman mawar kesayangan Saifanny.Pria tua itu adalah sosok yang jujur, tipe orang yang terlalu mudah percaya pada kata-kata majikannya. Saifanny meletakkan tehnya, lalu dengan gerakan cepat mengetikkan sebuah pesan."Pak Andi, ini Saifanny. Saya mau bertanya, apa sebelumnya Pak Zain meminta berkas identitas Bapak?"Hanya butuh beberapa detik hingga balasan masuk. "Iya, Bu. Dulu Pak Zain bilang mau buatkan saya rekening untuk gaji mingguan saya. Dia bilang itu lebih efisien agar tidak perlu ambil tunai."Saifanny mend
Last Updated: 2026-04-15