เข้าสู่ระบบSuasana Pengadilan Negeri J-City pagi itu begitu mencekat dan riuh oleh kilatan lampu kamera puluhan awak media. Ruang sidang utama dipenuhi oleh riak ketegangan yang membumbung tinggi. Di barisan kursi pengunjung, Saifanny duduk didampingi oleh Adrian yang memeluk erat pundaknya, sementara Syahdan menggenggam erat jemari sang ibu. Di sisi lain ruangan, Bima dan Ghina menatap lurus ke arah kursi pesakitan dengan pendar mata yang dingin nan membatu.Di atas kursi terdakwa, Marcus duduk bergeming dengan setelan kemeja putihnya. Kendati sisa-sisa memar bekas pukulan Adrian masih membayang samar di wajahnya, pria itu tetap mempertahankan gestur kepalanya yang mendongak sangar. Di dalam benaknya, Marcus masih meyakini bahwasanya koneksi, kekayaan, serta kelihaian tim pengacaranya sanggup menguji celah hukum dan menghindarkannya dari ancaman hukuman maksimal.Brak! Brak! Brak!Hakim Ketua mengetukkan palu sidangnya tiga kali."Sidang perkara pidana kejahatan korporat, penganiayaan berat,
Tyas terduduk kaku di atas ranjangnya yang dingin. Sebelah tangannya menggenggam sebuah testpack plastik, sementara matanya menatap lurus ke arah dua garis merah tegas bertanda positif dengan pandangan mata yang datar nan hampa. Tak ada binar kebahagiaan, tak ada pula kepanikan yang membuncah. Ia hanya tak menyangka bahwa rahimnya kini kembali terisi. Napas panjang lolos dari bibir Tyas. Di dalam benaknya, ia menghitung dengan cermat setiap detik hari yang telah berlalu. Selama sebulan terakhir ini, ia hanya melakukan hubungan intim dengan Jovian seorang. Maka tanpa perlu ragu, sudah dapat dipastikan bahwa benih yang tumbuh di dalam tubuhnya adalah darah daging Jovian. Otaknya berputar keras, mengukur setiap probabilitas dan dampak risiko. Batinnya sempat berada di persimpangan jalan: haruskah ia memberitahukan kabar kehamilan ini kepada Jovian? Memori masa lalunya mendadak terlintas. Dahulu, tatkala ia mengandung Aidan, ia mendapatkan putranya melalui prosedur donor sperma pr
Beberapa hari telah berlalu sejak penyerangan brutal Marcus terhadap Saifanny di panti jompo pecah, namun aura kehancuran yang ditinggalkannya masih terasa pekat di seluruh penjuru J-City.Udara kota seolah dipenuhi oleh atmosfer hening yang mencekat—keheningan sesaat sebelum puing-puing kekuasaan keluarga Manggala benar-benar runtuh tuntas.Di ruang keluarga kediaman Astaguna yang megah, Tyas mendudukkan dirinya dengan keanggunan yang dingin di atas sofa kulit hitam.Jemari lentiknya yang terawat memutar-mutar cangkir porselen berisi teh herbal yang telah mendingin.Manik matanya menatap lurus ke arah layar televisi datar yang sedang menayangkan warta berita nasional secara berulang-ulang.“Kasus Penganiayaan dan Kejahatan Korporat Beruntun: Marcus Manggala Resmi Ditetapkan Sebagai Tersangka Tanpa Hak Penangguhan.”Tyas menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman dingin yang sarat akan kepuasan penuh penghinaan.Bagi Tyas, kejatuhan Marcus bukanlah sebuah kejutan, melainkan sebu
Pagi hari yang cerah menerangi langit J-City dengan pendar keemasan, membawa kebahagiaan serta suasana hati yang menyegarkan bagi kebanyakan orang.Namun, kehangatan mentari itu tak sedikit pun menyentuh Bima. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi kecemasan dan ketegangan yang membatu seraya ia melangkah menyusuri koridor rumah sakit tempat Ririn dirawat.Setiap pijakan kakinya terasa berat, dihantui oleh bayangan trauma penculikan dan dendam yang belum tuntas.Bima melangkah mendekati area ruang perawatan. Manik matanya menangkap sosok seorang pria berbadan tegap dan kekar yang tengah duduk berjaga di atas kursi tepat di depan pintu ruang rawat Ririn."Bara..." Panggil Bima dengan suara bariton yang parau menahan lelah.Bara menoleh cepat, kilatan kewaspadaan di matanya mereda tatkala mengenali sang klien. Ia lantas menganggukkan kepalanya dengan penuh hormat.Tanpa aba-aba, Bima mendudukan diri di sebelah Bara."Gimana kondisinya?" Tanya Bima dengan intonasi rendah, menanyakan per
Malam hari menyelimuti lanskap rumah sakit J-City dengan keheningan yang dingin. Bima mengayunkan langkahnya menyusuri koridor lantai perawatan dengan hembusan napas yang berulang kali lolos dari bibirnya.Di dalam benaknya, bayangan trauma serta nestapa yang baru saja menimpa Saifanny di panti jompo terus membayangi.Rasa iba dan amarah pada kebiadaban Marcus bergolak hebat, menuntut pembalasan hukum yang tak boleh tertunda lagi.Pria itu menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kayu berpelat nomor kamar. Tangannya terulur meraih gagang pintu, lalu memutarnya perlahan.Ckrek!Pintu kamar rawat inap Ghina terbuka. Di dalam ruangan yang hangat itu, tampak Ghina tengah mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan sebuah jeruk yang separuh terkelupas di genggamannya.Di samping tempat tidur, duduk seorang wanita paruh baya berhijab hitam yang tampak anggun, tengah tertawa renyah menikmati percakapan hangat bersama Ghina."Ah, maaf... saya mengganggu," Kata Bima merasa canggung, r
Adrian terus melancarkan pukulan bertubi-tubi pada wajah Marcus yang kian tak berbentuk, dipenuhi cairan darah merah segar.Manik matanya menyalang tajam membara, menyalurkan seluruh gelombang emosi, penyesalan, dan amarah luar biasa yang meledak dari dadanya.Setiap hantaman buku jarinya seolah-olah menjadi pelepasan atas teror dan penderitaan yang baru saja menimpa wanita yang dicintainya.Buk! Buk! Buk!Sepasang mata Marcus mulai terlihat kosong dan sayup. Tubuhnya meloyot lemas, kehilangan sisa-sisa daya untuk mempertahankan diri atau sekadar memfokuskan pandangannya.Namun, Adrian yang berada di bawah cengkeraman amarah tak terkendali terus melayangkan serangan tanpa ampun."Adrian... berhenti..." Ucap Saifanny dengan nada suara yang teramat lemah, hampir tenggelam di antara napasnya yang tersengal.Panggilan parau itu bagai sentakan listrik yang menembus kesadaran Adrian. Suara Saifanny seketika memadamkan amarah liar yang menguasai kepalanya.
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







