LOGINSeharusnya kehidupan istri dari CEO seperti Edwin itu bahagia, dan menjadi impian setiap wanita. Namun, tidak dengan Audrey yang berasal dari keluarga miskin. Mertua dan semua kakak iparnya melakukan berbagai cara agar Edwin menceraikannya. Sanggupkah Audrey mempertahankan rumah tangganya?
View More"Yana! Mau sampai kapan kamu betah melajang? Umur mu telah genap tiga puluh lima tahun sekarang, tapi kamu sekali pun tidak pernah mengenalkan seorang lelaki kepada keluarga besar kita," seru Nyonya Lila kepada anak gadisnya yang
sangat keras kepala itu."Apaan sih, Mami. Reseh banget, deh! Menikah dan sejenisnya masih jauh dalam jangkauan pikiranku," ucap Yana dengan nada kesal."Terus mau sampai kapan kamu terus begini, Yana? Apakah kamu menunggu Fred Levin, pria tua itu menceraikan istrinya, baru kamu akan menikah dengannya?" "Mami! Fred sudah bahagia dengan gadis pilihannya. Aku masih ingin sendiri, bukan karena dirinya. Perihal masa depanku tidak ada sangkut pautnya sedikit pun dengan Fred. Jadi tolong Mami, kalau ngomong itu kira-kira dong!" sengit Yana penuh amarah.Yana Ilone Handoko seorang wanita independen yang bekerja di perusahaan milik keluarganya, yang menjabat sebagai direktur keuangan. Pernah mengalami jatuh cinta yang sangat mendalam kepada seorang pria teman kuliahnya bernama Fred. Namun sayangnya pria itu hanya menganggapnya sebatas teman biasa. Tanpa adanya hubungan istimewa diantara keduanya.Sejak saat itu Yana patah hati kepada Fred. Padahal telah bertahun-tahun dia terus menjaga perasannya kepada pria itu, dan berharap sang sahabat mau menganggapnya lebih dari sekedar teman.Namun semua hanya kesia-siaan belaka.Yana semakin kecewa saat mendengar jika pria yang dirinya cintai diam-diam itu, malah telah mempersunting gadis lain. "Pokoknya Mami tidak mau tahu! Jika sampai akhir bulan depan kamu tidak membawa seorang pria untuk dikenalkan kepada keluarga besar kita, maka jangan salahkan Mami jika akan mengambil tindakan keras kepadamu. Mami akan menjodohkanmu dengan anak kolega Papi!"" ujar Nyonya Lila penuh ancaman kepada putrinya."Apaan sih, Mami! Aku tidak akan pernah mau dijodohkan!" Yana mencoba untuk berontak dan ingin membantah perkataan ibunya."Kalau kamu tidak mau dijodohkan! Segera bawa pasanganmu ke rumah dan kenalkan kepada Mami dan Papi beserta keluarga besar kita!" ujar sang ibu lagi."Mami kok memaksa ku, sih?" "Pokoknya Mami tidak mau lagi mendengar alasan darimu, Yana! Sudah cukup Papi dan Mami bersabar sampai usia mu sekarang ini!" "Mami nyebelin!" teriak Yana lalu mulai ke luar dari rumah orang tuanya."Yana, kamu mau ke mana? Mami belum selesai berbicara!" teriak Nyonya Lila mencoba memanggil anaknya. Namun Yana tidak menggubris perkataan ibunya. Dia terus saja melangkah ke luar dari rumah. Perempuan itu ingin menenangkan pikirannya yang kalut. Kebetulan sekali beberapa saat yang lalu ada ajakan untuk nongkrong bareng di sebuah bar oleh para temannya.Yana yang sebelumnya tidak pernah masuk ke dalam bar, mengikuti saja nalurinya kali ini. Sang gadis masih ingat betul perkataan ibunya yang menuntut dirinya untuk segera mencari pendamping hidupnya, membuat pikirannya semakin kalut. Yana segera mengendarai mobilnya membelah jalanan Kota Jakarta malam itu. Dia pun telah bertekad untuk menerima ajakan para teman-temannya.Sementara di sebuah Bar yang ada di bilangan Jakarta Selatan,Seorang pemuda bernama Indra Aharon, sedang merayakan pengangkatannya sebagai CEO baru di perusahaan milik keluarganya.Pria itu mengundang beberapa orang rekan bisnis dan koleganya, untuk kumpul-kumpul bersama saat ini."Perhatian sebentar! Saya mewakili teman-teman semuanya, mengucapkan selamat kepada Bro Indra atas jabatan barunya! Ayo kita angkat gelas masing-masing!" Mereka pun melakukan apa yang di perintahkan oleh Nino, sahabat karib dari Indra selama ini. Semua orang mengucapkan selamat kepada Indra atas prestasinya. Pria itu memang terbilang sangat cerdas sehingga para pemilik saham mempercayakan kepadanya untuk menjabat sebagai CEO. Akan tetapi wajah Indra saat ini, tidak mencerminkan rasa bahagia sedikit pun. Pasalnya, pria itu sedang mengalami patah hati yang mendalam saat ini. Wanita yang selama ini dirinya kagumi telah menjadi milik orang lain. Anisa telah menikah dengan Fred yang umurnya jauh lebih matang darinya. Bahkan perusahaan milik suami Anisa, telah berkembang sangat pesat. Fred juga telah lama menjabat sebagai CEO. Tidak seperti Indra, yang baru saja beberapa jam yang lalu menjabat sebagai CEO. Hati pria itu terlihat gunda gulana saat ini. Untuk mengobati luka hatinya, pria itu terlihat mulai minum wine dari tadi."Bro! Jangan kebanyakan Lo minumnya! Nanti Lo bisa teler!" tegur Nino sang sahabat.Namun Indra sama sekali tak menggubris perkataan Nino dia terus saja menegak wine itu.Di dalam bar yang sama, Yana sedang berkumpul dengan teman-temannya menghabiskan malam minggu yang panjang.Kegalauan yang melanda hatinya, membuat gadis itu mulai minum wine. "Yana! Sejak kapan Lo berani minum wine?" tukas Anggi, sahabatnya. "Sejak sekarang, Anggi. He-he-he." Yana malah cengengesan."Lo kenapa sih, Yan? Jika Lo punya masalah, Lo bisa cerita ke gue! Bagaimana sih, Lo?" Anggi malah kesal melihat Yana."Yana! Berhenti!" seru Cici lalu merebut paksa gelas berisi wine itu dari tangan Yana."Kalian kenapa, sih? Reseh banget! Lama-lama Lo berdua kayak Emak gue! Tahunya nyuruh gue kawin mulu! Memangnya gue kambing apa, disuruh kawin terus tiap hari? Mencari cinta sejati itu tak semudah membalikkan telapak tangan!" Yana malah memarahi kedua sahabatnya."Yaelah, Yan. Galak amat sih, Lo?" tukas Anggi."Lagian ya, kita khawatir kepada Lo. Karena ini kali pertama Lo meneguk wine!" seru Cici mengingatkan temannya."I am okay! Kalian nggak lihat gue baik-baik saja?" ucapnya kepada kedua temannya, pertanda jika dirinya tidak mabuk walaupun telah minum beberapa gelas.Akan tetapi setelah berbicara panjang lebar kepada kedua temannya, Yana merasakan kepalanya sangat pusing dan dia ingin muntah sekarang. Sepertinya reaksi minuman itu mulai dirinya rasakan. Cici yang menyadari akan hal itu segera angkat bicara,"Yana! What happen with you? Are you okay?" tanyanya kepada sahabatnya."Gue baik-baik saja, kok. Gue mau ke toilet dulu, ya?" ujarnya kepada kedua temannya."Yana, gue antar Lo ke toilet, ya!" ujar Anggi."No, gue bisa sendiri. Kalian di sini saja. Gue akan kembali dengan cepat," ucap Yana mencoba untuk tetap sadar. Entah kenapa kepalanya mulai berat saat ini.Indra yang dari tadi juga asyik minum wine karena patah hati, juga turut pamit kepada teman-temannya untuk ke toilet. Sepertinya dia juga hendak muntah saat ini.Karena buru-buru, Indra tidak sadar jika dirinya memasuki toilet wanita. Pria itu pun mulai memuntahkan isi perutnya akibat pengaruh minum wine yang banyak.Setelah menyelesaikan urusannya, Indra pun mencuci wajahnya di wastafel. Namun tiba-tiba pria itu terperangah saat melihat seorang wanita yang dirinya kenal sedang berjalan sempoyongan menuju ke pintu toilet. "Tante Yana!" seru Indra lalu menangkap tubuhnya yang hampir saja jatuh ke lantai.Di rumah sakit, Arumi sadar. Evan sudah membayar semua biaya perawatannya, serta meminta suster untuk menjaganya. Kini dia berbaring sendirian dalam ruangan serba putih.Arumi mengirimkan pesan pada Evan dan Sinta, bahwa dia tidak jadi mengungkit permasalahan tentang uang senilai tanah hak miliknya. Semua sudah dia ikhlaskan, karena tak mau rasa tamak menguasainya.Adik almarhum Juna takut, kalau itu akan mempengaruhi kesehatannya dan mendatangkan penyakit fisik, ataupun penyakit hati. Dia ingin sehat, hidup bahagia dan tak ada rasa benci, apalagi pada saudara sendiri. Zofia lega mendengarnya.Sejak sebulan lalu, sebenarnya perusahaan milik almarhum Juna mengalami penurunan omset. Gaya hidup Zofia dan keluarganya kini tak semewah dulu. Semua kebutuhan hidup yang bisa dipangkas, mereka kurangi sebisa mungkin. Mereka pun tak bisa menyombongkan harta lagi, seperti saat Juna masih hidup.Para tetangga seolah bahagia melihat mereka yang kini tak bisa menghina orang lain lagi, hanya karena
Satu pekan kemudian, Arumi kembali datang. Kali ini, ada Evan, Natasha dan Sinta yang menemani Zofia, agar tidak khawatir ketika menghadapi adik almarhum Juna."Aku tahu, Mbak Zofia tidak memberikan uang yang aku minta, karena tanah yang seharusnya menjadi milikku itu, tidak Mbak jual, tetapi justru dibagi rata pada anak-anak, yakni Evan, Sinta dan Edwin. Iya, kan?" tanya Arumi, membuat semua yang mendengarnya pun kaget setengah mati."Halah! Itu cuma akal-akalan kamu saja karena ada dendam tertentu sama kami. Iya, kan? Jangan fitnah, dong!" kesal Zofia.Arumi menyunggingkan senyum miring. "Kenapa, Mbak? Takut? Aku sudah punya banyak buktinya. Mulai dari foto-foto, terus salinan kepemilikan surat tanah dan juga sebuah flashdisk berisi banyak video saat pembagian itu. Kenapa Mas Juna memberikan sesuatu yang bukan haknya?"Wanita berjilbab itu menaruhsebuah map bersampul hijau dan sebuah flashdisk ke atas meja.Zofia menggertakkan gigi, lalu membuka dokumen itu. Semua bukti itu asli, te
Audrey sedang duduk di ruang tamu, berhadapan dengan Dianti dan Dino. "Alhamdulillaah, kalian kini bisa sadar bahwa perbuatan kalian itu salah. Mama sudah memaafkan kalian berdua.""Makasih, Ma," sahut Dianti."Terima kasih, Mama. Maafkan Dino yang selama ini mengekang Dianti. Kami sungguh anak yang durhaka," timpal Dino, dengan wajah tertunduk dalam.Sang Mama mangut-mangut. "Sudah, nggak perlu disesali. Mulai sekarang, Dino harus berbakti pada orang tua. Dianti juga, jangan mengulangi perbuatan yang salah!" "Iya, Ma. InsyaaAllaah," jawab keduanya, bersamaan.Dianti beranjak dari kursi, lalu memeluk Audrey dengan erat. Mulai terdengar tangisan keduanya. Sementara itu, air mata mulai menggenang di kedua netra Dino karena merasa sangat menyesal. Dari ruang tengah, Fandi muncul bersama Lia yang membawa tiga gelas minuman."Alhamdulillaah, akhirnya kalian semua berdamai. Kakek harap, kalian akan terus seperti ini dan tak ada lagi sandiwara atau sejenisnya, hanya karena silau harta," na
Pagi menjelang siang, cuaca cukup cerah. Galang mematut diri di depan cermin."Meskipun gue udah sedikit tua, tapi masih ganteng. Ya, siapa tahu, Audrey mau melabuhkan hatinya sama gue, meskipun kemarin sempat memuji-muji suaminya." Pria itu bergumam. Memang, dia belum menikah sampai sekarang. Dari sekian banyak perempuan yang pernah dekat dengannya, belum juga ada yang cocok dan klik di hati. Galang segera memacu mobilnya, setelah menyuruh satpam untuk menjaga rumah baik-baik.Sampai di depan rumah almarhum Edwin, semua sudah berkumpul. Kedatangan Galang berbarengan dengan Audrey, Fandi, dan Lia yang datang menggunakan taksi online. "Assalaamu'alaikum, Pak, Bu," sapa Galang.Fandi dan Lia menjawab salam. Mereka berbasa-basi sebentar. Sementara itu, Audrey mengembuskan napas kasar karena jenuh dan mulai merasa bahwa Galang sedang menarik simpatinya."Mari masuk, supaya bisa segera dimulai rapatnya," ajak Audrey, yang langsung disetujui oleh orang tuanya.Galang memandang punggung m
Lia terbangun setelah beberapa saat. Dia dibaringkan di kursi ruang tamu oleh Fandi dan Audrey.“Bu! Ibu sudah sadar?“ panggil Fandi, tak sabar melihat keadaan istrinya.Audrey mengusap air matanya. Dia sedih sekaligus panik kalau sampai ibunya sakit, karena kejujurannya tadi.“Iya, Pak. Aku ….“ Li
Tak berapa lama, mereka sampai di rumah Fandi dan Lia--orang tua Audrey--yang berada di sekitar persawahan. Mereka disambut dengan hangat. “MaasyaaAllaah. Cucuku. Sini-sini, Sayang,” sambut Lia, langsung merebut bayi yang digendong Ratmi. Setelah menyalami Audrey dan Edwin, Fandi tersenyum lebar
"Aku sudah menikah dengan Audrey, Ma! Bukankah pernikahan itu akan terjadi, sekali saja seumur hidup?“ Mata Edwin melotot, tampak menakutkan sekali. “Masih ada kemungkinan. Mama ingin kamu cerai sama dia! Anaknya sudah lahir, kan?“ bentak Zofia. Edwin menggeleng, tak percaya dengan ucapan Zofia.
“Tahu dari mana kamu?“ tanya Audrey, dengan suara melemah, dan mulai meneteskan air mata.“Dulu, dia bilang seperti itu saat kita akan berangkat bulan madu. Galang memintaku untuk menceraikanmu, karena baru sadar punya rasa sama kamu setelah kita menikah!“ jelas Edwin, membuat Audrey sangat kaget.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews