MasukIbu mertua meminta sejumlah uang yang cukup besar kepadaku ketika aku melayangkan gugatan cerai pada putranya. Akan tetapi, ibu mertua dan suami tidak menduga sama sekali dengan apa yang aku lakukan.
Lihat lebih banyakARIA
I was only five, innocent and clueless. I was made to stand on a platform in the center of the a dark room. I didn’t understand why I was there or why I wasn’t wearing clothes on my body. All I knew was that there were men, lots of them in black suits and their eyes were locked on me like vicious predators. Thick cigars sat between their fingers, and each one had a scary man behind him, also dressed in black suits and shades. Those men standing occasionally whispered things to the ones sitting. "Four hundred thousand dollars!" a deep voice shouted. "Eight hundred thousand!" another voice countered. Emily was the only woman in the room,she stood beside me and whisper instructions to me. She was the closest thing I had to a mother. She taught me everything I knew at that age. I only got to know that she wasn't my mother when her son Daniel,who was two years older than me told me. Emily was a care taker employed to look after me and this place was the only home I’d known, for as long as I could remember. I wasn't allowed to leave my room or interact with anyone else except Emily and her son, Daniel. I didn’t even know where I came from, or how I got here. However, Every night I kept having this scary dream of two cold bodies in a pool of blood. A blonde woman,naked, her thighs looking like they’d been broken with force and the second body, was that of. A headless man, lying beside her. I had no idea who they were, or why I kept dreaming of them. Emily touched my shoulder gently, then she leaned in, and whispered, “Turn around, sweetie.” I obeyed and turned slowly. “Five million!” A man suddenly called from the back. The room went quiet for a moment, no one could challenge that amount. A man in a gray suit approached us and whispered something in Emily's ear. She nodded quickly, then turned to me with a smile that didn’t reach her eyes. “Come on, sweetie, let’s get back to your room.” It was finally over, I stepped off the platform and gazed up at her. She smiled back weakly, held my hand and walked me down the narrow hallway, back to my room. I could still hear the men talking and laughing behind us. “She’ll make a nice doll for my boss” one voice said with a chuckle. I didn’t know what that meant but somehow, I knew it wasn't good. Daniel, Emily's son was inside my room, reading when the door opened. My eyes lit up when I saw him but as soon as he stood up , he walked to his mother and asked the question I hate to hear. “Can we go home now, Mom?” “Just a minute, honey. I need to get Aria ready,” she said,and brought out a new dress from a fancy bag. She got me all dressed up after which she knelt down, looked me in the eyes, and touched my cheek. “You did great out there, sweetie,” she said softly. “So brave. I’m proud of you.” I looked up at her. “Am I going somewhere?" She paused, then sighed and brushed my long hair behind my ear. “Yes.” “With you and Daniel?” I asked again. She smiled — the kind of smile that meant “no.” Then she shook her head, her eyes were sad. “No, sweetheart. But you’ll be taken good care of. It’s… it’s…” She paused, as if the words were too heavy to say. “It’s a .....a...good family. They will adopt you. You have to do whatever they say so they’ll take good care of you. Understand?” She had tears in her eyes. Seeing her like that, summoned tears in my own eyes and I allowed them to roll freely down my cheeks. “Hey, honey, you don’t have to cry. I promise to visit,” she said gently and cleaned my face. “I don’t want to go anywhere. I’m scared,” I sobbed and hugged her tightly. She wrapped her arms around me and kissed my forehead. "It's okay honey, it's okay". She whispered and consoled me. Daniel came over and joined the hug. Just then, the door opened. Daniel immediately stepped back in fear as two scray looking tall men in black suits walked into the room.Di atas lemari kayu yang reyot, Risa berusaha menyeimbangkan tubuhnya sambil terus mencoba menghubungi seseorang dari ponsel Azki. Sayangnya, sinyal di tempat itu sangat lemah, membuat panggilannya tidak pernah tersambung.Dengan napas tersengal, ia menatap ke bawah. Azki dan Melisa bersembunyi di balik meja tua, berusaha menahan tangis mereka agar tidak menarik perhatian Claudia dan kedua temannya yang masih berada di ruangan sebelah.“Ya Tuhan, tolonglah...” gumam Risa pelan, jemarinya masih sibuk menekan layar ponsel, berharap sinyal kembali muncul. Ia mencoba menghubungi Pramudya, tapi tidak ada hasil.Sementara itu, di tempat lain, Pramudya dan Azzam melaju dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang dideteksi oleh pelacak cincin Risa. “Berapa lama lagi?” tanya Azzam dengan nada gelisah.“Sekitar lima belas menit,” jawab Pramudya sambil menatap peta di layar GPS.Di rumah kosong, Claudia mulai merasa tidak sabar. Ia mendekati ruangan tempat Risa dan anak-anaknya dikurung. “Kau pik
Risa, Azki, dan Melisa dibawa ke sebuah rumah kosong yang terletak di pinggiran kota. Aroma lembab bercampur dengan bau kayu lapuk menyeruak begitu mereka memasuki tempat itu. Rumah tersebut terlihat tak terawat, dengan dinding yang penuh coretan dan lantai yang berdebu. Claudia berdiri di tengah ruangan dengan masker masih menutupi sebagian wajahnya, namun matanya yang penuh kebencian terlihat jelas."Jadi ini harga dirimu, Risa?" Claudia melepas maskernya, menampakkan senyuman sinis."Kau pikir bisa mengambil segalanya dariku dan mendekati Pram dengan seenaknya?" Sambungnya lagi dengan nada tidak senang, bahkan Claudia membuang salivanya asal ke arah Risa. Risa yang tangannya terikat di belakang tubuhnya menatap tajam ke arah Claudia."Aku tidak pernah ingin mengambil apapun darimu, Claudia. Semua ini hanya ada di kepalamu yang sakit. Kedekatanku dengan mas Pram juga berjalan begitu saja, kami juga tidak memiliki hubungan apapun. Hanya sebatas rekan kerja," teriak Risa, ia tidak mer
Claudia menelan ludah, merasakan kepalanya berputar dengan beban pikiran yang kini menghantamnya. Risa, yang berdiri tidak jauh dari mereka, menatap dengan tatapan yang penuh kemenangan, seolah sudah memenangkan pertarungan tanpa berkeringat. Pram, dengan sikap dominannya, menatap Claudia dengan tegas, menuntut kepatuhan. “Baiklah, aku akan menyelesaikan ini,” ucap Claudia dengan suara serak, hatinya berkecamuk antara rasa malu dan keinginan untuk melawan. Namun, di hadapan Pram yang berwibawa dan Risa yang menyeringai, pilihan tampak begitu terbatas. Claudia berjalan ke arah rak yang berantakan, tangannya gemetar saat ia mulai merapikan barang-barang yang berserakan. Setiap gerakan yang ia lakukan seakan menandakan kekalahan. Pram mengikutinya, mengawasi setiap detail dengan mata elang, tidak memberi ruang untuk kesalahan sedikit pun. Risa, di sisi lain, berdiri dengan tangan terlipat, matanya berkilat dengan kepuasan yang nyata. Nuri sesekali memberikan komentar kecil yang menyaki
Risa dan Nuri langsung saja keluar dari mobil berjalan dengan sedikit terhuyung, perut terasa mual dan kepala seperti sedang berputar-putar.“Hueek!” Risa mengeluarkan isi perutnya, kepalanya tiba-tiba saja terasa berdenyut, begitu juga Nuri, ia juga muntah-muntah. Karena selama ini mereka tidak pernah mengendarai mobil seugal-ugalan ini.“Kalian tidak apa-apa?” Panik Pram, ia mengusap punggung Risa dan Nuri secara bersamaan.“Tidak apa-apa bagaimana? Mas Pram bisa lihat sendirikan, kami hampir mati karena kamu ngebut bawa mobilnya. Untung saja jantung ini buatan Allah, kalau gak sudah tercecer di jalanan.” Sentak Risa merasa kesal sembari menepiskan tangan Pram, ia menyeka mulut menggunakan punggung tangannya. Namun Pram langsung saja menyodorkan sapu tangannya pada Risa. Sedang Nuri memilih untuk duduk, meraup oksigen dengan rakus, karena tadi, ia merasa berhenti bernafas ketika mobil melaju dengan kencang.“Maaf, saya hanya tidak ingin Claudia lepas. Saya ingin memberi peringatan p












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan