Chapter: Bab 8: Wujud di Balik MerahDebu dan bau sisa keringat masih menggantung pekat di udara kedai yang porak-poranda. Pak Surya tertegun di samping meja kasir yang sudah terbalik, sementara Mei mematung dengan tangan menutup mulut, menatap ngeri ke arah lantai. Di antara puing-puing kayu dan pecahan mangkuk, salah satu penyerang yang tergeletak tak berdaya kini telah berubah wujud menjadi seekor panda merah berukuran besar dengan napas tersengal. "Ya Tuhan... apa-apaan itu?" bisik Mei gemetar, kakinya mundur perlahan hingga menabrak dinding dapur. Pak Surya langsung menarik putrinya ke belakang tubuhnya, meski tangannya saat itu sedang memegang sebatang kayu patah dengan cengkeraman yang erat untuk berjaga-jaga. Lewi yang saat itu berdiri tak jauh dari mereka, terlihat begitu kacau dengan napasnya yang memburu. Telapak tangannya masih terasa hangat, menyisakan getaran aneh yang menjalar hingga ke bahu. Melihat wujud asli makhluk di lantai itu, Lewi menyadari bahwa ancaman yang mengincarnya bukanlah sekadar
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: Bab 7: Pelarian Sang PewarisBelasan meter di seberang tanah lapang, Lewi terduduk di atas gundukan tanah berlumut. Napasnya terengah-engah, jantungnya berdegup begitu kencang sampai terasa akan ompat keluar dari dadanya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih memancarkan sisa-sisa pendaran cahaya emas yang kini tampak meredup. Pikirannya kosong meski tubuhnya tampak gemetar hebat, semua yang rasakan saat ini, itu bukan sekedar karena ketakutan saja tapi ia juga kebingungan atas apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Lewi menengok ke belakang, menatap Zhao Lie yang saat ini tengah berdiri terpaku dari kejauhan. Tangan Zhao Lie yang tadi siap menerkamnya, kini kembali tertahan di udara. Meski Lewi melihat Zhao Lie dari posisinya sekarang, Ia bisa melihat kalau rahangnya Zhao Lie masih mengeras, dengan matanya yang menyipit, harimau jadi-jadian itu terus menatap gerakan terakhir Lewi sebelum menjauh darinya. "Langkah itu..." gumam Zhao Lie, suaranya parau. Zhao Lie menatap telapak tangannya sen
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: Bab 6: Jejak di Balik DindingLewi menahan napas, menempelkan punggungnya ke dinding kayu yang dingin setelah menarik diri dari tirai bambu. Jantungnya bertalu-talu di dalam dada. Di luar sana, di seberang jalan yang lengang dan diselimuti kabut tebal, beberapa bayangan tegap masih berdiri diam. "Lewi, mundur," bisik Pak Surya. Tangannya yang kokoh mencengkeram bahu Lewi dengan tegas, menariknya menjauh dari jendela. "Jangan bergerak. Jangan biarkan mereka tahu kita mengawasi." Lewi mengangguk kaku dan mengikuti tarikan Pak Surya. Namun, meski matanya tak lagi melihat langsung ke jalanan, dadanya mendadak berdenyut ngilu. Pendar kemerahan yang samar dari lencana logam di pinggang salah satu orang asing di luar seakan memicu desakan gelombang asing yang membuat napasnya terasa tertahan. "Papi, siapa mereka sebenarnya?" bisik Mei. Dia berdiri di dekat tangga lantai dua, jemarinya memegang erat nampan kayu kosong sebagai pelindung darurat. "Mereka... seperti mencari sesuatu," sahut Lewi terbata-bata dengan nap
Last Updated: 2026-07-26
Chapter: Bab 5: Riak di Bawah TenangSisa-sisa pendar keemasan di bawah kulit lengan Lewi perlahan memudar, menyisakan denyut hangat yang menjalar halus di sepanjang nadinya. Sementara itu di lantai kayu samping dipan, terlihat banyak pecahan kaca yang beruap, sisa dari air yang mendadak mendidih. "Itu... itu tadi apa, Nak?" suara Pak Surya memecah keheningan yang membeku di kamar tersebut. Lewi menatap telapak tangannya sendiri dengan napas masih memburu. Kulitnya bahkan tidak memerah terkena tumpahan air mendidih itu. "Saya... saya tidak tahu, Pak. Sejak kakek di gunung itu menyentuh dada saya, tubuh saya sering mendadak panas seperti ini." Mei berlutut, memungut pecahan kaca dengan hati-hati. Matanya menatap Lewi dari jarak aman dengan alis berkerut rapat. "Papi... kalau ini bukan luka bakar, lalu apa?" "Jangan asal menebak dulu, Mei," tegur Pak Surya lembut, meski raut khawatir terbayang jelas di mukanya. "Yang penting tidak ada yang terluka parah. Soal sisanya, kita pikirkan nanti." Tiga hari berlalu dalam
Last Updated: 2026-07-26
Chapter: Bab 4: Di Bawah Atap yang AsingDingin yang menusuk membuat Lewi perlahan membuka mata. Paru-parunya serasa teremas yang memicu batuk hebat dan memuntahkan sisa air sungai dari tenggorokannya. "Ugh... uhuk! uhuk!" Lewi meringkuk di atas kasur tipis, dadanya terasa nyeri bukan main. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi tumisan bawang merah serta minyak kayu putih memenuhi rongga hidungnya. Saat pandangannya yang kabur perlahan membaik, dia mendapati dirinya sudah berada di dalam kamar berdinding kayu tua, bukan lagi di tepi sungai yang gelap. "Dia sudah sadar, Papi!" teriak seorang gadis muda berambut kuncir kuda yang berdiri di dekat pintu, memanggil seseorang dengan bahasa Mandarin yang asing di telinga Lewi. Lewi menoleh cepat, mengabaikan denyutan tajam di pelipisnya. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dan mengenakan celemek bernoda minyak bergegas masuk mendekati tempat tidur. Gadis itu mencondongkan tubuhnya, melempar rentetan pertanyaan dengan bahasa Mandarin yang tidak dimengerti Lewi sama seka
Last Updated: 2026-07-26
Chapter: Bab 3: Jebakan Sang Harimau"Suara apa itu?" bisik Lewi, tangannya mendekap mulut rapat-rapat di dalam celah batu yang sempit dan basah. Di luar sana, gemercik sungai berpadu dengan desis tajam dari arah hulu, bukan seperti desisan ular, melainkan rintihan halus penuh kesakitan. "Apakah itu monster lain?" batinnya, jantung berdegup kencang. "Atau harimau gila tadi yang sedang memburuku?" Rasa takut mencengkeram dadanya, tapi rasa ingin tahunya yang memenangkan pergolakan batinnya yang membuat dia mengintip melalui celah di antara dua batu berlumut. Di atas batu datar di tepi sungai berbusa, sesosok makhluk kecil meringkuk. Cahaya bulan yang menerobos kabut memperlihatkan seekor anak macan berbulu jingga keemasan, tak lebih besar dari kucing dewasa, gemetar hebat diterpa angin malam. "Ya ampun... seekor anak macan?" gumamnya, mata melebar terkejut. Dia mencondongkan tubuh sedikit, menahan napas. Kaki belakang anak macan itu tertekuk aneh, cairan merah pekat menetes lambat ke batu hitam. "Kasihan seka
Last Updated: 2026-07-26