Chapter: Bab 164: Pilihan di Persimpangan CadasSinar matahari pagi membias menembus sisa-sisa kabut tipis di atas lereng perbukitan, menyiram alur batu utama dengan pendar keemasan yang hangat. Angin pegunungan berembus perlahan, membawa aroma pinus basah dan bau tanah lembap dari ceruk-ceruk tebing. Rombongan Lewi menghentikan langkah di sebuah persimpangan cadas, sekitar lima ratus langkah di luar selasar permukiman desa. Di hadapan mereka, jalan utama berbatu meliuk menuruni celah lereng menuju Celah Lembah Cadas, sementara di sebelah kiri terbentang sebuah alur setapak terjal yang menanjak menyusuri dinding cadas perbukitan. Lewi berdiri di tepi persimpangan sambil memegang kertas kusam yang memuat pesan anonim bertinta hitam. Jemari Lewi meraba permukaan kertas itu sejenak sebelum melipatnya kembali dan menyimpannya di saku jubah. "Bagaimana pendapatmu, Lewi?" tanya Su Kang sambil melirik alur cadas terjal di sebelah kiri. "Apakah kita akan menuruti pesan ini?" Lewi menggelengkan kepala secara perlahan. "Kita tidak mengen
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Bab 163: Jejak yang TertinggalKabut asap abu-abu di lorong belakang perlahan tersapu oleh tiupan angin malam dari celah pintu dapur yang rusak. Bau asap yang menyengat memudar, menyisakan keheningan kaku yang menggantung di seluruh area penginapan. Di aula utama, suasana tampak kacau. Sebuah meja kayu tebal terbalik di samping perapian, dua bangku patah terhampar di atas lantai batu, dan pecahan teko tembikar berserakan di dekat tangga bawah. Pemilik penginapan, seorang pria tua beruban berseragam celemek kusam—keluar perlahan dari bawah ceruk meja kasir dengan tubuh gemetar. Matanya membelalak mengamati pintu dapur belakang yang terlepas dari engselnya. Su Kang melangkah mendekati meja kasir sambil menyerahkan dua keping perak tambahan untuk mengganti kerusakan ringan di lorong belakang. "Paman," tutur Su Kang dengan nada suara yang tenang dan menenangkan. "Pertarungan sudah selesai. Para penyerang telah melarikan diri ke luar permukiman." Pemilik penginapan mengusap dadanya sambil mengambil dua keping perak
Last Updated: 2026-11-04
Chapter: Bab 162: Ujian Dua KayuDua penyergap bermantel hitam baru saja menyelinap masuk ke lorong kamar. Di ambang pintu, pemimpin penyergap yang sebelumnya terdorong mundur, kembali mengambil posisi bersama dua rekannya tersebut. Tiga pasang mata liar menatap dari balik penutup wajah, dengan parang pendek berkelebat tajam mengincar bahu Su Kang dan Lewi secara bersamaan. Lewi menahan denyut ngilu di pergelangan tangannya. Benturan keras parang lawan sebelumnya masih menyengat otot lengannya, sementara sudut pegangan samping tonfa yang baru bertransformasi terasa kaku di dalam genggamannya. Namun, tidak ada ruang untuk ragu. Lewi menyesuaikan gerakannya dengan ruang kamar yang sempit. Tanpa memutar senjatanya secara melebar, Lewi merendahkan siku kirinya dan menempelkan batang tonfa kayu sepanjang dua kaki itu rapat di sepanjang lengan bawahnya. TAK! Bilah parang lawan menabrak kayu padat peninggalan Guo Ren. Sabetan yang mematikan itu terhenti telak. Tanpa tiang kayu atau langit-langit yang menghalangi, sepasa
Last Updated: 2026-11-04
Chapter: Bab 161: Pintu yang Hampir JebolKRETAK! Grendel kayu di balik pintu kamar belakang patah terbelah. Belati tebas berujung lengkung menyembul dari celah pintu, mengungkit bilah pengunci secara paksa hingga pintu kayu kusam itu terhempas terbuka penuh. BRAK! "Su Kang, tahan pintu!" seru Lewi cepat seraya merendahkan tumpuan kakinya. "Lin Yan, jaga celah tebing! Xiaojin, mundur dua langkah!" Di dalam kamar beratap cadas rendah yang hanya berukuran empat langkah itu, empat pembaringan jerami yang disusun rapat melintang di sebelah kanan, menyisakan alur pijakan sempit di antara tiang kayu penyangga dan dinding cadas tebing yang basah. Seorang pria bertubuh tegap dengan mantel serba hitam dan penutup wajah menerobos masuk pertama kali, mengayunkan parang pendeknya mendatar. TRANG! Su Kang menangkis sabetan itu dengan pedangnya di ambang pintu. Benturan logam memercikkan bunga api kecil di kegelapan kamar, menahan dorongan lawan di celah masuk. Lewi mengambil posisi di sebelah kiri Su Kang, bermaksud melancarkan do
Last Updated: 2026-11-04
Chapter: Bab 160: Penginapan di Ujung LembahMalam telah turun sepenuhnya ketika rombongan Lewi melangkah melewati selasar pagar kayu permukiman di kaki perbukitan. Angin pegunungan berhembus dingin menyusuri jalanan desa yang sepi, membawa bau harum asap kayu bakar dan tanah basah. Di ujung alur jalan setapak, berdiri satu-satunya bangunan peristirahatan di kawasan itu: sebuah penginapan kayu dua lantai beratap sirap dengan papan nama tua yang condong ditiup angin. Empat orang praktisi bermantel tebal yang sebelumnya berdiri di pelataran luar tampak sedang melangkah masuk mendahului rombongan Lewi. Pria yang membawa senjata terbungkus kain kusam membentuk siluet tongkat panjang menyampirkan senjatanya di bahu dengan sikap tubuh yang santai namun terlatih. Lewi memimpin rombongan melangkah melewati pintu kayu penginapan. Aula utama bangunan itu sederhana, didominasi oleh perapian batu besar dan lima meja kayu tebal. Empat praktisi bermantel tebal tadi telah menempati meja sudut dekat jendela, memesan teko arak dan daging asap
Last Updated: 2026-11-02
Chapter: Bab 159: Jalan Keluar dari Kota Lembah HijauSinar fajar menyiram atap-atap kayu Kota Persinggahan Lembah Hijau dengan warna keemasan yang pucat. Asap tipis membumbung dari dapur Penginapan Angin Cemara, menyatu dengan hembusan angin pagi pegunungan yang dingin dan segar. Di pelataran dalam penginapan, Su Kang sibuk merapikan dua kantong perbekalan di atas meja kayu. Dia memeriksa kembali persediaan roti kering, kantong kulit berisi air bersih, serta keping perak sisa retribusi kota dengan ketelitian seorang pengawal yang berpengalaman. Sementara itu, Lewi berdiri di dekat pilar kayu utama pelataran. Jemari Lewi bergerak teratur mengencangkan simpul tali kain kusam yang membungkus Toya peninggalan Guo Ren di punggungnya. Matanya yang jernih mencermati setiap alur ikatan kain dengan saksama. Xiaojin yang sedang menyampirkan selendang hijaunya melangkah mendekati Lewi seraya memiringkan kepala. "Lewi gege~" goda Xiaojin seraya tersenyum usil. "Simpul kain itu sudah kau periksa tiga kali sejak fajar tadi. Apakah kau takut Toya
Last Updated: 2026-11-02