Chapter: Bagian 230Dina tak lagi bisa menahan gejolak yang membara di dalam dirinya. Dengan napas memburu dan mata berkabut gairah, jemarinya gerak naik turun sangat cepat. “Waduh, enak tapi jangan dikeluarin sekarang, Din.” Agus belingsatan karena ulah Dina yang menerjang seperti singa betina yang lapar. Aroma parfum mahalnya yang manis bercampur dengan bau keringat tipis pria itu, menciptakan campuran yang membuat kepalanya pusing. Tanpa berkata apa-apa, ibu jari Dina bermain di atas ujung rudal Agus yang sudah basah.“Eeeerr, Dina.”“Kenapa, Mas Agus? Enak ya? Mau lagi ya?” Satu tangan Dina yang gemetar, tapi lincah langsung melucuti kemeja Agus satu per satu, membuka dada bidang yang keras itu untuk disentuh langsung. Kulit Agus terasa panas di bawah telapak tangannya.Agus sulit jawab karena napasnya ngos-ngosan, dia menatap Dina yang mencium dadanya sambil tangannya aktif di balik kolor.Agus hanya berdiri diam dengan senyum miring, membiarkan asisten seksinya yang biasanya sopan itu berubah l
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bagian 229Setelah Karta diseret keluar dengan hina oleh tim audit perusahaan pemilik tender, ruang rapat yang tadinya penuh ketegangan mendadak hening. Agus melangkah ke depan dengan tenang. Dia tidak butuh map tebal atau suap untuk meyakinkan mereka. Dia hanya membuka layar presentasi yang menampilkan visi proyek yang efisien, logis, dan menjanjikan keuntungan triliunan rupiah dengan risiko minim.Pak Mikel, Direktur Utama yang dikenal perfeksionis dan galak, menyipitkan mata. "Proyek ini punya banyak variabel risiko tinggi, Agus. Bagaimana kamu menjamin efisiensinya tanpa mengorbankan kualitas?"Agus tersenyum tipis, tangannya menunjuk grafik di layar. "Sederhana, Pak. Saya memotong jalur distribusi material yang tidak perlu dan mengalihkan dana itu ke teknologi otomatisasi. Hasilnya? Efisiensi meningkat tiga puluh persen tanpa mengurangi standar material sedikit pun.""Cara yang berani," sahut Pak Mikel, suaranya sedikit melunak. "Tapi bagaimana dengan hambatan di lapangan? Banyak pesa
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bagian 228Hari ini pukul 09.00 pagi Agus sudah tiba di aura yang megah dengan lantai marmer yang berkilau dan lampu kristal dari langit-langit tinggi. Agus duduk bersama Cak Kumis dan Dina, jauh sebelum yang lain datang, dengan setelan jas rapi tanpa cela sedikit pun.Tak lama, satu per satu peserta dan dewan komite masuk. Karta datang setelahnya sekitar sepuluh menit kemudian dia melenggang masuk dengan setelan jas seharga satu unit mobil mewah, dagunya terangkat seolah dunia ini memang miliknya sendiri. Pria tua itu menyalami satu per satu anggota komite dengan gaya seorang raja yang sedang membagikan belas kasihan. "Tender ini cuma formalitas, kan, Bapak-bapak?" ucapnya angkuh, disambut tawa basa-basi dari para pejabat yang perutnya sudah kenyang oleh amplopnya.Begitu matanya jatuh pada sosok Agus, seringai meremehkan langsung terbit di wajahnya. "Wah, ternyata Pak Aguss udah datang juga," katanya, sengaja dikeraskan biar seisi ruangan dengar. "Mau jualan apa hari ini, Agus? Jangan bil
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bagian 227Agus teguk kopinya sampai habis dan sisa ampas. Dia menatap layar laptop yang menampilkan data perusahaan fiktif milik Karta. Cak Kumis mondar-mandir di belakangnya, wajahnya sudah kayak cucian kotor yang belum dibilas."Gus, eh, Bos, yakin nih kita mainnya begini? Kalau Karta tahu, kita bisa jadi tumbal proyek," ucap Cak Kumis yang panik.Agus tertawa sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Cak, Karta itu semakin dia ngerasa kenyang dan tenang sama suap, semakin gampang juga kita bikin dia mampus.""Iya, tapi suapnya gila-gilaan, Bos. Oknum komite udah di kantong dia semua," timpal Cak Kumis sambil garuk-garuk kepala plontosnya."Ya, bagus lah, Cak," sahut Agus dengan santai. "Nah mending sekarang kita siapin skrip buat hacker kita. Masukin bukti suap itu ke sistem internal si Karta. Gue mau dia yang presentasiin aibnya sendiri besok. Gimana tuh?"Cak Kumis jadi nyengir lebar, giginya kelihatan semua."Gila, sejak jadi Bos. Agus jadi jelmaan iblis beneran. Berarti kita tinggal duduk
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bagian 226Air hangat mengguyur deras dari shower. Agus mendorong Sartika menghadap dinding keramik dingin. Payudaranya menempel sampai rata di permukaan yang kontras dengan panas tubuh mereka berdua.“Tangannya di tembok aja, Bu,” perintah Agus yang suaranya serak sambil menggigit pundak kenyal Sartika.Sartika menggigit bibir, tapi dia juga langsung patuh. Kedua tangannya menempel di keramik, sambil mencengkeram keran air agar tubuhnya tidak ambruk. Agus berdiri di belakangnya, satu tangan memegang pinggulnya kuat, lalu mendorong masuk dengan satu tusukan yang dalam.“Ahh!!” desah Sartika keras dan suaranya memantul di dinding kamar mandi. Air shower terus mengguyur tubuh mereka yang saling menempel.Agus langsung menggempur Sartika tanpa ampun. Setiap hantaman keras dan cepat membuat Sartika menjerit kecil. “Mas Agus… pelan… ahh… saya harus ke kantor, ngghh!”“Ke kantornya nanti aja,” bisik Agus di telinganya sambil terus menghunjam. Sesekali dia juga jilati kuping Sartika. “Mubazir kalau I
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bagian 225“Waw bisa kebetulan gini ada Bu Ratna? Asyiknya kalau dia ikut main juga. Hahaha.” Isi otak mesum Agus.Tapi Agus malah tersenyum lebar berlagak santai, tidak buru-buru ambil handuk. Dia sengaja membusungkan dada, memperlihatkan otot perutnya yang terpahat apik. “Pagi, Bu Ratna. Sarapan dulu? Masakan Bu Sartika enak banget. Enggak cuma jago masak, tapi… jago yang lain juga, mantep tenan pokoknya,” ucapnya santai sambil mengedipkan mata.“Kalian saling kenal? Kok bisa?” Sartika heran sendiri.“Bu Ratna ini dosennya Siska dan penasehat hukum di kantor saya. Iya kan Bu?” Agus sengaja menggoda Ratna.“Iya itu benar, Sartika. Kenal biasa saja.” Mood Bu Ratna langsung berubah drastis.Sartika yang masih berdiri dekat Ratna jadi malu semata-mata karena ketahuan tidur dengan Agus yang juga dikenal kawannya ini.Ratna menunjuk Sartika dengan jari gemetar. Setelah paham dan tahu identitas pemuda yang gulat dengan sahaba
Last Updated: 2026-07-15