Kehidupan Setelah Perpisahan
Hidup Dina seakan hancur berkeping-keping ketika kebenaran terungkap: Danang, lelaki yang pernah ia percayai sepenuh hati, tega mengkhianati pernikahan mereka. Cinta yang dulu ia rawat dengan air mata dan doa, runtuh hanya karena satu kata—selingkuh. Perceraian itu bukan sekadar perpisahan, melainkan luka yang menggores jiwa, meninggalkan perasaan hampa sekaligus marah yang tak mudah terobati.
Namun, di tengah kehancuran itu, Dina harus tetap berdiri. Demi ketiga anaknya yang masih membutuhkan pelukan, ia menelan pil pahit dan menatap dunia dengan mata basah tapi hati yang mulai dikeraskan oleh kenyataan. Dari seorang istri yang dikhianati, ia bertransformasi menjadi seorang ibu yang berjuang sendirian. Kini, setelah semua badai di season pertama kehidupannya, perjalanan baru terbentang di hadapan Dina—perjalanan yang tak hanya menguji kesabarannya, tapi juga keberaniannya untuk kembali percaya pada arti kebahagiaan.
Read
Chapter: Bab 175 BerjuangMalam itu kamar terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu tidur menyala redup. Rizal yang sejak tadi memperhatikan wajah istrinya akhirnya tidak tahan untuk bertanya lagi.“Yang, ada apa?” tanya Rizal pelan saat mereka sudah berbaring di atas ranjang.Dinda memunggungi suaminya. “Tidak ada apa-apa, Mas.”Rizal menghela napas. Ia sudah hafal betul nada suara istrinya itu.“Jangan tutupin dari Mas. Pasti ada yang kamu pikirkan, Yang.”Dinda diam.Rizal lalu sedikit mendekat. Tangannya menyentuh bahu Dinda dengan lembut.“Apa Mama ada mengatakan sesuatu? Atau Nenek?”Dinda cepat menggeleng, walau Rizal tidak bisa melihat wajahnya.“Nggak ada, Mas. Ayo tidur. Besok Mas akan keluar kota, kan?”Namun Rizal justru semakin yakin ada yang tidak beres.“Justru karena besok Mas pergi, Mas nggak mau pergi meninggalkan kamu seperti ini”Dinda menarik napas pelan.“Yang… lihat Mas,” kata Rizal.Akhirnya Dinda berbalik. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.Rizal langsung duduk bersandar di kepala ra
Last Updated: 2026-02-28
Chapter: Bab 174 Lima tahun kemudianLima Tahun KemudianMalam itu, suasana rumah terasa tenang. Anak-anak sudah tidur, dan hanya suara kipas angin yang terdengar pelan di ruang tengah. Dina sedang merapikan pakaian si kembar, ketika bundanya datang membawa dua cangkir teh hangat.Aini meletakkan cangkir itu di meja kecil. “Nih, minum dulu. Dari tadi kamu menjahit terus,” kata Aini. Dina tersenyum tipis. “Terima kasih, bunda.” Aini duduk di kursi di depan Dina. Ia memperhatikan putrinya cukup lama, seolah sedang memikirkan sesuatu.Dina yang merasa diperhatikan akhirnya bertanya, “Kenapa bunda lihat aku begitu?” Aini menghela napas kecil. “Bunda mau tanya sesuatu sama kamu.” “Apa?” “Kamu dekat ya sama pemilik pabrik mebel itu… siapa namanya… Iwan Setiawan?” Dina langsung berhenti melipat kain. Wajahnya terlihat bingung. “Pak Iwan?” tanyanya memastikan.“Iya, dia.” Dina mengernyitkan dahi. “Kenapa bunda tanya?” Aini menyandarkan punggungnya ke kursi. “Bunda curiga dia tertarik sama kamu.” Mata Dina langsung membes
Last Updated: 2026-02-27
Chapter: Bab 173 Ingin kembaliAini membuka pintu dengan senyum yang tenang ketika melihat Danu dan Yoga datang. Senyum itu bukan hanya sekedar sapaan, melainkan sebuah simbol perubahan yang telah terjadi di antara mereka. Tidak ada lagi tatapan dingin seperti dulu; sebaliknya, wajah Aini tampak lebih lembut, mencerminkan kedamaian yang baru ditemukan dalam hatinya.“Masuklah,” kata Aini pelan, suaranya lembut dan hangat. “Anak-anak lagi bangun. Dari tadi rewel, mungkin kangen ayahnya.” Danu sedikit terdiam, merasakan kehangatan sambutan Aini yang tak terduga. Ia tidak menyangka bahwa kedatangannya di sambut ramah, seolah semua luka lama perlahan mulai sembuh.“Terima kasih, bunda,” ucap Danu, agak canggung, tetapi ada rasa syukur yang mendalam dalam suaranya. Yoga yang berdiri di samping Danu ikut tersenyum, merasakan atmosfer yang lebih cerah. “Sepertinya es mulai mencair,” ucapnya pelan.Aini lalu mempersilakan mereka masuk ke ruang tengah. Di sana, tiga bayi duduk di kursi bayi yang berjajar rapi, tampak lucu
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Bab 172 MusibahSinta berdiri terpaku di depan puing-puing rumah yang dulu pernah ia datangi dengan penuh harapan. Kini, yang tersisa hanya tanah hitam, beberapa potongan kayu hangus, dan bau sisa kebakaran yang masih samar-samar tercium di udara. Wajahnya pucat, napasnya terasa berat. Rica yang berdiri di sampingnya menatap sekeliling dengan kening berkerut.“Ini… benar rumahnya?” tanya Rica pelan, masih tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.Sinta mengangguk lemah. “Iya… aku ingat betul jalan ini. Pohon mangga di depan itu juga masih ada.” Ia menunjuk pohon yang berdiri tak jauh dari sana. “Rumahnya dulu di situ.”Rica menghela napas panjang. “Astaga… jadi benar yang tadi dibilang orang itu. Sudah habis terbakar.”Sinta menggigit bibirnya. Tubuhnya terasa semakin tidak nyaman. Bau yang selama beberapa hari ini menghantuinya seolah semakin kuat, membuatnya sendiri mual. Ia mencoba menyemprotkan parfum kecil dari tasnya, lalu menyemprotkan ke leher dan tangannya.Rica spontan menutup hidung
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab 171 HukumanSudah tiga hari berlalu sejak ditemukannya bungkusan mencurigakan di dekat pohon mawar. Sejak kejadian itu, Endang tidak bisa benar-benar tenang. Setiap pagi, setiap siang, bahkan kadang sore hari, ia selalu menanyakan hal yang sama kepada asisten rumah tangganya.Pagi itu, Endang keluar dari kamar sambil merapikan kerudungnya. Di dapur, Bik Iyem sedang memotong bawang.“Bibik…” panggil Endang.“Iya, Bu?” jawab Bik Iyem sambil menoleh.Endang mendekat sedikit.“Bibik, ada lihat benda aneh lagi di halaman?”Bik Iyem langsung menggeleng.“Tidak ada, Bu. Saya sudah cek tadi pagi.”Endang menghela napas, tapi wajahnya masih terlihat khawatir.“Sudah lihat ke dekat pohon mangga?”“Sudah, Bu. Bahkan saya keliling sampai ke pagar belakang juga.”Endang masih belum puas.“Di sudut-sudut taman?”“Sudah juga, Bu.”Endang akhirnya duduk di kursi dekat meja makan.“Bibik yakin tidak ada apa-apa lagi?”“Iya, Bu. Aman.”Endang mengangguk pelan, meski pikirannya masih penuh dengan kejadian beberapa
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: Bab 170 BersumpahSuasana rumah sore itu sedikit tegang. Dinda duduk di ruang tamu bersama Endang dan Danu. Wajah Dinda masih terlihat kesal sejak percakapan teleponnya dengan Rizal tadi siang.Tok… tok… tok…Endang berdiri, karena keduanya Danu dan Dinda masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.Endang berjalan ke pintu dan membukanya. Begitu pintu terbuka, terlihat Rizal berdiri di depan rumah dengan wajah serius namun tetap sopan.“Assalamualaikum, Tante,” ucap Rizal.Endang sedikit terkejut, tetapi tetap menjawab.“Waalaikumsalam.”Mendengar suara Rizal, Danu langsung berdiri. Ekspresinya tidak terlalu ramah.“Ngapain kamu ke sini?” tanya Danu tanpa basa-basi.Rizal menarik napas dalam-dalam.“Saya mau meluruskan sesuatu.”Dinda yang mendengar suara itu langsung menoleh. Begitu melihat Rizal, wajahnya kembali menegang.“Ngapain datang?” tanya Dinda dingin.Rizal melangkah masuk setelah Endang mempersilakan.“Masuk dulu,” kata Endang.Rizal masuk dan berdiri di tengah ruang tamu. Ia tidak langsun
Last Updated: 2026-02-23
Dendam dan cinta
Setiap gadis akan gembira menyambut hari yang ditunggu-tunggunya seumur hidupnya, yaitu hari pernikahan.
Begitu juga dengan Rania, dia sangat gembira. Karena kekasih pujaan hatinya, hari ini akan menyunting dirinya.
Tapi kegembiraan Rania pupus seketika, hatinya kecewa.
Hidup Rania hancur seketika, pada hari pernikahan. Kekasihnya yang ditunggu-tunggunya, Bayu tidak datang.
Rania menunggu kedatangan kekasihnya, untuk menunggunya di altar. Tapi yang ditunggu tidak datang.
Tidak ada yang menunggu dirinya di altar, hanya ada tatapan iba dan simpatik dari kerabat dan tamu undangan. Menatap Rania.
Apa yang terjadi pada Bayu, kenapa dia tidak datang ?
Apakah dia meninggalkan Rania ?
Read
Chapter: Bab EndingSetelah dua Minggu berada dalam perawatan rumah sakit, Alex diizinkan untuk pulang. "Akhirnya, mas bisa pulang," ujar Alex. "Mas, baring saja ya. Pasti letih dalam perjalanan dari rumah sakit," ujar Rania. "Mas mau duduk dibalkon saja, mas rindu melihat langit." Alex menolak, saat disuruh istirahat oleh Rania. "Apa mas tidak letih?" tanya Rania. "Tidak sayang," ujar Alex. Blush.. Pipi Rania merona merah, saat mendengar ucapan sayang yang keluar dari mulut Alex. Perkataan yang dulu sering diucapkan Alex saat mereka masih pacaran. "Sudah lama aku tidak melihat wajah malu-malumu sayang," ujar Alex. "Ih..mas Alex, ayo. Biar Rania tuntun ke balkon. Katanya mau duduk diluar," ujar Rania. Rania memegang Alex yang berjalan masih lemah, dan membantunya untuk duduk. "Sini sayank," ujar Alex dengan menepuk kursi si sisinya. "
Last Updated: 2022-03-26
Chapter: Bab 75 Ada apa dengan AlexPernikahan Rania sudah memasuki hari Minggu, Rania masih tidak bisa menunjukkan sikap hangat yang ditunjukkan oleh Alex. Setiap malam, Rania tidur bersama Devan dikamar sang putra. Dan tiap malam juga, Alex selalu mengangkat Rania unt
Last Updated: 2022-03-15
Chapter: Bab 74 Nikah terpaksaAlex terus mengirim video panas antara dirinya dan Rania, entah darimana Alex mendapatkan nomor ponselnya Rania. Sesaat, Rania tidak mengindahkan apa yang dilakukan oleh Alex. Tapi lama-kelamaan, pikiran Rania kacau. Beban pikiran membuat dia tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik, apa yang terjadi pada Rania tidak lepas dari pengamatan orang-orang disekitarnya. Hubungan dengan Yoseph semakin dekat, tetapi video yang dikirim oleh Alex semakin panas. Membuat pikiran Rania bercabang. Derrtt.... Bunyi ponsel Rania bergetar. "Apa lagi yang dikirim oleh orang sinting itu." Ngedumel Rania, karena matanya yang baru ingin terpejam. Kini terbuka kembali. Karena pesan yang dikirim oleh Alex, sudah dua kali Rania mengganti nomor ponselnya. Tetapi, Alex mendapat nomor ponsel barunya. Dan video panas terus dikirim oleh Alex, sampai Rania tidak ingin menggunakan ponselnya. Rania curiga, ada orang dalam yang memboc
Last Updated: 2022-02-13
Chapter: Bab 73 AncamRania duduk di ranjang, di sampingnya. Baby Devan tidur dengan nyenyak. Pintu terbuka, dengan masuknya Bude Maria. "Mereka sudah pulang," ucap Bude Maria, tanpa ditanya Rania. "Bagaimana?" tanya Bude Maria. "Bagaimana apanya Bude?" balas Rania yang bertanya. "Alex ingin mengakui putranya. "Tidak Bude, sampai kapanpun, Rania tidak akan mengenalkan dia kepada Devan. "Jangan mengambil keputusan dengan emosional, itu tadi, mengenai pernikahan. Apa Rania sudah menerima lamaran Nak Yoseph?" Rania terdiam, dia bingung menjawabnya. Tadi dia mengatakan itu, karena emosi kepada Alex. "Jangan paksakan menerima lamaran Alex, jika tidak ada rasa didalam sini," ucap Bude sembari memegang dadanya. *** Alex masuk kedalam hotel dalam keadaan marah, me
Last Updated: 2022-02-02
Chapter: Bab 72 Marah"Apa..!? teriak Jesi dari sambungan telepon, hingga memekakkan telinga Rania. "Jes, pelankan suaramu..!" seru Rania. "Kau sungguh-sungguh di lamar Yoseph?" tanya Jesi, yang tidak percaya dengan apa yang baru di sampaikan oleh Rania. "Serius, untuk apa aku berbohong. Bagaimana Jes? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rania. "Untuk apa kau pikirkan lagi, terima. Kau harus menerima lamaran itu.." ucap Jesi dengan bersemangat. "Tapi aku tidak mencintainya, Jes.." ucap Rania. "Belum, kau belum mencintainya. Tapi tidak mungkin kau tidak akan mencintainya, Yoseph orangnya sudah matang. Dia tidak akan seperti orang itu, yang akan mempermainkan wanita," ucap Jesi dengan lantang. Mendengar perkataan Jesi, Rania terdiam. "Duh.. kenapa aku menyebut laki-laki itu." batin Jesi. "Ran..!" Panggil Jesi. "Rania..!" Panggil Jes
Last Updated: 2022-01-27
Chapter: Bab 71 Hasil DNA Leo menatap wajah Alex, kemudian menghela napas. "Ada apa? apa hasilnya? apa bukan anakku?" tanya Alex dengan nada suara yang lemas dan khawatir. Leo memberi surat hasil DNA yang telah dibacanya kepada Alex. "Apa hasilnya? Katakan saja," ucap Alex yang takut untuk membacanya, karena hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ada didalam pikirannya. "Baca sendiri." Leo memberikan surat tersebut kepada Alex. Alex menerimanya dengan tangan gemetar, matanya terbelalak. Setelah membaca hasil tes DNA tersebut. "Putraku Leo, dia putraku..!" seru Alex dengan tidak percaya, apa yang tertera didalam surat hasil tes DNA tersebut. "Ya, dia putramu. Putra yang tidak kau ketahui keberadaannya, seorang putra yang kehadirannya keduniaan ini diakibatkan oleh dendammu pada orang yang tidak bersalah," ucap Leo. Deg. Hati Alex sakit, mendengar apa yang dikatakan
Last Updated: 2022-01-22
Chapter: Bab 189 Ending Ruangan sidang terasa sunyi. Hanya suara hakim yang memimpin sidang terdengar.“Karena tergugat tidak hadir dan telah memberikan kuasa penuh kepada kuasa hukumnya untuk menerima gugatan, serta telah menyatakan menerima permohonan penggugat, maka... Pengadilan Agama memutuskan untuk mengabulkan gugatan cerai penggugat, Dina Ardhiani, terhadap Danang Sahputra Prasetyo.”Ketukan palu hakim terdengar nyaring.Dina memejamkan mata, menahan air mata yang mengambang di pelupuk matanya. Di sampingnya, Vina menggenggam tangannya erat, memberi kekuatan.Semua keluar dalam keadaan campur aduk. Ada sedih dan ada perasaan lega.Di luar ruang sidang, Aini memeluk putrinya. “Sudah selesai, Nak. Sekarang kamu bisa mulai dari awal, tanpa luka yang sama.”"Bangkitlah, demi mereka." Hanum memeluk Dina."Semangat kak," ucap Deni."Strong Din," ujar Alma yang terus ada mendampinginya.Dina menganggukkan kepalanya menatap wajah-wajah yang selalu memberinya semangat.Dari pengadilan agama, Dina langsung menu
Last Updated: 2025-07-15
Chapter: Bab 188Ruangan rumah sakit itu dipenuhi aroma antiseptik. Suara detak alat monitor berdentum pelan, menghitung detak jantung Danang yang masih berbaring lemas di atas ranjang.Endang duduk di sisi ranjang dengan wajah murung, sesekali menyeka air matanya dengan tisu. Sementara Dinda berdiri di dekat jendela, mondar-mandir dengan gelisah.Danang mengerang pelan. Kepalanya tampak berat dan matanya enggan terbuka. Ia sudah dua kali muntah dalam dua jam terakhir."Mas?" panggil Dinda cemas, menghampiri.Danang hanya menggeliat, memegangi kepalanya sambil mendesah kesakitan.Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan lalu terbuka. Seorang dokter pria masuk, mengenakan jas putih dengan papan nama bertuliskan: dr. Reza – Sp.S (Spesialis Saraf). Di belakangnya, seorang perawat mendorong alat bantu portable."Bu Endang? Kami sudah lakukan
Last Updated: 2025-07-14
Chapter: Bab 187Kelopak mata Danang perlahan terbuka. Cahaya lampu ruangan terasa menyilaukan, membuatnya menyipit. Napasnya masih berat, dadanya naik turun pelan. Untuk beberapa detik, ia hanya memandangi langit-langit, mencoba menyadari di mana ia berada.“Mas… Mas Danang…” suara lembut Dinda memanggil, terdengar serak menahan tangis.Endang yang duduk di sisi ranjang langsung berdiri. Matanya sembab, tapi kini menyala haru.“Alhamdulillah, kamu sadar, Nak…” ucapnya lirih.Danang memutar kepala perlahan, dan mulutnya bergerak.“Ma… aku… kenapa aku di sini?”Suara itu parau. Lirih. Hampir seperti bisikan.Dinda mendekat, menaruh tangannya di lengan Danang.“Mas… Mas tadi pingsan di pengadilan. Kita langsung bawa ke r
Last Updated: 2025-07-13
Chapter: Bab 186Endang mulai panik.“Danang! DANANG!” teriaknya keras, berlari menghampiri.Danang mencoba berdiri tegak, tapi tubuhnya tak sanggup menahan beban emosi dan tekanan fisik yang memuncak. Dalam sekejap, ia terhuyung dan—BRUK!Tubuhnya ambruk menghantam lantai marmer pengadilan. Kepalanya nyaris membentur keras jika Dinda tak segera menahan bagian belakangnya. Namun tetap saja, tubuh itu jatuh lemas."DANANG!!" Endang menjerit. Suaranya menggetarkan udara. Orang-orang di sekitar langsung menoleh, beberapa berlari mendekat.Dinda berlutut, memegangi kakaknya dengan gemetar. "Mas! Mas, bangun! Jangan begini… Mas, bangun dong!" Suaranya pecah. Matanya berkaca-kaca.Endang menjerit ke arah petugas. “Tolong! Panggil ambulans! Anak saya pingsan!”Kerumunan mulai
Last Updated: 2025-07-12
Chapter: Bab 185Setelah pembukaan persidangan oleh Majelis Hakim, sidang kedua dilanjutkan dengan agenda mediasi, sesuai aturan hukum agama yang berlaku. Hakim menunjuk Hakim Mediator yang berbeda dari Majelis Hakim yang menyidangkan perkara ini.Setelah proses administrasi selesai, baik Danang maupun Dina, masing-masing didampingi oleh pengacara mereka—Rani dan Vina—diminta masuk ke ruang mediasi yang terpisah dari ruang sidang utama. Namun, dalam ruang mediasi, hanya pihak yang bersengketa yang diperbolehkan hadir. Pengacara, keluarga, maupun pendamping tidak diperkenankan masuk.Di ruang mediasi:Hakim Mediator, seorang pria paruh baya dengan raut wajah tenang, membuka sesi dengan senyum ringan."Selamat pagi, Bapak Danang dan Ibu Dina. Saya ditugaskan sebagai mediator dalam perkara kalian. Tujuan mediasi ini adalah mencari titik temu dan rekonsiliasi, jika masih memungkink
Last Updated: 2025-07-11
Chapter: Bab 184Pengadilan Agama pagi itu masih sepi. Hanya petugas keamanan dan beberapa staf yang tampak sibuk membuka berkas-berkas dan menyiapkan ruang sidang.Jam masih menunjukkan pukul delapan lebih sedikit saat mobil yang dikemudikan Dinda berhenti di halaman parkir. Danang turun dengan jas rapi dan wajah penuh harap. Di belakangnya, Endang menyusul keluar dari mobil."Masya Allah, Danang… ini belum juga mulai. Kamu bawa kita pagi-pagi sekali, orang kantor pengadilan juga belum siap semua," omel Endang, mamanya, sambil merapikan kerudungnya yang sedikit miring karena tergesa-gesa.Danang hanya diam. Tatapannya menatap ke arah gedung, lalu ke jam tangannya. Nafasnya pendek-pendek. Gugup jelas terbaca dari gerakan tangannya yang bolak-balik membetulkan letak dasi. Dia duduk, lalu berdiri celingukan melihat parkiran. Terlihat sekali ia gelisah.Dinda memandang sekeliling dan b
Last Updated: 2025-07-10