Chapter: Bab 130 TerpaksaPagi itu, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah waktu melambat dan menahan napas. Meja makan sudah terisi tiga orang: Dinda, Endang, dan Danu. Uap tipis dari teh hangat mengepul ke udara, memberikan aroma yang menenangkan, sementara piring berisi nasi dan lauk tersaji tanpa banyak yang tersentuh. Dinda tampak ragu-ragu, sendoknya hanya ia putar pelan di atas piring, seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar sarapan.“Ada apa, Din?” tanya Endang akhirnya, suaranya lembut namun penuh perhatian. Sejak tadi, ia menyadari wajah putrinya terlihat gelisah. Dinda menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya. “Semalam… Mas Rizal datang, Ma,” ucapnya dengan suara bergetar, seolah kata-kata itu adalah beban yang sulit untuk diangkat.Sendok di tangan Danu langsung berhenti. Ia menatap Dinda tajam, matanya menyala dengan kekhawatiran dan kemarahan. “Mau apa dia datang?” suaranya menin
Last Updated: 2026-01-14
Chapter: Bab 129 Bertemu“Siapa yang datang malam-malam begini?” tanya Dinda, suaranya pelan namun sarat rasa ingin tahu. Ia melangkah keluar dari kamar dengan rambut masih digulung handuk putih, ujung-ujungnya meneteskan sisa air. Kulitnya terasa segar setelah mandi, aroma sabun lembut masih melekat, kontras dengan rasa lelah yang sejak tadi menekan bahunya. Seharian ini, Dinda bekerja menjadi kasir di tempat cuci mobil. Tangannya pegal, punggungnya sedikit nyeri, tapi ia sudah terbiasa. Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan impiannya, namun cukup untuk membuatnya merasa berguna dan mandiri. Baru saja ia berniat merebahkan tubuh dan menikmati malam yang tenang, suara bel itu justru memecah kesunyian yang nyaman.Rumah terasa sepi. Mamanya sedang pergi menghadiri pesta keluarga, sementara Danu masih berada di tempat usahanya. Kesendirian itu membuat jantung Dinda berdetak sedikit lebih cepat, menandakan keraguan dan kecemasan yang tidak bisa ia hindari. Ia tidak langsung membuka pintu. Ada naluri waspada yang men
Last Updated: 2026-01-13
Chapter: Bab 128 Tamu malam hariRuang tengah rumah terasa sunyi, meski lampu menyala terang, menciptakan kontras yang mencolok antara kecerahan fisik dan kegelapan emosional yang menyelimuti hati setiap penghuninya. Danu duduk di ujung sofa, punggungnya sedikit membungkuk, seolah memikul beban dunia di atas bahunya. Kedua tangannya saling bertaut, menciptakan gerakan refleks yang menunjukkan ketidakpastian dan kegelisahan. Wajahnya terlihat letih, bukan hanya karena fisik yang tertekan, tetapi juga karena beban batin yang semakin berat, sebuah beban yang terus menggerogoti jiwanya.Endang, mamanya, keluar dari kamar dengan langkah pelan, seolah takut mengganggu keheningan yang menyakitkan. Ia berhenti sejenak untuk mengamati putranya, lalu duduk di kursi seberang Danu. Tatapannya penuh tanya, juga harap yang rapuh, seolah ingin mencari jawaban dari ketidakpastian yang menggantung di antara mereka.“Dan…” panggil Endang lembut, meski suaranya bergetar, menandakan kerentanan yang ia rasakan. “Dina… mau terima pemberia
Last Updated: 2026-01-12
Chapter: Bab 127 KehilanganMobil yang dikemudikan oleh Amar berhenti tepat di depan rumah pagar. Perjalanan dari pemakaman masih menyisakan rasa lelah dan haru di hati mereka. Bau tanah basah yang menyengat, bersama doa-doa yang dipanjatkan di makam almarhum suami Aini, masih terasa menempel di dada mereka masing-masing, seolah-olah mengingatkan akan kehilangan yang mendalam.Aini turun paling akhir. Ia menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian sebelum melangkah ke halaman rumah. Namun langkahnya terhenti. Alisnya berkerut, matanya membulat melihat tumpukan kardus, paper bag, dan plastik besar yang memenuhi area depan teras. “Astaghfirullah…” gumam Aini lirih, hatinya bergetar.Dito ikut menoleh, lalu berhenti melangkah. “Barang apa ini semua? Kenapa di luar?" tanyanya heran, kebingungan menyelimuti wajahnya.Amar mendekat, wajahnya berubah serius. “Itu… perlengkapan bayi?” suaranya terdengar ragu, tetapi ada nada tegas yang tak bisa diabaikan.Sarti dan Ami saling pandang, ekspresi mereka mence
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Bab 126 Luka yang belum sembuh Ruang tengah rumah itu telah berubah drastis, kini menyerupai gudang perlengkapan bayi. Paperbag bertumpuk di sudut-sudut ruangan, kardus-kardus terbuka berserakan di sana-sini, sementara boks plastik berisi perlengkapan mandi bayi mengisi hampir seluruh area. Kantong-kantong belanja bermerek dari mall ternama memenuhi lantai, menciptakan pemandangan yang sangat tidak biasa.Begitu Dinda melangkah keluar dari kamar tidurnya, ia tertegun. Matanya membelalak, mulutnya menganga, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Astaghfirullah…” gumamnya dengan nada kaget yang tak bisa ia sembunyikan. Dengan perlahan, ia berputar, memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah nyata dan bukan ilusi. Lalu, dengan suara yang meninggi penuh keterkejutan, ia berteriak, “MAAA!”Tak lama kemudian, Endang, ibunya, keluar dari kamar dengan ekspresi heran di wajahnya. “Kenapa teriak-teriak, Din?
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: Bab 125 Belum jeraKamar Dina terasa redup meski lampu menyala, seolah suasana hati yang gelap menutupi cahaya yang seharusnya menerangi. Tirai jendela setengah tertutup, membiarkan cahaya sore yang lembut masuk samar-samar, menciptakan bayangan panjang di dinding. Dina duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk bantal erat di dadanya seperti mencari perlindungan dari dunia luar. Napasnya tidak beraturan, bergetar antara ketakutan dan harapan. Alma duduk di kursi dekat ranjang, tubuhnya sedikit condong, seolah siap menangkap Dina kapan pun ia runtuh dalam ketidakpastian.“Ma…” suara Dina pecah lebih dulu, penuh keraguan. “Aku takut.”Alma langsung menoleh, matanya penuh perhatian. “Takut apa, Din?”Dina menunduk, jarinya meremas ujung bantal, seolah itu satu-satunya hal yang bisa memberinya kekuatan. “Takut… dia datang lagi. Takut suatu hari dia bawa pengacara, bawa alasan ini-itu, terus… anak-anakku diambil.” Suara Dina semakin bergetar, menggambarkan betapa dalamnya rasa takut yang menggerogoti hatiny
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: Bab EndingSetelah dua Minggu berada dalam perawatan rumah sakit, Alex diizinkan untuk pulang. "Akhirnya, mas bisa pulang," ujar Alex. "Mas, baring saja ya. Pasti letih dalam perjalanan dari rumah sakit," ujar Rania. "Mas mau duduk dibalkon saja, mas rindu melihat langit." Alex menolak, saat disuruh istirahat oleh Rania. "Apa mas tidak letih?" tanya Rania. "Tidak sayang," ujar Alex. Blush.. Pipi Rania merona merah, saat mendengar ucapan sayang yang keluar dari mulut Alex. Perkataan yang dulu sering diucapkan Alex saat mereka masih pacaran. "Sudah lama aku tidak melihat wajah malu-malumu sayang," ujar Alex. "Ih..mas Alex, ayo. Biar Rania tuntun ke balkon. Katanya mau duduk diluar," ujar Rania. Rania memegang Alex yang berjalan masih lemah, dan membantunya untuk duduk. "Sini sayank," ujar Alex dengan menepuk kursi si sisinya. "
Last Updated: 2022-03-26
Chapter: Bab 75 Ada apa dengan AlexPernikahan Rania sudah memasuki hari Minggu, Rania masih tidak bisa menunjukkan sikap hangat yang ditunjukkan oleh Alex. Setiap malam, Rania tidur bersama Devan dikamar sang putra. Dan tiap malam juga, Alex selalu mengangkat Rania unt
Last Updated: 2022-03-15
Chapter: Bab 74 Nikah terpaksaAlex terus mengirim video panas antara dirinya dan Rania, entah darimana Alex mendapatkan nomor ponselnya Rania. Sesaat, Rania tidak mengindahkan apa yang dilakukan oleh Alex. Tapi lama-kelamaan, pikiran Rania kacau. Beban pikiran membuat dia tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik, apa yang terjadi pada Rania tidak lepas dari pengamatan orang-orang disekitarnya. Hubungan dengan Yoseph semakin dekat, tetapi video yang dikirim oleh Alex semakin panas. Membuat pikiran Rania bercabang. Derrtt.... Bunyi ponsel Rania bergetar. "Apa lagi yang dikirim oleh orang sinting itu." Ngedumel Rania, karena matanya yang baru ingin terpejam. Kini terbuka kembali. Karena pesan yang dikirim oleh Alex, sudah dua kali Rania mengganti nomor ponselnya. Tetapi, Alex mendapat nomor ponsel barunya. Dan video panas terus dikirim oleh Alex, sampai Rania tidak ingin menggunakan ponselnya. Rania curiga, ada orang dalam yang memboc
Last Updated: 2022-02-13
Chapter: Bab 73 AncamRania duduk di ranjang, di sampingnya. Baby Devan tidur dengan nyenyak. Pintu terbuka, dengan masuknya Bude Maria. "Mereka sudah pulang," ucap Bude Maria, tanpa ditanya Rania. "Bagaimana?" tanya Bude Maria. "Bagaimana apanya Bude?" balas Rania yang bertanya. "Alex ingin mengakui putranya. "Tidak Bude, sampai kapanpun, Rania tidak akan mengenalkan dia kepada Devan. "Jangan mengambil keputusan dengan emosional, itu tadi, mengenai pernikahan. Apa Rania sudah menerima lamaran Nak Yoseph?" Rania terdiam, dia bingung menjawabnya. Tadi dia mengatakan itu, karena emosi kepada Alex. "Jangan paksakan menerima lamaran Alex, jika tidak ada rasa didalam sini," ucap Bude sembari memegang dadanya. *** Alex masuk kedalam hotel dalam keadaan marah, me
Last Updated: 2022-02-02
Chapter: Bab 72 Marah"Apa..!? teriak Jesi dari sambungan telepon, hingga memekakkan telinga Rania. "Jes, pelankan suaramu..!" seru Rania. "Kau sungguh-sungguh di lamar Yoseph?" tanya Jesi, yang tidak percaya dengan apa yang baru di sampaikan oleh Rania. "Serius, untuk apa aku berbohong. Bagaimana Jes? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rania. "Untuk apa kau pikirkan lagi, terima. Kau harus menerima lamaran itu.." ucap Jesi dengan bersemangat. "Tapi aku tidak mencintainya, Jes.." ucap Rania. "Belum, kau belum mencintainya. Tapi tidak mungkin kau tidak akan mencintainya, Yoseph orangnya sudah matang. Dia tidak akan seperti orang itu, yang akan mempermainkan wanita," ucap Jesi dengan lantang. Mendengar perkataan Jesi, Rania terdiam. "Duh.. kenapa aku menyebut laki-laki itu." batin Jesi. "Ran..!" Panggil Jesi. "Rania..!" Panggil Jes
Last Updated: 2022-01-27
Chapter: Bab 71 Hasil DNA Leo menatap wajah Alex, kemudian menghela napas. "Ada apa? apa hasilnya? apa bukan anakku?" tanya Alex dengan nada suara yang lemas dan khawatir. Leo memberi surat hasil DNA yang telah dibacanya kepada Alex. "Apa hasilnya? Katakan saja," ucap Alex yang takut untuk membacanya, karena hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ada didalam pikirannya. "Baca sendiri." Leo memberikan surat tersebut kepada Alex. Alex menerimanya dengan tangan gemetar, matanya terbelalak. Setelah membaca hasil tes DNA tersebut. "Putraku Leo, dia putraku..!" seru Alex dengan tidak percaya, apa yang tertera didalam surat hasil tes DNA tersebut. "Ya, dia putramu. Putra yang tidak kau ketahui keberadaannya, seorang putra yang kehadirannya keduniaan ini diakibatkan oleh dendammu pada orang yang tidak bersalah," ucap Leo. Deg. Hati Alex sakit, mendengar apa yang dikatakan
Last Updated: 2022-01-22
Chapter: Bab 189 Ending Ruangan sidang terasa sunyi. Hanya suara hakim yang memimpin sidang terdengar.“Karena tergugat tidak hadir dan telah memberikan kuasa penuh kepada kuasa hukumnya untuk menerima gugatan, serta telah menyatakan menerima permohonan penggugat, maka... Pengadilan Agama memutuskan untuk mengabulkan gugatan cerai penggugat, Dina Ardhiani, terhadap Danang Sahputra Prasetyo.”Ketukan palu hakim terdengar nyaring.Dina memejamkan mata, menahan air mata yang mengambang di pelupuk matanya. Di sampingnya, Vina menggenggam tangannya erat, memberi kekuatan.Semua keluar dalam keadaan campur aduk. Ada sedih dan ada perasaan lega.Di luar ruang sidang, Aini memeluk putrinya. “Sudah selesai, Nak. Sekarang kamu bisa mulai dari awal, tanpa luka yang sama.”"Bangkitlah, demi mereka." Hanum memeluk Dina."Semangat kak," ucap Deni."Strong Din," ujar Alma yang terus ada mendampinginya.Dina menganggukkan kepalanya menatap wajah-wajah yang selalu memberinya semangat.Dari pengadilan agama, Dina langsung menu
Last Updated: 2025-07-15
Chapter: Bab 188Ruangan rumah sakit itu dipenuhi aroma antiseptik. Suara detak alat monitor berdentum pelan, menghitung detak jantung Danang yang masih berbaring lemas di atas ranjang.Endang duduk di sisi ranjang dengan wajah murung, sesekali menyeka air matanya dengan tisu. Sementara Dinda berdiri di dekat jendela, mondar-mandir dengan gelisah.Danang mengerang pelan. Kepalanya tampak berat dan matanya enggan terbuka. Ia sudah dua kali muntah dalam dua jam terakhir."Mas?" panggil Dinda cemas, menghampiri.Danang hanya menggeliat, memegangi kepalanya sambil mendesah kesakitan.Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan lalu terbuka. Seorang dokter pria masuk, mengenakan jas putih dengan papan nama bertuliskan: dr. Reza – Sp.S (Spesialis Saraf). Di belakangnya, seorang perawat mendorong alat bantu portable."Bu Endang? Kami sudah lakukan
Last Updated: 2025-07-14
Chapter: Bab 187Kelopak mata Danang perlahan terbuka. Cahaya lampu ruangan terasa menyilaukan, membuatnya menyipit. Napasnya masih berat, dadanya naik turun pelan. Untuk beberapa detik, ia hanya memandangi langit-langit, mencoba menyadari di mana ia berada.“Mas… Mas Danang…” suara lembut Dinda memanggil, terdengar serak menahan tangis.Endang yang duduk di sisi ranjang langsung berdiri. Matanya sembab, tapi kini menyala haru.“Alhamdulillah, kamu sadar, Nak…” ucapnya lirih.Danang memutar kepala perlahan, dan mulutnya bergerak.“Ma… aku… kenapa aku di sini?”Suara itu parau. Lirih. Hampir seperti bisikan.Dinda mendekat, menaruh tangannya di lengan Danang.“Mas… Mas tadi pingsan di pengadilan. Kita langsung bawa ke r
Last Updated: 2025-07-13
Chapter: Bab 186Endang mulai panik.“Danang! DANANG!” teriaknya keras, berlari menghampiri.Danang mencoba berdiri tegak, tapi tubuhnya tak sanggup menahan beban emosi dan tekanan fisik yang memuncak. Dalam sekejap, ia terhuyung dan—BRUK!Tubuhnya ambruk menghantam lantai marmer pengadilan. Kepalanya nyaris membentur keras jika Dinda tak segera menahan bagian belakangnya. Namun tetap saja, tubuh itu jatuh lemas."DANANG!!" Endang menjerit. Suaranya menggetarkan udara. Orang-orang di sekitar langsung menoleh, beberapa berlari mendekat.Dinda berlutut, memegangi kakaknya dengan gemetar. "Mas! Mas, bangun! Jangan begini… Mas, bangun dong!" Suaranya pecah. Matanya berkaca-kaca.Endang menjerit ke arah petugas. “Tolong! Panggil ambulans! Anak saya pingsan!”Kerumunan mulai
Last Updated: 2025-07-12
Chapter: Bab 185Setelah pembukaan persidangan oleh Majelis Hakim, sidang kedua dilanjutkan dengan agenda mediasi, sesuai aturan hukum agama yang berlaku. Hakim menunjuk Hakim Mediator yang berbeda dari Majelis Hakim yang menyidangkan perkara ini.Setelah proses administrasi selesai, baik Danang maupun Dina, masing-masing didampingi oleh pengacara mereka—Rani dan Vina—diminta masuk ke ruang mediasi yang terpisah dari ruang sidang utama. Namun, dalam ruang mediasi, hanya pihak yang bersengketa yang diperbolehkan hadir. Pengacara, keluarga, maupun pendamping tidak diperkenankan masuk.Di ruang mediasi:Hakim Mediator, seorang pria paruh baya dengan raut wajah tenang, membuka sesi dengan senyum ringan."Selamat pagi, Bapak Danang dan Ibu Dina. Saya ditugaskan sebagai mediator dalam perkara kalian. Tujuan mediasi ini adalah mencari titik temu dan rekonsiliasi, jika masih memungkink
Last Updated: 2025-07-11
Chapter: Bab 184Pengadilan Agama pagi itu masih sepi. Hanya petugas keamanan dan beberapa staf yang tampak sibuk membuka berkas-berkas dan menyiapkan ruang sidang.Jam masih menunjukkan pukul delapan lebih sedikit saat mobil yang dikemudikan Dinda berhenti di halaman parkir. Danang turun dengan jas rapi dan wajah penuh harap. Di belakangnya, Endang menyusul keluar dari mobil."Masya Allah, Danang… ini belum juga mulai. Kamu bawa kita pagi-pagi sekali, orang kantor pengadilan juga belum siap semua," omel Endang, mamanya, sambil merapikan kerudungnya yang sedikit miring karena tergesa-gesa.Danang hanya diam. Tatapannya menatap ke arah gedung, lalu ke jam tangannya. Nafasnya pendek-pendek. Gugup jelas terbaca dari gerakan tangannya yang bolak-balik membetulkan letak dasi. Dia duduk, lalu berdiri celingukan melihat parkiran. Terlihat sekali ia gelisah.Dinda memandang sekeliling dan b
Last Updated: 2025-07-10