로그인Cinta tak memilih status, bahkan saat hatimu sudah hancur berkeping-keping. "Aku janda, Kiwi. Punya masa lalu, punya luka. Masih mau jatuh cinta sama aku?" "Aku bukan cari yang sempurna, Melon. Aku cari yang nyata." Kiwi Arsenio—pria mapan, tampan, dan jadi rebutan banyak wanita—jatuh cinta bukan pada wanita muda yang menggoda, tapi pada Melon Zavira, janda satu anak yang lebih suka menghabiskan waktu di rumah sambil menanam bunga daripada pamer di media sosial. Namun cinta mereka tidak semudah resep smoothie. Masa lalu Melon yang kelam dan keluarga Kiwi yang penuh tuntutan membuat hubungan ini seperti buah yang belum matang—butuh kesabaran, pengorbanan, dan keberanian untuk bisa dinikmati. Mampukah Kiwi bertahan demi cinta yang tak biasa ini? Atau justru Melon yang akan mundur, demi melindungi hati yang pernah retak?
더 보기Tepuk tangan masih memenuhi ballroom ketika Kiwi dan Melon berdiri berdampingan di tengah panggung. Lampu kristal di atas mereka memantulkan cahaya lembut, membuat suasana terasa semakin hangat. Melon masih sesekali mengusap sudut matanya, sementara Kiwi terus menggenggam tangannya seolah tidak ingin melepaskannya lagi. MC tersenyum melihat keduanya. "Kalau begitu, mari kita rayakan pasangan yang hari ini resmi memulai perjalanan baru mereka." Musik berubah menjadi lebih ceria. Tepuk tangan kembali terdengar. Kiwi menoleh kepada Melon. "Jadi..." Melon mengangkat alis. "Jadi apa?" "Resmi sekarang." "Memangnya tadi belum?" "Tadi masih proses." Melon tertawa kecil. "Dasar." Kiwi mendekat sedikit. "Mulai sekarang aku boleh memanggilmu istriku?" Melon menahan senyum. "Kalau kamu mau." "Aku mau." "Jangan terlalu senang." "Terlambat." Melon akhirnya tertawa. Di bawah panggung, Jeruk yang melihat keduanya segera mengangkat tangan. "Om Kiwi!" K
Pintu ruang rias perlahan terbuka. Koordinator acara tersenyum hangat. "Bu Melon, waktunya." Melon mengangguk pelan. Jemarinya tanpa sadar saling menggenggam, mencoba meredakan debar di dada yang semakin tak beraturan. Bu Nayla meraih kedua tangannya. "Jangan gugup." Melon tersenyum tipis. "Saya takut menangis nanti." "Kalau menangis karena bahagia, itu tidak apa-apa." Ucapan itu membuat Melon mengangguk pelan. Jeruk menghampiri sambil membawa buket bunga kecil di tangannya. "Ibu..." "Iya, Sayang?" "Nanti kalau Ibu nangis, aku pinjamin sapu tanganku." Melon terkekeh. "Memangnya kamu bawa?" Jeruk mengeluarkan sapu tangan kecil bergambar jeruk dari saku jasnya. "Aku sudah siap dari tadi." Semua orang kembali tertawa. Melon mencubit gemas pipi putranya. "Kamu memang penyelamat suasana." --- Di ballroom... Alunan piano yang lembut mulai memenuhi ruangan. Seluruh tamu perlahan berdiri ketika pintu utama terbuka. Semua mata serentak menoleh. Melon melangkah masuk de
Matahari mulai condong ke barat.Sinar keemasannya menyelimuti rumah baru yang sebentar lagi akan menjadi tempat tinggal Melon, Kiwi, dan Jeruk.Jeruk masih betah bermain di rumah pohon. Sesekali terdengar suaranya memanggil burung-burung yang hinggap di dahan."Halo, burung! Nanti datang lagi, ya!"Kiwi dan Melon saling berpandangan lalu tertawa kecil."Dia memang mudah berteman," ujar Melon."Mirip ibunya."Melon menggeleng sambil tersenyum."Enggak juga.""Mirip. Bedanya, kamu butuh waktu lebih lama untuk membuka hati."Melon menyenggol pelan lengan Kiwi."Kamu masih sempat menggoda.""Kalau tidak menggoda, nanti calon istriku keburu galak lagi."Melon memutar bola matanya."Aku memang pernah galak.""Pernah?""Masih sedikit."Kiwi tertawa lepas."Nah, itu baru jujur."Suasana yang sempat tegang beberapa hari terakhir akhirnya kembali dipenuhi tawa.---Menjelang sore, mereka memutuskan pulang.Sebelum keluar dari rumah, Kiwi mematikan semua lampu yang tidak diperlukan lalu memasti
Melon memandangi foto itu cukup lama. Jantungnya memang sempat berdegup lebih cepat. Namun perlahan ia menarik napas dalam. Lalu mengembuskannya pelan. Kiwi yang berdiri di sampingnya masih mengepalkan tangan. "Aku akan laporkan ini ke polisi." "Tunggu." Melon menyentuh lengan pria itu. "Kita pikirkan dengan tenang." "Melon, ini bukan masalah kecil." "Aku tahu." "Mereka memotret Jeruk." "Aku juga tahu." Suara Melon tetap lembut. Tidak tinggi. Tidak panik. Justru ketenangannya membuat Kiwi perlahan ikut menenangkan diri. --- Melon kembali melihat foto itu. Ia memperbesar gambar. Memperhatikan setiap sudut. Lalu menggeleng pelan. "Aku tidak mau orang ini berhasil." Kiwi mengernyit. "Maksudmu?" "Dia mengirim pesan seperti ini karena ingin kita takut." "Kalau kita panik..." "Berarti dia menang." Kiwi terdiam. Ucapan Melon masuk akal. Sangat masuk akal. --- Melon menghapus air mata yang tadi sempat jatuh. Kemudian menatap Kiwi dengan senyum kecil. "Ingat w
Sore itu, langit berwarna jingga pucat saat Melon dan Kiwi duduk di bangku taman, masing-masing memegang es krim rasa favorit. Jeruk bermain di ayunan tak jauh dari mereka, tertawa-tawa bersama anak-anak lain. Awalnya, suasana begitu nyaman. Kiwi bercerita tentang pekerjaannya, Melon menimpali deng
Siang itu, Mall Citrus Square cukup ramai. Musik pop kekinian mengalun dari speaker, terdengar samar di antara hiruk pikuk orang berlalu-lalang. Melon melangkah santai di koridor, matanya menyapu etalase butik yang memajang diskon besar-besaran. Ia mengenakan blouse putih sederhana, celana jeans hi
Malam semakin larut. Lampu ruang makan menyala temaram, menciptakan bayangan hangat di dinding. Melon dan Kiwi masih duduk berdampingan, tangan mereka bertaut di atas meja, tapi tak ada kecanggungan. Hanya keheningan nyaman yang menggantung di antara mereka. Kiwi menguap kecil sambil meregangkan
Angin sore mulai berembus pelan, mengibaskan rambut Melon yang kini duduk bersandar di pohon, napasnya sedikit terengah setelah "perang buah" kecil yang mereka lakukan. Jeruk tertidur pulas di atas tikar, dengan Milo yang meringkuk di sampingnya seperti penjaga setia. Pipinya belepotan bekas semang


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰