Mag-log inNasya yang tengah liburan di Singapura, diminta pulang karena ayahnya sakit keras. Mendapati kepulangannya justru ingin menjodohkannya dengan seorang pria tak dikenal, Nasya tegas menolak. Tapi saat sang ayah mengancam lebih baik mati dari pada malu, Nasya tidak punya pilihan lain. Setali tiga uang, Dika, calon suaminya pun tidak bisa menolak perjodohan itu. Seharusnya pernikahan itu menjadi pernikahan yang sempurna karena lambat laun Nasya menyukai Dika yang lembut dan sangat menyayangi, bahkan tidak pernah bertindak kasar, tapi ternyata suaminya memiliki rahasia besar yang akhirnya diketahui Nasya. Namun ternyata, perasaan hancur dan kecewa tidak hanya dirasakan Nasya, Dika pun merasakan hal yang sama ketika mendapati sang istri juga memiliki rahasia besar di masa lalunya. Keduanya pun bicara, apakah biduk rumah tangga itu akan diteruskan atau justru harus bubar sampai sini. Namun, demi kepentingan satu dan lain, serta rasa sayang yang sudah tumbuh, keduanya memutuskan untuk bertahan. Ketika semua baik-baik saja, masa lalu Nasya muncul kembali, memporak-porandakan rumah tangga mereka. Rahasia apa sebenarnya ada dibalik pernikahan Nasya?
view more“Ternyata ada gunanya juga Mas Ryan piara babon di rumah ini.”
Langkah Yuna terhenti ketika mendengar celetuk sang adik ipar. Wanita yang berubah jadi gendut usai menikah itu begitu kaget mendengar julukan yang disematkan padanya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, sang ibu mertua justru tidak memarahi anaknya yang telah menghina Yuna–menantu satu-satunya.“Hust! Jangan kenceng-kenceng! Nanti kakak iparmu denger!”“Babon itu sudah pergi, Ma.” Lagi, suara iparnya itu begitu santai terdengar menyebutnya babon–hewan primata yang bertubuh gemuk. “Untung aja masakannya enak dan dia anak orang kaya, jika nggak mana sudi aku bersikap baik padanya.” “Sudah nikmati aja makanan ini dan jangan usik wanita bodoh itu!”Selama ini, di hadapan Yuna … mertua dan adik iparnya begitu baik. Mereka selalu mau berbagi makanan, tidak pelit seperti cerita-cerita rumah tangga dalam novel. Namun saat ini, ia bak disadarkan realita … kalau hidupnya memang benar-benar seperti dalam novel. Disayang untuk perihal uang, dan dihina berkat penampilan fisiknya.Yuna tak pernah protes pada sang suami–Ryan perihal keluarganya yang ikut tinggal di rumah ini, rumah atas namanya. Tadi pagi bahkan, Ia baru saja memberikan uang sebesar lima juta untuk mertuanya dengan dalih biaya arisan, juga belanja bulanan. Lantas, beginikah balasan mereka pada kebaikannya?Tak tahan terus bersembunyi, Yuna pun akhirnya keluar dan menghampiri ipar juga mertuanya. Mereka yang sedang memakan dengan lahap itu pun terkesiap.“Y-yuna? K-kamu belum berangkat, Nak?” ujar mertuanya gagap.Sementara iparnya, tetap memasang wajah tenang meski telah ketahuan bermuka dua. “Apa ada yang ketinggalan, Kak?"“Aku lupa bawa contoh vitamin yang ingin kubeli.” Wanita itu beralasan, kemudian melangkah dengan segera menuju kamarnya.Di sana, Yuna menangis sembari menatap cermin. Ia melihat perubahan wujudnya dengan saksama.Memang, sekarang ia begitu berbeda dengan dirinya yang masih gadis. Tubuhnya dulu begitu ideal, cenderung berisi di tempat-tempat yang seharusnya. Wajahnya, dulu cantik dan tanpa noda.Sekarang … semua itu berganti. Tubuhnya penuh gelambir lemak. Wajahnya tampak lebih kusam, meski tanpa jerawat. Bahkan, di beberapa lipatan tubuh … kulitnya tampak lebih menghitam.“Mereka benar, aku seperti babon,” katanya dengan sedih.Bobotnya memang terus merangkak usai menikah. Ia pernah berujar ingin diet, tetapi Ryan terus melarang dengan dalih tidak ingin dirinya tersiksa.Tiap kali ia mengeluh tentang dirinya yang terus bertambah berat, suaminya langsung memeluk dan berujar, “Itu artinya kamu bahagia nikah sama aku. Buktinya kamu makin subur.” Sebuah kecupan tak ketinggalan mendarat di pipi, membuat Yuna semakin terlena dengan kegemukannya.Namun, ada hal yang ia luput. Usai bobotnya terus bertambah, suaminya jarang sekali menyentuhnya. Hanya sentuhan-sentuhan ringan seperti pelukan kala tidur, atau kecupan ketika berangkat dan pulang kerja.Tidak ada lagi pandangan bergairah, apalagi lenguhan-lenguhan panjang di malam-malam tertentu seperti saat mereka pengantin baru. Gairah sang suami seolah sirna, bersama dengan sirnanya tubuh Yuna yang ideal.“Apa ini yang membuat Mas Ryan tidak lagi menyentuhku?”Namun, semua masih hanya berdasarkan asumsinya. Dari semua hal, yang baru terbukti adalah mertua dan adik iparnya yang bermuka dua. Tidak adil rasanya jika Yuna melabeli sang suami pun turut mengkhianatinya tanpa bukti.Yuna menghapus air matanya, lalu duduk di depan meja rias. Ia membuka peralatan make up yang sudah lama tak ia sentuh. Perlahan, ia hias wajahnya tipis-tipis. Bukan untuk terlihat menor, tetapi agar cukup terlihat segar.“Aku akan membuat kejutan untuk Mas Ryan.”Dengan senyum yang sudah terpatri di wajah cantik nan gembilnya, Yuna perlahan menemukan lagi rasa percaya dirinya yang sempat hilang. Tak apa jika mertua dan iparnya menganggapnya buruk, tapi yang terpenting adalah penilaian sang suami padanya.Usai siap, Yuna pun meraih botol vitamin yang memang sudah kosong–yang tadi ia sebut sebagai alasan di depan mertua juga iparnya. Saat kembali melewati ruang makan, suasana yang sebelumnya ramai kini sunyi. Hanya ada suara denting sendok-garpu beradu dengan piring.Tatapan terkejut terlihat dari kedua wanita sedarah itu kala melihat Yuna yang nampak agak berbeda.“Kamu bukannya mau ke apotek, Yun?”Yuna menghentikan langkahnya, lalu tersenyum menatap sang mertua yang bertanya. “Iya, Ma. Sekalian mau mampir antar bekal Ke Mas Ryan. Kenapa?” tanyanya.Mertuanya menggeleng. “Nggak apa-apa. Tumben aja lihat kamu dandan. Ya sudah, hati-hati di jalan,” ujar mertuanya, sementara iparnya tak acuh dan sibuk menikmati makanan.Tiba-tiba, sebuah ide terbesit dalam pikiran Yuna. Ia pun melirik sang adik ipar dan berujar sarkas, “Pelan-pelan makannyal. Aku tau masakanku enak. Tapi, kalau kamu makan begitu, kamu jadi seperti babon yang rakus.”Kemudian, adik iparnya terbatuk mendengar sindirannya. Sementara, Yuna melenggang riang, sedikit puas sebab telah membalas mulut nyinyir mereka.***Sesampainya di apotek, Yuna memberikan botol vitamin yang biasa dikonsumsinya. Apoteker tersebut terlihat membolak-balik botol itu dengan raut wajah kebingungan.“Maaf, Bu. Kayaknya ini bukan vitamin, deh.”Kening Yuna spontan mengerut dalam mendengar penuturan seorang apoteker di hadapannya. “Maksudnya, Mbak??”Tiba-tiba apoteker itu melepas stiker bertuliskan vitamin kesehatan yang menempel pada botol tersebut. Kemudian berjalan ke arah lemari kaca sebelah kanannya dan mengeluarkan satu botol yang serupa. “Coba lihat dua botol kemasan ini, Bu!” Tentu saja Yuna langsung menurutinya dan meneliti lebih jelas. Bentuk dan desainnya sama. Kemudian ia meneliti lagi merk dan fungsi botol dari si apoteker. “Untuk menambah berat badan?” Yuna membacanya sedikit lantang, lalu langsung menatap apoteker itu bingung. Apoteker itu mengangguk. “Jika, Ibu ragu. Bisa buka isinya dan bandingkan pil di dalamnya. Tapi, mohon maaf harus dibayar dulu, karena kemasannya masih segel,” jelasnya lagi. Rasa penasaran Yuna meninggi. Ia yakin apoteker itu keliru. Bukankah bentuk botol obat itu banyak yang sama bentuknya? Bukan itu saja, mana mungkin suaminya berani menipunya. Untuk apa Ryan memberikannya obat penggemuk badan? Berbagai praduga muncul dalam benaknya, hingga ia memutuskan membuka segel obat tersebut demi mengobati rasa penasarannya. Kedua bola mata Yuna langsung membulat sempurna. Bentuk pil sama dan tak ada bedanya. Pikirannya terasa bercabang. “J-jadi, aku mengonsumsi pil penambah berat badan selama lima tahun?” Nada suara Yuna bergetar. Ia tak habis berpikir kalau sang suami tega membohonginya selama ini. Kalau dihitung, kenaikan berat badannya secara drastis memang dimulai ketika ia menikah dengan Ryan.Nafsu makannya kemudian semakin membuncah usai meminum vitamin abal-abal dari suaminya. Bodohnya, ia yang sebenarnya dokter itu tak mengecek kembali keaslian juga kandungan obat tersebut.Seluruh ilmu kehati-hatiannya, juga kemampuannya menganalisa ketika menjadi dokter seketika hilang, hanya dengan satu alasan … Ryan. Cintanya pada pria itu telah membutakan mata Yuna dari hal apa pun. Kepala Yuna mendadak berdenyut hebat. Tubuhnya hampir tumbang.“Ibu baik-baik saja?” Apoteker itu langsung keluar dari rak kaca yang membatasi mereka. Ia menghampiri Yuna yang masih memegangi kepalanya.“Aku tidak apa-apa, Mbak. Hanya terlalu kaget,” sahutnya mengatur deru napas.Apoteker itu mengangguk. Kendati begitu, ia tak langsung meninggalkan Yuna. “Sebaiknya Ibu ke rumah sakit dan memeriksakan kesehatan. Saya khawatir, obat tersebut menimbulkan efek samping karena telah digunakan jangka panjang.”Deg! Yuna kembali terkejut. Lagi-lagi, pikirannya yang lamban itu tidak berpikir panjang. Apa yang dikatakan apoteker itu mungkin saja benar, sebab beberapa bulan ini ia memang lebih mudah merasa lelah. Kulitnya sering kali gatal, dan kepalanya pun jadi sering sakit tanpa sebab.Yuna mengukir senyum pada sang apoteker dan lekas membayar obat yang ia buka tadi sebelum akhirnya meninggalkan apotek.Dalam mobilnya yang telah meninggalkan pelataran apotek menuju kantor sang suami, pikiran Yuna terus dibayang-bayangi pertanyaan.“Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Mas? Apa tujuanmu?”Elena tidak bisa menolak. Bukan hanya sekedar karena Raka akan membantu keluarganya, tapi jauh dari itu, dia juga menyimpan rasa pada Raka. Tidak dibuat-buat, mengalir begitu saja. Elena yakin, kalau Raka mampu membahagiakan dirinya. Pernikahan putra bungsu Dirga digelar di ballroom hotel dengan banyak tamu undangan dari kalangan pebisnis, publik figur, sampai semua karyawan perusahaan diundang. Banyak yang terkejut, tidak menyangka kalau atasan dan bawahan itu akhirnya dipersatukan dalam mahligai rumah tangga. "Kamu terlihat gugup," bisik Raka memandang lembut istrinya. Elena tersipu malu. Kini sudah resmi jadi suami istri, tapi rasa gugup dan deg-degan di dalam hatinya belum juga surut. Ada kalanya Elena mencubit tangannya, demi memastikan kalau dia sedang tidak bermimpi. Raka putra Dirgantara kini sudah jadi suaminya. "Sedikit," jawabnya pelan, hanya sekali mengangkat kepala lalu kembali menunduk tak tahan dengan tatapan mesra Raka. Raka menarik tangan Elena, menyelipkan j
"Bagaimana permintaan papi?" Dirga sudah muncul dan duduk di samping Raka yang tengah duduk di teras rumah menikmati kesunyian berteman secangkir kopi. Ayahnya kembali mendesak, tidak mungkin terus menghindar. Tapi, kalau dituruti juga dia tidak punya kandidat. Puas pacaran selama kuliah, menjadi sosok badboy, membuat Raka tidak lagi minat pada pernikahan. Ambisinya sudah terikat dengan urusan kantor. Ada kalanya dia menerima tawaran dari beberapa temannya untuk kumpul di sebuah bar, minum dan menikmati dunia malam. "Hei, kau dengar tidak? Diajak ngobrol kok, malah diam?" "Dengar, Pi. Tapi untuk saat ini aku masih belum ada jawaban untuk pertanyaan papi." Lebih baik pembicaraan ini langsung diputus, jangan lagi ada perpanjangan. "Kalau begitu kamu menerima putusan dari papi. Biar papi jodohkan pada anak teman papi aja," sambar Dirga tidak memberi celah. Terlalu lama bersabar dengan putra bungsunya ini, kalau tidak gerak cepat, bisa-bisa, dia tidak jadi menikah. "Jangan
"Wajah kamu kenapa?" Raka memiringkan kepala, mencoba melihat lebih jelas ke arah pipi Elena yang dia temui pagi ini di lift. "Gak papa, Pak," jawabnya singkat. Rambut panjangnya dibiarkan menutup pipi sebelah kanan, agar memar bekas tampar ibu tirinya tidak terlihat. Kalau bukan karena demi ayahnya, dia pasti sudah kabur lagi dari rumah.Elena mengutuk keberadaan ibu tirinya ada dalam hidup mereka, bukan memberi kebanggaan bagi ayahnya, justru derita. Elena harus menerima kekejaman dan penyiksaan ibu tirinya karena sudah menolak pernikahan dengan Edgar. Mau bagaimana lagi, dia tidak menyukai pria yang sombong dan sok berkuasa itu. Kalau dari hikayat Edgar yang dia dengar dari orang tuanya, harusnya pria yatim piatu itu berbudi pekerti dan bersikap baik, bukan justru sebaliknya. Dia juga tidak merasa perlu dinikahi Edgar karena permintaan terakhir Jason. Bahkan dengan Jason sendiri pun dia belum terlalu yakin, semua ini juga karena keluarganya yang memaksa dia harus menikah deng
Rasa penasaran Nasya menggerogoti pikirannya hingga tidak bisa tidur malam itu. Tidak sabar menunggu datangnya pagi agar dia bisa mencari Chris. Jelas kalau suara wanita yang dia dengar tadi milik Helen. Pertanyaan, mengapa malam selarut itu Chris ada bersama Helen? Memikirkan banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi, membuat Nasya tak kuasa menahan air matanya. Apakah dia akan kehilangan Chris lagi? Apakah hati pria itu sudah berubah, kembali pada Helen? Segala tanya dia simpan hingga esok. Penantian Nasya berakhir. Langit sudah terang, begitu cerah, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan cemas di hatinya. "Pagi sekali, mau kemana?" tanya Anisa mendapati Nasya di anak tangga terakhir. Dia sudah bersiap, terlihat cantik meski kantong mata tetap menunjukkan kebenaran kalau dia semalaman tidak tidur. "Mau mencari Chris!" jawabnya tegas. Dia tidak perlu melirik ke arah Dirga yang saat itu juga ada mendengar obrolan mereka, karena dia yakin kalau ayahnya pasti saat ini tengah
Kau harus datang. Kita ini sahabat, ingat?" Sekali lagi Jasen memohon kesediaan pria yang paling dingin sedikit bicara yang dia kenal. Sayangnya, justru dia sangat menyayangi pria itu. Tidak hanya sebagai sahabat, tapi juga sudah dianggapnya sebagai saudara. Seorang pria bernama Jason tengah memoho
"Awuu, sakit, Nas!" "Makanya mulut itu dijaga, jangan asal ngomong aja!" umpat Nasya kesal. Dia jadi 'bete' dengar celetukan Airin. "Terus kenapa gak minta haknya dari kamu?" susul Airin membuka pintu, lalu masuk lebih dulu ke kamar. Nasya juga bingung harus jawab apa. Dia juga tidak tahu ke
Nasya sudah pasrah, penuh takut dia menunggu reaksi Dika. Kalau pria itu marah bahkan sampai menamparnya, mungkin hal yang pantas. Siapa sih, orang yang mau dibohongi?Lama menunggu Dika buka suara, Nasya meremas jemarinya, hati berdebar tak karuan, hanya menyisakan siksa dalam hati."Mas," lirih N
Nasya kembali mematut wajahnya di cermin meja rias. Tampilan sudah oke, cantik bak putri raja. Dia sudah siap sejak setengah jam lalu, dan kini menunggu Dika yang tidak selesai juga bersiap-siap sejak sejam lalu. "Mas, kita mau kemana, sih?" ulang Nasya merasa bosan. Pertanyaan yang sudah dia ajuk






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu