เข้าสู่ระบบNasya yang tengah liburan di Singapura, diminta pulang karena ayahnya sakit keras. Mendapati kepulangannya justru ingin menjodohkannya dengan seorang pria tak dikenal, Nasya tegas menolak. Tapi saat sang ayah mengancam lebih baik mati dari pada malu, Nasya tidak punya pilihan lain. Setali tiga uang, Dika, calon suaminya pun tidak bisa menolak perjodohan itu. Seharusnya pernikahan itu menjadi pernikahan yang sempurna karena lambat laun Nasya menyukai Dika yang lembut dan sangat menyayangi, bahkan tidak pernah bertindak kasar, tapi ternyata suaminya memiliki rahasia besar yang akhirnya diketahui Nasya. Namun ternyata, perasaan hancur dan kecewa tidak hanya dirasakan Nasya, Dika pun merasakan hal yang sama ketika mendapati sang istri juga memiliki rahasia besar di masa lalunya. Keduanya pun bicara, apakah biduk rumah tangga itu akan diteruskan atau justru harus bubar sampai sini. Namun, demi kepentingan satu dan lain, serta rasa sayang yang sudah tumbuh, keduanya memutuskan untuk bertahan. Ketika semua baik-baik saja, masa lalu Nasya muncul kembali, memporak-porandakan rumah tangga mereka. Rahasia apa sebenarnya ada dibalik pernikahan Nasya?
ดูเพิ่มเติม“Would you perhaps consider… being a nanny?”
Surprised by the question and his sudden approach. Samantha is left speechless for a moment while Samuel is smiling and is hopeful for her positive answer.“Please.”
Damn with his charm that didn’t change even after six years, added by those Nordic blue eyes, and smile that swept every girl’s heart in an instant back then, and even worse by now. It is taking a toll of her heart. Her weakness, but his strength. The naïve her and his perfect face is now once more teasing her.
“You see SAMUEL.”
She emphases his name, while scolding her inner thoughts and turning wild heart to stop being stupid, all the while as she is trying to play hard to get. For what reason? Maybe her revenge? A bit of the bitterness that she had suffered six years ago? Perhaps,
But.
“Do whatever it takes to gain his trust.”
Reminded by the words from her boss, she is bitten into submission as she doesn’t have any choice in the matter. Now that everything is falling into the right place for her so called ‘favor’. Just what else could she do, but to swallow her pride.“I don’t have much experience,” she said, while all acting cool and putting her wild beating heart at bay.
“I’ve got some flexibility in my schedule.”
Damn sexy his perfect mold cheek bone, grayish pair of eyes, broad chest, and his deep dimples as a bonus is teasing her in the worse possible way. She can only stand in utter defeat as a woman who couldn’t resist such charm. But then she must, not now, as she needed to resist. Shouldn’t fall for such stupidity a second time.
“And the kids are gone half the day at school, so it won’t be much time.”
Still convincing her, in his Casanova way that she swears and conditioned herself to never fall victim again. He moves even closer to her, as she could feel her ears turning red.
“I do not know if I can do what you expect, and if I am the right one that set’s your standard.”
Foolish and somewhat acting too much, for her words are a clear contradiction from her initial plan and job why she places herself in such a den in the first place. Her mind and heart are currently at war of just giving in and playing the hard to get role for a while.
But then taken once more by his smile as she is one hundred percent sure that her ears are honestly selling her true feeling right now. She is thanking the heavens and herself for deciding to let her hair down as her hair style for the day, as it is covering her red as a tomato ear. He suddenly holds her hands gently, saying.
“You do not need to worry about that, for you are more qualified than you could ever think of. Besides, if it is you, I’ll throw such a standard away in a heartbeat.”
Damn lucky, or she is sentenced by the devil in hell. She acted cool and still put on her poker face.
"I know they can be… overwhelming sometimes. Especially when they’re armed with finger paint and a hose.” He grinned.
With a smile that was a little lopsided. Her heart now wanted to melt as she remembers how she liked that smile of his. Now thinking and assessing the current situation that it wasn’t bad to throw herself into the den of her greatest foolishness six years ago. And if seeing such a smile every day, she thinks that it might be all worth it.
“I’ll help you with them, and that’s for sure.”
Such sweet words from him that somehow can be told as a promise, she wouldn’t mind such a job, right?
‘WRONG!’
The word she suddenly screams from her subconsciousness. Just how could she let herself be drawn once more into his charm after all that he did? Even if it is for a second. Is she trying to be the stupid nerd again just like back then to whom he can toy around and throw once he is done? Never.
Yet.
“Please.”
But how can she refuse? Smiling with the slight dimple in her left cheek. She conditions her mind that everything is just a job. She is a professional and this entire charade is all for her job.
“What can you say?”
Traveling her gaze to Lindsey, then to Harry. Dwarfed by the oversized couch in the living room. Painted with all their smiles nodding simultaneously and agreeing for the proposal at hand.
“Oh please!”
Taken aback as the voices of the two adorable kids call out to her from the second floor of the Mediterranean mansion and rushes down now begging for her to accept. The twins folded their hands and convinced her with the pleading eyes.
“Please accept it Miss Catherine, we promise to be on our best behavior.”
With the sweet and angelic voice of the seven years old Monique and the puppy dog eyes of her twin Cole. Sure, enough who wouldn’t give in, right?
“You wouldn’t disappoint them, would you?”
Clearly using his twins for his advantage. By which one of his innate nature that didn’t change to use everything that he can and around him just to get what he wants. A feeling tugged deep inside of Cath, something she completely knew and was aware of, as it got worse the moment that she met his kids and saw him again. With a bit of hesitation, she smiles and finally accepts.
Okay,” she said, “I’ll do it.”
With the cheers from the twins and the smile that damn reminds her of the past that she should already forget.
“Kids.”
With his smile and stares that never leaves her. Samuel took the twins in his arms casually, but proudly declared.
“Meet your very special nanny.”
Special? She wonders, but she shouldn’t be thinking about it for now as sure enough everything of what she wanted is already sealed in place, right?
“You will never regret it, I swear.”
She doubts about it, but only in the part where she needed to see him every day from now on. But looking at the twins by which head over heels for her and with their adorable nature in two, she will definitely survive.
“I do hope so.”
As she murmurs under her breath while Lindsey and Harry are all smile in their little bubble world as first phase of their biggest plan is now complete.
Elena tidak bisa menolak. Bukan hanya sekedar karena Raka akan membantu keluarganya, tapi jauh dari itu, dia juga menyimpan rasa pada Raka. Tidak dibuat-buat, mengalir begitu saja. Elena yakin, kalau Raka mampu membahagiakan dirinya. Pernikahan putra bungsu Dirga digelar di ballroom hotel dengan banyak tamu undangan dari kalangan pebisnis, publik figur, sampai semua karyawan perusahaan diundang. Banyak yang terkejut, tidak menyangka kalau atasan dan bawahan itu akhirnya dipersatukan dalam mahligai rumah tangga. "Kamu terlihat gugup," bisik Raka memandang lembut istrinya. Elena tersipu malu. Kini sudah resmi jadi suami istri, tapi rasa gugup dan deg-degan di dalam hatinya belum juga surut. Ada kalanya Elena mencubit tangannya, demi memastikan kalau dia sedang tidak bermimpi. Raka putra Dirgantara kini sudah jadi suaminya. "Sedikit," jawabnya pelan, hanya sekali mengangkat kepala lalu kembali menunduk tak tahan dengan tatapan mesra Raka. Raka menarik tangan Elena, menyelipkan j
"Bagaimana permintaan papi?" Dirga sudah muncul dan duduk di samping Raka yang tengah duduk di teras rumah menikmati kesunyian berteman secangkir kopi. Ayahnya kembali mendesak, tidak mungkin terus menghindar. Tapi, kalau dituruti juga dia tidak punya kandidat. Puas pacaran selama kuliah, menjadi sosok badboy, membuat Raka tidak lagi minat pada pernikahan. Ambisinya sudah terikat dengan urusan kantor. Ada kalanya dia menerima tawaran dari beberapa temannya untuk kumpul di sebuah bar, minum dan menikmati dunia malam. "Hei, kau dengar tidak? Diajak ngobrol kok, malah diam?" "Dengar, Pi. Tapi untuk saat ini aku masih belum ada jawaban untuk pertanyaan papi." Lebih baik pembicaraan ini langsung diputus, jangan lagi ada perpanjangan. "Kalau begitu kamu menerima putusan dari papi. Biar papi jodohkan pada anak teman papi aja," sambar Dirga tidak memberi celah. Terlalu lama bersabar dengan putra bungsunya ini, kalau tidak gerak cepat, bisa-bisa, dia tidak jadi menikah. "Jangan
"Wajah kamu kenapa?" Raka memiringkan kepala, mencoba melihat lebih jelas ke arah pipi Elena yang dia temui pagi ini di lift. "Gak papa, Pak," jawabnya singkat. Rambut panjangnya dibiarkan menutup pipi sebelah kanan, agar memar bekas tampar ibu tirinya tidak terlihat. Kalau bukan karena demi ayahnya, dia pasti sudah kabur lagi dari rumah.Elena mengutuk keberadaan ibu tirinya ada dalam hidup mereka, bukan memberi kebanggaan bagi ayahnya, justru derita. Elena harus menerima kekejaman dan penyiksaan ibu tirinya karena sudah menolak pernikahan dengan Edgar. Mau bagaimana lagi, dia tidak menyukai pria yang sombong dan sok berkuasa itu. Kalau dari hikayat Edgar yang dia dengar dari orang tuanya, harusnya pria yatim piatu itu berbudi pekerti dan bersikap baik, bukan justru sebaliknya. Dia juga tidak merasa perlu dinikahi Edgar karena permintaan terakhir Jason. Bahkan dengan Jason sendiri pun dia belum terlalu yakin, semua ini juga karena keluarganya yang memaksa dia harus menikah deng
Rasa penasaran Nasya menggerogoti pikirannya hingga tidak bisa tidur malam itu. Tidak sabar menunggu datangnya pagi agar dia bisa mencari Chris. Jelas kalau suara wanita yang dia dengar tadi milik Helen. Pertanyaan, mengapa malam selarut itu Chris ada bersama Helen? Memikirkan banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi, membuat Nasya tak kuasa menahan air matanya. Apakah dia akan kehilangan Chris lagi? Apakah hati pria itu sudah berubah, kembali pada Helen? Segala tanya dia simpan hingga esok. Penantian Nasya berakhir. Langit sudah terang, begitu cerah, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan cemas di hatinya. "Pagi sekali, mau kemana?" tanya Anisa mendapati Nasya di anak tangga terakhir. Dia sudah bersiap, terlihat cantik meski kantong mata tetap menunjukkan kebenaran kalau dia semalaman tidak tidur. "Mau mencari Chris!" jawabnya tegas. Dia tidak perlu melirik ke arah Dirga yang saat itu juga ada mendengar obrolan mereka, karena dia yakin kalau ayahnya pasti saat ini tengah
Kau harus datang. Kita ini sahabat, ingat?" Sekali lagi Jasen memohon kesediaan pria yang paling dingin sedikit bicara yang dia kenal. Sayangnya, justru dia sangat menyayangi pria itu. Tidak hanya sebagai sahabat, tapi juga sudah dianggapnya sebagai saudara. Seorang pria bernama Jason tengah memoho
"Awuu, sakit, Nas!" "Makanya mulut itu dijaga, jangan asal ngomong aja!" umpat Nasya kesal. Dia jadi 'bete' dengar celetukan Airin. "Terus kenapa gak minta haknya dari kamu?" susul Airin membuka pintu, lalu masuk lebih dulu ke kamar. Nasya juga bingung harus jawab apa. Dia juga tidak tahu ke
Nasya sudah pasrah, penuh takut dia menunggu reaksi Dika. Kalau pria itu marah bahkan sampai menamparnya, mungkin hal yang pantas. Siapa sih, orang yang mau dibohongi?Lama menunggu Dika buka suara, Nasya meremas jemarinya, hati berdebar tak karuan, hanya menyisakan siksa dalam hati."Mas," lirih N
Nasya kembali mematut wajahnya di cermin meja rias. Tampilan sudah oke, cantik bak putri raja. Dia sudah siap sejak setengah jam lalu, dan kini menunggu Dika yang tidak selesai juga bersiap-siap sejak sejam lalu. "Mas, kita mau kemana, sih?" ulang Nasya merasa bosan. Pertanyaan yang sudah dia ajuk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น