Mag-log inNasya yang tengah liburan di Singapura, diminta pulang karena ayahnya sakit keras. Mendapati kepulangannya justru ingin menjodohkannya dengan seorang pria tak dikenal, Nasya tegas menolak. Tapi saat sang ayah mengancam lebih baik mati dari pada malu, Nasya tidak punya pilihan lain. Setali tiga uang, Dika, calon suaminya pun tidak bisa menolak perjodohan itu. Seharusnya pernikahan itu menjadi pernikahan yang sempurna karena lambat laun Nasya menyukai Dika yang lembut dan sangat menyayangi, bahkan tidak pernah bertindak kasar, tapi ternyata suaminya memiliki rahasia besar yang akhirnya diketahui Nasya. Namun ternyata, perasaan hancur dan kecewa tidak hanya dirasakan Nasya, Dika pun merasakan hal yang sama ketika mendapati sang istri juga memiliki rahasia besar di masa lalunya. Keduanya pun bicara, apakah biduk rumah tangga itu akan diteruskan atau justru harus bubar sampai sini. Namun, demi kepentingan satu dan lain, serta rasa sayang yang sudah tumbuh, keduanya memutuskan untuk bertahan. Ketika semua baik-baik saja, masa lalu Nasya muncul kembali, memporak-porandakan rumah tangga mereka. Rahasia apa sebenarnya ada dibalik pernikahan Nasya?
view more“Ahh... kenapa datang lagi, engh…”
Alya mencengkeram piyama tidurnya, rasa panas yang terus berdenyut di bagian bawah perutnya membuatnya ingin menjerit keras. Sudah dua tahun pernikahan ini berjalan, tetapi tubuh Alya seperti dipenjara oleh rasa dahaga yang menyiksa.Suaminya, Rehan, tak pernah menyentuhnya. Bahkan pria itu selalu tidur membelakanginya.
Penolakan demi penolakan yang halus namun dingin itu meninggalkan tumpukan penderitaan bagi Alya. Setiap kali rasa rindu dan pemicu alaminya melonjak tanpa pernah mendapatkan pelepasan, aliran darah seperti menumpuk hebat di area panggulnya, menciptakan rasa tegang, bengkak, dan denyutan ngilu yang membakar hingga ke ujung saraf. Alya frustrasi. Ada apa dengan tubuhnya? Mengapa dia memiliki dorongan fisik yang begitu tinggi sementara suaminya sendiri seolah jijik padanya?Karena dorongan rasa malu dan bingung yang memuncak itulah Alya akhirnya mendatangi rumah sakit malam itu juga.
Dia butuh jawaban medis atas siksaan fisik yang tak sanggup lagi ditanggungnya. Ia harus diobati.
Sembari memegangi perut bawahnya, Alya mendorong paksa pintu sebuah ruang praktik yang sedikit terbuka. "Dok, tolong... Bagian intim saya sangat sakit," cicit Alya dengan nafas memburu. Pria bersetelan jas rapi yang berada di dalam ruangan itu mendadak menghentikan gerakannya.Dewa Erlangga, pria dengan tatapan mata tajam, mengerutkan alis. Dia sebenarnya hanya ingin mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di meja ruang praktek sahabatnya, Dokter Aris.
"Maaf, Nona. Dokter Aris sudah pulang, saya…" Dewa bermaksud menjelaskan bahwa dia bukan dokter yang bertugas. "Dok, cepat... ini benar-benar sakit!" potong Alya dengan mata berair, tak mampu lagi menahan sengatan ngilu yang menjalar di selangkangannya. "Saya nggak tahan..." Melihat wanita di hadapannya hampir ambruk dan memegangi sudut meja, naluri mendasar Dewa, pria yang sempat menyelesaikan pendidikan kedokteran sebelum dipaksa memegang bisnis keluarga, mengambil alih. Dilihat dari reaksi wanita itu, sedikit banyak Dewa bisa menerka apa yang terjadi. Dewa pun menghembuskan nafas pelan, mengunci pintu ruangan dari dalam, lalu mengambil sarung tangan steril. "Berbaringlah biar kuperiksa," ujar Dewa. Alya menuruti perintah itu dengan gemetar. Saat posisi lututnya ditekuk dan terbuka, Alya menatap langit-langit ruangan dengan jantung berdebar keras. Dewa mendekat sambil memakai sarung tangan steril lalu perlahan menyusup masuk ke dalam bagian intim Alya. "Nghh...!" Alya merintih keras, tangannya refleks meremas kemeja Dewa. "Tahan. Otot kamu mengalami spasme karena penumpukan aliran darah yang berlebihan di area panggul," bisik Dewa sembari jari-jarinya melakukan pijatan relaksasi mendalam pada jaringan internal Alya yang tegang."Ini reaksi dari respons hyper-arousal yang tertekan. Tanpa penanganan atau relaksasi, pembuluh darah kamu akan terus membengkak dan memicu denyutan ngilu seperti ini."
Alya menggigit bibir bawahnya. Di antara rasa sakit yang perlahan terurai, ada sentuhan melegakan yang menyengat syarafnya. Dewa terus memijat, membuat Alya semakin terbang melayang. "Ahh..."Dirasa cukup, Dewa menarik tangannya keluar.
Ugh…Desahan itu kembali lolos begitu saja, membuat Dewa menatap Alya dengan senyum tipis. "Sepertinya pijatanku membuat kamu nyaman, apa masih sakit?"
Alya masih memejamkan matanya, masih menikmati kelegaan yang mendalam itu. Lalu dia mengangguk lemah dengan wajah merah padam. “Maaf, Dok,” kata Alya gugup. “Tak masalah,” sahut Dewa sambil membuang sarung tangan ke tempat sampah. “Saya sarankan agar tidak menahan hasrat gairah yang datang, keluarkan saja. Segera lakukan hubungan intim dengan pasangan, dan besok lakukan pemeriksaan lagi dengan Dokter…” “Saya paham, Dok,” potong Alya. "Terima kasih." Diselimuti rasa malu yang teramat sangat karena baru saja disentuh begitu intim oleh seorang pria, serta disadarkan akan fakta medis tentang tubuhnya sendiri, Alya menurunkan kakinya. Wanita itu tidak membiarkan Dewa menyelesaikan kalimatnya, padahal Dewa ingin merujuknya ke dokter Aris, teman sekaligus dokter yang sesungguhnya. “Nona, tunggu, saya belum selesai…” Bukannya mendengarkan, Alya malah bergegas merapikan pakaian, menyambar tasnya, dan berlari keluar ruangan. Dewa terkekeh pelan melihat kepanikan wanita itu. Namun, saat berniat berbalik mengambil kunci mobilnya, mata Dewa menangkap sebuah benda kecil yang terjatuh di lantai. Sebuah lanyard bertali biru. Dewa memungutnya dan membacanya perlahan. ALYA NINDITA, Staff Erlangga Group. Melihat itu, sudut bibir Dewa terangkat membentuk seringai penuh makna."Alya Nindita... Dunia ternyata sesempit ini."
Elena tidak bisa menolak. Bukan hanya sekedar karena Raka akan membantu keluarganya, tapi jauh dari itu, dia juga menyimpan rasa pada Raka. Tidak dibuat-buat, mengalir begitu saja. Elena yakin, kalau Raka mampu membahagiakan dirinya. Pernikahan putra bungsu Dirga digelar di ballroom hotel dengan banyak tamu undangan dari kalangan pebisnis, publik figur, sampai semua karyawan perusahaan diundang. Banyak yang terkejut, tidak menyangka kalau atasan dan bawahan itu akhirnya dipersatukan dalam mahligai rumah tangga. "Kamu terlihat gugup," bisik Raka memandang lembut istrinya. Elena tersipu malu. Kini sudah resmi jadi suami istri, tapi rasa gugup dan deg-degan di dalam hatinya belum juga surut. Ada kalanya Elena mencubit tangannya, demi memastikan kalau dia sedang tidak bermimpi. Raka putra Dirgantara kini sudah jadi suaminya. "Sedikit," jawabnya pelan, hanya sekali mengangkat kepala lalu kembali menunduk tak tahan dengan tatapan mesra Raka. Raka menarik tangan Elena, menyelipkan j
"Bagaimana permintaan papi?" Dirga sudah muncul dan duduk di samping Raka yang tengah duduk di teras rumah menikmati kesunyian berteman secangkir kopi. Ayahnya kembali mendesak, tidak mungkin terus menghindar. Tapi, kalau dituruti juga dia tidak punya kandidat. Puas pacaran selama kuliah, menjadi sosok badboy, membuat Raka tidak lagi minat pada pernikahan. Ambisinya sudah terikat dengan urusan kantor. Ada kalanya dia menerima tawaran dari beberapa temannya untuk kumpul di sebuah bar, minum dan menikmati dunia malam. "Hei, kau dengar tidak? Diajak ngobrol kok, malah diam?" "Dengar, Pi. Tapi untuk saat ini aku masih belum ada jawaban untuk pertanyaan papi." Lebih baik pembicaraan ini langsung diputus, jangan lagi ada perpanjangan. "Kalau begitu kamu menerima putusan dari papi. Biar papi jodohkan pada anak teman papi aja," sambar Dirga tidak memberi celah. Terlalu lama bersabar dengan putra bungsunya ini, kalau tidak gerak cepat, bisa-bisa, dia tidak jadi menikah. "Jangan
"Wajah kamu kenapa?" Raka memiringkan kepala, mencoba melihat lebih jelas ke arah pipi Elena yang dia temui pagi ini di lift. "Gak papa, Pak," jawabnya singkat. Rambut panjangnya dibiarkan menutup pipi sebelah kanan, agar memar bekas tampar ibu tirinya tidak terlihat. Kalau bukan karena demi ayahnya, dia pasti sudah kabur lagi dari rumah.Elena mengutuk keberadaan ibu tirinya ada dalam hidup mereka, bukan memberi kebanggaan bagi ayahnya, justru derita. Elena harus menerima kekejaman dan penyiksaan ibu tirinya karena sudah menolak pernikahan dengan Edgar. Mau bagaimana lagi, dia tidak menyukai pria yang sombong dan sok berkuasa itu. Kalau dari hikayat Edgar yang dia dengar dari orang tuanya, harusnya pria yatim piatu itu berbudi pekerti dan bersikap baik, bukan justru sebaliknya. Dia juga tidak merasa perlu dinikahi Edgar karena permintaan terakhir Jason. Bahkan dengan Jason sendiri pun dia belum terlalu yakin, semua ini juga karena keluarganya yang memaksa dia harus menikah deng
Rasa penasaran Nasya menggerogoti pikirannya hingga tidak bisa tidur malam itu. Tidak sabar menunggu datangnya pagi agar dia bisa mencari Chris. Jelas kalau suara wanita yang dia dengar tadi milik Helen. Pertanyaan, mengapa malam selarut itu Chris ada bersama Helen? Memikirkan banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi, membuat Nasya tak kuasa menahan air matanya. Apakah dia akan kehilangan Chris lagi? Apakah hati pria itu sudah berubah, kembali pada Helen? Segala tanya dia simpan hingga esok. Penantian Nasya berakhir. Langit sudah terang, begitu cerah, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan cemas di hatinya. "Pagi sekali, mau kemana?" tanya Anisa mendapati Nasya di anak tangga terakhir. Dia sudah bersiap, terlihat cantik meski kantong mata tetap menunjukkan kebenaran kalau dia semalaman tidak tidur. "Mau mencari Chris!" jawabnya tegas. Dia tidak perlu melirik ke arah Dirga yang saat itu juga ada mendengar obrolan mereka, karena dia yakin kalau ayahnya pasti saat ini tengah
Kau harus datang. Kita ini sahabat, ingat?" Sekali lagi Jasen memohon kesediaan pria yang paling dingin sedikit bicara yang dia kenal. Sayangnya, justru dia sangat menyayangi pria itu. Tidak hanya sebagai sahabat, tapi juga sudah dianggapnya sebagai saudara. Seorang pria bernama Jason tengah memoho
"Awuu, sakit, Nas!" "Makanya mulut itu dijaga, jangan asal ngomong aja!" umpat Nasya kesal. Dia jadi 'bete' dengar celetukan Airin. "Terus kenapa gak minta haknya dari kamu?" susul Airin membuka pintu, lalu masuk lebih dulu ke kamar. Nasya juga bingung harus jawab apa. Dia juga tidak tahu ke
Nasya sudah pasrah, penuh takut dia menunggu reaksi Dika. Kalau pria itu marah bahkan sampai menamparnya, mungkin hal yang pantas. Siapa sih, orang yang mau dibohongi?Lama menunggu Dika buka suara, Nasya meremas jemarinya, hati berdebar tak karuan, hanya menyisakan siksa dalam hati."Mas," lirih N
Nasya kembali mematut wajahnya di cermin meja rias. Tampilan sudah oke, cantik bak putri raja. Dia sudah siap sejak setengah jam lalu, dan kini menunggu Dika yang tidak selesai juga bersiap-siap sejak sejam lalu. "Mas, kita mau kemana, sih?" ulang Nasya merasa bosan. Pertanyaan yang sudah dia ajuk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu