LOGIN"Ternyata begini rasanya dibuang sama keluarga sendiri demi orang asing," bisik Melody pada dirinya sendiri.Suara deburan ombak yang membentur barisan batu karang di tepi pantai bergemuruh memecah keheningan siang itu. Angin laut yang membawa uap garam berembus cukup kencang, menerbangkan helai demi helai rambut panjang Melody yang berantakan. Ia duduk sendirian di atas sebuah bangku kayu tua di bawah naungan pohon ketapang, memeluk kedua lututnya rapat-rapat.Pipi kirinya yang bengkak terasa makin berdenyut nyeri diterpa angin keras, sementara luka kecil di sudut bibirnya sudah mengering dan meninggalkan rasa kebas. Namun, rasa sakit di wajahnya itu sama sekali tak sebanding dengan rasa sesak yang menggerogoti dadanya.Melody mengadahkan kepala, menatap langit siang yang membiru cerah tanpa awan. Hatinya meringis mengingat betapa cepat jalannya hidup berputar. Hanya dalam hitungan jam, ia kehilangan tempat bernaung: diusir oleh ayah kandungnya sendiri, ditampar di hadapan orang bany
"Mel. Kita ke rumah sakit dulu, ya? Kamu se-engaknya harus di kompres itu." Ucap Arthur pura-pura kawatir,"Gak, Arthur. Aku bisa membersihkan dan kompres sendiri.""Kau yakin tidak ingin ke rumah sakit dulu, Mel? Luka di sudut bibirmu terlihat cukup parah," ucap Arthur pelan sambil memutar kemudi mobilnya menepi di pinggir jalan raya yang agak lengang.Melody mengusap lembut sudut bibirnya dengan ujung jemari yang gemetar. Rasa perihnya masih menyengat, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih mendominasi. Ia menoleh menatap Arthur dengan riasan tipisnya yang kini tampak dingin dan tak tersentuh."Tidak perlu, Arthur. Luka seperti ini bisa dibersihkan sendiri. Yang paling penting sekarang adalah pergerakan kita. Aku tidak mau membuang waktu hanya untuk mengurusi hal sepele seperti ini," jawab Melody datar.Arthur mengangguk cepat, mencoba menunjukkan rasa hormat dan kepatuhan yang tinggi. "Baiklah kalau itu mau kamu. Sekarang kita mau ke mana? Ke apartemen langsung atau kamu mau ke tem
"PAPA!" jerit Gwen dan ibunya hampir bersamaan, menutup mulut mereka dengan wajah pucat seketika.Suara tamparan itu bergema nyaring di seluruh penjuru ruang makan yang mendadak hening mencengkeram. Para asisten rumah tangga menunduk takut, berdiri mematung di sudut-sudut ruangan tanpa berani berkutik. Arthur sendiri terkejut hingga melangkah mundur satu pijakan, matanya melotot memandangi Mark yang masih membusungkan dada dengan napas memburu dan telapak tangan yang memerah.Melody mematung. Kepala gadis itu terlempar ke samping akibat kerasnya hantaman. Rasa panas yang membakar seketika menjalar di kedua pipinya yang merona merah padam, disusul rasa pening luar biasa yang membuat pandangannya sempat berbayang. Bibirnya terketip rapat, menahan rasa asin darah yang merembes di sudut bibirnya.Perlahan, sangat perlahan, Melody menegakkan kembali kepalanya. Ia tidak menangis. Tak ada satu tetes pun air mata yang dibiarkannya jatuh melintasi pipinya yang berdenyut nyeri. Ia hanya menatap
Raut wajah Mark berubah drastis dari yang semula sumringah menjadi sangat tegang. Kata-kata Melody bak petir di siang bolong yang menghantam harga dirinya di depan seluruh anggota keluarga, terutama di hadapan Casey yang berkuasa. Keputusannya menyebut angka lima puluh sembilan persen saham milik mendiang ibunya adalah ancaman terbuka."Melody! Jaga bicaramu!" bentak Mark dengan nada tertahan, berusaha menjaga martabatnya sebagai kepala keluarga. "Saham peninggalan almarhumah ibumu itu urusan internal keluarga, tidak bisa kau serahkan begitu saja pada Arthur sebelum ikatan pernikahan kalian sah di mata hukum!"Melody mengulas senyum tipis, menyandarkan punggungnya pada kursi dengan keanggunan yang dingin. "Loh, bukannya papa yang mau Arthur yang kelola semua aset Melody termasuk saham? Itu sebabnya Melody sebut saham peninggalan milik mama. Karena di wasiat mama juga sudah jelas, bahwa saham itu buat Melody ketika Melody sudah dewasa dan menikah.”“Iya, tapi bukan semua saham! Bagai
Melody tidak melepaskan tangannya saat Arthur mengecup jemarinya. Justru sebaliknya, ia mengumbar senyum manis yang paling menawan, pura-pura terbuai oleh sikap romantis pria di sampingnya. Namun di bawah meja, matanya yang dingin mengamati reaksi orang-orang di ruangan itu.Reaksi yang ia harapkan muncul seketika. Gwen tampak menegang kaku, jemarinya meremas kain serbet di pangkuannya hingga mengkerut. Sementara itu, di seberang meja, Casey benar-benar memperlihatkan amarah terselubung. Rahang tegas pria itu mengeras tajam, urat-urat di lehernya menegang, dan matanya memancarkan kegelapan yang pekat. Tatapan Casey seolah sanggup membakar genggaman tangan Arthur pada Melody saat itu juga."Tentu saja, Sayang. Kamu adalah pria yang baik, dan setia. Asal kamu menginginkannya, aku pasti melakukan apapun untuuk mewujudkannya, karena aku harus mendukungmu sepenuhnya, bukan begitu, Papa?" tanya Melody dengan nada bermanja, memutar pandangannya ke arah sang ayah.Mark tertawa bangga, tidak m
"Ah! Kalau begitu duduk dulu, Casey. Kebetulan kami baru mau sarapan. Ayo sini, kita perlu berbincang banyak," ajak Om Mark ramah seraya menepuk kursi kosong di dekatnya."Baik, kebetulan Casey belum sarapan pagi ini, Om..."“Sudah Om duga itu, makanya Om mau kamu bergabung di sini, kita adalah keluarga, Casey.”“Terima kasih, Om.” Casey duduk tepat di seberang Melody. Tadi Melody memang sengaja mengambil posisi duduk di samping Arthur karena sama sekali tidak menduga kalau pria itu akan datang pagi ini."Papa ternyata akrab ya, sama Tuan Whitney?" sapa Gwen sengaja memakai nama sebutan tuan.Mark menoleh dengan dahi berkerut tipis. "Dia sepupumu Gwen, jangan panggil tuan, panggil kakak.""Ah, maaf, Pa. Habisnya Kak Casey kelihatan sangat formal dan sangat berwibawa, aku segan kalau memanggil nama, takut mengganggu," sahut Gwen sambil melirik tipis ke arah Melody."Ah! Tentu saja tidak masalah. Dia adalah keponakan papa kandung, berarti dia sepupumu. Jadi, jangan terlalu formal. Bukan







