Chapter: 67. Satu Putaran yang MenentukanIa berbalik, lalu melangkah kembali memasuki hotel. Di dalam mobil, Ivy menyandarkan tubuhnya yang lelah ke jok belakang. Pandangannya mengarah keluar jendela tanpa tujuan hingga tanpa sengaja menangkap sosok Lucas yang sedang membukakan pintu mobil untuk Yurina.“Aku senang melihatnya baik-baik saja.” Ivy membatin sembari tersenyum pahit. Tanpa berpikir lebih jauh, Ivy mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia mengira Lucas akan pulang bersama Yurina, sehingga dia tidak lagi memedulikan ke mana mobil itu akan melaju."Mau langsung pulang, Non? Atau mau mampir ke mana dulu?"“Langsung pulang saja, Pak. Saya lelah.”Sedan hitam itu pun perlahan meninggalkan pelataran hotel.— — —Lucas menunggu hingga Yurina masuk ke kursi belakang. Tepat ketika gadis itu hendak menutup pintu, ia menyadari Lucas masih berdiri di luar."Kamu tidak masuk?"Lucas menggeleng pelan."Aku masih ada urusan p
Last Updated: 2026-08-09
Chapter: 66. Pulanglah Lebih Dulu. “Kalian berdua sedang mengobrol apa? Sepertinya serius sekali?”Suara lain yang membaur di antara mereka, otomatis merebut atensi kedua pria itu. Yurina menoleh ke arah Lucas dan Jeno secara bergantian diiringi tatapan yang sarat akan rasa ingin tahu. Sedangkan Jeno, dia segera menghadirkan lengkung ramah di wajahnya sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. “Nona Manis, kamu tidak boleh tahu karena ini urusan laki-laki.”Yurina mengerucutkan bibir, merangkul lengan Lucas, lalu menggoyangkannya dengan lembut dan sedikit manja. “Kamu juga tidak mau memberitahuku?”Senyum Lucas terbit segaris. Dia hampir melepas tangan Yurina dari lengannya, jika saja dia tidak ingat bahwa tindakan tersebut bisa membuat gadis itu malu. “Benar apa yang dikatakan Jeno. Ini urusan laki-laki.”Yurina berdecak sebal. “Dasar curang,” cetus Yurina berpura-pura merajuk, meski akhirnya ia mengalah dan melepaskan cengkeraman tangann
Last Updated: 2026-08-08
Chapter: 65. TantanganLucas pun mengulurkan sebuah kotak kado berukuran kecil ke hadapan Ivy sembari berkata, “Selamat ulang tahun, Ivy. Semoga panjang umur.”Setelah kotak itu berpindah tangan, Lucas mengusap lembut tengkuknya, tampak sedikit canggung.“Maaf kalau hadiahnya bukan sesuatu yang mewah.”“Tidak apa-apa. Terima kasih, Lucas,” sahut Ivy. Sentuhan singkat jari mereka yang tidak disengaja, serta sorot mata teduh Lucas yang menghantarkan kehangatan, berhasil membuat darah di dalam tubuh Ivy seolah saling berkejaran sehingga menimbulkan efek kupu-kupu berterbangan di perut yang sulit untuk ia kendalikan. Gerakan refleks Lucas yang sempat melirik ke arah cincin di jarinya juga tak luput dari perhatian Ivy. Perasaan yang tiba-tiba membuncah itu telah membawa hawa panas naik hingga ke pipi. Ivy jadi panik sendiri. Takut kalau-kalau Jeno memergokinya yang sedang salah tingkah. Demi menutupi apa yang ia rasakan, Ivy segera mengepalkan tangan kirinya seraya berdehem halus. “A-aku ke toilet seben
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: 64. PestaPesta ulang tahun Ivy digelar di area outdoor poolside sebuah resort mewah. Cahaya lampu gantung yang temaram berpadu dengan pendar lampu bawah air kolam yang berkilau lembut, menciptakan atmosfer elegan sekaligus hangat. Di antara deretan meja yang dipenuhi bunga dan lilin, para tamu larut dalam obrolan serta gelak tawa yang bersahutan. Denting gelas sesekali terdengar memecah udara malam. Di tengah keramaian tersebut, Ivy menjadi pusat perhatian bagi setiap pasang mata yang hadir. Balutan mini dress satu bahu berwarna gading dengan detail pita yang menjuntai serta rok mekar bertingkat, membuat Ivy menjadi pusat perhatian. Pantulan cahaya lampu pesta menari lembut di atas kain gaunnya, sementara senyum manis yang senantiasa menghiasi wajahnya, membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan. Ivy tersenyum tipis, mengangguk sopan pada setiap ucapan selamat dan doa yang dilayangkan para tamu. Namun di balik senyum yang terukir rapi itu, rongga dadanya terasa begitu sesak. Ia membe
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: 63. Ajak Aku ke PestaHari-hari setelah pertemuan di koridor itu berubah menjadi rangkaian penantian yang tak pernah membuahkan hasil.Beberapa kali Lucas sengaja datang lebih pagi, berharap bisa berpapasan dengan Ivy sebelum bel masuk berbunyi. Di waktu istirahat, ia menyempatkan diri melewati koridor kelas tingkat dua tempat gadis itu belajar. Sepulang sekolah pun ia sengaja pulang lebih lambat, mengulur waktu dengan harapan dapat bertemu Ivy dan berbicara dengannya walau hanya sebentar.Namun, kesempatan itu tak pernah datang.Setiap pagi, Jeno selalu mengantar Ivy hingga ke depan kelasnya. Saat bel pulang berbunyi, pemuda itu sudah lebih dulu menunggu di lobi, seolah-olah dia sedang menutup celah bagi siapa pun untuk sekadar menyapa Ivy.Lucas beberapa kali berhasil menangkap pandangan Ivy dari kejauhan. Namun setiap kali mata mereka beradu, Ivy selalu menjadi orang pertama yang memalingkan wajah sehingga lambat laun, Lucas mulai berhenti menunggu.
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: 62. UndanganPemandangan di hadapannya terasa begitu asing. Ivy yang selama ini selalu menjaga jarak dari Jeno kini berjalan tenang di sisinya, membiarkan pemuda itu mempersempit jarak di antara mereka dengan senyum puas.Tepat saat itu, netra Ivy bergulir dan berpapasan langsung dengan pandangan Lucas. Sekilas, ada kejutan dan rasa sakit yang berkilat tajam di mata Ivy. Namun hanya dalam hitungan detik, Ivy membuang muka, meredam seluruh emosinya, dan terus berjalan melewati Lucas seolah pemuda itu hanyalah orang asing yang tak pernah ada dalam hidupnya.Lucas merasa kakinya seperti dipasung. Ia hanya mampu berdiri terpaku, menatap lurus ke depan sembari menahan gemuruh menyakitkan di dadanya, saat Ivy melangkah melewatinya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka baru beberapa langkah melewati Lucas, ketika Jeno menghentikan pergerakannya secara tiba-tiba. Dia sengaja merangkul bahu Ivy lebih erat lagi sehingga Ivy terpaksa ikut menghentikan langkah di samping
Last Updated: 2026-08-05