Chapter: Bab 83Satu jam kemudian.Badai hujan di luar telah mereda, menyisakan keheningan malam yang syahdu di atas Kota Surabaya. Awan hitam mulai terkuak, memperlihatkan bulan separuh yang memancarkan pendar keemasan di atas langit malam.Di lantai delapan puluh delapan Surabaya Financial Megatower, ruang Penthouse pribadi milik Rian Nugraha, atmosfer kemewahan dan dominasi mutlak memenuhi setiap sudut ruangan seluas seribu meter persegi itu.Penthouse ini merupakan puncak pencapaian arsitektur modern. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca transparan setinggi lima meter yang memamerkan pemandangan panoramic gemerlap lampu malam Kota Surabaya dari ketinggian tiga ratus meter di udara. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kolam renang infinity air hangat dan sebuah tempat tidur Super King Size berdinding kayu mahoni pilihan.Rian Nugraha telah membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa darah pertempuran. Pria itu kini hanya mengenakan celana panjang sutra hitam yang longgar, membiarkan dada tegap berotot
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Bab 82“DUARRR!” Pintu baja ruang kontrol tidak didobrak secara perlahan. Pintu itu hancur berantakan dipicu oleh muatan peledak C4 yang dipasang oleh Mayor Siska!Serpihan besi melayang di udara diiringi oleh kepulan asap tebal.Dari balik kepulan asap tersebut, melangkah keluar Rian Nugraha. Rompi taktisnya ternoda oleh ceceran darah musuh, matanya menyala dalam pendar membunuh yang sangat pekat. Rian melangkah masuk dengan ketenangan yang teramat dingin, pistol Pit Viper-nya tergantung santai di samping pahanya.Rendra terbelalak lebar, wajahnya seketika kehilangan seluruh warna darah saat melihat sosok pemilik imperium itu berdiri di hadapannya."T-Tuan Rian...!" jerit Rendra ketakutan, langkah kakinya mundur hingga terbentur konsol mesin sirkulasi. "B-Bagaimana mungkin Anda ... Anda harusnya berada di Bali!""Aku berada di mana pun tempat para pengkhianat mencoba merusak rumahku, Rendra," suara Rian mengalun sangat datar, namun setiap kata-katanya menghantam jiwa Rendra bagaikan pa
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Bab 81Di atas helipad lantai delapan puluh delapan, baling-baling helikopter taktis siluman Black Hawk menyapu air hujan yang mengguyur deras. Pintu samping helikopter terbuka lebar.Rian Nugraha dan Mayor Siska Indrawan melompat turun ke atas permukaan semen helipad! Air hujan langsung membasahi rompi taktis dan rambut hitam Rian, namun pria itu melangkah dengan kestabilan tubuh yang luar biasa. Dengan pistol Pit Viper terkokang di tangan kanannya dan senapan HK416 di tangan Siska, keduanya bergerak cepat menembus badai menuju pintu masuk lantai teratas gedung.“BZZZZT!” Valerie yang berada di dalam helikopter membuka pintu akses helipad secara jarak jauh. Rian dan Siska menerobos masuk ke dalam koridor tangga darurat. Suara gemuruh angin badai di luar seketika tergantikan oleh keheningan yang mencekam di dalam gedung yang gelap gulita."Lantai delapan puluh delapan aman," bisik Siska sambil memeriksa indikator panas tubuh menggunakan kaca mata malam (Night Vision Goggles). "Tiga sinyal
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: Bab 80Deru mesin turbofan hipersonik Gulfstream G700 bergemuruh hebat membelah kegelapan malam, melesat pada kecepatan Mach 2.5 di atas jalur udara koridor Jawa bagian timur. Di luar jendela kabin yang dilapisi kaca antipeluru, kilatan petir menyambar-nyambar di dalam gulungan awan hitam yang menyelimuti langit Surabaya. Badai hujan lokal sedang mengamuk dahsyat di kota metropolitan tersebut, seolah menyambut kedatangan sang penguasa yang kembali untuk membersihkan rumahnya dari darah para pengkhianat.Di dalam kabin kelas utama yang temaram oleh lampu indikator taktis berwarna merah redup, Rian Nugraha berdiri tegak. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja santainya. Tubuh tegapnya kini dibungkus oleh rompi taktis antipeluru Kevlar-Graphite serba hitam bertengger kokoh melingkupi dadanya yang berotot. Di pinggangnya, dua sarung pistol presisi Taran Tactical Pit Viper terpasang rapi, sementara pisau komando bertutuk titanium terselip di balik rompi dadanya. Mata hitam Rian memancarkan pendar
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: Bab 79Rian merangkak di antara kedua paha mulus Kirana, memegang pinggul tegap istrinya dengan kedua tangan kekuatannya. Rian menatap mata Kirana dengan kedalaman cinta dan dominasi yang mutlak."Kamu adalah milikku selamanya, Kirana," tegas Rian dengan suara rendah yang menggetarkan dada."Aku milikmu selamanya, Rian ... tancapkan Si Bambang sekarang!" jerit Kirana pasrah.Rian mendorong pinggul tegapnya ke depan secara langsung!JLEBBBB!"AAGHHHHHH! RIANNNNN! ASTAGAA, DALAMNYA!"Kirana menjerit histeris dalam puncak kebahagiaan dan kenikmatan murni saat kepala Si Bambang yang raksasa menembus langsung dan memadati rahimnya dalam satu pendorongan yang sangat dalam dan penuh tenaga!Kepala Kirana mendongak ke atas, kedua tangannya mencengkeram erat bahu berotot Rian saat sensasi kepenuhan yang luar biasa melimpah membakar seluruh sistem saraf tubuhnya! Dinding rahimnya seketika mencengkeram kuat batang Si Bambang yang panas!Rian tidak memberikan je
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Bab 78Layar monitor Valerie memperlihatkan peta topografi Asia Tenggara yang melakukan zoom-in secara cepat, memotong jalur lautan Filipina, hingga terhenti di sebuah pulau kecil tak berpenghuni di dalam gugusan Kepulauan Palawan.Di tengah pulau terisolasi yang dikelilingi tebing karang terjal itu, tampak sebuah struktur bangunan benteng bawah tanah berteknologi tinggi yang dilindungi oleh kubah penyerap sinyal radar."Laboratorium penelitian bio-teknologi Apex Facility Alpha," baca Siska dari berkas intelijen yang kecocokannya seratus persen. "Di situlah kapsul racun Aether-9 diproduksi dan di situlah server pusat kendali pemicu jarak jauhnya berada!"Rian melangkah mendekati layar monitor, menatap titik merah di Kepulauan Palawan tersebut dengan pandangan mata seorang predator yang telah menemukan lokasi mangsanya."Empat puluh delapan jam adalah waktu yang sangat lama, Lord Vane,” bisik Rian dengan nada yang amat dingin dan berbahaya. "Cukup waktu untuk terbang ke
Last Updated: 2026-09-20