LOGINWilona yang merasa sakit hati dengan kelakuan suami yang bermain dibelakang. Yang lebih menyakitkan, selingkuhannya tidak lain merupakan sahabat dekatnya sendiri. Berhari-hari Wilona sabar, hingga batas kesabarannya pun menghilang. Ia nekat ingin melakukan percobaan bunuh diri dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Namun, saat melakukan percobaan bunuh diri di gedung bioskop lantai tiga, seorang pemuda tampan mencegatnya. Saat hubungan mereka semakin dekat barulah Wilona menyadari bahwa pemuda tersebut merupakan adik angkat si Pelakor. Sementara si Pelakor tersebut bernama Syahnaz. Ia yang mempunyai adik angkat dengan latar belakang orang tua yang kaya raya, tidak ingin harta warisan mereka jatuh di tangan adik angkatnya. Jadi, Syahnaz selain merupakan penghancur rumah tangga Aris dan dan Wilona, Syahnaz juga ingin sangat berambisi ingin hidup kaya raya dengan jalan yang salah melalui menyingkirkan adik angkatnya sendiri. Bagaimana kah kelanjutan ceritanya? Yuk, simak hanya di goodnovel.
View MoreJam dinding di lobi gedung Atmaja Group menunjukkan pukul setengah 8 malam, cahaya lampu mulai redup, menyisakan keheningan dan hanya terdengar suara ketukan jemari di atas keyboard laptopnya dan itu berasal dari seorang gadis benama Anya.
Dengan kemeja putih yang masih rapi meski sudah dipakai selama dua belas jam dan rambut cokelat yang digelung sederhana, ia menatap deretan angka di layar. Anya bukan sekadar sekretaris administratif, ia adalah salah satu orang kepercayaan di divisi operasional. Namun, gelar kepercayaan itu tidak cukup untuk membayar tagihan rumah sakit ibunya yang kian membengkak. Di tengah kesibukannya, tiba-tiba ponselnya bergetar, Anya melihat siapa yang meneleponnya di malam sibuknya dan nama Paman Andi muncul di layar, Anya menghela napas panjang sebelum mengangkatnya. [Ya, Paman?] - Anya. [Anya, rumah di kampung sudah didatangi orang-orang itu lagi. Ayahmu, dia ternyata menjaminkan sertifikat rumah untuk pinjaman yang lebih besar sebelum dia pergi] - Paman Andi. Mendengar perkataan Paman Andi, dunia Anya seakan runtuh. Ayahnya telah meninggalkan mereka dua tahun lalu, menyisakan tumpukan utang judi dan bisnis gagal yang tidak pernah Anya ketahui ujungnya. Setiap kali Anya merasa sudah melunasi satu lubang, lubang lain yang lebih besar menganga di depannya. [Berapa, Paman?] - Anya. [Dua miliar, Anya. Jika dalam sebulan tidak dibayar, ibumu harus keluar dari rumah sakit dan rumah itu disita] - Paman Andi. Dua miliar, bagi seorang karyawan dengan gaji manajer menengah sekalipun, angka itu adalah mimpi buruk. Tanpa mengatakan apapun, Anya menutup telepon itu dan menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kantor yang tinggi. Di sinilah ia, di salah satu gedung termegah di negara A, dikelilingi kemewahan yang bukan miliknya, sementara hidupnya sendiri berada di ujung tanduk. Anya masih terpaku pada langit-langit plafon yang dihiasi ukiran minimalis modern, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos, mengalir perlahan melewati pelipisnya. Dua miliar rupiah bukan sekadar angka, bagi Anya, itu adalah harga diri, tempat tinggal dan nyawa ibunya. Anya memejamkan mata, teringat bagaimana ibunya yang kini terbaring lemah di ruang ICU selalu tersenyum meski tubuhnya digerogoti penyakit. Ibunya adalah satu-satunya alasan Anya masih sanggup menelan pahitnya kehidupan di kota. Jika rumah di kampung disita, ke mana ia akan membawa ibunya saat keluar dari rumah sakit nanti dan jika biaya rumah sakit terhenti, Anya tidak sanggup membayangkan monitor jantung itu akan berubah menjadi garis lurus yang statis. "Satu bulan, Tuhan. dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu bulan?" bisik Anya dalam keheningan. Anya menghapus kasar air mata yang membasahi pipinya ia tidak boleh terlihat lemah di kantor, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia merapikan barang-barangnya memasukkan laptop ke dalam tas dan melangkah gontai menuju lift. Setiap denting lift yang berhenti di tiap lantai terasa seperti lonceng kematian bagi harapan-harapannya. Setibanya di lobi bawah, udara malam kota yang lembap menyambutnya, Anya tidak memesan taksi daring seperti biasanya saat lembur. Ia memilih berjalan kaki menuju halte busway terdekat, mencoba menghemat setiap uang yang tersisa di dompetnya. Di dalam bus yang pengap, kepalanya bersandar pada kaca jendela yang dingin, menatap lampu-lampu kota yang buram karena tertutup embun dan sisa air mata. Sesampainya di kosnya yang terletak di pinggiran kota, Anya merebahkan tubuhnya lalu meraih ponselnya, ia tidak tahu harus bagaimana lagi dan ini adalah harga diri terakhir yang harus ia korbankan. Anya mulai menggulir daftar kontaknya, nama pertama yang muncul adalah Bibi Ratna, adik dari ibunya yang cukup sukses di luar kota, dengan ragu Anya menekan tombol panggil. [Halo, Bibi? Ini Anya] - Anya. [Oh, Anya. Ada apa malam-malam begini? Bibi sedang sibuk menyiapkan acara arisan besok] - Bibi Ratna. [Bibi, maaf mengganggu. Anya sedang dalam kesulitan besar, rumah di kampung terancam disita karena utang Ayah dan ibu masih di ICU. Apa boleh Anya meminjam uang? Berapa pun yang Bibi punya, Anya akan mencicilnya setiap bulan] - Anya. Hening sejenak hingga suara Bibi Ratna berubah menjadi dingin dan tajam. [Anya, bukannya Bibi tidak mau membantu. Tapi, kamu tahu sendiri, anak Bibi baru masuk universitas, biayanya mahal. Lagi pula, utang ayahmu itu seperti sumur tanpa dasar, kamu seharusnya sudah membiarkan rumah itu pergi sejak lama, jangan seret keluarga Bibi ke dalam lubang yang dibuat ayahmu] - Bibi Ratna. Setelah itu, sambungan diputus sepihak. Dada Anya terasa sesak, ia mencoba menelan bongkahan pahit di tenggorokannya dan tidak menyerah. Anya mencoba menghubungi sepupunya, Danu yang bekerja di sebuah bank besar. [Danu, aku butuh bantuan...] - Anya. [Anya, kalau soal uang. Aku angkat tangan, skor kredit ayahmu itu merah di semua bank. Secara hukum, aku tidak bisa membantu proses pinjaman tanpa jaminan yang jelas dan sertifikat rumah itu? Itu sudah dianggap aset bermasalah. Maaf ya, nanti posisiku di kantor bisa terancam kalau aku memaksakan ini] - Danu. Satu per satu, orang-orang yang selama ini ia anggap keluarga memberikan punggung mereka, jawaban mereka beragam, mulai dari alasan ekonomi, urusan keluarga sendiri hingga terang-terangan menyalahkan Anya karena terlalu berbakti pada ibu yang hanya menghabiskan uang di rumah sakit. "Aku tidak punya pilihan lagi, aku harus menghubungi Vira. Mungkin dia bisa bantu aku," gumam Anya. [Halo, ada apa Anya?] - Vira. [Vir, aku boleh minta tolong sama aku. Aku butuh uang, Vir. Ayahku menjaminkan rumahku di desa dan biaya rumah sakit ibuku juga harus segera dibayar] - Anya. [Aku gak bisa bantu kamu Anya, aku juga butuh uang untuk kehidupanku] - Vira. [Apa gak bisa bantu dikit aja Vir, dulu pas kamu butuh uang buat semester kamu kan aku bantu] - Anya. [Kamu gak ikhlas] - Vira. [Bukannya gak ikhlas...] - Anya. [Halah! bilang aja gak ikhlas. Lagian ya kamu itu cuma pegawai kantor biasa, mau sampai umur berapa kamu melunasinya? Mending kamu cari om-om kaya aja deh di kota, wajahmu kan cantik pasti banyak yang mau sama kamu, percaya deh sama aku] - Vira. Anya mematikan ponselnya sebelum temannya itu menyelesaikan kalimatnya, Anya melempar ponsel itu ke atas kasur tipisnya, saran itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Anya meringkuk di atas lantai, memeluk lututnya sendiri. Dinginnya lantai semen tidak sebanding dengan dingin yang menjalar di hatinya, keheningan di kamar itu kini terasa mencekik. Anya merasa seperti pelaut yang kapalnya sedang tenggelam di tengah samudra luas dan semua pelampung yang ia coba raih ternyata terbuat dari batu. "Ibu, sekarang Anya harus gimana?" gumam Anya. Pikirannya kembali melayang pada tumpukan tagihan yang terselip di dalam tasnya, dua hari lagi adalah batas terakhir pembayaran uang muka administrasi rumah sakit agar ibunya tidak dipindahkan ke ruang bangsal umum yang fasilitasnya sangat minim. Tanpa uang itu, perawatan intensif ibunya akan dihentikan. . . . Bersambung.....Rahandi membelokkan mobilnya ke arah kiri sementara Reyhan tetap mengikutinya. Hingga mobil Rahandi berhenti ketika suasana di sekeliling dipastikan sepi dari pemukiman. Terlihat sisi kiri ada banyak hutan dan didepannya ada lapangan kosong. Seakan Rahandi telah mempersiapkan sesuatu hal buruk pada Reyhan.Rahandi maupun Viona turun dari mobil dan secara terang-terangan memperlihatkan wajah mereka. Seakan mereka menantang Reyhan. Tanpa basa-basi, Rahandi pun memanggil Reyhan dengan suara angkuh.“Saya tau kau telah mengikuti saya sedari tadi. Kau... Putra pewaris dari kakakku Tuan Harizon!” seru Rahandi.“Cepat kau maju dan tunjukkan wajah kau!” tantang Rahandi pada Reyhan.Tidak berselang lama, Reyhan keluar dari persembunyiannya. Rahandi maupun Viona tersenyum sinis seakan mereka sedang meremehkan kehadiran Reyhan.“Rupanya kau cukup pemberani wahai keponakanku” ujar Rahandi.“Hai, apa kamu masih menganggap aku kakakmu? Upz... Aku memang kakak sepupu kamu karena Papa kamu dan Papa a
Reyhan sebelumnya sedang berdiri di pintu dapur. Melihat Viona begitu pucat, Reyhan pun menanyakan hal itu. Viona tertawa canggung karena dirinya tidak mungkin berkata hal yang sebenarnya. Dengan berbohong, Viona pun mengatakan bahwa salah satu temannya sedang masuk di rumah sakit. Reyhan melihat bola mata maupun bibir yang diucapkan oleh kakaknya terlihat bertolak belakang. Namun, Reyhan mengiyakan saja.Dengan cepat, Viona pun bergegas pergi. Sementara itu, tanpa Viona sadari Reyhan juga diam-diam mengikutinya. Selama diperjalanan, Viona mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sehingga membuat Reyhan sedikit kewalahan untuk mengejar kakaknya tersebut. Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, Reyhan tidak ingin melepaskan Syahnaz yang sedang terburu-buru itu. Reyhan merasa hilangnya Wilona dan Reyna ada hubungannya dengan Syahnaz.Di lain sisi, Wulan mengantar Wilona ke rumah Reyhan. Sampai di sana, tidak ada Reyhan namun ada beberapa teman-teman Reyhan yang belum pulang dari sana
Ketika dokter mengatakan bahwa Reyna hanya mengalami syok ringan, membuat Wulan merasa lebih tenang. Dirinya tidak habis pikir jika Reyna tidak bisa diselamatkan, Wulan pasti benar-benar tidak apa bisa memaafkan dirinya sendiri. Sementara itu, Wilona masuk ke dalam ruangan UGD. Wilona hanya ingin melihat anak itu secara langsung dengan waktu yang lebih lama. “Kenapa aku seperti tidak asing melihat anak ini?” gumam Wilona dalam hati.Wilona meraih tangan Reyna dengan lembut seakan mereka memiliki ikatan batin. Seketika saja Wilona merasa pusing di kepalanya dan terlihat bayangan-bayangan tidak jelas kini muncul begitu saja. Di lain sisi, Wulan masih duduk di luar dengan maksud untuk menenangkan dirinya. Viona melintas dan mereka tidak sengaja saling berpapasan satu sama lain. Wulan yang melihat Viona, seketika dendamnya muncul. Dia berdiri lalu langsung menjambak rambut Viona dengan beringas hingga Viona meringis kesakitan. Andai saja Wulan tahu bahwa wanita yang saat ini dia lawan b
Anisa segera dibawa ke ruang operasi karena kini akan segera melahirkan. Bram dalam pikiran kacau, antara marah ataupun haru semuanya menjadi satu dalam hari yang sama. Reyna diam namun dalam hatinya mendoakan Anisa dan bayi yang dikandung Anisa dapat terselamatkan. Dokter yang telah memeriksanya meminta keputusan kepada bram selaku suami dari Anisa.“Kondisi istri anda sangat lemah dan kami takut air ketubannya kering jika terlalu lama tidak ditindaklanjuti. Apakah anda mengizinkan kamu untuk melakukan tindakan operasi pada pasien?” tanya dokter pada Bram.“Apapun itu dok, asalkan anak saya baik-baik saja” ujar Bram dengan tegas.Bram tidak memikirkan Anisa dan seketika itu juga cintanya telah kandas begitu saja. Viona telah berhasil membuat gram berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Viona hanya bisa tersenyum ketika melihat situasi yang sangat indah menurut dirinya. Viona meminta izin untuk keluar dari ruangan kepada Bram sementara Reyna mencoba mengikuti kemana pe






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore