Merebut Hati CEO Tampan

Merebut Hati CEO Tampan

last updateLast Updated : 2023-09-18
By:  PikiCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
7 ratings. 7 reviews
98Chapters
4.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Wilona yang merasa sakit hati dengan kelakuan suami yang bermain dibelakang. Yang lebih menyakitkan, selingkuhannya tidak lain merupakan sahabat dekatnya sendiri. Berhari-hari Wilona sabar, hingga batas kesabarannya pun menghilang. Ia nekat ingin melakukan percobaan bunuh diri dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Namun, saat melakukan percobaan bunuh diri di gedung bioskop lantai tiga, seorang pemuda tampan mencegatnya. Saat hubungan mereka semakin dekat barulah Wilona menyadari bahwa pemuda tersebut merupakan adik angkat si Pelakor. Sementara si Pelakor tersebut bernama Syahnaz. Ia yang mempunyai adik angkat dengan latar belakang orang tua yang kaya raya, tidak ingin harta warisan mereka jatuh di tangan adik angkatnya. Jadi, Syahnaz selain merupakan penghancur rumah tangga Aris dan dan Wilona, Syahnaz juga ingin sangat berambisi ingin hidup kaya raya dengan jalan yang salah melalui menyingkirkan adik angkatnya sendiri. Bagaimana kah kelanjutan ceritanya? Yuk, simak hanya di goodnovel.

View More

Chapter 1

Ke Kantor Suami Tanpa Izin

Jam dinding di lobi gedung Atmaja Group menunjukkan pukul setengah 8 malam, cahaya lampu mulai redup, menyisakan keheningan dan hanya terdengar suara ketukan jemari di atas keyboard laptopnya dan itu berasal dari seorang gadis benama Anya.

Dengan kemeja putih yang masih rapi meski sudah dipakai selama dua belas jam dan rambut cokelat yang digelung sederhana, ia menatap deretan angka di layar. Anya bukan sekadar sekretaris administratif, ia adalah salah satu orang kepercayaan di divisi operasional. Namun, gelar kepercayaan itu tidak cukup untuk membayar tagihan rumah sakit ibunya yang kian membengkak.

Di tengah kesibukannya, tiba-tiba ponselnya bergetar, Anya melihat siapa yang meneleponnya di malam sibuknya dan nama Paman Andi muncul di layar, Anya menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.

[Ya, Paman?] - Anya.

[​Anya, rumah di kampung sudah didatangi orang-orang itu lagi. Ayahmu, dia ternyata menjaminkan sertifikat rumah untuk pinjaman yang lebih besar sebelum dia pergi] - Paman Andi.

Mendengar perkataan Paman Andi, dunia Anya seakan runtuh. Ayahnya telah meninggalkan mereka dua tahun lalu, menyisakan tumpukan utang judi dan bisnis gagal yang tidak pernah Anya ketahui ujungnya. Setiap kali Anya merasa sudah melunasi satu lubang, lubang lain yang lebih besar menganga di depannya.

[​Berapa, Paman?] - Anya.

[Dua miliar, Anya. Jika dalam sebulan tidak dibayar, ibumu harus keluar dari rumah sakit dan rumah itu disita] - Paman Andi.

Dua miliar, bagi seorang karyawan dengan gaji manajer menengah sekalipun, angka itu adalah mimpi buruk. Tanpa mengatakan apapun, Anya menutup telepon itu dan menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kantor yang tinggi. Di sinilah ia, di salah satu gedung termegah di negara A, dikelilingi kemewahan yang bukan miliknya, sementara hidupnya sendiri berada di ujung tanduk.

Anya masih terpaku pada langit-langit plafon yang dihiasi ukiran minimalis modern, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos, mengalir perlahan melewati pelipisnya. Dua miliar rupiah bukan sekadar angka, bagi Anya, itu adalah harga diri, tempat tinggal dan nyawa ibunya.

Anya memejamkan mata, teringat bagaimana ibunya yang kini terbaring lemah di ruang ICU selalu tersenyum meski tubuhnya digerogoti penyakit. Ibunya adalah satu-satunya alasan Anya masih sanggup menelan pahitnya kehidupan di kota. Jika rumah di kampung disita, ke mana ia akan membawa ibunya saat keluar dari rumah sakit nanti dan jika biaya rumah sakit terhenti, Anya tidak sanggup membayangkan monitor jantung itu akan berubah menjadi garis lurus yang statis.

"Satu bulan, Tuhan. dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu bulan?" bisik Anya dalam keheningan.

Anya menghapus kasar air mata yang membasahi pipinya ia tidak boleh terlihat lemah di kantor, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia merapikan barang-barangnya memasukkan laptop ke dalam tas dan melangkah gontai menuju lift. Setiap denting lift yang berhenti di tiap lantai terasa seperti lonceng kematian bagi harapan-harapannya.

Setibanya di lobi bawah, udara malam kota yang lembap menyambutnya, Anya tidak memesan taksi daring seperti biasanya saat lembur. Ia memilih berjalan kaki menuju halte busway terdekat, mencoba menghemat setiap uang yang tersisa di dompetnya. Di dalam bus yang pengap, kepalanya bersandar pada kaca jendela yang dingin, menatap lampu-lampu kota yang buram karena tertutup embun dan sisa air mata.

Sesampainya di kosnya yang terletak di pinggiran kota, Anya merebahkan tubuhnya lalu meraih ponselnya, ia tidak tahu harus bagaimana lagi dan ini adalah harga diri terakhir yang harus ia korbankan.

Anya mulai menggulir daftar kontaknya, nama pertama yang muncul adalah Bibi Ratna, adik dari ibunya yang cukup sukses di luar kota, dengan ragu Anya menekan tombol panggil.

[Halo, Bibi? Ini Anya] - Anya.

[Oh, Anya. Ada apa malam-malam begini? Bibi sedang sibuk menyiapkan acara arisan besok] - Bibi Ratna.

[Bibi, maaf mengganggu. Anya sedang dalam kesulitan besar, rumah di kampung terancam disita karena utang Ayah dan ibu masih di ICU. Apa boleh Anya meminjam uang? Berapa pun yang Bibi punya, Anya akan mencicilnya setiap bulan] - Anya.

Hening sejenak hingga suara Bibi Ratna berubah menjadi dingin dan tajam.

[Anya, bukannya Bibi tidak mau membantu. Tapi, kamu tahu sendiri, anak Bibi baru masuk universitas, biayanya mahal. Lagi pula, utang ayahmu itu seperti sumur tanpa dasar, kamu seharusnya sudah membiarkan rumah itu pergi sejak lama, jangan seret keluarga Bibi ke dalam lubang yang dibuat ayahmu] - Bibi Ratna.

Setelah itu, sambungan diputus sepihak.

Dada Anya terasa sesak, ia mencoba menelan bongkahan pahit di tenggorokannya dan tidak menyerah. Anya mencoba menghubungi sepupunya, Danu yang bekerja di sebuah bank besar.

[Danu, aku butuh bantuan...] - Anya.

[Anya, kalau soal uang. Aku angkat tangan, skor kredit ayahmu itu merah di semua bank. Secara hukum, aku tidak bisa membantu proses pinjaman tanpa jaminan yang jelas dan sertifikat rumah itu? Itu sudah dianggap aset bermasalah. Maaf ya, nanti posisiku di kantor bisa terancam kalau aku memaksakan ini] - Danu.

Satu per satu, orang-orang yang selama ini ia anggap keluarga memberikan punggung mereka, jawaban mereka beragam, mulai dari alasan ekonomi, urusan keluarga sendiri hingga terang-terangan menyalahkan Anya karena terlalu berbakti pada ibu yang hanya menghabiskan uang di rumah sakit.

"Aku tidak punya pilihan lagi, aku harus menghubungi Vira. Mungkin dia bisa bantu aku," gumam Anya.

[Halo, ada apa Anya?] - Vira.

[Vir, aku boleh minta tolong sama aku. Aku butuh uang, Vir. Ayahku menjaminkan rumahku di desa dan biaya rumah sakit ibuku juga harus segera dibayar] - Anya.

[​Aku gak bisa bantu kamu Anya, aku juga butuh uang untuk kehidupanku] - Vira.

[Apa gak bisa bantu dikit aja Vir, dulu pas kamu butuh uang buat semester kamu kan aku bantu] - Anya.

[Kamu gak ikhlas] - Vira.

[Bukannya gak ikhlas...] - Anya.

[Halah! bilang aja gak ikhlas. Lagian ya kamu itu cuma pegawai kantor biasa, mau sampai umur berapa kamu melunasinya? Mending kamu cari om-om kaya aja deh di kota, wajahmu kan cantik pasti banyak yang mau sama kamu, percaya deh sama aku] - Vira.

Anya mematikan ponselnya sebelum temannya itu menyelesaikan kalimatnya, Anya melempar ponsel itu ke atas kasur tipisnya, saran itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya.

Anya meringkuk di atas lantai, memeluk lututnya sendiri. Dinginnya lantai semen tidak sebanding dengan dingin yang menjalar di hatinya, keheningan di kamar itu kini terasa mencekik. Anya merasa seperti pelaut yang kapalnya sedang tenggelam di tengah samudra luas dan semua pelampung yang ia coba raih ternyata terbuat dari batu.

"Ibu, sekarang Anya harus gimana?" gumam Anya.

Pikirannya kembali melayang pada tumpukan tagihan yang terselip di dalam tasnya, dua hari lagi adalah batas terakhir pembayaran uang muka administrasi rumah sakit agar ibunya tidak dipindahkan ke ruang bangsal umum yang fasilitasnya sangat minim. Tanpa uang itu, perawatan intensif ibunya akan dihentikan.

.

.

.

Bersambung.....

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

031_ MADE DANNY ARYA PRADANA
031_ MADE DANNY ARYA PRADANA
Novel menegangkan dan bagus
2024-01-05 16:49:07
0
0
Ayu Widya
Ayu Widya
k...️...️............
2023-10-25 09:01:56
0
0
Ana j
Ana j
nexttt kak, semangat ya
2023-09-12 22:17:17
0
0
Zuroidaa
Zuroidaa
bagus ceritanya lanjut dong
2023-09-12 22:12:36
0
0
Viala La
Viala La
Wahhh bagus Bnget ni cerita.. lanjut kk...
2023-09-12 21:38:01
0
0
98 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status