Chapter: EXTRA CHAPTER “Kau berdebar?” bisik Damian pada lelaki yang sudah memakai setelah jas hitam di sampingnya.“Apa kau bisa dipercaya?” jawab Luciano dengan gerakan bibir minimal dan pandangan tetap ke depan.“Sekarang aku pandai menyimpan rahasia,” ucap Damian masih menjaga sikap di depan banyak orang.Luciano memiringkan sedikit tubuhnya ke kiri, dekat saudara kembarnya. “Aku sudah 12x bolak balik ke toilet. Aku benar-benar gugup.”Damian menunduk sambil menahan tawa.Seorang Luciano King Wilbert, mafia paling ditakuti bisa gugup begitu?“Aku tau kau sedang mengejekku.”“Aku tidak mengejek. Karena aku juga bolak balik ke toilet sampai 13x”Keduanya menunduk dalam dengan bahu berguncang pelan karena tertawa tanpa suara.Bagaimana tidak gugup. Ini adalah hari yang mereka tunggu. Berdiri di dekat altar di sebuah gereja di pinggiran Florence, Italia.Hari pernikahan telah tiba, dan keduanya bersiap menyambut kebahagiaan yang sudah lama dinantikan. Suara gesekan biola di tengah harumnya bunya lily dan ma
Última atualização: 2025-07-31
Chapter: Bab 256 - EndingMobil Damian berhenti perlahan di depan rumah bergaya klasik Prancis yang dulu ingin dia jadikan rumah masa depan.“Mommy, ayo, kita ke kamar ya,” kata Aiden sambil menarik tangan Emma begitu pintu mobil dibuka.Emma sempat menoleh pada Damian yang baru mematikan mesin, tapi tak sempat bertanya. Dia terlalu lelah untuk berpikir banyak. Padahal jelas-jelas Damian menunjukkan rasa bahagianya atas kehamilannya.“Jangan asal tarik, Aiden.” Damian coba memperingati.“Tenang saja, Dad. Aku harus menjaga ibu dan adikku ini,” jawab Aiden sok dewasa.Sesampainya di kamar, Aiden langsung melompat ke tempat tidur, menarik selimut dan memosisikan diri di tengah-tengah.“Kau mengantuk? Sejak sampai, kamu belum makan,” ucap Emma melepas jaket tebal lalu dia gantung di dinding.“Aku sudah makan sebelum sampai ke sini tadi. Aku sudah rindu dengan dongeng yang biasa mommy bacakan.”Emma tersenyum lebar lalu ikut naik ke ranjang dan memasukkan kakinya ke dalam selimut, ikut bergabung. “Cerita apa kali
Última atualização: 2025-07-31
Chapter: Bab 255 - Hamil“Ada apa dengan perutku,” keluh Emma yangEmma tengah duduk di meja makan seorang diri, mengaduk sup hangat yang sedari tadi tak disentuh.Dia menoleh ke jendela di Hari itu, salju pertama musim dingin turun perlahan di atas atap-atap kota kecil di Prancis. Butir-butir putihnya mengambang lembut dari langit kelabu, menciptakan suasana yang hening dan syahdu. Membuat Emma jadi merasa sangat sendiri di dunia ini.“Aku rindu Aiden,” bisiknya.Dia melihat makanannya lagi lalu mencoba untuk memakan. Baru saja dua suap, perutnya mulai mual. Emma buru-buru berdiri, menyingkirkan sendok dan mangkuk, lalu berlari ke wastafel dapur. Tubuhnya membungkuk, muntah begitu saja tanpa sempat menahan. Nafasnya memburu. Matanya memicing menahan pening.“Lagi?” gumamnya pelan, mengusap bibir dan membilas wajah dengan air dingin dari kran.Diatur napas itu, supaya rasa mual tidak kembali muncul. Dia masih diam di tempat dengan telapak tangannya menempel di permukaan dingin wastafel.Akhir-akhir ini dia se
Última atualização: 2025-07-31
Chapter: Bab 254 - Ayo, Menikah!"Apa lihat-lihat?!" tantang Shiena sambil mendongakkan dagu.Tangan Sergio menyentuh dagu mulus Shiena meski disambut pelototan tajam oleh sang empu. "Baru tiga kan?""Bagaimana kalau kita ciuman setiap malam? Ah, sepertinya tiap menit juga sanggup," selorohnya yang langsung mendapat pukulan ringan di lengan kokohnya karena amukan Shiena."Dasar mesum! Pergi dari sini! Aku tidak mau dianggap perebut tunangan orang!" usir Shiena yang bersiap menyiramkan sisa minuman orang yang ada di meja sebelah ke muka tengil Sergio.Tanggap dalam membaca situasi, Sergio spontan menahan tangan gadis cantik dengan celemek pink itu. "Heyy, dengarkan. Beri aku waktu lima menit saja buat jelaskan semuanya ya?""Tidak!" tolak Shiena melengos ke arah lain asal tidak menatap muka tampan yang bisa membuat imannya goyah itu.Sergio menghela napas. "Bagaimana kalau tiga menit? Mau ya?""Tidak! Sekali tidak ya tidak." Shiena menekan setiap kata-katanya.Gemas karena terus saja diabaikan permintaannya, Sergio ti
Última atualização: 2025-07-31
Chapter: Bab 253 - Kedatangan Sergio"Kak, ini pesanan meja nomor 6. Ada notesnya, untuk minum mereka ingin yang less sugar." Shiena memberikan secarik kertas dan menempelkan pada tembok yang memang khusus untuk deretan pesanan customer.Ben mengangguk sambil melempar acungan jempol. "Siap, Kapten!"Malam itu, tepatnya di food court sederhana milik Ben, tampak keramaian memenuhi meja pengunjung. Mengingat sekarang ini bertepatan dengan akhir pekan, suasana semakin larut justru kian padat.Shiena yang bertugas mencatat pesanan para customer pun sampai harus bolak-balik ke meja dan dapur untuk menyampaikannya pada Ben yang memang khusus menangani urusan seluruh masakan yang dihidangkan.Semakin malam, akhirnya jualan mereka habis. Pelanggan yang selesai makan juga satu per satu mulai pulang.“Setengah dua belas. Kakak biasa kerja sendirian sampai jam segini?” Shiena kaget melihat jam di pergelangan tangannya.“Kamu berkata begitu seolah kamu lupa, kalau kamu pun biasa lembur sampai pagi tanpa henti di rumah sakit,” jawab B
Última atualização: 2025-07-31
Chapter: Bab 252 - Anak Angkat“Syukurlah anak itu akhirnya datang juga,” ucap Nyonya Lunara, tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.Tuan Faldo mengangguk singkat. “Suruh dia masuk.”“Baik, Tuan.” Bodyguard tersebut berpamitan sambil membungkukkan badan, memberi hormat sebelum keluar ruangan.Beberapa detik kemudian, muncullah seorang pria bertubuh tinggi semampai, tampil rapi dalam balutan tuxedo hitam mewah. Rambutnya tersisir rapi, ditambah semerbak aroma parfum maskulin yang menegaskan karismanya. Aura ketampanannya seketika mengisi ruangan.“Maaf, saya terlambat,” ujar Sergio terburu-buru, dengan napas sedikit terengah karena dikejar waktu yang begitu sempit.Tuan Faldo menepuk punggung tegap putra sulungnya itu sambil menyunggingkan senyum ringan. “Sibuk sekali dirimu, sampai hampir saja terlambat dalam acara sepenting ini?” tanyanya lalu memeluk singkat.“Kau ini, sebenarnya masih ingat atau tidak bahwa hari ini adalah hari terpenting? Mama curiga, jangan-jangan kau sengaja melupakan agar tidak datang,” tu
Última atualização: 2025-07-31
Chapter: Bab 26 - Kekacauan“Nona, hati-hati!”Pelayan muda itu menahan gerakan Winter yang nyaris menginjak makanan yang tercecer di atas lantai lorong berlapis karpet premium.Gerakan Winter jadi sedikit melambat, tapi bukan karena kotoran. Melainkan karena raganya sedang memproses apa yang sebenarnya terjadi.“Ma ....”Winter menghampiri ibunya yang terjelembab di lantai. Netranya bingung, menelusuri kondisi Diana yang cukup mengenaskan.Tangan wanita paruh baya itu gemetaran menopang tubuhnya yang masih syok. Kakinya juga sebagian memerah, seperti terkena kuah panas. Karena disekitarnya ada beberapa potong daging dan nasi yang basah dan berceceran.Juga ada luka gores, yang bisa jadi akibat terkena pecahan gelas dan piring.“Ada apa, Ma? Mama bawa makanan dan terjatuh?” Winter bertanya sambil membantu Diana untuk duduk dengan baik.Tangan kanannya ingin sekali membersihkan kaki yang basah dan mulai memerah, tapi gerakannya menggantung.“Ini pasti sakit,” cicitnya ingin menangis melihat ibunya nampak mendesis
Última atualização: 2026-04-14
Chapter: Bab 25 - Kompensasi dari Storm"Pelan-pelan, Nona."Perawat yang sejak dari koridor rumah sakit memapah Winter, kini dia membantu wanita itu masuk ke dalam mobil.Setelah duduk dan bersandar lemah, sempat Winter memperhatikan Storm yang masih di luar sana. Lelaki itu terlihat serius bicara dengan Dokter Isabel, sebelum akhirnya mulai mendekati mobil.Coat hitam panjangnya bergerak sepanjang langkah lebar putra pertama Libermon itu. Sampai dia masuk, dan duduk tepat di kursi samping kiri Winter.Tidak ada kata terucap, bahkan sampai mobil kembali melaju menerpa salju yang makin nampak lebat.“Papa dan ibumu sudah pulang," ucap Storm setelah membaca pesan masuk di ponselnya.Barulah dia lanjut bicara usai memasukkan benda pipih itu ke sakunya lagi. “Tensi darahmu stabil, juga tidak memiliki penyakit kronis. Jadi jangan main drama berpura-pura tak bertenaga di hadapan papa."“Tsh ....” Winter terkekeh samar dan berakhir tersenyum miring. Benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya dia yang nyaris pingsan di lorong tadi d
Última atualização: 2026-04-11
Chapter: Bab 24 - Dibawa Storm“Aku berhasil membawakan ini untukmu.” Mark tersenyum lebar begitu masuk ke ruangan Winter sambil mengangkat kantong belanjanya.“Sayang, nanti kamu –“Kalimat Mark terhenti, termasuk langkahnya ikut berhenti begitu netranya menemukan sesuatu yang tak biasa di ruangan Winter.Kertas-kertas yang biasa tertata rapi di map-map dan berjejer di rak, kini berserakan. Ada yang di kursi, di meja, bahkan tercecer di lantai. Bukan karena baru ada kehebohan, atau kerusuhan. Namun, sepertinya pelaku utama adalah Winter sendiri.Wanita itu sedang berdiri di atas kursi, menjinjit, mencoba mengambil sesuatu dari rak atas.“Winter!”Mark refleks bergerak cepat mendekat. Sempat dia meletakkan kantong belanja di meja kemudian menahan kursi yang nyaris oleng kalau saja dia tidak menangkap tepat waktu.“Astaga, kamu sedang apa?”Winter menoleh sedikit saat Mark kini memegang pinggangnya dan membantunya turun dengan hati-hati.“Sedang apa, hm?” tanyanya, jelas tidak suka. “Kalau jatuh bagaimana?”Winter m
Última atualização: 2026-04-10
Chapter: Bab 23 - Dari Siapa Untuk SiapaStorm? Levin? Denzel?Menyebut 'papa', siapa lagi kalau bukan salah satu dari tiga kakak tirinya yang mengirim pesan. Dan tidak ada satu pun nomor yang dia simpan. Termasuk Levin yang pernah mengirim pesan waktu itu saja langsung dia hapus.Winter meletakkan ponselnya tanpa membalas apapun.“Salah siapa tidak menyebutkan nama. Biarkan saja dia menunggu,” gumamnya sambil membuka file di laptopnya.Beberapa saat berlalu dia fokus lagi pada kerjaan, menyusun laporan penyelidikan di folder tersembunyi. Lalu tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu.Ah, kotak makan di atas meja dari Mark rupanya terabaikan sejak tadi. Tepat saat itu, pintu diketuk pelan sebelum akhirnya terbuka sedikit.“Permisi, Winter.”Seorang office boy berhenti lebih dulu.“Oh, iya.” Dia melihat OB itu tersenyum kecil lalu masuk membawa sapu dan tempat sampah.“Bagian mana yang perlu aku bawa?” tanyanya.Tadi Winter memang meminta OB untuk membersihkan beberapa dokumen yang sudah tak terpakai. Supaya rak-raknya bisa se
Última atualização: 2026-04-10
Chapter: Bab 22 - MerayuPintu ruangan terbuka tanpa ketukan, disusul aroma parfum yang sangat Winter kenal. Namun, tidak membuatnya menoleh. Dia masih berdiri di depan dinding kaca sambil membaca berkas di tangannya.Sudah berjam-jam setelah Tuan Anthony keluar ruangan, tidak ada yang berani masuk untuk mengganggu detektif itu. Kecuali sekarang, Mark.“Masih marah?”Tanya lelaki yang sedang menutup pintu sambil menenteng paper bag lalu dia letakkan di atas meja kerja.“Mereka takut masuk, padahal ingin bertemu denganmu.”Ucapan itu belum menarik atensi Winter sedikitpun. Seakan kehadiran Mark tidak dianggap sama sekali.“Jangan salah paham. Kita semua satu tim. Aku rasa bicara dengan kepala dingin bisa menyelesaikan semua lebih baik dari perkiraan.”Lelaki berjas hitam dan rambut tersisir rapi itu akhirnya mendekat.“Sayang.…” panggilnya lembut, berniat menarik pinggang ramping Winter.Dia pikir wanita yang masih dia anggap sebagai calon istri itu akan diam saja. Ternyata tidak, Winter refleks menggeser posis
Última atualização: 2026-04-09
Chapter: Bab 21 - Mencari PengkhianatSayang?Panggilan itu membuat Lana sedikit bereaksi menatap Mark sambil meremat sisi celana kainnya.“Kita akan urus itu di belakang. Aku rasa Tuan Santiago akan senang kalau ada data lengkap dan matang untuk diserahkan ke media,” lanjut lelaki yang masih mencoba melunakkan hati Winter dengan tatapan hangatnya.Ada seringai tipis yang terbit di bibir sang detektif muda, yang tidak Mark lihat. Baiklah, kalau ini permainan yang mereka susun dia akan ikut.Dia ingin melihat sejauh mana dirinya telah dibodohi. Dan siapa saja yang selama ini berusaha menjatuhkannya. Winter tidak mau usahanya selama satu tahun ini sia-sia hanya karena dia salah menembak lawan.“Ya, kita memang perlu bicara,” jawab Winter ringan, pun ada senyuman tipis. Namun, matanya tajam penuh strategi. Membuat Mark tidak bisa lama-lama menatap.Santiago akhirnya menghela napas panjang, masih mencoba mencerna situasi. Kalau bukan janji tentang data Libermon, dia pasti akan marah karena berani memutus jalannya rapat.“Baik
Última atualização: 2026-04-09
Terjebak Pernikahan Penuh Derita
Allice Lovania tak menyangka kalau dia ditakdirkan sebagai istri kedua Arsenio Mahardika, CEO berwibawa, suami sahabatnya sendiri.
Namun, sebuah tragedi membuat Allice dituduh sudah membunuh istri pertama Arsen, tepat di malam pertama pernikahan dirinya.
"Rupanya kamu bukan hanya wanita penggoda, tapi juga pembunuh! Jadi, nikmati saja dunia gelapmu ini, Nyonya Mahardika!” Arsen menatap Allice dengan seringai penuh kebencian.
Sejak hari itu, Arsen menjadikan pernikahan mereka bagai neraka. Dia tak pernah memberikan cinta apalagi perhatian pada Allice sedikitpun, bahkan kerap menyakiti.
Allice kira, dia akan terbebas dari dendam Arsen setelah dia memberikan keturunan. Tapi tidak, Arsen masih saja mengikatnya begitu erat dan menyesakkan.
Akankah Allice bisa membuktikan jika dirinya bukanlah pembunuh? Atau kehadiran cinta dari anak mereka bisa mengalahkan dendam di hati Arsen?
Follow Instagram author @ute_glider
Ler
Chapter: HAPPY ENDINGDrrttt ... Drrttt ... Drrttt ...Gerakan polesan brush berwarna pink di sela jari telunjuk juga jempol berkutek peach itu seketika terhenti.Atensi wanita cantik yang tengah duduk di kursi rias langsung beralih pada sebuah ponsel yang tergeletak di atas nakas."Siapa ya?" Tangan Nadya terulur, meraih benda pipih nan canggih tersebut.Begitu sepasang netra amber ini menyorot sebuah nama yang tertera di layar ponsel dalam genggamannya, detik itu juga Nadya membuka mulutnya lebar-lebar dengan raut terkejut."Wah serius ini Allice video call?!"Tanpa ba-bi-bu, Nadya segera menggeser icon hijau tersebut dan saat itu juga pandangannya disambut senyum juga lambaian tangan dari Allice di sebrang sana."Haii, Nad!" sapa Allice dengan wajah sumringahnya.Nadya tersenyum lebar lalu ikut melambaikan tangan. " Allice haloo!""Ih kangen banget aku sama Allice tau. Udah setahun lebih nggak ketemu kan kita?" tanyanya sambil mengingat-ingat kapan terakhir berjumpa.Tawa Allice meluncur renyah. "Iya ma
Última atualização: 2024-07-04
Chapter: Janji Suci"Kamu yakin ini rumahnya?"Oscar menoleh ke kiri, menatap wanita cantik dengan blouse dusty pink yang kini sebelah tangannya menggenggam stroller bayi berwarna senada."Iya bener kok ini tempatnya. Tunggu, biar aku yang tekan belnya," sahut Nadya yang setelahnya langsung mengulurkan tangan, menekan bel di dinding berwarna silver itu. Menunggu beberapa detik, barulah pintu terbuka. Menampilkan sosok wanita dengan rambut digelung indah yang muncul dengan raut terkejut."Nadya? Ini beneran kamu? Udah sehat?" pekik Allice begitu senang melihat Nadya di hadapannya setelah 2 bulan tanpa kabar.Terakhir Nadya ijin melalui pesan singkat kalau dirinya akan ke Italia untuk mengurus ini dan itu di kediaman Oscar sebelum melangsungkan pernikahan.Wanita muda berblouse dusty pink itu terkekeh geli. Dipeluknya tubuh Allice seperti seorang adik yang merindukan kakaknya."Surprise! Yes, it's me, Allice," timpal Nadya masih dengan tawa jahilnya sebab merasa berhasil membuat kejutan ini.Allice mengura
Última atualização: 2024-07-04
Chapter: Akhir Kisah Mereka"Kamu gila ya?! Kamu pikir nikah itu seperti anak kecil merengek minta dibelikan permen?" Nadya mendelik tajam, jelas saja ia melayangkan protes.Manusia mana yang tiba-tiba dengan asal mendesaknya menikah padahal belum juga ada pembicaraan khusus ke arah sana.Ya meskipun sudah ada Isabel di antara dirinya dan Oscar, tapi tetap saja butuh waktu juga persiapan untuk menuju ke jenjang pernikahan yang sebenarnya.Oscar melirik Lexa yang menyembulkan kepala di balik pintu kamarnya. Lalu, dilemparnya kode agar adiknya itu berhenti mengintip.Seolah tahu kakaknya butuh privasi, akhirnya Lexa menurut dan mundur dari sana. Memberi ruang pada dua orang dewasa di ruang tengah itu.Dirasa waktunya sudah tepat, Oscar segera mengalihkan atensi wanita di hadapannya ini. "Kamu lapar kan? Ke dapur sebentar yuk.""Mau aku buatkan makanan apa?" tawarnya dengan nada selembut mungkin. Enggan membuat Nadya merasa tak nyaman berada di dekatnya.Sebelah alis Nadya terangkat. Sedikit merasa aneh mengetahui
Última atualização: 2024-06-30
Chapter: Ayo, Menikah!"Loh, kalian sudah pulang?"Membuka pintu mansion megah tersebut, kelopak mata Imelda terbuka lebar juga mulutnya menganga saat mengetahui siapa yang datang.Bukan. Bukan karena Imelda tak suka, melainkan heran dan ekspetasinya sedikit meleset."Kenapa tidak kasih kabar dulu? Mama kan bisa jemput di bandara. Terus Nadya mana? Kok tidak bareng sama kalian?"Runtutan pertanyaan itu seketika membombardir Allice juga Arsen yang saling melempar pandang dan menahan senyum.Arsen menyahut enteng. "Anggap aja ini surprise, Ma. Lagi pula, Mama tidak senang aku dan Allice pulang lebih cepat?""Memangnya Mama tidak rindu pada Brian dan Anna?"Baru saja kedua nama bocah itu disebut, kakak beradik tersebut turun dari mobil ditemani suster mereka yang juga ikut saat terbang ke kota tempat tinggal Nadya kemarin."Omaa!" pekik Anna sambil berlari kencang ke pelukan Imelda.Untung saja, Imelda dengan sigap menangkap tubuh mungil cucunya yang selalu menggemaskan ini. "Ututuu ... Cucu Oma yang cantik."
Última atualização: 2024-06-30
Chapter: Mulai Membuka Hati LagiSuara tangisan bayi di dalam box khusus itu menggema di seluruh penjuru ruang bernuansa putih ini.Nadya yang semula nyaris memejamkan mata spontan terperanjat dan refleks mengalihkan pandangan ke arah sang putri kecil yang menangis keras."Cup cup cup, Sayang. Bunda di sini, Nak," ucap Nadya sambil tangannya terulur, menggoyangkan box tersebut dengan lembut, mencoba menenangkan bayinya.Namun ternyata, gerakan itu tak cukup untuk membuat putrinya diam dan kembali terlelap. Yang ada justru tangisnya kian menjadi-jadi.Hal tersebut jelas membuat Nadya kelimpungan dan panik. Jujur saja, tubuhnya masih belum bisa diajak kompromi hanya untuk turun dari ranjang lalu sekadar menggendong tubuh mungil itu."Aduh ... Aku mesti gimana?" gusar Nadya dengan tubuh lemas juga wajah pucatnya itu.Hati ibu mana yang tega membiarkan bayinya menangis. Nadya akhirnya memaksakan diri untuk mendudukkan badan yang rasanya tak karuan ini."Eh tunggu! Tetap di sana. Biar aku aja," cegah Oscar yang tiba-tiba
Última atualização: 2024-06-30
Chapter: Mengungkap SemuaSuara ketukan di balik pintu ruangan bernuansa putih pucat itu sampai ke telinga seorang wanita berambut panjang yang duduk bersandar di brankar dengan wajah datar.Nadya refleks menoleh. Atensinya beralih pada gadis berkaki jenjang yang kini mengenakan outfit casual dibalut dengan syal tipis yang melingkar di leher."Excuse me, apa aku boleh masuk?" izin gadis berbola mata biru cerah di ambang pintu tersebut.Meski sorot mata keduanya bertemu di satu titik yang sama, bibir Nadya tetap terkatup rapat. Ia tak menyahut. Membiarkan tamunya masuk dengan sendirinya.Dengan senyum ramah, gadis itu menghampiri brankar Nadya. "Maaf kalau aku menganggu waktu kamu berisitirahat, tapi izinkan aku memperkenalkan diri."Di sana sudah ada box bayi. Di mana bayi yang belum berumur 1 minggu itu tengah tertidur pulas setelah suster memacu ASI Nadya lalu bayi pun minum ASI untuk pertama kali. Pertama kali pula bayi itu kenyang dan tidur pulas di dalam box.Baiklah, jadi Lexa punya banyak waktu untuk bi
Última atualização: 2024-06-30