MasukRika membiarkan Valdi bertindak semena-mena, mengkhianati, dan menyakiti. Tapi diamnya Rika bukan tanpa tanpa alasan. Hingga nanti di saat yang tepat, Rika akan meninggalkan Valdi. Dan Valdi akan shock setelah kepergian Rika. Valdi baru sadar akan betapa sulitnya hidup tanpa bantuan Rika.
Lihat lebih banyakThe ground was frozen beneath my feet, crunching under the soles of my shoes as I walked onto the construction site. It was freezing out and we had at least another couple of months left before we’d get any respite from the cold.
As a Boston boy, born and bred, I was used to the cold. Didn’t mean I had to like it, though. My cheeks burned when a sudden gust of wind blew through the tunneling on the site that would soon be unveiled as the newest museum ready to be added to Boston’s collection.
Reaching up, I rearranged the scarf around my neck and tucked my chin into it. Moving to warmer climates sure felt like a great idea right around now.
Maybe my dad had a point by spending most of his time down in Texas. A little sunshine never hurt anyone. Dad always said he would’ve gone mad if he had to stay in Boston year round.
Dad.
Fuck. It was hard to believe he was really gone.
Shoving my gloved hands into my pockets, I released a heavy sigh. It was too easy to just believe he was still in Texas and that was why he hadn’t been home for Christmas.
It wasn’t that.
He wasn’t there.
Some tools lying on the ledge of a half built wall with a tape measure on the ground caught my eye, distracting me from my miserable thoughts. There was a work bench right there, the tools and the tape measure should have been on it.
I scooped up the offending items and stowed them where they should have been all along.
Things had a place and I liked it when they were in it, or on it in this case. I didn’t understand why it was so difficult to put stuff in its proper place. Working on the job site all the time, surely they knew it was dangerous to leave things lying around.
Dwelling on it wasn’t why I was here, though. Following the low hum of men’s voices, I walked up to what would become the museum’s main entrance.
No matter how many times I experienced it, I still paused to take in one of my designs come to life. Sitting down at a drafting table with a pencil, I saw my buildings in my mind’s eye long before they were at this point of construction. It was always a thrill to see my drawings springing to life, changing the city scape in one way or another.
A big change or a small one, the rush remained the same. I couldn’t imagine a better job.
“Well, well, if it isn’t the architect himself.” A loud voice boomed behind me. “Come to check up on us?”
I turned to the voice, coming face to face with a six foot four brick of a man. He probably didn’t even know where the gym was, but his nine or ten hour work days on construction sites showed. A guy like him didn’t need a gym to be as big as he was. Bastard.
Shaggy, light brown hair peaked out from under a woolen beanie. There was concrete dust on his black work coat and thick sludge on his boots. He had the kind of rugged face you would expect to see a scowl on, but Craig was almost always grinning.
Smirking at my lead contractor and best friend, I said. “Someone’s got to check up on you, Craig. Just to make sure you’re not down here drinking beer or getting laid on my tarps.”
“You know me too well,” he joked, winking a hazel eye at me. “Thank fuck I just finished the keg and kicked the girl out. Wouldn’t want the boss to fire me.”
“You probably shouldn’t have told the boss about the girl or the keg then, genius,” I shot back, knowing there was no way he would ever fuck around on the job. “If you promise to save me a beer next time, I’ll let it slide just this once.”
Bringing two tattooed fingers to his big forehead in a mock salute, he laughed. “You got it, boss man. What are you doing standing out here? You’ll freeze your balls off. Let’s get our asses inside before we freeze them off, too. Wouldn’t want to disappoint the women of Boston by losing two of its sexiest butts. Or your balls, for that matter.”
“I don’t give a shit about the women, but I couldn’t afford the time off to be treated for frostbite,” I replied, walking up the five steps into the foyer of the museum. “Another day away from the office and I wouldn’t be able to catch up even if I had the rest of the year to do it.”
The glass front of the building hadn’t been installed yet, but having walls on three sides shielded us effectively enough from the biting wind. It wasn’t much of a consolation, but at least it was a little warmer.
“Yeah, wouldn’t want to hold up construction if both of us ended up in the hospital,” Craig said, following me into the half completed building.
“Since you mentioned hold ups, how are we doing on timing?” I asked, shaking out my stiff arms while bouncing lightly on the balls of my feet to try to restore proper blood flow to my extremities. I didn’t particularly feel like losing my butt, balls or fingers to the weather. “I need to know if you think we’re going to run into any penalties.”
“Not on my watch,” Craig replied, his tone becoming more serious. “We’ll get it done on time. I’m glad you’re here, though. I wanted to show you something.”
“Show me what?” I wasn’t ashamed to admit that I was a perfectionist when it came to my job. Everything had to be just right. From the look on Craig’s face and the way his forehead furrowed, something was wrong. “What is it?”
Hunching his broad shoulders, he jerked his head at one of the corners of the building. “They’re not at a perfect angle. I built them exactly according to your design, but they’re a little off.”
Bab 147Beberapa tahun kemudian...Aku dan Rangga baru saja keluar dari sebuah area sekolah berbasis internasional terkemuka di pusat ibukota. Iya Clara anakku sekarang sedang menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Di sekolah berbasis internasional itu Clara telah mengukir berbagai prestasi. Hingga membuatnya mendapat beasiswa. Bahkan prestasi yang telah dia dapatkan membuatnya bisa mendapatkan beasiswa hingga ke fakultas kedokteran nanti. Itu adalah salah satu kebahagiaan terbesar yang pernah aku miliki. "Sedangkan disampingku, seorang pria tampan nan gagah tengah mendorong stroller dengan seorang bayi lucu yang tengah berada di dalamnya. Sesekali terdengar gelak tawa lucu menggemaskan yang berasal dari sang baby. Pria tampan yang sedang mendorong stroller itu adalah Rangga. Ya, kalian tidak sedang salah baca, pria itu adalah Rangga.Iya orang-orang mengatakan jika sekarang aku dan Rangga adalah sepasang suami istri. Akan sulit untuk dipercaya mengingat dulu kami hanyalah rekan bi
Bab 146Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah mengabulkan permintaan keluarga mereka untuk mencabut laporan itu. Apapun alasannya! Hingga keputusanku membuat mereka kelihatan seperti enggan untuk menghampiriku lagi. Tapi tidak mengapa aku justru bersyukur dengan sikap mereka demikian. Menurutku akan jauh lebih baik dihindari oleh orang-orang seperti mereka, lebih baik dianggap jahat daripada dianggap baik tapi selalu dimanfaatkan. Mungkin saja mereka berpikir jika aku bisa kembali bersikap seperti dulu. Tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi. Sikap Valdi terhadap putriku telah menghancurkan semuanya. Laki-laki itu tidak pernah bisa menjadi Ayah maupun suami yang baik. Lebih baik Aku mengucapkan selamat tinggal kepada pria model begitu.***Beberapa waktu telah berlalu semua vonis yang ditujukan kepada Valdli resmi diputuskan oleh hakim. Karena kesalahan yang telah Dia berbuat maka dia harus menuai hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku tanpa ada keringanan dari pihak manapun.
Bab 145"Eh, Pa. Papa ngapain kesini? Udah Papa pulang duluan sana. Aku masih mau nemuin temen aku." Ucap Mel dengan terburu-buru."Dek, kok kamu ngomong kayak gini? Panggilan tiba-tiba berubah. Biasa panggil "Mas", kok sekarang bisa panggil"Papa"?" Suaminya nampak heran. Namun Mel dengan cepat cepat memberi isyarat pada suaminya untuk diam segera."Heyy... Aku bilang kamu pulang dulu, banyak bicara banget, pulang dulu ganti baju sana. Kok kucel banget!" Mel mengomel. Meski omelan itu tidak terlalu keras namun kami masih bisa mendengar dengan baik.Sebenarnya aku mau tertawa mendengarnya, selama yang aku tahu, Mel memanggil suaminya bukanlah dengan panggilan Papa melainkan Mas. Aneh saja mendengar panggilannya berubah tiba-tiba begini."Dek, Mas cuma mau ambil kunci kontrakan," Ucap suaminya."Ooh, kunci kontrakan kita, bentar," Mel merogoh tas."Nih! Cepat pergi sono!" Usir Mel setelah menyodorkan kunci.Mungkin melihat raut muka Mel yang sangat berubah naik pitam, suami Mel langsu
Bab 144"Lho Mel, limit tarik tunai via atm kan cuma bisa sebatas sepuluh juta? Kok kamu bisa narik lima puluh juta sekaligus sih?"Ha... ha... aku ikut terkekeh mendengarnya. Pertanyaan Dini memang menyerang mental."Nggak, nggak, maksudku bukan gitu, Ah udahlah lupakan kata-kata aku yang tadi," ujar Mel."Maaf banget ya, Din. Aku tadi cuma pengen pinjem uang gitu sama kamu, soalnya kan nggak lama. Sampai sore besok aku kembaliin," ujar Mel kembali."Mana ada aku uang segitu Mel, gaji aku juga cuma UMR. Lagian juga penghasilan kamu dan suami kamu kan udah puluhan juta. Masa iya kamu nggak malu bilang mau pinjam sama karyawan yang gaji UMR kayak aku. Kalau kamu sama suami kamu emang punya gaji gede, Nggak mungkin lah mau pinjam sama aku. Aneh," ujar Dini."Eh kamu nggak usah ngomong kayak gitu Din. Aku bilang pengen pinjam sama kamu tuh karena uang aku barusan aja dipinjam sama orang." "Loh kamu udah tahu kalau kamu sedang butuh uang kenapa malah minjemin orang?" sambar Dini."Idih k
Bab 141"Tentu saja. Ketika seseorang sedang membutuhkan pertolongan, sedangkan aku bisa untuk mengulurkan bantuan tersebut, maka tidak mungkin aku mengabaikannya. Demikian juga hal-nya denganmu," ucapku berusaha untuk menarik kepercayaannya."Sebenarnya...," Melia tidak melanjutkan kata-katanya, sepe
Samar-samar aku mendengar orang-orang mengobrol dengan suara yang agak keras dari samping rumah. Aku sedikit heran soalnya selama aku berada di rumah ini, tidak pernah aku mendengar tetangga yang mulutnya keras dan amburadul seperti ini. Suara-suara mereka tak kupungkiri sangatlah mengganggu."Ma, It
Disini, aku dan Rangga duduk menghadap sebuah meja kecil bundar. Hatiku tak bisa dikatakan bahagia atau berduka. Hatiku tengah berada di tengah ambang. "Rika!" Rangga menegurku."Ya.""Kamu seperti masih belum bisa percaya padaku," ucapnya lirih."Entahlah," aku menghela nafas."Aku bersungguh-sungguh,
Bab 75Pertunangan itu terjadi begitu mendadak. Aku bahkan belum bisa sadar sepenuhnya. Bagaimana bisa Rangga mengatur lamaran di depan orangtuaku? Aku menjadi sangat malu ketika melangkahkan kaki menuju kantor. Aku tak bisa membayangkan orang-orang di kantor akan meledekku. Ya ampun Rangga, kau memb






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan