LOGINDipaksa menggugurkan bayi di kandungan adalah perintah terburuk dari suaminya untuk Karissa. Selama 3 tahun dia berusaha mengambil hati Damian Morgan, seorang pria yang di luar dikenal sebagai pengusaha sukses dan dermawan. Nyatanya, Damian tidak pernah bisa memposisikan diri layaknya suami. Damian hanya pulang saat kebutuhan biologisnya ingin dipuaskan. Sikap dingin dan tak peduli juga selalu Karissa dapatkan. Jika bukan cinta dan balas budi, perempuan itu sudah meninggalkan Damian sejak lama.
View MoreANGEL
The fact of the matter was that nobody could outrun their past indefinitely. At one point or another, it would appear in front of you like a charging bull inside of a china shop, threatening to destroy everything within its wake.
Something that I had recently learned was that trust needed to be earned instead of blindly given. Had I not been so trusting, had not allowed myself to ignore my instincts, then I might not even be here right now. Goddess, I had been so damn blind and had nobody to blame myself for falling into this carefully created trap.
I had always prided myself on my strength. It had been hounded into me that I could overcome anything just as long as I fought hard enough and continued fighting no matter what. The reality was that it was much easier said than done when the time came to put that plan into action.
Betrayal – the word itself stung, slicing into me like a silver dagger, serrating everything it touched. How had I been so blind to not have seen the snake before it struck me and tossed me into the lion’s den as if I was nothing but a raw steak.
Who would have known that dealing with my past would have me dealing with a devil that dressed in designer suits and wielded his authority like the Grim Reaper’s scythe, threatening to obliterate all that it contacted with?
I had once read it was when the chips were down that one could envision their true source of strength. Their faces were the only thing keeping me sane enough to fight. They had always been right there beside me, helping me to accomplish the impossible. It was for them that I would fight – them and our future. All I could hope for was that they would find me before it was too late.
There was some reason that this designer devil wanted me. To survive, I just needed to figure out what that was before everything was lost. That should be a piece of cake, right?
I might be shackled like a prisoner and cut off from everyone that I loved, but there was one thing that I was not – a victim. I was a fighter, one that would either succeed or fall into oblivion after using up every last ounce of that fight.
The door creaked open to reveal none other than the devil himself. His eyes were lit with amusement as he catalogued each injury that he saw, enjoying my suffering.
Game on, asshat.
-----
This is a continuation of the original Fated series, so I do suggest reading those as well for the full context. This book is the first of the next generation books.The previous books are:
- Fated Rejection – Fated Claim (Book 1)
- Fated Soul – Fated Light (Book 2) - Fated Power – Fated Destiny (Book 3)The previous books in the Dark Moon series (Cross-over series) are:
- His Hunt For Redemption (Book 1)
- Design of Fate (Book 2)“Kau berdebar?” bisik Damian pada lelaki yang sudah memakai setelah jas hitam di sampingnya.“Apa kau bisa dipercaya?” jawab Luciano dengan gerakan bibir minimal dan pandangan tetap ke depan.“Sekarang aku pandai menyimpan rahasia,” ucap Damian masih menjaga sikap di depan banyak orang.Luciano memiringkan sedikit tubuhnya ke kiri, dekat saudara kembarnya. “Aku sudah 12x bolak balik ke toilet. Aku benar-benar gugup.”Damian menunduk sambil menahan tawa.Seorang Luciano King Wilbert, mafia paling ditakuti bisa gugup begitu?“Aku tau kau sedang mengejekku.”“Aku tidak mengejek. Karena aku juga bolak balik ke toilet sampai 13x”Keduanya menunduk dalam dengan bahu berguncang pelan karena tertawa tanpa suara.Bagaimana tidak gugup. Ini adalah hari yang mereka tunggu. Berdiri di dekat altar di sebuah gereja di pinggiran Florence, Italia.Hari pernikahan telah tiba, dan keduanya bersiap menyambut kebahagiaan yang sudah lama dinantikan. Suara gesekan biola di tengah harumnya bunya lily dan ma
Mobil Damian berhenti perlahan di depan rumah bergaya klasik Prancis yang dulu ingin dia jadikan rumah masa depan.“Mommy, ayo, kita ke kamar ya,” kata Aiden sambil menarik tangan Emma begitu pintu mobil dibuka.Emma sempat menoleh pada Damian yang baru mematikan mesin, tapi tak sempat bertanya. Dia terlalu lelah untuk berpikir banyak. Padahal jelas-jelas Damian menunjukkan rasa bahagianya atas kehamilannya.“Jangan asal tarik, Aiden.” Damian coba memperingati.“Tenang saja, Dad. Aku harus menjaga ibu dan adikku ini,” jawab Aiden sok dewasa.Sesampainya di kamar, Aiden langsung melompat ke tempat tidur, menarik selimut dan memosisikan diri di tengah-tengah.“Kau mengantuk? Sejak sampai, kamu belum makan,” ucap Emma melepas jaket tebal lalu dia gantung di dinding.“Aku sudah makan sebelum sampai ke sini tadi. Aku sudah rindu dengan dongeng yang biasa mommy bacakan.”Emma tersenyum lebar lalu ikut naik ke ranjang dan memasukkan kakinya ke dalam selimut, ikut bergabung. “Cerita apa kali
“Ada apa dengan perutku,” keluh Emma yangEmma tengah duduk di meja makan seorang diri, mengaduk sup hangat yang sedari tadi tak disentuh.Dia menoleh ke jendela di Hari itu, salju pertama musim dingin turun perlahan di atas atap-atap kota kecil di Prancis. Butir-butir putihnya mengambang lembut dari langit kelabu, menciptakan suasana yang hening dan syahdu. Membuat Emma jadi merasa sangat sendiri di dunia ini.“Aku rindu Aiden,” bisiknya.Dia melihat makanannya lagi lalu mencoba untuk memakan. Baru saja dua suap, perutnya mulai mual. Emma buru-buru berdiri, menyingkirkan sendok dan mangkuk, lalu berlari ke wastafel dapur. Tubuhnya membungkuk, muntah begitu saja tanpa sempat menahan. Nafasnya memburu. Matanya memicing menahan pening.“Lagi?” gumamnya pelan, mengusap bibir dan membilas wajah dengan air dingin dari kran.Diatur napas itu, supaya rasa mual tidak kembali muncul. Dia masih diam di tempat dengan telapak tangannya menempel di permukaan dingin wastafel.Akhir-akhir ini dia se
"Apa lihat-lihat?!" tantang Shiena sambil mendongakkan dagu.Tangan Sergio menyentuh dagu mulus Shiena meski disambut pelototan tajam oleh sang empu. "Baru tiga kan?""Bagaimana kalau kita ciuman setiap malam? Ah, sepertinya tiap menit juga sanggup," selorohnya yang langsung mendapat pukulan ringan di lengan kokohnya karena amukan Shiena."Dasar mesum! Pergi dari sini! Aku tidak mau dianggap perebut tunangan orang!" usir Shiena yang bersiap menyiramkan sisa minuman orang yang ada di meja sebelah ke muka tengil Sergio.Tanggap dalam membaca situasi, Sergio spontan menahan tangan gadis cantik dengan celemek pink itu. "Heyy, dengarkan. Beri aku waktu lima menit saja buat jelaskan semuanya ya?""Tidak!" tolak Shiena melengos ke arah lain asal tidak menatap muka tampan yang bisa membuat imannya goyah itu.Sergio menghela napas. "Bagaimana kalau tiga menit? Mau ya?""Tidak! Sekali tidak ya tidak." Shiena menekan setiap kata-katanya.Gemas karena terus saja diabaikan permintaannya, Sergio ti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore