Chapter: Bonus Chapter (Memulai Hidup Baru)"Bernice, maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk membawa Jensen." Lucia memeluk adik Dean dengan mata yang memerah. Setelah pulang dari pusat perbelanjaan, Lucia langsung meminta Dean untuk mengantarnya ke rumah sakit tempat Bernice dirawat. Setelah itu, Dean mengantar ibunya untuk pulang ke apartemen. Jadi saat ini, mereka hanya berdua. "Jensen tidak akan kembali. Dia sudah memiliki kehidupan baru dengan orang lain. Tolong relakan dia. Aku yakin suatu saat nanti, kau akan menemukan pria yang tulus mencintaimu," ucap Lucia dengan suara bergetar. "Kau bisa melampiaskan kemarahanmu padaku, kapan pun kau mau. Aku berjanji akan menebus kesalahan kakakku seumur hidupku." Lucia tidak bisa lagi membendung air mata yang sejak tadi dia berusaha tahan. Tubuh bergetar, karena berusaha meredam suara tangisnya. "Akan kulakukan apa pun demi kesembuhanmu." Hening selama beberapa saat. Setelah itu, tiba-tiba saja Lucia mendengar suara lirih Bernice, "Kak, aku mau pulang." Lucia
Last Updated: 2024-02-15
Chapter: Bonus Chapter (Pertemuan Lucia dengan Gevin)"Lucia, aku ke toilet dulu," kata Dean sambil berdiri. "Kau tunggu di sini dulu." "Baiklah." Saat ini, mereka sedang berada di restoran yang ada di pusat perbelanjaan di kota Bristol. Mereka baru saja dari rumah sakit sebelum ke sana. Rencananya mereka akan kembali ke kota Y tiga hari lagi. Itu sebabnya, mereka ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan Dokter kandungan sekaligus meminta surat izin untuk melakukan penerbangan jarak jauh. Untuk pulang ke negaranya, Dean sengaja menyewa seorang Dokter Kandungan selama mereka melakukan penerbangan, karena takut terjadi apa-apa dengan istrinya selama penerbangan. Beruntung Dean menggunakan jet pribadi. Jadi, segala sesuatunya sudah diurus sedemikian rupa demi kenyaman Lucia selama penerbangan. Sudah 4 hari Dean berada di Bristol. Jadi, dia harus segera kembali ke kota Y, dikarenakan banyak pekerjaan yang sudah menunggunya. Sebenarnya, Lucia masih ingin di Bristol menemani Bernice dan ibu mertuanya. Hanya saja, Dean melarangnya, karena
Last Updated: 2024-02-15
Chapter: Bab 127 Fokus Pada Masa Depan (END)"Kau yakin tidak mau dirawat?" tanya Dean setelah keluar dari ruangan Dokter Kandungan. Mereka baru saja selesai memeriksakan kehamilan Lucia. Setelah istrinya bangun dan selesai sarapan, Dean langsung mengajaknya ke rumah sakit. Dia sangat khawatir dengan kondisi janin dalam perut istrinya, mengingat bagaimana semalam dia menggempur istrinya. Selain itu juga, Lucia belum pernah memeriksakan lagi kehamilannya semenjak mengetahui dirinya hamil seminggu yang lalu. Itu sebabnya, dia mengajak istrinya untuk memeriksakan kondisi kehamilannya. Lucia yang juga ingin tahu tentang janin dalam kandunganya, tidak menolak ketika Dean mengajaknya untuk ke rumah sakit. Lagi pula, dia memang sengaja menunggu Dean karena ingin memeriksakan kehamilannya bersama suaminya. "Aku baik-baik saja, Dean. Kau dengar sendiri bukan apa yang dikatakan oleh Dokter tadi?" Dean mengangguk ringan, kemudian tersenyum tipis. Setelah mengetahui tidak terjadi apa-apa dengan kandungan istrinya, dia baru bisa bernapas
Last Updated: 2024-02-14
Chapter: Bab 126 Hamil"Bu, di mana istriku?" Dean bertanya sembari berjalan mendekati ibunya yang sedang duduk di sofa ruangan keluarga. Dean baru saja tiba di apartemen yang disewa ibunya selama tinggal di Bristol. "Dia di kamarnya," jawab Nyonya Arnetta. "Kenapa kau baru ke sini?" Dean menggulung lengan kemejanya setelah itu berkata, "Ada sedikit masalah di perusahaan, jadi terpaksa aku memundurkan penerbanganku." "Istrimu sudah menunggumu sejak dua hari yang lalu. Kasihan dia kecewa saat tahu kau tidak jadi ke sini. Sudah dua hari ini dia nampak sedih dan lesu." Dean sedikit terkejut mendengar itu. Pasalnya, setiap berkomunikasi dengan istrinya, Lucia tidak pernah menampilkan raut wajah sedih dan kecewa. "Apa dia sedang sakit?" "Dia sedang tidak enak badan. Sejak kemarin dia—" Belum usai ibunya bicara, Dean langsung memotong setelah mendengar istrinya tidak enak badan. "Aku akan menemuinya." "Dean istrimu sedang ..." Dean bergegas menuju kamar yang ditempati Lucia tanpa menunggu penjelasan lengk
Last Updated: 2024-02-11
Chapter: Bab 125 Tidak Mau Menikah Dengannya"Di mana Carissa?" tanya Dean setelah asistennya masuk ke ruangan kerjanya. "Sedang dalam perjalanan, Tuan." "Lalu, Rebecca?" "Sudah di tempat yang Tuan perintahkan." Dean berpikir sebentar, lalu berkata, "Tunggu di bawah. Aku hubungi istriku dulu." Nolan menjawab seraya mengangguk, kemudian keluar dari ruangan itu. "Sayang, kau sedang apa?" tanya Dean setelah panggilan telponnya tersambung. "Baru selesai makan. Kau kapan ke sini?" Terdengar suara Lucia di ujung telpon. "Belum tahu. Pekerjaanku masih banyak." Tidak terdengar apa pun di sebrang sana hingga Dean kembali membuka suara, "Kenapa? Sudah merindukan aku?" "Bekerjalah, aku tutup dulu telponnya." Tahu kalau istrinya sedang marah, Dean segera berbicara, "Aku akan ke sana lusa." "Benarkah?" Suara Lucia terdengar antusias, tidak lesu seperti sebelumnya. "Kau tidak berbohong, kan?" "Tidak. Setelah urusanku selesai. Aku akan langsung terbang ke sana." Lucia terdengar memekik kegirangan. Sepertinya dia merasa sangat sen
Last Updated: 2024-02-08
Chapter: Bab 124 Permintaan Lucia"Sayang, makanlah. Ini sudah sore." Dean sedang berusaha membujuk istrinya untuk makan, karena sejak pulang dari rumah sakit, Lucia langsung mengurung diri kamar hotel. Dia terus berbaring sambil melamun. Sudah berkali-kali Dean mengajaknya untuk makan, tapi Lucia menolak. Alasannya, karena dia tidak selera makan. Akhirnya Dean membiarkan istrinya untuk sendiri dulu. Dia tahu kalau istrinya itu masih terkejut dengan dengan kondisi Bernice. Jadi, butuh waktu untuk menerima kenyataan yang ada. "Aku belum lapar," jawab Lucia tanpa menoleh pada Dean. Lucia nampak sedang duduk di dekat dinding kaca kamarnya sembari menatap ke luar dengan tatapan kosong. Dean akhirnya menghampiri istrinya setelah meletakkan makanan yang tadi baru saja diambil dari atas nakas. "Tapi, kau harus tetap makan. Aku tidak mau kau sakit." Lucia memutar tubuhnya ke samping setelah suaminya berdiri tepat di sampingnya. "Nanti aku akan makan jika sudah lapar." "Kau masih memikirkan Bernice?” Lucia mengangguk deng
Last Updated: 2024-02-06
Chapter: Bab 110Usai dirinya tertangkap, Hutomo pasti menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari Stevi, dan Raka sengaja membawa Stevi diam-diam ke tempat yang jauh agar orang suruhan Hutomo tidak bisa menemukannya. “Baik, Pak.” Selesai berbicara dengan Doni, Raka masuk ke dalam vila dan pergi ke kamar utama yang biasa dia tempati saat liburan di sana. Dia mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang. “Pa, aku mau meminta bantuanmu.” “Bantuan apa?” tanya Ayah Raka di seberang telpon. “Ini mengenai Om Hutomo.” Raka berbicara dengan ayahnya selama kurang lebih 10 menit. Setelah itu, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pukul setengah 8 malam, Raka mengajak Stevi untuk makan malam berdua saja di samping villa. Di sana, sudah terdapat satu meja dan dua kursi. Di tengah-tengah meja terdapat bunga mawar serta beberapa lilin yang menyala. “Kak, kamu sengaja mempersiapkan makan malam romantis ini untukku?” tanya Stevi dengan ekspresi gembira. “Tentu saja.” Stevi yang merasa sang
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Bab 109“Kak, kenapa kita ke sini?” tanya Stevi setelah mobil Raka berhenti di depan villa milik pria itu yang berada di Bandung. Mereka baru saja tiba di kota itu pukul 7 malam setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 3 jam dari Jakarta. “Liburan,” jawab Raka usai mematikan mesin mobilnya. “Kita sudah lama tidak liburan bersama, kan?" Mata Stevi seketika berbinar. “Jadi, kamu bukan sengaja mengajakku ke sini untuk liburan berdua saja?” Tadinya, Stevi berpikir kalau Raka akan mengajaknya berkencan ke tempat romantis, ternyata Raka justru mengajaknya liburan. “Kenapa? Tidak mau?” “Mau, Kak. Aku mau,” jawab Stevi bersemangat. Mana mungkin dia tidak mau, apalagi kalau mereka liburan hanya berdua saja. “Tapi ... apa kamu tidak takut Kak Kiran marah kalau tahu kamu membawaku liburan ke sini?” “Dia tidak berhak mengaturku. Biarkan saja dia marah, aku tidak peduli padanya.” Ketika mendengar itu, perasaan Stevi menjadi sangat bahagia. Perkataan itulah yang selama ini dia tunggu-tunggu
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Bab 108Setelah pergi dari sana, Raka pergi ke perusahaan Hutomo. Stevi yang mengetahui Raka sedang berada di kantor sang ayah, bergegas ke sana dengan perasaan gembira.“Raka, tumben kamu ke sini, ada apa?” tanya Hutomo setelah mempersilahkan Raka duduk di sofa ruangan kerjanya.Tanpa menjawab pertanyaan Hutomo, Raka melemparkan sejumlah foto di atas meja. Foto itu adalah foto orang-orang yang tadi baru saja dia temui. “Kenapa Om menyuruh orang-orang ini untuk menyiksa Kiran di penjara?”Hutomo melirik sekilas foto-foto itu, lalu kembali menatap Raka dengan santai. “Dia sudah membunuh Mia, Om hanya memberikan sedikit pelajaran padanya,” jawabnya acuh tak acuh. “Tidak ada yang salah dengan itu.""Tapi, Om hampir membuatnya meninggal do penjara," seru Raka tidak terima, tangannya mengepal hingga urat-urat di sekitar telapak tangannya menonjol."Tapi, nyatanya dia masih hidup," balas Hutomo santai. Tidak nampak rasa bersalah sedikit pun di wajahnya ketika mengatakan itu. "Jangan karena kamu sud
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: Bab 107Pukul 8 pagi, taksi yang dipesan Raka tiba di depan rumah orang tua Kiran. Raka diantar sampai depan rumah oleh Kiran dan orang tuanya."Setelah urusanku selesai, aku akan ke sini lagi menjemputmu," ucap Raka sebelum memasuki mobil. "Aku harap kamu mau memberikanku kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kita.""Iya."“Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Raka pada Kiran.“Iya, hati-hati.”Setelah berpamitan pada orang tua Kiran, Raka melangkah menuju taksi yang sejak tadi sudah menunggu. Namun, baru saja akan membuka pintu, Raka tiba-tiba berbalik dan kembali menghampiri Kiran.“Kenapa? Apa ada yang tertinggal?” tanya Kiran heran setelah Raka berdiri di depannya.“Iya, aku melupakan sesuatu,” jawab Raka. Setelah itu, dia membungkuk, kemudian mengecup bibir sang istri. "Aku melupakan ini."Kiran tersipu, sementara orang tua Kiran hanya tersenyum tipis melihat pemandangan itu."Cepatlah pergi, nanti kamu terlambat," kata Kiran dengan wajah memerah."Iya, aku pergi dulu," balas Raka den
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: Bab 106Sepanjang mengobrol dengan Glen, Kiran terus melirik pada Raka yang sejak tadi sedang mengawasinya dari ruang keluarga. Pandangan pria itu terlihat tajam, dan raut wajahnya kaku. Tidak ada senyuman sama sekali di bibir saat Kiran melemparkan senyuman tipis pada pria itu.Oh, ya. Ngomong-ngomong soal Glen, dia tiba-tiba muncul di rumah orang tua Kiran karena diundang oleh ibu Kiran. Saat Kiran mengirimkan pesan pada Glen, pria itu sudah berada dalam perjalanan menuju rumah orang tua Kiran. Sengaja dia tidak membalas karena ingin memberikan kejutan pada wanita itu."Lama sekali mengobrolnya. Betah ya bicara dengannya?"Kiran yang baru saja memasuki kamar terperanjat mendengar suara Raka dari balik pintu yang sejak tadi terbuka. "Raka, kamu mengagetkanku," ujarnya sembari memegang dada."Di mana dia? Sudah pergi?" tanya Raka sembari berjalan menuju ranjang."Ada di depan, mengobrol dengan Papa."Tadi, saat menyadari Raka sudah tidak
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 105"Kamu sedang apa?" Ketika mendengar suara Kiran dari belakang, Raka seketika menoleh sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Baru selesai bicara dengan Doni," Raka, setelah itu dia menghampiri Kiran. "Mandilah. Setelah ini kutemani kamu menemui pria itu." "Tidak perlu," tolak Kiran. "Biar aku temui dia sendiri saja." "Aku tidak izinkan kamu menemuinya sendirian," balas Raka. "Nanti kalian malah lupa waktu." Kiran mengerutkan kening ketika Raka menyodorkan ponsel padanya. "Apa?" "Minta rekening pria itu. Langsung transfer dari sini, jadi kamu tidak perlu bertemu dengannya." Meski Kiran memegang salah satu kartu Raka, tapi mobile mbankingnya tetap ada di ponsel pria itu. Kiran hanya bisa menggunakan kartu itu di mesin ATM atau langsung bertransaksi di toko atau mechant lainnya. "Raka, aku harus menemuinya. Aku meminjam uang yang jumlahnya besar, tidak enak jika aku mengembalikannya seperti itu." Rasanya tidak sopan. Bagaimanapun, Glen sudah berbaik hati meminjamkan
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Spoiler Cerita Arthur“Arthur, mari bercerai.” Arthur seketika membeku ketika mendengar itu. “Cerai?” Calina mengangguk. “Tiffany sudah kembali, kau juga sudah sembuh, sudah saatnya aku mundur.” Meski hatinya saat ini sangat hancur, tapi Calina berusaha keras untuk tetap bersikap tenang di depan pria yang kini sudah sepenuhnya mengisi hatinya. Ya, Calina sudah jatuh cinta pada pria yang dia nikahi berapa tahun lalu. Meski, di awal dia tidak memiliki perasaan apa pun, tapi nyatanya cinta perlahan tumbuh seiring kebersamaan mereka selama bertahun-tahun. “Apa Tiffany mendatangimu?” “Tidak," jawab Calina. “Lalu, kenapa tiba-tiba ingin bercerai?” Calina mengepalkan tangan dengan kuat demi menahan agar air matanya tidak keluar. “Aku tahu kau masih mencintai Tiffany. Aku tidak ingin menjadi penghalang cinta kalian.” Arthur tampak terdiam. Namun, tatapan masih tertuju pada iris Calina. “Selain Tiffany, apa ada alasan lain yang melatarbelakangi kau ingin bercerai denganku?” "Maksudmu?" "Apa kau sudah menem
Last Updated: 2025-01-19
Chapter: Extra Part 9 (Cinta Seorang Ayah - END)Belum sempat mobil terparkir dengan benar, Jayden sudah keluar dengan langkah terburu-buru dengan ekspresi suram. “Bu, di mana Ayah?” tanya Jayden pada Aileen yang sedang duduk di ruangan keluarga dengan Alicia dan Steven “Ada di ruangan kerjanya, ada ...” Belum selesai Aileen bicara, Jayden sudah berjalan menuju ruangan kerja sang ayah yang berada di lantai bawah. Tanpa mengetuk, dia langsung membuka pintu dengan kasar, membuat Christian dan Ken yang berada di dalam ruangan itu terkejut dan menoleh bersamaan. “Jayden, apa kau sudah lupa cara mengetuk pintu? Di mana sopan santunmu?” tegur Christian. Jayden yang sudah terlanjur emosi, mengabaikan teguran sang ayah dan bertanya dengan marah, “Kenapa ayah menggusur pekampungan itu?' Christian mengerutkan kening sebentar, kemudian bertanya, "Perkampungan apa?" "Jangan pura-pura tidak tahu," jawab Jayden, "Perkampungan yang berada di selatan kota, itu tanah milik Li's Corp, kan?" Sebelum menjawab pertanyaan sang putra, Christian mem
Last Updated: 2025-01-19
Chapter: Extra Part 8 (Penggusuran)“Kakak, kau datang lagi?” Gadis kecil penjual kue itu langsung berlari ketika melihat Jayden sedang berjalan ke arah minimarket. “Hhmm,” gumam Jayden Li seraya mengangguk ringan. Seperti biasa, dia hanya menampilkan ekspresi biasa ketika berbicara dengan siapa pun. Berbeda sekali dengan gadis kecil yang berada di hadapannya itu, matanya tampak berbinar dan senyuman sangat lebar ketika menyambut kedatangannya. “Kak, maaf, kueku hari ini sudah habis. Tadi ada Paman baik hati yang membeli semua kueku,” ujarnya dengan wajah riang. Senyuman begitu polos, membuat siapa pun yang melihat akan merasa gemas. “Lihatlah. Sudah tidak tersisa.” Dengan antuasias gadis kecil itu menunjukkan wajah kue yang biasa gunakan untuk meletakkan kue kukusnya. Jayden melirik sejenak, sebelum akhirnya kembali menatap gadis di depannya. “Aku ke sini untuk membeli sesuatu di dalam,” jawabnya datar. Gadis itu mengangguk tanda mengerti. “Oh, seperti itu.” Dia pikir Jayden datang untuk membeli kuenya, karena b
Last Updated: 2025-01-19
Chapter: Extra Part 7 (Janji Gadis Bermata Coklat)"Sudahlah. Untuk apa juga aku perhitungan dengan anak kecil sepertimu."Daniel berlalu dari sana dan mendekati gadis kecil yang tampak sedang menunduk. Sebelum memeriksa gadis kecil itu, Daniel memanggil salah satu perawat yang ada di sana untuk mendekat.Jayden Li yang semula duduk dengan acuh tak acuh, akhirnya mendekat ketika melihat Daniel mulai mengobati gadis kecil itu.Ketika Daniel sedang membersihkan luka di bibir gadis itu, tampak dia mengigit bibir bawahnya seraya mengerutkan wajah.“Sakit?” Jayden Li yang sejak tadi hanya diam, akhirnya bertanya pada gadis kecil itu.“Tidak, Kak.”Melihat senyuman gadis itu yang begitu lebar, entah mengapa justru membuat sudut hati Jayden terasa sakit.Kenapa gadis di depannya tidak menangis dan justru tersenyum? Sudah jelas itu sakit, tapi gadis di depannya tidak mengeluh sedikit pun.Jika itu terjadi pada adiknya, bisa dipastikan akan terjadi kehebohan di rumah sakit itu. Adiknya pernah tidak sengaja terjatuh dan itu membuat kehebohan di
Last Updated: 2025-01-18
Chapter: Extra Part 6 (Membawa ke Rumah Sakit)“Bangunlah.”Gadis kecil yang semula masih meringkuk, perlahan bangkit dibantu oleh Jayden Li usai ketiga preman itu dibuat tumbang dan babak belur.“Apa kau tidak apa-apa?”Gadis itu mengangkat kepala setelah membersihkan bajunya yang kotor. “Aku tidak apa-apa, Kakak. Terima kasih sudah menolongku.”Melihat gadis itu tersenyum lebar dengan wajah polosnya, Jayden seketika tertegun. Dia menatap gadis di depan dengan alis yang hampir menyatu.Dia tersenyum?Setelah diinjak-injak dan dibuat terluka, dia masih bisa tersenyum selebar itu.Bagaimana bisa? Padahal, di wajahnya terdapat beberapa luka memar dan di bagian bibir bawahnya tampak mengeluarkan cairan merah. Sepertinya ada luka robek di bagian bibirnya. Tidak hanya itu, di bagian pelipis gadis kecil itu pun terdapat luka berupa garis memanjang yang juga mengeluarkan sedikit darah.Dengan umur seusainya, sangat wajar jika dia menangis histeris, tapi gadis kecil di depannya itu justru tersenyum. Jangankan menangis, mengeluh sakit pun
Last Updated: 2025-01-18
Chapter: Extra Part 5 (Gadis Penjual Kue)“Tuan Muda, silahkan.” Pengawal pribadi Jayden Li membuka pintu belakang setelah melihat anak bosnya keluar dari tempat latihan bela diri.Jayden mengangguk dengan wajah datar, kemudian memasuki mobil dan duduk di kursi belakang.“Paman Rai, berhenti di depan. Aku ingin membeli sesuatu.”Rai, asisten pribadi Jayden yang sedang mengemudi mengangguk, kemudian menepikan mobil mereka di minimarket yang berada di sebelah kanan jalan. Mobil yang hitam yang sejak tadi mengikuti mobil Jayden Li ikut berhenti di belakangnya. Mobil sedan hitam itu berisi 4 orang pengawal berbadan tegap yang secara khusus ditugaskan untuk mengikuti Jayden Li ke mana pun dia pergi.“Paman Rai, kau di sini saja, aku hanya sebentar," ucap Jayden setelah tiba di depan pintu minimarket.“Tapi, ....” Rai ingin menolak, tapi Jayden kembali angkat bicara, “Tidak sampai 5 menit, aku sudah keluar. Jadi, Paman tunggu di sini saja.”Jayden membalik tubuh, kemudian meraih pintu dan masuk ke dalam. Tidak jauh dari minimarket
Last Updated: 2025-01-18
Chapter: Extra Part (Kabar Bahagia-End)"Menantu Anda tidak sakit, tapi dia sedang hamil," jawab Dokter wanita itu dengan senyuman tipis. "Hamil?" ulang Amara dengan wajah tercengang. "Maksud Dokter, ada calon cucu saya di perut menantu saya?" Meski dia sudah menduga kalau menantunya hamil, tapi Amara tetap terkejut ketika mendengar langsung berita baik itu dari mulut sang dokter. "Benar sekali." Nindy yang sejak tadi mendengar itu, tampak mengusap perutnya dengan lembut sambil tersenyum bahagia. Bagaimana tidak bahagia, dirinya bisa langsung hamil setelah pulang dari berbulan madu, sementara kakak iparnya belum hamil sampai sekarang. Padahal, dia sangat berharap bisa segera hamil setelah menikah. "Untuk memastikannya, silahkan langsung melakukan pemeriksaan USG dengan Dokter Obgyn." Setelah tiba di rumah sakit, Amara langsung membawa Nindy ke IGD. Sebenarnya, dia sudah curiga sejak awal kalau menantunya sedang hamil setelah putranya bercerita kalau sudah beberapa hari Nindy tidak napsu makan dan pagi tadi mengal
Last Updated: 2024-10-29
Chapter: Extra Part (Bulan Madu Terakhir)"Sayang, berhenti. Jangan main-main." Billy mencoba memperingatkan Nindy sejak tadi terus memainkan jemari lentiknya di dada bidangnya. Saat ini keduanya sedang berbaring di ranjang dengan posisi Billy bertelanjang dada menghadap ke langit-langit, sementara Nindy sedang berbaring miring menghadap Billy dengan mengenakan pakaian tidur tipis dan seksi "Aku cuma mau pegang, memangnya nggak boleh?" Billy memejamkan mata sambil menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan saat merasakan tangan Nindy semakin turun ke bawah. "Boleh, tapi jangan lama-lama. Nanti kamu menyesal." Nindy mengabaikan peringatan Billy dan semakin berani meraba tubuh sang suami. "Sayang, cukup." Nindy seketika menghentikan gerakan tangannya ketika tiba di otot perut Billy. "Kamu nggak suka aku pegang badan kamu?" Sebisa mungkin Billy berkata dengan pelan agar tidak menyinggung perasaan sang istri. "Nggak, Sayang. Aku suka, tapi ini untuk kebaikan kamu. Kamu sendiri yang rugi kalau terus memancin
Last Updated: 2024-10-27
Chapter: Extra Part (Bulan Madu Part 4)"Sayang, kamu berdiri di sana, nanti aku foto," tunjuk Billy pada latar bangunan berwarna putih yang memiliki kubah warna biru. Saat ini keduanya sedang berada di Thira atau lebih dikenal dengan Santorini. Thira atau Santorini adalah pulau vulkanik yang berada di antara Pulau Ios dan Anafi, Yunani. Santorini terletak di Kepulauan Cyclades sekitar 200 km dari daratan Yunani. Di pulau ini, sangat terkenal dengan sejarah gunung meletus serta keindahan bangunan-bangunan putih dan gereja berkubah biru yang berada di pinggir tebing atau di bangun di atas lereng kaldera yang berada di kota Oia. "Aku nggak mau foto sendirian, maunya sama kamu." Ketika mendengar itu, Billy tidak tahan untuk menggodanya. "Sekarang, kayaknya kamu nggak bisa jauh-jauh dari aku, maunya nempel terus. Aku pergi ke mana, selalu aja mau ikut. Kamu begitu, apa karena takut suami kamu diambil orang?" "Jangan ngeledek terus. Cepetan, ke sini atau aku nanti aku foto sama orang lain." "Jangan coba-coba atau aku lempar
Last Updated: 2024-10-27
Chapter: Extra Part (Bulan Madu Part 3)"Sayang, ayo kita berenang di bawah," ajak Nindy sambil menghampiri Billy yang sedang duduk bersantai di bawah payung pantai yang berada di pinggir kolam. "Kamu duluan aja, Sayang. Nanti aku nyusul." "Aku nggak mau berenang sendirian." "Aku istirahat sebentar, ya? Aku masih capek." Bagaimana tidak capek, kemarin dia habis menggempur Nindy hingga malam, lalu dia lanjutkan lagi menjelang pagi. Setelah itu, dia menemani Nindy bermain jet ski hingga pukul 9 pagi, kemudian bermain banana boat, parasailing hingga pukul 12 siang. Setelah makan siang, mereka berjalan-jalan di sekitar pulau sampai menjelang pukul 2 siang, kemudian pulang dan berendam bersama sambil menikmati pemandangan di luar. Jika dihitung-hitung, dia hanya beristirahat selama setengah jam. "Sebentar aja Sayang nanti habis berenang kamu bisa istirahat." Nindy meraih tangan Billy dan mencoba untuk menariknya, tapi sang suami tidak bergerak sedikit pun. "Nanti aku nyusul, Sayang. Aku liatin kamu dulu dari sini." "Ya, u
Last Updated: 2024-10-26
Chapter: Extra Part (Bulan Madu Part 2)"Bagus banget pemandangannya." Mata Nindy tampak berbinar ketika melihat pemadangan bintang dari tempat tidurnya. Saat ini, dia dan Billy sedang berbaring di ranjang sambil menikmati pemandangan bintang di malam hari. Kebetulan sekali kamar mereka dilengkapi dengan atap kamar yang bisa dibuka tutup secara otomatis menggunakan tombol. "Rasanya aku pengen tinggal di sini terus." Billy yang sedang berbaring miring menghadap sang istri yang sedang tidur terlentang seketika tersenyum. "Nanti kita ke sini lagi kalau aku ada waktu." "Beneran?" tanya Nindy seketika memiringkan tubuhnya ke arah Billy. "Iya, Sayang." Nindy pun tersenyum. "Besok kita mau ke mana lagi?" Seharian ini, mereka sudah melakukan banyak hal. Snorkling, berjalan-jalan, bersepeda di sekitar resort, bermain air di pantai sampai sore hari, kemudian melakukan spa di resort tersebut. Malam harinya, mereka makan malam romantis di gedung utama resort. "Besok istirahat aja di kamar. Sorenya baru kita jalan-jalan
Last Updated: 2024-10-25
Chapter: Extra Part (Bulan Madu di Soneva Jani)"Sayang, bangun. Ini sudah pagi."Billy sedang duduk di tepi ranjang kembali memberikan kecupan singkat di pipi sang istri yang masih terlelap sejak siang hingga 7 sore hari. Sejak tadi, dia sudah berusaha untuk membangun Nindy dengan memberikan kecupan-kecupan ringan di wajahnya, tapi sang istri tidak terpengaruh sedikit pun.Sore kemarin, mereka baru saja tiba di penginapan Soneva Jani yang terletak di pulau Medhufaru. Nindy yang kelelahan akibat perjalanan jauh langsung tertidur setelah makan malam bersama dengan Billy dan belum terbangun hingga kini. Padahal, dia bilang ingin berenang sambil melihat matahari terbit."Jam berapa ini?" tanya Nindy dengan suara serak.Akhirnya, dia membuka mata setelah dibangun selama kurang lebih 15 menit oleh Billy. Meski sudah terbangun, tapi matanya belum terbuka dengan sempurna."Jam 7 pagi, Sayang," jawab Billy lembut sambil merapihkan anak rambut sang istri yang menutupi sebagian matanya. "Kamu masih ngantuk?"Nindy menggeleng lemah. "Nggak. C
Last Updated: 2024-10-25