Chapter: Bab 56Meski pelayan sudah pergi, Serena masih menempatkan William dalam gendongannya. Ia menatap tak percaya pada apa yang ada di hadapannya saat ini.Rumah yang berada di antara taman itu memang hanya rumah kecil dengan satu kamar, namun apa yang ada di dalamnya membuat Serena tak bisa berkata-kata. Tempat tidur yang nyaman untuk dirinya dan bayinya sudah tertata rapi di sana. Ada lemari khusus yang di dalamnya juga terdapat berbagai macam makanan, dan yang paling menyita perhatian adalah beberapa kotak susu formula juga diapers untuk William. Semua itu sesuai dengan apa yang biasa ia kenakan pada putranya.Serena mendekati benda-benda tersebut. Barang-barangnya benar-benar masih baru semua. Artinya, semua itu memang sengaja disiapkan secara khusus untuknya."Orang seperti apa pemilik rumah ini, kenapa sampai menyiapkan kebutuhanku dengan sedetail ini," gumam Serena sambil memegangi kotak susu yang diperuntukkan untuk William. Baru setelah itu ia duduk di sofa yang terletak di sudut ruan
Last Updated: 2025-06-05
Chapter: Bab 55Setelah mencari kemana-mana dan hampir putus asa, akhirnya Felix benar-benar muncul di depan Serena. Pria itu menatap takut-takut karena amarah jelas terlihat dari wajah Serena. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir wanita itu, namun tatapan matanya sama sekali tak beralih dari wajah Felix.Felix sendiri masih diam. Ia menunggu langkah Serena yang kian mendekat hingga tiba-tiba, plakkk ....Satu tamparan Serena daratkan di pipi Felix begitu keduanya sudah saling berhadapan.Pria itu masih diam membisu. Ia hanya menunduk sambil memegangi pipinya, namun saat Serena hendak berlalu, tangannya buru-buru menahan."Aku sungguh minta maaf Serena," ujarnya kemudian."Sudah aku maafkan, aku juga minta maaf karena selama ini sangat merepotkanmu, kupikir kau benar-benar tulus, tapi ternyata tak setulus yang kubayangkan," sahut Serena yang masih tak mau menatap ke arah Felix.Pria itu tentu tak terima dianggap demikian. Faktanya ia sangat tulus terhadap apa yang dilakukannya pada Serena,
Last Updated: 2025-06-03
Chapter: Bab 54Awalnya langkah Serena begitu mantap, tapi saat matanya sudah bisa menjangkau keberadaan Morgan, kedua kaki yang semula berdiri tegak kini justru bergetar hebat."William? itukah bayi yang dimaksud orang tadi?" tanya Serena pada diri sendiri. Tampak di depan sana, Morgan tengah meletakkan kembali tubuh William ke dalam stroller. Serena hampir saja mendekat karena tak rela Morgan menyetuh putranya, namun ia segera tersadar. Kalau sampai dirinya melakukan itu, sama artinya dengan memberitahu Morgan siapa William sebenarnya. Namun Serena ingin mendengar apa yang pria itu katakan. Karenananya kakinya mulai bergerak semakin mendekat dengan langkah mengendap-endap."Lain kali jangan lupa memastikan rem strollernya aktif saat sedang berhenti," ucap Morgan pada bibi May. Serena pun bisa mendengar samar-samar ucapan itu. Sekarang ia mengerti kenapa Morgan berinteraksi dengan putranya. Besar kemungkinan karena dia berusaha menolong stroller William yang tergelincir karena mungkin bibi May lupa
Last Updated: 2025-05-31
Chapter: Bab 53Sayangnya meski sudah diberi aba-aba, Serena masih diam tak bergerak. Ia sungguh tak tahu harus berbuat apa. Tak sanggup rasanya mempertontonkan lekuk tubuhnya di depan semua orang. Mungkin di kamera, tubuhnya memang tak terlihat sepenuhnya, tapi di hadapan orang di sekitarnya, tetap saja ia harus mempertontonkan lsemuanya. Belum lagi jika air sudah dinyalakan, Serena sungguh tak sanggup membayangkannya. "Aku tidak bisa," ucapnya kemudian yang membuat sutradara menatap tajam ke arahnya. "Hai Nona!! ayolah ... kita tidak sedang bermain-main tapi bekerja!!" Seketika ruangan tersebut hening. Mereka semua kini menatap ke arah Serena yang tampak diam tak bergerak. Merasa semakin kesal, sutradara tersebut memerintahkan pada asisten Felix untuk mengambil jubah mandi dari tubuh Serena. "Kita langsung ke adegan inti dulu! ambil pakaian luarnya dan air akan langsung dinyalakan." Mendengar itu asisten Felix pun langsung bergerak untuk mendekati Serena, tapi ternyata yang terjadi
Last Updated: 2025-05-30
Chapter: Bab 52Felix benar-benar lega, akhirnya ia sudah menemukan solusi atas masalahnya. Sore itu Serena tampak cantik dengan menggunakan turtleneck dress nuansa cokelat yang dipadukan dengan long coat dan ikat pinggang bernuansa senada.Ia juga memakai sepasang pumps dan membawa sebuah handbag warna cokelat yang tadi sempat dibelikan oleh Arthur. Bibi May yang melihat penampilan Serena sampai terharu."Kenapa Bibi menatapku seperti itu?" tanya Serena sambil mengambil alih putranya yang juga mengenakan pakaian senada dengannya. Di usianya yang ke 7 bulan, William semakin tampak menggemaskan."Kau sangat cantik, mengingatkan Bibi pada ibumu.""Ibu ... ayolah, tolong jangan bahas hal-hal yang menyedihkan, kita harus bersemangat hari ini. Ayo kita berangkat sekarang," sela Felix yang kemudian sigap membawakan handbag milik Serena.Setelah berpamitan pada sang paman, ketiganya lalu berjalan beriringan menuju ke mobil."Bibi, lihatlah! William senang sekali melihat pemandangan di luar!!" seru Serena ya
Last Updated: 2025-05-29
Chapter: Bab 51Serena semakin salah tingkah karena dua pria yang ada di hadapannya sama-sama memperhatikan dirinya."Kenapa, kalian menatapku seperti itu?" tanyanya kemudian."Kurasa Felix memilihmu untuk menjadi modelnya kali ini," tebak Arthur yang ternyata dibenarkan oleh Felix.Seketika Serena tertawa."Bagaimana mungkin kalian berpikir seperti itu.""Serena ... kau sangat cantik. Kecantikanmu melebihi apapun yang ada di dunia ini. Jadi ... kenapa tidak?" ujar Felix yang membuat Arthur terdiam.Mungkin itu adalah gombalan, tapi ia merasa tatapan Felix terhadap Serena bukanlah tatapan sayang selayaknya seorang saudara, melainkan tatapan kekaguman sama seperti yang ia rasakan."Apa Felix juga menyukai Serena."Batin Arthur terus berkecamuk seiring tatapan Felix yang terasa semakin dalam. Diam-diam Arthur terus memperhatikan ekspresi pria itu dan ia semakin yakin kalau Felix memang menyukai Serena. Sama seperti dirinya.Kini Felix masih berusaha membujuk Serena yang ternyata cukup sulit."Tapi aku
Last Updated: 2025-05-28
Chapter: Pertemuan kembali Juan membuka pintu kamar tempat Jasmine berada. Tak ada suara apapun di kamar itu karena saat ini Jasmine tengah meringkuk di balik selimut tipis yang sudah lama tak dicuci. "Dasar!! bisa-bisanya dia malah enak-enakan tidur," ujar Juan sambil terus melangkah mendekat dengan kedua tangan terselip di saku celana. Awalnya pria itu nampak santai, ia bahkan berniat memaki wanita yang berstatus sebagai istri sahnya itu, namun betapa terkejutnya saat mendapati wajah tirus dan tubuh Jasmine yang nampak jauh lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya. "Apa-apaan ini?!" Juan hampir memekik begitu mendapati pemandangan di hadapannya. Nafasnya tercekat, ia sungguh tak menyangka sama sekali akan mendapati kondisi yang demikian pada diri Jasmine. Juan masih meragukan pandangannya. Tubuhnya semakin mendekat perlahan, ditariknya selimut yang menutupi tubuh kurus Jasmine. Juan pun semakin syok menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Kondisi Jasmine sungguh memprihatinkan. Tubuhnya ku
Last Updated: 2024-10-26
Chapter: Cinta yang bertepuk sebelah tangan "Ingat Juan, kehadiran Jasmine di dalam kehidupan kita hanya untuk pengalihan perusahaan dan ingat apa yang terjadi pada adikmu. Jangan sampai aku yang melakukannya sendiri," ucap Veronica di hadapan Juan. "Ibu tidak perlu mengotori tangan ibu sendiri, biar aku yang mengurus semuanya," sahut Juan sebelum ia pergi meninggalkan sang ibu dan kembali menemui Jasmine. Wajah Jasmine masih nampak sedih, namun Juan harus tetap menyampaikan, kalau mulai saat ini mereka harus tinggal di kediamannya. Mendengar ucapan sang suami, Jasmine hanya bisa mengangguk. *** "Selamat sore ... Bu," sapa Jasmine pada Veronica saat ia sudah sampai di kediaman Juan, namun jawaban yang Veronica berikan cukup mengejutkan. "Aku bukan ibumu." Itulah kalimat yang terlontar dari bibir Veronica. Tubuh Jasmine mematung mendengarnya terlebih saat Juan memanggil pelayan. "Pelayan, antar dia ke kamarnya," ujar pria itu yang langsung pergi meninggalkan Jasmine. "Nona, silahkan ikut saya." Pikiran Jasmine
Last Updated: 2024-10-22
Chapter: Keromantisan Jasmine dan Juan di pemakaman "Juan, ada apa? kenapa wajahmu seperti itu? siapa yang meninggal?" "Yang meninggal adalah ... ibumu," jawab Juan yang membuat tubuh Jasmine membeku tanpa suara. "Kau bilang apa barusan?" Jasmine mencoba mengulangi pertanyaannya. Ditatapnya wajah Juan lekat lekat sampai pada akhirnya pria itu hendak memeluknya, namun kali ini Jasmani menolak. Ditahannya bahu kekar pria itu, pupil matanya bergetar sementara bibirnya beberapa kali ingin mengeluarkan suara namun gagal. "Jasmine, maaf ... aku tidak langsung memberitahumu, aku takut kau _ " "Jadi ini benar?" sela Jasmine yang disambut anggukan kepala oleh Juan, namun Jasmine justru menolak pernyataan itu. "Katakan kalau kau membohongiku!! katakan Juan!! cepat katakan padaku kalau ini hanya lelucon!!" Jasmine semakin tak terkendali, air matanya mengalir deras sementara kakinya perlahan bergerak mundur hingga terduduk di atas ranjang. Melihat itu membuat hati nurani Juan kembali berkuasa. Ia pun melangkah mendekat dan berj
Last Updated: 2024-10-20
Chapter: Getaran hati JuanJuan menatap Jasmine yang tengah menikmati makanan dengan lahap. Melihat bibir wanita itu belepotan, tangannya reflek terulur untuk membersihkannya. "Oh, maaf, kau sejak tadi tidak makan?" tanya Jasmine kemudian saat mendapati kalau makanan di piring Juan masih belum berubah bentuk. "Dengan menatapmu saja aku sudah kenyang," sahut Juan sambil terkekeh kecil. "Kau menyindirku ya, jahat sekali. Aku kan sangat lapar, tapi sekarang sudah kenyang. Sekarang, ayo makanlah! em ... suamiku." Kali ini Jasmine menggeser tempat duduknya hingga berdekatan dengan Juan. Tangannya mengambil sesendok makanan lalu menyodorkannya ke bibir Juan. "Ayolah, buka mulutmu!" Sayangnya Juan sama sekali tak melakukan apa yang Jasmine inginkan. Pria itu hanya diam tak bersuara sambil menatap dingin, membuat Anna menarik kembali tangannya. "Kau, tidak mau ya makan dari tanganku. Hahhh ... itu tidak masalah, tapi sekarang kau harus makan." Masih tak ada tanggapan apapun dari bibir pria itu. Sorot ma
Last Updated: 2024-10-19
Chapter: Pertolongan tak Terduga Malam itu Juan yang baru masuk ke kamar pribadinya dibuat kesal karena ponsel milik Jasmine terus bergetar. Merasa sangat terganggu, dengan cepat tangan Juan meraih benda pipih itu dari saku jasnya. "Halo .... " suara baritonnya langsung menyapa penelpon di seberang sana. "Dimana Jasmine?!" tanya Arsen setengah membentak, membuat Juan hampir membalasnya, namun otaknya masih sempat mempertimbangkan akibatnya jika dia bersikap demikian. "Jasmine sedang mandi, aku adalah suaminya, jadi kalau ada yang ingin kau sampaikan, sampaikan padaku saja!" jawab Juan yang terdengar elegan dan tenang. "Kalian datanglah ke Alexandria hospital sekarang juga! ibu mengalami kecelakaan dan dia ... meninggal, tolong jangan biarkan Jasmine pergi seorang sendiri." Hanya sebatas itu yang Arsen sampaikan. Juan sendiri merasa cukup terkejut akan apa yang baru saja ia dengar. Bermenit menit lamanya pria itu dilanda kebimbangan. Antara ingin bersikap masa bodoh atau sebaliknya. Bisa dibilang ini adala
Last Updated: 2024-10-18
Chapter: Ungkapan cinta Jasmine Jasmine masih tak bisa memahami situasi di sekitarnya. Ia benar benar tak mengerti maksud ucapan Juan suaminya. Selama ini sikap Juan sangatlah manis, karenanya Jasmine mengira kalau pria di hadapannya hanya sedang membuat lelucon. "Sayang, kau ini bicara apa, ayo kita pergi dari sini, rumah ini menyeramkan." Dengan senyum yang masih terukir di bibirnya, Jasmine menarik tangan Juan untuk pergi dari sana, namun pria itu justru kembali menarik tangannya dengan sentakan yang cukup keras. "Akhhhh!!" pekik Jasmine yang hampir saja terjatuh karena ulah Juan. "Aku tidak main main Jasmine, di sinilah tempatmu, jadi nikmati hari harimu di rumah seram ini, mengerti?!" Jasmine menatap wajah Juan dengan perasaan bingung. "Juan, apa maksudmu? aku istrimu, bagaimana mungkin kau membiarkanku tinggal di tempat ini, atau ... kita akan tinggal bersama disini? jika memang begitu aku tidak akan keberatan." Seketika gelak tawa terdengar dari bibir Juan. "Jasmine ... Jasmine, mana mungkin
Last Updated: 2024-10-17
Chapter: Bab 59Bau mesiu dan amis darah menyengat pekat di lorong beton bawah tanah kastil Jenewa. Salju yang terbawa angin dari pecahan kaca di atas bercampur dengan genangan darah para penjaga yang baru saja dilumpuhkan. Elang melangkah cepat dengan senjata berperedam di tangannya, menjaga jarak tegas dari Vanya. Bagi Elang, Vanya bukan hanya rekan setim yang dipaksakan, melainkan simbol dari Black Falcon yang ingin ia tinggalkan selamanya. Pria itu menolak berinteraksi lebih dari instruksi yang krusial. "Ruang server ada sepuluh meter di depan," bisik Vanya dingin lewat earpiece. Jemarinya yang berbalut sarung tangan taktis mengetuk layar peretas portabel. "Sistemnya menggunakan biometric lock berlapis. Butuh waktu dua menit untuk meretasnya." "Kau punya sembilan puluh detik," potong Elang singkat tanpa menoleh, matanya tetap menyapu setiap sudut lorong yang gelap. Namun, tepat saat Vanya melangkah mendekati pintu baja tebal ruang server, suara desis halus terdengar dari langit-langit beton
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: Bab 58Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan pendar hangat di atas sprei putih yang kusut. Jena terbangun dengan senyuman tipis di bibirnya. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Namun, yang ia dapati hanyalah seprei yang sudah dingin dan kosong."Elang .... " panggil Jena parau, suara khas orang yang baru terbangun dari tidur lelap.Tak ada jawaban yang ia dengar. Hanya sepi. Tidak ada juga suara gemericik air dari kamar mandi, atau bahkan aroma teh hangat yang biasanya menyengat lembut dari arah dapur. Hanya ada deru ombak di luar sana yang mendadak terdengar begitu dingin dan asing.Dada Jena berdesir aneh. Dengan jantung yang mulai berdetak tak beraturan, ia duduk dan memiringkan tubuhnya. Saat itulah matanya menangkap amplop cokelat tebal dan selembar kertas yang tergeletak tepat di atas meja samping tempat tidur.Dengan jemari yang gemetar, Jena meraih kertas tersebut. Setiap guratan tinta dari tulisan tangan Elang yang tegas meremas
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: Bab 57Cahaya lampu gantung di pelataran rumah perlahan padam sewaktu para tamu pamit menembus kegelapan malam. Leo sempat menepuk bahu Elang sekali lagi—sebuah gestur peringatan tanpa kata yang mengunci ancaman *Black Falcon* rapat-rapat di udara. Elang melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya begitu tenang, menyembunyikan badai yang sedang meremukkan dadanya. Di dalam kamar utama yang beraroma wangi, Jena sedang berdiri di depan cermin, mencoba melepaskan gaun pengantinnya dengan jemari yang sedikit kesulitan. Pantulan dirinya di cermin menunjukkan rona bahagia yang tak pernah pudar sejak sore tadi. "Sayang, biar aku bantu," suara bariton Elang terdengar lembut di ambang pintu. Pria itu mendekat lalu berdiri tepat di belakang Jena. Jemari Elang yang biasanya begitu tangkas memegang senjata, kini bergerak sangat perlahan dan hati-hati melepaskan satu per satu kancing di bagian belakang gaun Jena. Sentuhan kulit mereka yang hangat membuat Jena menghembuskan napas pelan sebelum
Last Updated: 2026-09-18
Chapter: Bab 56Angin pagi bertiup lembut dari arah pantai, menerobos masuk melalui celah jendela ruang tengah. Elang berdiri di tepi teras, mengamati dua orang wanita paruh baya yang baru saja menurunkan sebuah kotak besar berbungkus pita sutra perak dari dalam mobil sedan. Di dalam kamar tidur, Jena baru saja terbangun dari lelapnya. Saat melangkah keluar dengan piyamanya yang longgar, matanya berkedip heran menemukan sebuah kotak kado berukuran setinggi dada manusia berdiri di tengah ruang keluarga. Elang yang sedang menyeduh teh hangat berbalik. Pria itu menyunggingkan senyuman paling hangat, senyuman yang berhasil menyembunyikan badai dilema yang sebenarnya sedang bergemuruh di dalam otaknya sejak semalam. "Selamat pagi Sayang," bisik Elang lembut. Ia melangkah mendekati Jena dan merengkuh pinggang wanita itu dengan mesra. "Elang... apa ini?" tanya Jena heran, matanya menatap kotak mewah yang terikat rapi tersebut. "Bukalah," sahut Elang seraya menyerahkan sebuah gunting kecil berhiaskan p
Last Updated: 2026-09-18
Chapter: Bab 55Matahari baru saja bersembunyi di balik garis cakrawala, meninggalkan pendar jingga yang lembut di atas permukaan laut. Di dalam kamar kerja yang remang, Elang menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka dengan nominal fantastis.Untuk mengambil alih kembali Pratama Group, perusahaan peninggalan orang tua Jena yang disita secara ilegal oleh kroni-kroni Arkan, Elang membutuhkan suntikan dana segar dalam jumlah yang sangat besar. Aset-aset tersebut saat ini sedang ditahan di pasar saham internasional, dan proses hukum untuk merebutnya kembali memerlukan biaya jaminan yang tidak sedikit.Jemari Elang mengusap keningnya yang terasa berdenyut. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap langit-langit ruangan dengan napas terhembus berat.Sebagai mantan agen kelas atas, Elang tentu memiliki simpanan dana dingin dalam jumlah yang cukup untuk jaminan tersebut. Namun, ia telah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh tabungan itu. Uang itu adalah per
Last Updated: 2026-09-17
Chapter: Bab 54Dua bulan telah berlalu sejak hari kelabu di pemakaman itu. Garis pantai perbukitan kini menyajikan pemandangan yang sepenuhnya berbeda. Rumah berarsitektur hangat itu telah berdiri sempurna, dikelilingi oleh padang bunga matahari yang mulai bermekaran dengan indahnya. Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela dapur yang terbuka lebar. Suara ombak yang tenang menyatu dengan gelak tawa kecil yang membumbung di dalam rumah. "El ... berhenti! Tepungnya semakin berantakan!" seru Jena seraya menahan tawa, mencoba menghindari lemparan halus adonan tepung di tangan Elang. Pria yang dulunya dikenal dingin, kaku, dan jarang tersenyum itu, kini berdiri di depan meja dapur dengan celemek kain berwarna cokelat muda yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya. Wajahnya yang tegas terlihat berantakan oleh bercak tepung terigu, begitu pula dengan ujung hidung Jena. "Aku hanya berusaha mengikuti resep dari buku yang kau beli kemarin," bela Elang dengan raut wajah polos tanpa dos
Last Updated: 2026-09-17