Apakah dokter tampan itu SHIN? Setelah kematian orang tua kandungnya, Aira hanya dapat berharap pada perlindungan Pamannya. Namun, sang Paman justru menolak untuk merawatnya dan menitipkan Aira di Panti Asuhan. Sedih, kecewa, dan bingung adalah perasaan yang dirasakan Aira saat itu. Sampai dia bertemu Shin, kakak laki-laki tampan yang menjadi pelindungnya. Sayangnya, takdir lagi-lagi tak berpihak pada Aira. Mereka harus berpisah dan Shin tidak pernah datang mengunjunginya. Aira tetap percaya akan janji Shin bahwa suatu hari akan datang dan mengeluarkannya dari pantim Namun, suatu kejadian membuat Aira bertemu dokter tampan yang mengenakan kalung serupa dengan milik Shin bertahun-tahun lalu! Tapi, mengapa dokter tampan itu terlihat tidak mengenal Aira?
View MoreAira menatap nanar bangunan bercat putih di depannya dengan halaman cukup luas yang dikelilingi pagar besi. Di mana sebagian pagar tampak mulai karatan. Di sebelah kiri bangunan berdiri plang besar bertuliskan Panti Asuhan Bunda.
Aira meremas ujung rok dengan perasaan bergolak. Dia tidak menyangka, bahkan dalam mimpi pun, nasibnya berakhir di panti asuhan ini setelah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya. Lalu, sang paman menolak merawatnya.
Aira tahu ketidakberdayaan sang paman karena mendapatkan istri pemarah seperti Bibi Mey. Alasan Bibi Mey menolaknya karena beban hidup mereka sudah berat dengan empat orang anak, jika ditambah Aira, maka akan semakin memberatkan.
Jadi di sinilah keputusan pamannya menempatkan dirinya. Awalnya Aira menolak, dia tidak ingin tinggal jauh dari sang paman. Sementara itu, Dion tak ada pilihan lain, dia tak tega melihat Aira dimarahi istrinya saban hari.
Apa salahnya anak perempuan itu sehingga harus bernasib malang. Andai Aira bisa memilih, tentu saja dia tidak ingin menjadi yatim piatu.
Mata Aira berkaca-kaca membayangkan akan seperti apa hidupnya di tempat ini. Gadis berusia delapan tahun itu hanya bisa berdoa semoga saja dia betah dan tak berusaha melarikan diri. Ah, memangnya dia akan kabur ke mana. Tak ada tempat bisa dia tuju.
Satu-satunya keluarga yang dia miliki telah menolaknya. Bulir bening luruh satu persatu di pipi putih Aira. Dia berharap saat ini orang tuanya masih hidup. Mereka pasti tak akan membiarkan putri semata wayangnya menghabiskan waktu di panti asuhan ini.
Namun, harapan menjelma menjadi kemustahilan. Bukankah apa pun yang terjadi hidup harus terus berlanjut. Mau itu bahagia atau duka, hidup tak bisa berhenti meski menginginkannya sekalipun.
"Aira dengar," kata Dion, "Paman akan sesering mungkin mengunjungimu."
Aira menggeleng. "Paman jangan tinggalkan Aira di sini," rengek Aira seraya menarik ujung jaket Dion.
Lelaki bercamata itu mengusap kasar wajahnya. Ia meraih tangan Aira dan meletakkan sebuah kalung berliontin kupu-kupu.
"Ini ambillah."
"Paman ini ...."
"Itu milik mamamu," potong Dion. Dia yakin mendiang kakaknya ingin Aira menyimpan benda itu.
Aira mengusap liontin yang di dalamnya ada foto dirinya. Sekilas terlintas senyum manis mamanya. Tiba-tiba rasa rindu menghujam tanpa ampun.
"Mama," bisik Aira dengan suara bergetar. Ia berusaha meredakan suara isakannya. Menyeka air mata menggunakan ujung baju.Tak lama seorang wanita kisaran usia tiga puluhan mendekati mereka. Wanita itu tampak tak ramah sama sekali. Perawakannya kurus dengan kulit cokelat. Dari gestur tubuh dan ekspresi wajahnya, wanita itu tak menyuka Aira. Sebenarnya, dia memang tak menyukai anak-anak.
"Jadi ini anaknya," katanya menunjuk Aira.
"Iya, tolong rawat dia," ujar Dion. Dia mengamit lengan Aira agar memberi salam.
"Banyak anak yang harus kami rawat di sini!" sinis wanita itu. Aira yang mendengarkan sedikit gemetar. Dia merapatkan diri pada pamannya. Aira berharap Paman Dion berubah pikiran sehingga mau membawanya kembali pulang.
"Aira pergilah."
Aira maju ke depan mendekati wanita kurus tadi yang menatapnya dengan sorot tajam. Aira berbalik, dia mendapati pamannya menatap sendu lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Dengan langkah besar Dion menuju mobil yang terparkir tak jauh dari Aira berdiri.
"Paman!" teriak Aira. Air mata kembali membanjiri pipinya.
Dia ingin berlari mengejar pamannya, tetapi dengan gesit tangan wanita itu berhasil mencekal pergelangan tangan Aira."Jangan cengeng!" bentak wanita itu. "Ayo, masuk!" Wanita itu berjalan tergesa mendahului Aira.
Dengan langkah gontai Aira mengekor. Dia sibuk mengusap air mata sampai di depan pintu panti. Sebuah ruangan menyerupai aula menyambut Aira untuk pertama kali.
Di sana berkumpul anak-anak dari yang besar sampai yang bayi. Ada yang asyik bermain, berteriak ada juga yang sedang belajar. Melihat kedatangan Aira, berpasang-pasang mata itu tertuju pada anak perempuan cantik itu.
Mereka terpana melihat kecantikan gadis itu, seperti peri dalam buku dongeng yang sering mereka baca. Mata belo, hidung mencung, kulit seputih salju dan rambut hitam lurus sepunggung. Mereka menebak Aira pasti anak orang kaya, tapi kenapa sampai berakhir di panti asuhan. Sebagian mereka berasumsi mungkin saja orang tua Aira terjerat hutang.
"Anak-anak kenalkan ini Aira. Mulai hari ini dia akan tinggal di sini," ujar wanita kurus tadi.
Anak-anak itu bersorak, menyeringai, sebagian terbahak-bahak menyambut anggota baru yang akan merasakan kehidupan panti sama seperti mereka. Sementara itu, Aira tak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia hanya mengangguk kemudian berlalu mengikuti wanita kurus tadi menuju kamarnya.
Di dalam kamar yang sekarang Aira berdiri, terdapat tempat tidur disusun bertingkat. Aira mendapatkan tempat tidur di bagian atas. Ia tak punya pilihan lain, karena hanya tempat itu yang kosong. Di sudut kamar ada lemari pastik. Aira diminta wanita kurus tadi meletakkan bajunya di dalam sana.
Selesai menyusun baju-bajunya ke dalam lemari, Aira keluar menuju aula tempat anak-anak tadi berkumpul. Dengan canggung Aira duduk di kursi panjang di ruangan itu. Beberapa anak kembali memperhatikan disebabkan penampilannya yang mencolok.
"Hai, aku Mia," sapa anak perempuan dengan rambut potongan dora, ramah.
"Aku Aira."
"Kenapa kamu sampai berakhir di sini?" tanya Mia. Ia mengambil tempat kosong di samping Aira.
"Hmm ... orang tuaku meninggal," terang Aira. Dia sengaja tidak mengatakan alasan lainnya.
"Ah, aku turut berduka cita. Semoga kau betah di sini. Percayalah, tempat ini tak senyaman di rumah sendiri."
Aira tersenyum. Dia sudah tahu. Mana mungkin sama. Di rumah biasanya ada mama dan papa yang mengasihinya sepenuh hati. Kasih sayang yang tak dia dapatkan bahkan di rumah Paman Dion.
Mia menyentuh pundak Aira. Ia menunjuk dua orang yang baru memasuki ruangan itu. Anak perempuan bertubuh kurus yang mengenakan gaun selutut, satunya lagi anak laki-laki bertubuh gempal. Mia berkata, "Kau jangan membuat mereka tersinggung jika tak ingin dapat masalah."
"Memangnya kenapa?" tanya Aira ikut memperhatikan dua anak itu.
"Mereka anak pemilik panti ini. jika kau berurusan dengan mereka berdua, dapat kupastikan kau dalam masalah."
Aira mendesah. Dia harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Aira mengingat nasihat Mia barusan agar tak berurusan dengan kedua anak itu. Dirinya tak ingin dapat masalah dihari pertama menjejak panti asuhan ini.
Waktu makan malam tiba. Selesai salat Magrib semua anak berkumpul di meja makan dengan kursi panjang berjajar. Setiap anak memegang piring dan sendok.
Aira berdiri di belakang Mia menunggu antrian mengambil makanan. Suasana riuh tak terelakkan. Aira hanya memperhatikan dalam diam. Tibalah waktunya dia maju mengambil makanan. Tangannya menyendok nasi, gulai ayam serta sepotong tempe.
Sial, karena kurang hati-hati saat berbalik Aira menabrak seorang anak laki-laki yang lebih tinggi darinya. Menyebabkan piring di tangan Aira berakhir di lantai.
"Hahaha." Anak laki-laki itu tertawa keras. "Kau akan kelaparan malam ini," ejeknya lalu meninggalkan Aira yang berjongkok hendak memungut makanannya. Perutnya sangat lapar, tadi paman hanya membelikan sebungkus roti.
"Jangan diambil!"
Mendadak tangan Aira yang tadi memasukkan nasi ke dalam piring berhenti. Suara di belakangnya membuat dia terpaksa menoleh.
Seorang anak laki-laki berambut coklat dengan garis wajah tampan menyorotnya tanpa berkedip.
Aira menilai anak laki-laki itu pasti lebih tua beberapa tahunnya darinya."Makan punyaku saja," kata anak itu.
"Tapi ...."
"Sudahlah, jangan banyak berpikir." Anak laki-laki itu menarik tangan Aira, mengajaknya duduk di bangku.
"Kita makan bersama," ujar anak laki-laki itu seraya seraya tersenyum.
"Terima kasih, aku Aira."
"Aku Shin."
Shin meletakkan pena di atas meja lalu menatap Alika. Dapat ia ilihat mata istrinya itu merah dan sedikit bengkak meskipun sudah ditutupi Alika dengan riasan tipis. Melihat keadaan Alika yang sedikit kacau Shin merasa bersalah namun yang paling mengejutkan adalah kata-kata yang baru saja wanita itu lontarkan kepadanya. Dengan begini Alika menempatkan ia pada posisi sulit. "Alika, kita akan membicarakan ini di rumah." Alika berdiri di seberang meja dengan meletakkan kedua tangan bertumpu pada sisi meja. "Aku sudah memikirkannya sejak semalam Shin dan aku tidak tahan untuk mengatakannya. Kamu tidak bisa kembali ke masa lalu bagaimanapun masa lalu sudah jauh tertinggal di belakang. Dan lihat aku! Akulah masa depanmu," ujar Alika dengan suara serak. Sungguh ia ingin menangis lagi dan lagi tetapi Alika tidak mau tampak lemah dan cengeng di depan Shin. Ia tidak mau menyerah dengan keadaan ini. Shin mengembuskan napas kasar lalu menundukkan kepala, tidak lagi menatap Alika. Karena ia ti
Pagi itu diawali dengan suasana canggung melingkupi Shin dan Alika setelah percakapan mereka semalam. Baik Shin maupun Alika tidak ada yang memulai obrolan terlebih dahulu sampai Shin pergi ke rumah sakit mereka masih belum bicara. Alika tidak tahu memulai, jadi ia membiarkan semuanya. Hatinya masih sakit dan itu ulah Shin.Alika pergi ke dapur, menyeduh teh dan membuat roti panggang. Ia sarapan seorang diri. Rasanya tidak menyenangkan seperti saat ia sarapan ditemani Shin. Alika ingin menangis lagi. Semalam ia hanya tidur tidak lebih dari dua jam. Lingkaran di bawah mata menunjukkan semua. Alika yang mendapatkan siff siang berdiam diri di rumah dengan tidak bersemangat."Kenapa semua jadi rumit?" Alika menyesap tehnya dengan pertanyaan yang banyak di kepala.Ia dilanda penasaran ingin tahu siapa gadis yang telah merebut hati suaminya. Bohong jika Alika tidak cemburu dan baik-baik saja. Ia dan Shin sudah terikat pernikahan secara agama maupun hukum. Ego Alika terpancing. Ia ingin me
Malam Kian larut. Jam hampir menunjukkan tengah malam. Di luar baru saja turun hujan, menambah syahdu malam ini. Malam dingin, sedingin suasana hati Shin. Di ruang tamu, tercipta kecanggungan dan keheningan yang merambat antara Shin dan Alika. Untuk pertama kali dalam hidup mereka merasakan kecanggungan seperti ini, seolah-olah rasa canggung itu akan membunuh keduanya. Suasana ini sangat tidak nyaman. Bagaimana mungkin dua orang yang tinggal bersama selama tiga tahun tiba-tiba seperti orang asing yang baru saling mengenal hari ini. Alika menantikan apa yang akan disampaikan oleh Shin dengan dada bertalu-talu. Tidak biasanya Shin mengajaknya bicara seserius ini, kecuali ketika pemuda itu melamarnya. Hanya saat itu saja. Melihat dari gelagatnya, Alika menebak jika apa yang akan disampaikan Shin kali ini adalah sesuatu yang serius sehingga suaminya itu tidak dapat menunggu sampai esok hari. Padahal dari raut wajahnya jelas sekali Shin kelelahan Di tengah rasa penasarannya itu Alika be
Aira nyaris tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bisakah Shin mengulangi lagi? Sehari ini ia sudah terkejut beberapa kali. Shin benar-benar tidak memberikan ia kesempatan untuk pulih dari keterkejutannya.Bagaimana Shin bisa memintanya untuk menikah, sedangkan Aira tahu sekali bahwa pemuda itu telah memiliki seorang istri.Apakah Shin sedang mempermainkan perasaannya? Mencoba memberikan penghiburan?"Hentikan leluconmu itu, Shin," ujar Aira setelah ia bisa menguasai diri. Ini lelucon yang sangat tidak lucu."Saya tidak pernah bercanda dengan perasaan saya Aira. Mari kita menikah." Sekali lagi Shin menegaskan pernyataannya barusan.Aira terperangah, bagaimana ini mungkin. Apakah yang akan Shin lakukan. Menceraikan istrinya dan menikahi ia, begitu? Pikirannya itu membuat perut Aira mual. Ia memang mencintai Shin tetapi ia tidak sejahat itu merusak rumah tangga yang sudah dibina oleh dokter itu selama ini. Cintanya kepada Shin murni.Apa yang pemuda itu pikirkan sekarang? Jika Aira
"Sudahlah Shin. Hentikan semua ini. Percuma kita membahasnya sekarang. Sudah sangat terlambat. Bagaimanapun sekarang kamu sudah menikah, dan aku harus terus melanjutkan hidup ini."Aira mennyeja air mata dan mencoba berdiri. Ia tidak menatap Shin. Untuk kesekian kali hatinya patah. Shin yang berdiri di hadapannya saat ini memang orang yang sama yang ia cintai, tetapi bukan seseorang yang bisa ia miliki.Cintanya kepada Shin,tidak didukung oleh takdir. Yang terbaik bagi ia sekarang adalah melupakan pemuda itu."Pergilah Shin, pergi dan kembalilah kepada istrimu."Aira ingin beranjak masuk rumah, tetapi Shin dengan cepat meraih pergelangan tangannya. Aira sontak terkejut lalu berbalik. Shin sedang menatapnya dengan mata merah."Lepaskan Shin! " desis Aira. Ia menatap pergelangan tangannya dan Shin secara bergantian."Saya belum selesai bicara Aira. Meski terlambat tapi saya ingin mengatakannya sekarang."Shin menatap Aira dengan sorot penuh permohonan. "Saya mohon sebentar saja."Aira m
Shin dan Aira masih berdiri berhadap-hadapan. Dua orang berbeda gender itu sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun yang paling dirasakan oleh Aira adalah keterkejutan. Saat ini Shin ingin sekali memeluk dan menyatakan cintanya kepada Aira. Rasa yang ia pendam selama bertahun-tahun. Shin selalu ingin melakukan itu, tetapi pemikiran rasionalnya selalu menang. Ia tidak akan membiarkan perasaannya menghancurkan semua. Untuk Aira dan juga Alika. Shin sangat menyadari jika saat ini istrinya adalah Alika, namun tidak dengan cintanya. Waktu dan keadaan tidak akan bisa menghapus cintanya kepada Aira. Tidak akan pernah sebab nama Aira seperti tato di hatinya. Meski Shin hilang ingatan, namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa bahwa ada hilang dari dirinya. Rasa itu telah menyiksanya sekian tahun tanpa ia tahu penyebabnya. Sekarang ia telah menemukan jawaban atas pertanyaannya itu. Ternyata itu adalah Aira. "Shin darimana kamu tahu rumah aku?" Akhirnya Aira bertanya. Rasanya ia akan mati kar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments