Share

BAB 6

Author: Dhia Dharma
last update publish date: 2026-02-23 17:16:25

"Dan sampai sekarang, kondisi Papah nggak pernah benar-benar pulih. Beliau masih harus rutin konsumsi obat."

Kecelakaan yang di maksud Ilham, adalah kecelakaan yang sama dengan kecelakaan yang menghilangkan nyawa Ayah Alea. Syukurnya saat itu, Papah Ilham berhasil di selamatkan meski dalam keadaan kritis.

Dan setelah kejadian itu, Papah Ilham tak lagi melanjutkan profesinya sebagai seorang advokat. Beliau beralih menjadi pengajar di salah satu universitas, karena kondisi kesehatan beliau yang tidak memungkinkan.

Obrolan panjang mereka seakan membangkitkan banyak memori lama diantara mereka, kebersamaan yang membuat Alea rindu pada kota mereka yang dulu.

"Nanti kalau mau pulang ajak aku ya, aku pengen ketemu mereka." Pinta Alea.

Ilham mengangguk, "Tapi mungkin aku nggak pulang dalam waktu dekat ini."

Sama seperti Alea, Ilham juga tengah sibuk mempersiapkan tugas akhir. Dan sebagai mahasiswa dengan beasiswa penuh, jelas wisuda tepat waktu adalah suatu keharusan.

"Kalau kamu mau ketemu mereka, Insya Allah nanti pas wisuda mereka bakal ke sini." Lanjut Ilham.

Berbicara tentang masalah perkuliahan, sepanjang rentetan obrolan mereka dari sejak awal bertemu kembali, rasanya objek itu sama sekali belum mereka bahas. Ilham bahkan tidak tahu gadis di depannya ini mengambil jurusan apa.

Jadilah Ilham memilih mengalihkan topik, rasanya juga sudah cukup membahas tentang keluarganya selama beberapa tahun ini. Dan memang sudah tak ada pembahasan lain juga, semua sudah ia luapkan pada Alea.

Bahkan tentang luka terdalamnya saat kehilangan sang ibu, hal yang tak pernah ia sampaikan secara gamblang pada siapapun. Bahkan mungkin adik-adik dan Papahnya saja tak tahu jika Ilham sering kali menangis sendirian dulunya.

Satu-satunya tempat yang selalu menjadi peraduan Ilham adalah Alea sedari dulu, bukan karena Ilham tak dekat dengan keluarga, tapi karena keadaan.

Papahnya dulu terlalu sibuk sebagai pengacara, sementara sebagai anak pertama, ia tentu harus mengalah pada dua adik kecil perempuannya untuk urusan Mamah.

Tapi siapa sangka bahkan setelah sekian lama, hal itu masih berlaku, luka yang ia simpan selama lima tahun itu masih ia tumpahkan pertama kali pada Alea.

Saat teman-teman kuliahnya bertanya tentang keluarganya pun, Ilham bisa menjawab mereka dengan tenang. Menjelaskan bahwa Mamahnya sudah tiada tanpa embel-embel air mata.

Tapi di hadapan Alea, tembok yang dibangunnya bisa gadis itu runtuhkan dalam waktu singkat. Topeng wajah tegarnya tak pernah bisa membantunya berbohong, ia akan selalu kalah oleh air mata Alea. Perempuan yang diam-diam selalu ia rindukan selama ini.

Namun hebatnya, takdir membentang jarak yang begitu pekat di antara mereka. Bahkan selama hampir empat tahun mendiami kota dan kampus yang sama, berjalan di satu jalan dan masuk gerbang yang sama hampir setiap hari, tak pernah sekali pun ada insiden kebetulan yang mempertemukan keduanya.

Baru sekarang, saat Ilham sendiri sudah hampir putus asa dan kehilangan harapan, justru gadis itulah yang malah lebih dulu menemukannya.

"Oh ya, kamu ambil jurusan apa?"

Alea yang kini sudah lebih rileks meraih gelas jus jeruknya yang masih bersisa setengah, "Coba tebak." Katanya kemudian menyeruput jus tersebut.

Ilham memiringkan kepala sedikit lalu berucap dengan ragu, "Kedokteran?"

Senyum Alea mengembang sempurna di iringi anggukan pelan, "Aku orang yang konsisten."

Kalimat itu tidak dapat Ilham sangkal, sejak dulu Alea selalu ingin menjadi seperti Bundanya. Ingin berjuang menyelamatkan nyawa dan menawarkan bahagia akan kata selamat untuk para keluarga pasien yang menunggu di depan pintu dengan cemas.

Ucapan yang selalu ia nantikan saat Ayahnya ada di balik ruang operasi dulu, namun yang Alea terima justru sebaliknya. Kalimat duka yang masih membekas sampai sekarang.

Tapi itu menggugah hati Alea, jika dirinya tak dapat kalimat itu, setidaknya ia ingin mengucapkan kalimat tersebut untuk keluarga lain. Meski ia sadar jika tak semua hal akan berjalan sebagaimana keinginan mereka.

Mungkin akan ada masa dimana suatu hari, Alea justru akan mengatakan hal yang sama seperti apa yang pernah ia dengar dulu.

"Apa kamu juga tetap konsisten di hal lain?" Tanya Ilham hati-hati. "Khususnya tentang gambaran hidup masa depan kamu di dream book itu."

Alea mengangguk ragu, "Mungkin."

Tatapan mereka kembali bertemu, kali ini tawa renyah Alea terdengar sedikit, kontras dengan raut wajah gelisah Ilham.

Alea tak menyangka, pria itu masih mengingat tentang buku impian tersebut. Buku yang mereka buat saat SMP dulu, buku yang berisi banyak sekali rentetan impian yang ingin Alea raih. Dari hal kecil sampai yang paling besar.

Buku yang sampai saat ini nyatanya masih setia menjadi tempat peraduan impian-impian baru Alea.

Namun lucunya, saat Alea menuangkan semua keinginan yang ingin ia raih di buku itu. Pria di hadapannya ini justru hanya menuliskan satu impian, kalimat sederhana yang menjadi alasan dari tawa kecil Alea saat ini.

"Kamu sendiri masih konsisten nggak sama mimpi mu?" Pancing Alea membuat Ilham mengangguk tanpa ragu.

"Nggak masalah kan?" Tantang Ilham balik.

Senyum Alea mengembang sedikit, ia tak memberikan jawaban apapun tapi mungkin senyum itu bisa cukup jadi jawaban yang Ilham tunggu.

Dulu, Alea bahkan enggan membaca impian Ilham itu, meminta Ilham untuk mencoretnya berkali-kali dan menganggap pikiran pria itu terlalu nyeleneh untuk seukuran anak SMP.

Tapi sekarang entah kenapa, ucapan Ilham justru melegakan sendiri bagi Alea. Atau mungkin rasa rindu yang mendekam tujuh tahun ini, pada teman kecilnya itu justru sudah beralih haluan?

Apa mungkin kalimat singkat di baris paling bawah halaman terakhir buku impian Ilham itu justru menggiring hatinya untuk mengaminkan hal yang sama selama ini?

Namun tatapan Ilham justru menyiratkan hal berbeda, seolah ada ke khawatiran yang sulit ia jelaskan. Bukan tentang mimpinya, tapi tentang salah satu mimpi Alea yang mungkin tak sepenuhnya sejalan dengan apa yang Ilham jalani sekarang.

"Kamu sendiri ambil jurusan apa?" Tanya Alea balik.

Ilham menelan ludah, tanpa mengalihkan pandangan darinya ia menjawab pelan, "Hukum."

Satu kata yang kembali berhasil membungkam Alea, memadamkan senyum di bibirnya dan mengganti raut wajah yang baru cerah beberapa menit itu dengan dengan ekspresi sendu kembali.

Alea mengalihkan pandangan, tatapannya jatuh pada piring ayam goreng di meja mereka yang sudah dingin. Ilham ternyata juga konsisten dengan hal yang disukainya.

Meski hal itu sama sekali tak pernah Ilham tuliskan di buku impiannya tetapi Alea tahu jelas, pria itu punya jiwa yang sama dengan Papahnya, juga dengan Ayahnya.

Tapi apa Ilham lupa? Ia pernah mengatakan tak akan menjadi seperti mereka, tak akan mengambil jalan yang sama dan tak akan mengingatkan Alea pada luka itu.

Dan itu seperti janji tak tertulis yang selalu Alea ingin tagih ketika mereka kembali bertemu. Namun kenapa Ilham tetap mengambil jalan yang sama dengan dua pria kesayangan mereka itu?

"Nggak harus pengacara kan Lea?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 19

    Dari arah utara kantin sekolah, seorang gadis berseragam SMP dengan rambut agak pendek yang dikuncir kuda berlari menuju kelasnya di bagian selatan paling ujung dengan langkah cepat.Senyumnya mengembang sempurna begitu kakinya mencapai ambang pintu kelas, ruangan itu tampak sunyi –bertolak belakang dengan keadaan diluar yang tampak riuh dan kacau oleh suara teriakan para siswa.Tatapan Alea menyisir penjuru ruangan, hingga netranya menangkap sosok siswa pria yang sedang terlelap di bangku ketiga barisan paling dekat dengan pintu masuk.“Ilham!” Alea menghampiri pria itu dengan semangat penuh.Ilham yang sedang menelungkupkan wajah pada lipatan tangannya diatas meja, bergerak sedikit untuk menatap gadis itu. “Udah kenyang?” gumamnya hendak kembali melanjutkan tidurnya.Tapi Alea segera menarik sebelah lengan Ilham, “Udah,” katanya bergerak duduk di bangku samping Ilham –tempat duduknya sendiri.“Lihat deh, aku beli apa.” Alea memamerkan dua buah buku dengan sampul agak tebal bertulisk

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 18

    ‘Aku di bawah,’ pesan tiba-tiba dari Ilham muncul di bilah notifikasi, menyentak perasaan Alea.Ia sudah mewanti Ilham untuk menghubunginya saat akan kembali, agar Alea bisa datang menjemputnya di bandara. Tetapi saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, pria itu malah memberinya kabar mengejutkan.Alea menarik sweater rajut berwarna hijau muda dari kursi belajarnya serta tak lupa mengenakan hijab instan sebelum bergegas turun, hendak memastikan apakah sosok yang sudah ia nanti kepulangannya itu benar-benar sudah ada disana.Kondisi rumah saat ini sudah sangat sepi, Bunda sepertinya sudah terlelap karena kelelahan. Apalagi cuaca malam ini jauh lebih sejuk dari biasanya.Begitu Alea membuka pintu utama angin langsung berhembus untuk menyambut, membuat Alea reflek menarik kedua sisi sweater untuk dirapatkan pada tubuhnya sebelum ia melanjutkan langkah menuju gerbang.Ilham yang duduk bersandar di atas jok motornya langsung mengangkat wajah dari layar ponsel begitu mendengar suara

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 17

    Meski Ilham tak punya barang mewah tapi ia cukup tahu berapa harga barang yang Alea kasih hanya dari nama brandnya.Ia memasukkan kotak itu lagi dan mengembalikannya pada Alea, "Kasih aku hadiah yang nilainya sama saja dengan buket itu, jangan barang mahal."Bukan berarti Ilham tidak menghargai pemberian Alea tapi ia hanya merasa tidak layak, karena bahkan barang yang diberinya jauh dari kata sebanding dengan barang itu."Kalau kamu menganggap hadiah dari aku itu mahal karena harganya, maka buat aku buket ini jauh lebih mahal karena usaha kamu untuk bisa membuatnya.""Itu nggak sebanding.""Memangnya kamu pernah buat buket untuk perempuan lain?" Todong Alea."Ya enggak lah, tapi tetap ajah_""Kalau gitu, aku hargai buket ini dengan jaminan khusus." Alea menatap Ilham tepat di maniknya, "Jadikan aku satu-satunya perempuan yang kamu buatkan buket, jangan ada orang lain lagi."Ilham mengalihkan pandangan ke depan, "Tanpa kamu minta pun aku akan ngelakuin itu," timpalnya membuka kembali k

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 16

    Karena kosan milik Ilham cukup kecil untuk menampung Papah dan adik-adiknya jadi saat mereka datang, Ilham menyewakan penginapan untuk mereka. Tetapi mengetahui hal itu, Bunda mengajak mereka untuk menginap di rumahnya malam ini. Memanfaatkan momen langka itu, Gina dan Indah menghabiskan malam di sana dengan banyak mengobrol bersama Alea di kamarnya. Tak hanya itu, Alea bahkan meminta mereka untuk memilih barang-barang miliknya yang kedua gadis itu suka. Mulai dari pakaian, tas, aksesoris bahkan sampai buku-buku koleksinya. Semua di bebaskan pada keduanya jika memang ada yang mereka ingin ambil. Alea sebenarnya ingin sekali mengajak mereka berbelanja tetapi waktu tidak memungkinkan karena rencananya besok mereka sudah akan pulang. Hal itu karena Gina sudah kelas tiga SMP dan Indah kelas enam SD, jadi mereka tidak boleh izin terlalu lama. Di tengah kegiatan itu, Alea yang begitu bahagia menyaksikan mereka sibuk mencoba barang-barangnya teralihkan sedikit kala ponselnya berdentin

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   Bab 15

    Setelah perjuangan panjang untuk bisa menyelesaikan skripsi dan sidang, hari ini sepertinya para mahasiswa semester akhir sedang bersuka ria menyambut hari kelulusan mereka.Dengan mengenakan toga hitam, para wisudawan dan wisudawati berkumpul di aula kampus di saksikan secara langsung oleh wali mereka sebagai perayaan kelulusan sarjana strata 1.Moment yang paling di nanti-nantikan Alea dan yang lain tentu saja, meski kelulusan ini bukan akhir dari perjuangan mereka tetapi justru baru menjadi awal dari langkah panjang untuk terjun ke dunia yang sebenarnya.Dunia dimana seseorang sudah harus mulai belajar untuk mengambil peran penting dan juga tanggung jawab akan dirinya sendiri.Namun di tengah suasana bahagia dan haru itu, ada secuil perasaan lain yang mencuat secara tiba-tiba dalam hatinya.Di ruangan besar ini, ada moment dimana Alea merasa sebagian dalam hatinya terasa kosong.Merasa bahwa perayaan yang dinanti-nantinya ini terasa tidak lengkap, sama seperti saat merayakan kelulu

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 14

    Sekitar jam setengah sepuluh pagi, Alea sampai di toko bunga. Ia turun dari mobil dengan senyum cerah kala melihat motor milik Ilham sudah terparkir rapih di depan tokonya.Pria itu tidak bisa di ragukan lagi sikap pekerja kerasnya, Alea sudah memberitahunya untuk datang di jam sepuluh tapi ia malah sampai di sana lebih dulu."Assalamu'alaikum," ucap Alea kala memasuki toko."Wa'alaikumussalam," salamnya langsung di sambut oleh kedua karyawannya yang sedang sibuk menata bunga baru, juga oleh Ilham yang tampak sedang melakukan hal yang sama.Melihat kesibukan pria itu, Alea beranjak mendekatinya. "Ngapain kamu?""Aku bantuin mereka," kata Ilham mengulas senyum tipis.Salah satu karyawan disana segera menjelaskan, "Tadi kami sudah larang Mbak, tapi Mas Ilhamnya tetap mau bantu.""Aku bosan cuma duduk dari tadi Lea," kata Ilham lagi."Dia ini tangannya memang gatal kalau lihat orang kerja tapi dia nggak ngelakuin apapun," canda Alea pada kedua karyawannya.Ilham lalu melanjutkan kegiatan

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 11

    Obrolan mereka berlangsung hangat, perlahan kecanggungan yang sempat menimpa Alea menyusut membuatnya ikut larut dalam kehebohan ketiga teman Ilham.Beberapa saat kemudian, Ilham memberikan selembar uang merah pada Yusuf, memintanya membeli minuman untuk mereka.Hal itu mencuri

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 5

    Senyum Alea luntur seketika, wajahnya berubah pucat pasi. Apa kata Ilham? Tante Intan sudah meninggal?"Mamah meninggal lima tahun lalu, tepat saat dia melahirkan Galih." Jelas Ilham dengan suara serak.Tak ada air mata yang jatuh di pipi pria itu, namun dari suaranya, Alea bisa tahu bahwa itu sesu

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 4

    "Gampang itu mah, kenalin dulu ini siapa?" Cecar pria di kasir itu. "Nggak gue kasih tempat duduk nih kalau nggak jelas." Ilham berdecak, merebut nomor meja dari pria itu dengan mudah. "Teman gue Reno, namanya Alea." "Oohh." Senyum sumringah pria yang di panggil Reno itu tercetak jelas, menatap A

  • Sayangnya, Pak Pengacara Mau Menikahiku   BAB 3

    Sinar keemasan yang dipancarkan matahari sore itu menyatu sempurna dengan bunga kuning pohon Tabebuya yang sedang mekar, memberikan kesan estetika yang indah di sepanjang jalan depan kampus. Di bawah salah satu pohon berukuran sedang itu, Alea duduk mengemper di trotoar beralaskan jaket kulit mil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status