Home / Young Adult / 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin / BAB 42 - Rasa Sakit Sebelum Ujian

Share

BAB 42 - Rasa Sakit Sebelum Ujian

Author: Wiziiw
last update publish date: 2026-09-02 19:10:00

Beberapa hari berlalu.

Hari ini menjadi hari terakhir Ujian Tengah Semester.

Setelah lebih dari seminggu belajar setiap malam bersama Archer, akhirnya hari yang mereka tunggu benar-benar tiba. Mata pelajaran terakhir yang diujikan adalah matematika.

Lorong sekolah dipenuhi murid-murid yang masih sibuk membuka buku catatan untuk menghafal rumus terakhir sebelum bel berbunyi.

Namun berbeda dengan yang lain.

Zeeya hanya bersandar di dekat je
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 62 - Ulat Kecil

    Archer baru saja tiba di Rumah Sakit Aruni. Ia langsung bergegas menuju ruang rawat kakeknya.Di hadapannya terdapat pintu bermotif kayu dengan tulisan emas “VIP” di tengahnya.Archer menggeser pintu tersebut. Di dalam, Pak Dalton sudah menunggu di sofa dan segera berdiri ketika melihatnya.“Bagaimana keadaan Kakek?” tanya Archer.Pak Dalton mengisyaratkan ke arah ranjang.“Archer?” Suara renta itu membuat Archer langsung menoleh. Ia segera berjalan mendekati ranjang.Kakek berusaha duduk dengan bantuan Pak Dalton.“Tidak perlu memaksakan diri. Tiduran saja,” ujar Archer.Kakeknya tertawa kecil. “Aku sudah tidak apa-apa. Tadi hanya tidur.”“Apa yang sebenarnya terjadi?”Pak Dalton menjawab, “Tuan pingsan karena kelelahan. Beberapa hari terakhir beliau banyak bertemu tamu penting. Selain itu, tidak ditemukan masalah serius.”Archer menghela napas. “Maaf

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 61 - Vas Bunga Yang Jatuh

    Elena menyesap kopi yang baru saja disajikan. Di seberangnya, Archer duduk dengan wajah datar seperti biasa, kedua tangannya bertumpu di atas meja.“Sepertinya kau tidak senang kuajak ke sini,” ujar Elena sambil meletakkan kembali cangkirnya.“Aku tidak punya banyak waktu untuk ini. Cepat katakan apa tujuanmu.”Elena menghela napas panjang. “Apa kau benar-benar tidak nyaman berduaan denganku? Aku sedikit kecewa.”“Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku sebagai guru. Waktuku untuk menjadi guru sementara juga tinggal sebentar lagi.”“Benarkah?” Elena tersenyum tipis. “Bukankah itu bagus? Kau bisa kembali ke tempatmu.”Archer terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi lalu menatap ke ruang terbuka. “Entahlah…”Elena mengangkat sebelah alis.“Sepertinya aku cukup cocok dengan pekerjaan ini.” Archer tertawa tipis. “Aku tidak menyangka akan mengatakan itu.”Elena memperhatikan

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 60 - Menguping

    Pagi itu, hujan baru saja berhenti.Tetesan air masih menggantung di ujung dedaunan yang terlihat dari jendela ruang guru. Langit berwarna abu-abu pucat, sementara udara dingin masuk melalui jendela yang terbuka sedikit.Beberapa guru sudah lebih dulu datang.Suara halaman buku yang dibalik, ketukan papan ketik, serta percakapan pelan memenuhi ruangan yang biasanya ramai menjelang jam pelajaran pertama.Meski begitu, pagi itu suasana ruang guru terasa cukup tenang. Tidak ada suara siswa yang berlarian di koridor. Tidak ada bel masuk yang memecah kesunyian.Hanya orang-orang dewasa dengan pekerjaan masing-masing.Archer duduk di mejanya sambil memeriksa beberapa lembar tugas siswa.Pulpen hitam bergerak perlahan di antara angka dan tulisan. Sesekali ia memberikan tanda merah pada jawaban yang salah sebelum membuka lembar berikutnya.Semuanya terlihat seperti pagi biasa.Setidaknya sampai sese

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 59 - Hal Yang Tidak Perlu Di Ketahui

    Archer berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan Albert. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Pandangan keduanya bertemu.Tatapan Archer dingin dan tajam, sementara Albert tetap berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku celana.“Kenapa kau membawanya ke sini?” tanya Archer dengan suara berat.Albert menyunggingkan senyum tipis. “Hanya ingin berkenalan dengannya.”“Berkenalan?” Archer melirik Zeeya sekilas sebelum kembali menatap Albert. “Kau bahkan tidak perlu membawanya ke rumahmu untuk sekadar berkenalan.”Albert terkekeh pelan. “Aku melihat kalian sepertinya sangat dekat.” Pandangannya beralih kepada Zeeya. “Murid kesayangan biasanya memang mendapatkan tempat khusus di hati gurunya.”Zeeya langsung mengerutkan kening.Sementara Archer tidak menunjukkan perubahan ekspresi. “Apa yang kau katakan padanya?”Albert mengangkat sebelah alis. “Kenapa?” Ia sedikit memiringkan tubuh ke arah

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 58 - Foto Keluarga

    Mobil Albert akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar di kawasan Distrik Timur.Zeeya menatap bangunan di hadapannya melalui jendela mobil. Dinding berwarna krem, jendela-jendela tinggi, pagar besi hitam, serta taman yang tertata rapi membuat rumah itu terlihat seperti kediaman keluarga kaya dalam film.Albert mematikan mesin. “Sudah sampai.”Zeeya masih belum membuka sabuk pengamannya. Ia menoleh perlahan. “Paman benar-benar tinggal di sini?”Albert mengangkat sebelah alis. “Kenapa? Kau mengira aku tinggal di kontrakan?”“Bukan begitu.”“Lalu?”“Rumahnya terlalu besar.”Albert terkekeh. “Itu pujian atau sindiran?” Ia membuka pintu dan turun lebih dulu.Zeeya masih duduk beberapa detik. Entah kenapa, sejak tadi ada perasaan aneh yang terus mengganggunya.Ia memang mengenal Albert. Setidaknya, Albert adalah sepupu Archer. Namun selain itu… Ia tidak tahu apa-apa tentang p

  • 100 Hari Diet Bersama Guru Dingin   BAB 57 - Tebak

    Sepanjang perjalanan, Zeeya beberapa kali melirik Albert yang duduk di balik kemudi mobil mewah itu.Albert tampak terlalu santai.Musik mengalun dari layar dashboard. Pria itu bersenandung mengikuti irama lagu sambil sesekali menggerakkan jarinya di udara. Tangan satunya mengetuk-ngetuk setir, sementara kepalanya ikut mengangguk mengikuti musik.Zeeya memandangnya datar. ‘Sedarah, tapi mereka benar-benar berbeda.’ batinnya.Archer tenang, kaku, dan menyebalkan. Albert? Berisik. Bahkan suaranya sumbang.“Kau suka bernyanyi?”Zeeya menoleh. “Kadang.”“Mau bernyanyi bersama?”“Tidak.”Albert tidak tersinggung. Ia hanya mengangguk santai sambil tetap memandang jalan.“Aku penasaran dari tadi,” ucap Zeeya. “Bagaimana Paman tahu aku ada di sana? Dan seingatku, aku tidak pernah memperkenalkan diri.”“Karena aku mencari tahu.”Zeeya langsung teringat suara kam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status